nusa molas, negeri alang-alang

Jika tiba di desa Dintor dan memandang laut biru membentang terhalang oleh satu pulau bertebing tinggi, itulah Nusa Molas, atau biasa disebut Pulau Mules, tempat warga dari pulau besar Flores mengambil alang-alang sebagai atap.

Mules berjarak sekitar 30 menit dengan speedboat dari desa Dintor, yang harus ditempuh pagi hari sebelum kapal-kapal itu melaut atau pengemudinya beristirahat. Dengan perahu bermotor kecil, bisa dicapai ke pulau yang terdiri dari tiga desa di pesisir pantainya dan hampir seluruhnya beragama Islam.

Perahu yang dinahkodai oleh Pak Markus membawaku ke arah barat, tempat pasir putih membentang dan sapi-sapi bercengkrama. Merapat dari tepi pantai, hutan yang agak tinggi naungannya bisa dijelajahi sambil berjalan kaki, di antara kemerisik dedaunan kering. Saat itu memang bulan Maret, saat di mana musim penghujan baru saja berlalu sehingga nuansa hijau dan wangi tanah masih tercium.

Aku menemukan sumber air yang biasa digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian dengan gadis-gadis yang beraktivitas di situ. Mereka menyapa ramah dan tersenyum melihatku berlalu ke arah hutan. Ternyata di dalamnya pun ada tanah lapang besar tempat sapi-sapi merumput di sore hari, sementara siangnya mereka asyik berteduh di rimbun pepohonan.

Kembali ke pantai, aku jatuh cinta pada birunya laut yang tertangkap mata. Rasanya kepingin sekali menenggelamkan diri pada biru yang tenang dan bening itu. Menuju desa pertama, Labuan Taur, tampak pembangunan sebuah masjid di tepi pantai oleh penduduk setempat. Kapal-kapal pun bersandar rapi pada putihnya pasir, beristirahat menunggu malam nanti waktunya mencari ikan. Rumah-rumah berdiri berjajar di depan jalan kecil yang hanya cukup dilalui sepeda.

Matahari bersinar cukup terik, tak ada satupun anak-anak yang bermain di sepanjang jalur yang dilewati. Mungkin mereka memilih untuk berdiam di dalam naungan daripada terjemur oleh panasnya siang. Karena seterbiasa itu mereka dengan biru langit, sehingga tidak selalu membutuhkan waktu untuk menikmatinya.

Ketika Pak Markus menjemput kembali, aku pun ikut menyisiri tepi laut dan sempat berhenti di antara karang. Melompat dari kapal dan menikmati air yang cerah hingga ke dasar, menelusuri pesona Pulau Mules yang belum banyak diketahui orang. Putih pantai yang terlihat bening dari bahkan di kedalaman tiga meter sekali pun.

Pada pulau Peji, kami hanya mengamati dari lautan. Deretan rumah-rumah penduduk berlapis 4 atau lima berbanjar ke arah bukit, dengan latar pepohon dan padang tempat mereka menggembala sapi, serta kapal-kapal yang bertambat pada dermaga. Semua berdiri pada umpag batu, melayang di atas muka air laut yang kadang pasang.

Penduduk pulau Mules datang berangsur-angsur. Ada yang tiba dari Bima, atau dari Jawa seputaran perairan Madura. Mungkin pada awalnya hanya tiba satu keluarga, namun lama kelamaan disusul serta beranak pinak membentuk sebuah desa. Dari laut kami melihat bangunan sekolah di tengah hutan, di antara desa Peji dan Konggang. “Setiap hari,kalau tidak berjalan kaki mereka diantar naik sepeda motor ke sekolah,” cerita Pak Markus. Lokasi sekolah mungkin menjadiimpian kami yang menghabiskan masa di kota. Berada di tengah perbukitan serta memandang laut serta Desa Dintor di Flores, lansekap alami di depan mata.

Pusat pemerintahan Pulau Mules berada di desa Konggang, di mana kami sempat berhenti untuk beristirahat, mencari makan siang dan bahan bakar. Meskipun hanya mie rebus yang dihidangkan, tapi cukup untuk mengganjal perut yang kosong sedari pagi. Pemilik warung yang berasal dari Sampang, Madura ini bercerita bahwa ia masih sering bolak-balik ke Pulau Jawa untuk mengunjugi keluarganya di sana, sementara istrinya ia kenal di Mules. Dengan penghasilan tambahan dari warung, ia tidak setiap hari turun ke laut untuk mencari ikan.

Desa Konggang cukup ramai terlihat sejak pagi, karena ada acara pernikahan. Mungkin itu sebabnya sejak tadi ketinting untuk menyeberang hanya mondar-mandir ke Konggang. Terdengar suara alunan shalawat mendoakan yang sedang berbahagia hari itu bersama dengan ibu-ibu berpakaian rapi berlalu lalang. Sambil menenteng jerigen berisi bahan bakar, kami berlalu ke dermaga untuk menuju lautan lepas di balik desa.

Kapal bergerak pada ombak yang tak terlalu tenang lagi. Laut Sawu yang terbuka dan angin dari selatan membuat kapal harus dikemudikan dengan hati-hati. Area mercusuarlah tujuan kami, tempat di bawahnya hamparan alang-alang tumbuh, di mana penduduk biasanya memotong dan membawanya ke Dintor untuk diangkat hingga Wae Rebo. Pasir putih masih menyambut kami di tepian, diiringi tatapan seekor sapi yang bersembunyi di semak-semak. Sinar matahari menjelang sore menelurkan bulir-bulir peluh ketika kami harus berjalan sekitar 20 menit hingga padang alang-alang.

Dan di sana tumbuhlah serupa rerumput besar ini, Imperata cylindrica yang menjadi bahan baku penutup atap banyak bangunan adat di Nusa Tenggara Timur, berdiri condong mengikuti arah angin sehamparan luas untuk bisa membangun satu kampung. Tingginya lebih dari badanku, karena jarang digunakan selain kebutuhan setiap beberapa tahun, tak banyak yang memotong dan sering menggunakannya.

Alang-alang di sini dibiarkan tumbuh subur saja sendiri, tanpa pemupukan atau pemeliharaan khusus. Belum ada yang berpikir untuk berbudidaya alang-alang, padahal selalu dibutuhkan tanaman ini untuk perawatan rumah. Aku melihat akar alang-alang yang masih mencengkeram kuat pada tanah, yang tidak akan punah meski dipotong berkali-kali. “Jika tidak dicabut, dari akar ini akan selalu tumbuh lagi,” kata Pak Markus sambil mencabutkan segombyok rerumput besar itu untuk kubawa sebagai sampel.

Benar adanya, di mana-mana tanaman ini hanya diambil dengan sabit dengan jarak kira-kira sejengkalan tangan dari akar, untuk memberinya kesempatan tumbuh lagi. Condongnya imperata karena angin wajar terjadi, dengan batang yang kurus dan ringan cenderung rebah ke arah angin bertiup. Meskipun demikian, karena akarnya kuat, imperata ini tidak tercabut dari tanah.

Hari sudah menjelang senja ketika kapal meninggalkan Pulau Mules, dengan pemandangan mercusuar di kejauhan. Angin darat sudah mulai bertiup, sehingga motor tempel membantu mendorong hingga kapal kembali ke tepian di Dintor. Mungkin besok mulai lagi perjalanan selanjutnya untuk pengolahan alang-alang ini lebih lanjut, membawanya jauh dari tepi laut.

Va’dove ti port ail cuore.

7 thoughts on “nusa molas, negeri alang-alang

  1. Pantai-pantai di Negara kita itu indah semua mbak. Saya melihat dipostingan atas, pantainya sangat sepi. Terlihat masih banyak sampah kiriman laut seperti bongkahan kayu dan yang lainnya. Menariknya sampah plastik tidak ada. Semoga tetap indah.

  2. Kereeeen ternyata yaaa 🙂

    Dulu pas motoran ke Denge cuma bisa melihat pulau itu dari pesisir Dintor hahaha. Penasaran sebenarnya, bentuknya unik. Bagaimana juga kehidupan di sana, ternyata beragam suku ya.

  3. birunya laut dekat daratan flores selalu menggoda untuk didatangi.. semoga tetap lestari.. semoga ilalang juga selalu tumbuh subur sehingga penduduk sekitar tak bingung untuk perawatan rumahnya 🙂

    -Traveler Paruh Waktu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s