mencari cinta di taj mahal

“The Taj Mahal rises above the banks of the river like a solitary tear suspended on the cheek of time.”
― Rabindranath Tagore

Dari dulu aku pinginnya kalau ke Taj Mahal bareng dengan belahan jiwa bersama-sama. Eh, malah kesempatan untuk menginjakkan kaki ke sini lebih dulu daripada menemukan si cinta. Bangunan yang dibangun pada tahun mulai 1632 hingga 1653 ini didirikan sebagai makam untuk istri Kaisar Mughal kelima Shah Jahan yang meninggal dunia pada tahun 1631.

Perjalanan ke Agra ditempuh dengan kereta malam dari Varanasi, dengan kelas AC 2 Tier dan jalannya rasanya lambat banget. Memang di dalamnya terasa nyaman karena tempat tidurnya hanya susun dua, lengkap dengan tirai, AC dan bantal. Dengan skedul arrival-nya jam 06.10 membuat kami bangun pagi-pagi untuk persiapan turun, karena takut terlewat dan terbawa sampai New Delhi.

Tapi ketika matahari sudah terang, sepertinya tidak ada tanda-tanda kami sampai Agra. Google maps pun mati karena tidak pakai simcard local, jadi pagi itu nggak tahu berada di mana. Cari-cari yang bisa ditanyai, harus yang kira-kira bisa bahasa Inggris, dong.

“Three hours”, begitu jawab salah satu penumpang India ketika kami menanyakan tentang Agra. Oh, ternyata kereta terlambat tidak hanya pada Indonesia zaman dulu, tetapi di India juga.

Dan menjelang jam sebelas siang, ketika hari mulai panas-panasnya, tibalah kami ke stasiun Agra Fort yang berada tepat di depan benteng Agra. Setelah tawar menawar dengan supir tuktuk yang membawa kami ke penginapan, kami pun membawa semua barang bawaan, check in dan beristirahat di dorm hostel yang tidak jauh dari pintu masuk Taj Mahal. Agak menyebalkan sih, karena keterlambatan ini terpaksa jadwal ke Agra Fort jadi diskip untuk lebih punya waktu ke Taj.

Sesudah istirahat seperlunya, jam dua siang kami berangkat ke Taj Mahal. Gara-gara impian pingin pakai sari di Taj, jadi kain 6 meter itu kubawa dalam tas. Aku sempat mikir, kalau kita nyamar jadi warga local bisa nggak, ya. Karena harga tiketnya berbeda cukup jauh, untuk lokal hanya 50 rupee, sementara internasional 540 rupee. Nah, untuk masuk ke area Taj Mahal, tidak diizinkan membawa tas maupun tripod, jadi semua harus dititipkan di loker. Mesti lewat pemeriksaan badan lagi yang terpisah antara laki-laki dan perempuan untuk memastikan kita tidak membawa barang-barang yang tidak diizinkan. Jadilah cuma bawa kamera dan ponsel saja, serta buku untuk property foto tentunya. Kebetulan tas kameraku cukup besar, dan bisa memuat semuanya.

Memasuki pelataran luar sebelum masuk ke area utama, sudah terasa indahnya kemegahan mulai dari benteng utama sesudah pos pintu masuk tadi. Bangunan berwarna terakota ini mengelilingi seluruh kompleks makam ditopang dengan ratusan arc yang membuatnya tegak berdiri. Jilaukhana, lapangan depan ini biasa digunakan sebagai titik temu sesudah pemeriksaan yang mengantri.

Melintasi gerbangnya yang besar, sudah banyak pengunjung yang memadati di dalamnya, yang dihiasi dengan kaligrafi indah dan motif floral yang terangkai di tepi-tepinya. Bahkan juga kubah yang terbangun dari susunan tembikar dengan motif berulang hingga atap benar-benar mencuri perhatian. Dan keluar dari situ, tampak agung di kejauhan, Mausoleum Taj Mahal.

Dipisahkan oleh taman panjang dengan kolam di tengahnya, menjadi bisa menikmati keseluruhan gesture Taj Mahal dari kejauhan. Ribuan pengunjung yang riuh tersebar di seluruh penjuru taman tidak menghalangi untuk menikmati karya abad ke 17 ini dengan penasaran. Para pria banyak mengenakan kurta, yaitu setelan putih panjang berlengan panjang, sementara kaum perempuan berwarna warni dengan sari. Hanya saja kunjunganku di 2016 ini masih ada renovasi pada dua minaret yang berada di kanan dan kiri bangunan, sehingga agak mengurangi kecantikan.

Taman yang terbagi menjadi empat bagian ini memiliki poros di tengahnya yang dialiri air pada kolam memanjang dari gerbang utama hingga Mausoleum, dan jalan dari barat ke timur yang memiliki gerbang sendiri namun tidak dibuka. Ciri khas pada zaman ini yaitu selalu ada aksis dan pusat sebagai orientasi lansekap. Pola taman simetris ini dilengkapi juga dengan pohon-pohon yang tingginya sama ditanam memanjang pada sumbu aksial taman tersebut.

Terus berjalan sampai halaman depannya, ratusan orang mengantri untuk masuk ke dalam bangunan mausoleum yang berwarna marmer putih. Seluruh pengunjung harus mengenakan penutup sepatu supaya tidak mengotori lantai marmer yang dilindungi oleh Pemerintah India. Pemeriksaan dengan pintu khusu pun dilakukan lagi sehingga antrian cukup panjang.

Taj Mahal adalah simbol cinta dari Raja Shah Jahan untuk istrinya, Mumtaz Mahal, yang meninggal setelah melahirkan anak ke-14. Mumtaz adalah istri ketiga dan menjadi istri yang paling disayang. Ia merupakan sosok istri yang cantik, setia, dan rela untuk memiliki banyak anak. Sebelum meninggal Mumtaz berpesan pada Raja untuk membangun monumen dan tidak menikah lagi.

Pada awalnya sang istri dimakamkan pada bangunan kecil di tepi sungai Yamuna, namun kemudian diperbesar hingga membuat kompleks Taj Mahal. Dengan pembangunan dalam waktu lama dan menggunakan sekitar 20 ribu pekerja, pembangunan ini memakan biaya yang begitu besar hingga sang raja dikudeta oleh anaknya dan dikenakan tahanan rumah di Agra Fort. Namun di akhir hayatnya, ia pun dimakamkan di mausoleum yang sama bersebelahan dengan Mumtaz.

Sebelum masuk bangunannya, terdapat pelataran marmer putih yang mengelilingi mausoleum sebagai ruang antara. Disini banyak yang beristirahat sesudah mengantri panjang untuk naik ke area putih tadi. Pola kubahnya masih mengikuti bagian gerbang utama tadi, dengan pintu-pintu yang terbuat dari kisi-kisi untuk mengalirkan udara.

Memasuki ruang dalamnya tidak diizinkan untuk mengambil foto di dalam sehingga kami hanya berkelliling dan melihat makam tersebut pun dalam jarak tertentu. Menurut informasi, di bawah makam ini terdapat sarkofagus Shah Jahan dan Mumtaz yang dijaga ketat.

Excuse me, where do you come from?” seorang bapak India menyapaku ramah dalam perjalanan keluar.
Indonesia”, jawabku sambil penasaran apa maunya.
You looks so nice with the sari”, katanya lagi. Aku tersenyum sambil mengucapkan terima kasih. Ia juga menanyakan apakah nyaman menggunakan sari seperti orang India lainnya. Tentu saja, Rupanya beberapa orang juga memperhatikan aku yang tidak berwajah local tapi memakai sari di sini.

Kami sempat berkeliling dan melihat pemandangan sungai Yamuna dari belakang mausoleum yang ternyata masih ada beberapa sampah botol kemasan di situ. Di sisi kiri dan kanan mausoleum terdapat dua bangunan berwarna terakota yang bentuknya identik namun fungsinya berbeda. Sebelah barat sebagai masjid, dan sebelah timur sebagai museum. Karena sudah menjelang sore, akhirnya kami melipir ke Mehman Khanaa yang berada di bagian timur. Bangunan terakota ini juga dipadati pengunjung yang beristirahat.

Ketika kembali ke gerbang utama, aku sempat berdiri pada center point yang berada pada tengah taman, berupa pelataran marmer dengan tinggi 1.5 meter di atas jalan. Banyak yang mengambil foto di sini karena latar belakangnya tepat bangunan mausoleum. Eh, tak disangka, malah beberapa keluarga India meminta untuk foto bareng denganku. Apalah aku ini serasa artis? “From Chinese? Japan?” begitu tebak mereka. Ha, padahal kulitku nggak seputih itu.

Sudah menjelang terbenam ketika kembali lagi ke Jilaukhana. Sebenarnya penasaran juga dengan sunsetnya yang katanya indah, tapi kemalaman di jalan juga bukan pilihan yang bagus. Jadi kami memutuskan untuk pulang setelah mencari souvenir sedikit untuk kenang-kenangan.
Ah, Taj Mahal. Mungkin dengan belahan hati aku akan kembali ke sini.

Perjalanan Maret 2016
Ditulis Januari 2020.
Why so long? So many happen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.