ruang dan masa pandemi

[guestpost dari Ardes Perdhana, arsitek]

Ruang memiliki artinya sendiri. Pada waktu dan tempat yang berbeda, ia menjadi berbeda. Layaknya kecantikan, ia memiliki pengertiannya sendiri pada masing-masing jaman, pada masing-masing daerah. Ada yang menilai bahwa cantik itu tinggi semampai berkulit putih. Ada pula yang menilai bahwa cantik itu meliuk lekuk tubuhnya berkulit kuning langsat. Bahkan ada yang sedemikian spesifiknya ia membutuhkan pengorbanan. Telinga yang ditindik lebar-lebar. Leher yang ditarik tinggi-tinggi, ditahan oleh kalung bertumpuk agar jenjang tampilannya. Bermacam-macam aplikasinya yang tujuannya satu, ekspresi yang ada dari dalam diri.

Ruang memiliki 1001 misteri. Pada kehidupan modern, ia kerap kali diabaikan. Tergantikan oleh saudara kembarnya yang berupa struktur. Struktur, sebagai saudara kembar ruang yang kasat mata lebih mudah untuk dikenali dan diidentifikasi. Hal ini menjadi penting untuk keberlangsungan kehidupan modern yang serba terukur. Struktur menjadi lebih unggul dibanding ruang karena ia memang lebih mudah untuk dipahami. Sekian meter, ia menjadi kokoh. Sedangkan untuk sekian meter, ia menjadi kritis dan lemah. Hukumnya pasti dan menyangkut keselamatan orang banyak.

Ruang, si adik yang misterius tadi, menjadi selalu dilupakan dan dinomorduakan. Akibatnya kita kehilangan kendali akan aspek makna pada kehidupan kita. Segala sesuatu menjadi masuk akal memang. Tetapi bukankah ada aspek yang tak tercakup oleh akal manusia yang serba terbatas? Bagaimana dengan aspek ketentraman? Bagaimana dengan aspek kedamaian? Bagaimana dengan aspek kenyamanan? Tidakkah itu juga bagian dari diri kita sebagai manusia?

Masa Pandemi memberikan kita kemewahan yang tidak selalu dapat kita miliki. Ia adalah waktu. Waktu untuk sejenak berdiam diri, berkontemplasi, dan berpikir ulang. Tidaklah berlebihan apabila kita meluangkan sejenak waktu untuk menghayati kebutuhan kita akan ruang.

Untuk sementara ini, kita diberikan panduan mengenai jarak aman di ruang publik. Selama kita mematuhinya, kita akan selamat. Ada beberapa kawan yang menilai bahwa sensibilitas kita terhadap ruang menjadi tergugah. Tempat yang sama, tetapi digunakan dengan aturan pemakaian yang berbeda. Sama halnya dengan ketika kita mengubah perabot pada kamar kita. Ada perasaan canggung yang muncul ketika kita berjarak. Hal itulah yang diidentifikasi sebagai sensibilitas ruang. Hal yang muncul ketika kita sudah terlalu lama berada di dalam sebuah rutinitas, untuk kemudian menghadapai sebuah realita baru.

Pada masyarakat tradisional, ruangnya ditentukan oleh kondisi supra-natural. Ia merupakan manifestasi keyakinan masyarakat terhadap sesuatu yang gaib. Ruang dianggap sebagai sesuatu yang sakral sehingga sesuatu yang wujud (kasat mata) kemunculannya haruslah berupa pelayanan terhadap hal di luar diri manusia itu tadi, sesuatu yang lebih besar daripada manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kita mengenal makro kosmos dan mikro kosmos. Ruang sebagai tempat di mana manusia hidup merupakan mikro kosmos, miniatur dari kehidupan yang lebih kekal yang merupakan makro kosmos. Strukturnya pun diselenggarakan untuk mewujudkan keyakinan tersebut sebagai manifestasi keyakinan mereka. Ia merupakan refleksi nilai-nilai yang berlaku.

Jarak menjadi sesuatu yang relatif. Ada kalanya kita merasakan bahwa kita berjalan pada skala dewa pada bangunan-bangunan peribadatan. Ada kalanya kita merasakan kesempitan, dan kita dibuat sedikit menunduk oleh skala dan proporsi ruang sebuah bangunan pemerintahan. Ada kalanya kekosongan dijadikan dominan pada sebuah tatanan taman Zen. Ada kalanya kemegahan dijadikan dominan pada sebuah tatanan taman Eropa.

Di era modern ini kita sudah terlalu jauh dengan membakukan ruang ke dalam definisi-definisi yang sesungguhnya kurang tepat untuk diri kita sendiri. Yang dari sana kegelisahan muncul. Ada banyak kasus yang kemudian dapat dijadikan contoh mengenai sikap pengabaian kebutuhan pengertian ruang yang mumpuni, sehingga menimbulkan kekacauan. Bangunan Pruitt-Igoe misalnya, yang terpaksa dirobohkan karena tidak sesuai lagi dengan pribadi dan sanubari masyarakat di Amerika Serikat.

Ada baiknya di dalam penelusuran tersebut kita tidak menyertakan referensi atau contoh yang ada melalui gambar. Sebaiknya itu semua dilakukan melalui komunikasi verbal, pada kesempatan-kesempatan yang demokratis. Sehingga semua memiliki andil, sehingga semua memiliki peran. Hal yang selama ini mungkin jarang didapat pada rutinitas kehidupan kita dewasa ini yang serba cepat.

(*Penulis adalah Arsitek yang tertarik pada urbanism, desain, teknologi, seni dan budaya, serta seringkali meluangkan waktunya untuk menulis. Saat ini sedang di dalam proses pendaftaran sebagai Dosen Tidak Tetap di Departemen Arsitektur FTUI.)

catatan Indri Juwono:
Pasca pandemi ini, akankah kebutuhan ruang sedemikian banyaknya untuk memenuhi aktivitas, atau yang dibutuhkan hanya hub maya untuk interkoneksi berbagai kegiatan manusia? Spasial kekosongan yang menjadi jeda pada masa pandemi, akankah membentuk pola kota yang baru?
Bahkan Jakarta 24 jam pun bisa tertidur sejenak. Video dari Bram Aditya, yang sempat merekam kehidupan yang seolah henti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.