flores flow #13 : tentang laut, kapal, dan hati

dan orang-orang yang turun dari perahu membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda di lembah-lembah perbukitan ~ Sapardi Djoko Damono Berlayar dari Labuan Bajo? Susuri jalan sepanjang tepian laut dan temukan banyak tawaran menggoda dari berbagai agen yang membuka jasanya. Mau kapal phinisi, kapal besar, kapal kecil, tergantung berapa jumlah rekan yang kamu bawa. Ingin berenang, snorkeling, … Continue reading flores flow #13 : tentang laut, kapal, dan hati

flores flow #12 : bukit-bukit kering pulau rinca-komodo

If the bite doesn’t kill the prey outright, the venom will. Matahari bersinar cukup terik ketika kami tiba di Pulau Rinca, yang termasuk dalam pengelolaan Taman Nasional Pulau Komodo. Dermaga Pulau Rinca hanya berisi empat perahu berukuran sedang. Mungkin sudah sejak pagi turis-turis ini tiba, sehingga menjelang jam 11 begini sudah tidak terlalu ramai. Menyusuri … Continue reading flores flow #12 : bukit-bukit kering pulau rinca-komodo

flores flow #11 : seputar lingkar sawah cancar

“Nanti jalan terus saja, lalu naik bukit, dari atas sana bisa melihat sawah berbentuk jaring laba-laba,” pesan Pak Supir Harapan Bersama sebelum aku turun. Hari panas terik. Di pertigaan banyak orang-orang yang menawarkan jasa ojek menuju bukit. Aku tetap berjalan dengan ransel 40 liter di punggung dan daypack di dada. Matahari masih bersinar dengan garang. … Continue reading flores flow #11 : seputar lingkar sawah cancar

flores flow #9 : anak-anak wae rebo

Lihatlah wajah-wajah polos mereka dengan ingus yang beleleran asyik bermain di pelataran tanpa beban, mengingatkan pada masa kecil yang pernah kau punya. Ketika jungkir walik tak karuan tak mendapat teguran, ketika berdekatan dengan lawan jenis tak meninggalkan kesan. Bahkan juga ketika tak berbaju pun dianggap wajar. Ingatlah kepada masa di mana rasa ingin tahu selalu … Continue reading flores flow #9 : anak-anak wae rebo

flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus

kadang-kadang aku hanya ingin melangkahkan kaki, menjauh dari deru dan menemukan sepi, namun lebih daripada itu, ternyata yang kutemukan adalah ramai di hati, senyum yang tulus, percaya kepada negeri. Malam sudah bertabur bintang ketika Pak Blasius Monta menyambut kami dengan ramah di rumahnya di Denge. Ini adalah titik terakhir yang bisa dilalui dengan mobil. Kami … Continue reading flores flow #8 : wae rebo, melestarikan arsitektur dengan tulus

flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

Apa yang bisa kamu lakukan di satu pemukiman adat yang berjarak 3 jam berjalan kaki dari desa terdekat? Perjalanan ditemani desau angin, riuhnya burung-burung bernyanyi, gemericik air, ditemani patok-patok jarak yang membuat perjalananmu terasa makin dekat? Wae Rebo, harmoni pemukiman di atas bukit, di mana keselarasan dijaga, kehidupan yang tersembunyi, adalah salah satu kekayaan budaya … Continue reading flores flow #7 : 14 tindak tanduk asyik di wae rebo !

flores flow #6 : dingin bajawa, panas aimere, dan hujan ruteng

“Aku mau bangun setiap pagi dan melihat anak-anak berangkat sekolah di Flores.” Niat itu sudah kucetuskan, karena aku akan bangun pagi di tempat-tempat yang berbeda setiap harinya dalam perjalanan keliling pulau ini. Senin pagi di Bajawa, usai menikmati sarapan lezat buatan kak Vita di rumah yang aku tinggali malam itu, aku nongkrong di depan rumah, … Continue reading flores flow #6 : dingin bajawa, panas aimere, dan hujan ruteng

flores flow #5 : loka, batu dan bena

Pernahkah kamu berbicara pada batu? Pernahkah kamu tanya bagaimana rasanya menjadi tumpuan, menjadi sesuatu yang dikuatkan, menjadi tahanan agar beban di atasnya tidak runtuh? Barangkali kau perlu bertanya pada bebatuan di kampung Bena, yang bisa dicapai dalam satu jam perjalanan dengan kendara bermesin dari Bajawa, sejak kapan mereka berada di sana. Di sini batu tidak … Continue reading flores flow #5 : loka, batu dan bena