Category Archives: city lover

kemang, buah apakah itu?

the papillon

Masih banyakkah di antara kita yang ingat seperti apa buah kemang? Aku pun tidak, belum pernah tahu sama sekali seperti bentuk buah itu. Kemang yang diketahui oleh sebagian besar kaum urban Jakarta adalah area cukup hijau di kawasan Jakarta Selatan, yang merupakan tempat banyak ekspatriat tinggal.

Beberapa waktu yang lalu, Kemang sempat disorot karena banyaknya area rumah tinggal yang beralih fungsi menjadi tempat usaha, sehingga ketenangan warga yang bertinggal di situ menjadi terganggu. Bila diperhatikan, di jalan utamanya memang tidak ada lagi rumah tinggal. Semuanya berubah menjadi area bisnis. Paling menjamur adalah bisnis makanan, banyak sekali restoran dengan masakan mancanegara yang muncul di situ. Tak sedikit kafe-kafe yang bila malam hari menjadi tempat nongkrong anak-anak muda. Bisnis kecantikan,  galeri, menjadi beberapa pilihan yang bisa dikunjungi di kawasan ini. Tak heran, pemerintah ingin menjadikan Kemang sebagai kawasan wisata budaya urban di ibukota.

Di siang hari, Kemang tak ubahnya seperti jalanan di Jakarta Selatan lainnya, yang panas dan berdebu. Beberapa bangunan karya arsitek ternama Indonesia bisa ditemui di sini. Ada Kemang Icon Hotel karya Sardjono Sani, Mom’s and I, toko perlengkapan ibu dan Balita karya Yori Antar, juga kalau mau mencari lebih dalam, banyak yang berfungsi sebagai galeri. Di jalan utama juga ada Papillon dengan struktur facade penuh kaca, yang kini dipakai sebagai showroom desainer Biyan untuk memamerkan karyanya. Juga Galeri Hadiprana milik keluarga arsitek Hadiprana ini mengambil lokasi cukup besar.

kemang icon

Di sini tidak akan membahas bangunan-bangunan tersebut, tapi bagaimana cara menikmatinya. Dalam satu perjalanan menyusuri lokasi ini, trotoar yang ditemui hanya selebar 1.5 m, dengan paving blok biasa, di beberapa tempat banyak bolong-bolong. Tak sedikit trotoar yang terpotong oleh ramp masuk mobil ke parkiran tempat-tempat bisnis di situ, yang terkadang mengambil area depan seluruh kaveling yang ia miliki. Seringkali pejalan kaki harus berjalan di bidang miring ramp tersebut. Sebagai tempat yang direncanakan sebagai tempat wisata budaya, area ini tidak ramah kepada pejalan kaki. Tidak nyaman untuk melalui jalan ini berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, karena kondisi trotoarnya yang seperti itu. Di beberapa tempat paving block bergelombang tidak rata, tidak sedikit yang bolong-bolong. Bahkan di depan hotel Kemang Village yang berbintang 5, kondisi trotoarnya juga bolong-bolong. Tentu tidak enak untuk tamu hotel yang mau berjalan-jalan menikmati wisata kuliner ke arah Kemang Food Festival.

Bangunan-bangunan yang indah dan susah payah dibuat oleh arsiteknya ini juga tidak bisa dinikmati secara maksimal. Adanya kabel listrik yang melintang semena-mena di ketinggian 5 m benar-benar merusak pemandangan. Benar-benar butuh angle yang cukup dekat untuk bisa menikmati / memotret visual bangunan-bangunan tersebut. Kalau sudah terlalu dekat, yang bisa kita lakukan hanyalah mendongak untuk melihatnya. Dibutuhkan kamera dengan lensa wide angle untuk menangkap imaji yang tergambar. Dari seberang jalan, facade bangunan tersebut selalu tampak terlintasi untaian kabel listrik ukuran besar dan banyak, yang benar-benar mengganggu pemandangan.

Untuk kendaraan umum yang melintasinya, hanya ada kopaja 608 jurusan blok M ragunan yang ada. Kondisi kopaja yang selalu penuh sesak bahkan di jam tidak sibuk sekalipun, karena jumlahnya yang sedikit, membuat malas mencapai tempat ini dengan kendaraan umum. Bodi yang seperti kaleng, ditambah dengan asap knalpot yang hitam, dan suara menggerung-gerung seperti ingin balapan, tidak hanya membuat sumpek orang yang ada di dalamnya, tapi juga orang-orang yang berjalan di trotoar karena harus menelan polusi asap dan polusi udara karena kendaraan ini. Lainnya? Bajaj dan taksi bisa jadi pilihan.  Bajaj untuk jarak dekat, dan taksi untuk jarak jauh. Gampang menemukan bajaj di sini, semudah menemukan kios rokok di pinggir jalan.

Pohon hijau sebagai peneduh jalan pun jarang terlihat di jalan utama. Tergusur oleh ‘pohon’ billboard yang ramai dipertontonkan pelaku bisnis yang mempromosikan usahanya. Keteduhan hanya dilihat di dalam masing-masing kaveling. Itupun sedikit sekali. Area hijau terbanyak di kampus Institut Bisnis Indonesia. Tanpa peneduh di Jakarta yang panas, bagaimana bisa jalan nyaman di kawasan seperti ini? Terlalu banyak promosi yang bisa membuat polusi mata.

Apakah ini lokasi yang ingin dijadikan kawasan wisata budaya urban? Rasanya, pemerintah kota punya banyak peer untuk membuat kawasan ini bisa dirindukan. Jangan hanya berpuas karena banyak ekspatriat atau kaum urban yang tetap datang walaupun kondisinya seperti ini. Jangan hanya mengandalkan pelaku bisnis yang mempercantik bangunannya habis-habisan, bila aksesibilitasnya tetap saja standar. Apalagi kawasan ini hanya sekitar 2 km dari kantor walikota Jakarta Selatan. Jangan hanya menerima pajak usaha saja yang tinggi, berilah mereka fasilitas infrastruktur yang memadai. Kalau perlu, tanam lagi pohon kemang di situ sebagai simbol historis jalan, juga penyejuk mata dan udara di kawasan ‘calon’ wisata ini.

kemang

 

KRL ekonomi AC 25.10.2010 :

depok : 07.25, manggarai : 08.10.

pamer bangunan di jakarta

da vinci tower di tengah bangunan modern

Setiap kali melihat deretan jalan-jalan di Jakarta, selalu ada bangunan baru. Dan lebih sering lagi bangunan-bangunan itu terlihat lebih menonjol daripada sebelumnya. Seakan berlomba untuk menjadi yang tercantik, yang terbaik, yang terindah.

Kalau dipikir lagi, alangkah egoisnya pemilik kapling-kapling itu. Mereka hanya memikirkan untuk bangunannya sendiri untuk dipandang, tanpa memperhatikan keselarasan dengan sekitar.

Ke-se-la-ra-san, mengikuti koridor tata ruang yang ada. Memangnya ada koridornya? Sejauh hanya berupa GSB, KDB, KLB, memang ada bisa kita lihat di cetak biru RTRW yang diterbitkan oleh dinas tata kota DKI. Namun kalau untuk façade, tampak, tidakkah diatur?

Mungkin memang kota tidak butuh keseragaman, tapi keselarasan adalah salah satu yang kita pelajari sebagai sintesis dari analisis tapak yang dilakukan arsitek. Apakah seorang yang egois akan membangun karyanya begitu-begitu saja, mirip dengan sekitarnya, ataukah membuat sesuatu yang baru dengan mungkin mendapat predikat ‘bangunan aneh’, selain ‘bangunan unik’?

Kalau koridor-koridor façade itu ada, tentunya kita tidak akan temukan bangunan seperti Da Vinci Tower yang bergaya sangat klasik bersebelahan dengan bangunan-bangunan bergaya modern di sekitarnya. Juga bangunan kantor di bilangan Kramat, Salemba, yang jelas-jelas mirip dengan Metro Tanah Abang, menonjol sendiri dengan hijaunya.

Pengaturan façade yang berlaku di sebagian kawasan Menteng membuat kawasan itu tertata rapi, indah dan nyaman dilalui. Sayangnya hanya sedikit kawasan di DKI ini yang tertata. Tak ada konsep penataan lain untuk kawasan-kawasan lain di Jakarta. Ke barat sedikit, hanya terpisahkan oleh Jalan Sudirman, kawasan Tanah Abang yang semrawut. Ke Timurnya, masuk kawasan Cikini dan Salemba, setali tiga uang. Sebelah Selatannya, kawasan Manggarai, beberapa memang masih tertata sedikit, namun banyaknya alih fungsi hunian menjadi ruang usaha membuat kawasan ini sama saja dalam ‘lomba-tampil-beda tampak-bangunan’ ini.

salemba raya
menteng
manggarai

Kalau melihat kota-kota di Eropa yang tidak tampak saling menonjol bangunannya, bisa tertata rapi, sepertinya Jakarta ini sangat parah dengan warganya yang suka pamer. Atau inikah ciri kota-kota di Asia? Sehingga apabila punya sesuatu yang baru harus menonjol. Dan akibatnya tidak kontekstual dengan lingkungannya. Cuma untuk tontonan. Individualis, hanya memikirkan dirinya sendiri.

renungan malam : 24.10.2010 : 23.21

hijau, hijau, hijau, Jakartaku

sedikit hijau di ruang kota

Mencari hijau di Jakarta?

Di Jakarta yang hijau kita akan temui taman-taman di mana-mana. Setiap jalan ada jalur hijaunya, ruang terbuka hijau ada di setiap wilayah. Anak-anak berlarian di lapangan bola, kekasih bergandengan di taman. Trotoar dari paving block dilalui oleh kaki-kaki  yang melangkah di bawah naungan pohon. Angsana, lamtoro, flamboyan, meneduhi banyak ruas jalan ibukota.

Mimpi?

Bisa jadi. Melihat perencanaan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta, kabarnya ruang terbuka hijau (RTH) hanya 13,9 % dari  total luas wilayah. Berapa yang dibutuhkan sebenarnya? Target sebenarnya yang untuk memenuhi kebutuhan bernapas penduduk Jakarta sejumlah 8.524.022 1) jiwa ini sebenarnya minimal 30 %. Itu baru penduduk. Bagaimana dengan penduduk harian yang ada di Jakarta hanya siang hari saja. Berarti jumlah kebutuhan ruang hijaunya makin besar.

Hmm, rasanya masih jauh dan sulit dicapai. Untuk menaikkan dari yang sekarang 9,6 % menjadi 13,9% saja banyak sekali lahan yang harus dibebaskan.2) Sebenarnya ketentuan bahwa RTH 30 % itu ditargetkan 20 % di ruang publik, artinya RTH yang diusahakan pemerintah, dan 10 % di lahan pribadi yang seting dijadikan syarat untuk pengurusan IMB. Di gambar blad RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dijelaskan, ketentuan prosentase ruang terbuka, yang dinyatakan sebagai KDB (Koefisien Dasar Bangunan) yang harus dipatuhi oleh pemilik lahan. Tapi sayangnya, ruang hijau pun masih terkena permainan korupsi. Pemilik lahan masih serakah berusaha memenuhi lahannya dengan bangunan, sehingga kongkalikong dengan petugas badan pertanahan pun terjadi. Hijau daun, hijau rumput, bisa ditukar dengan hijau uang.

Miris rasanya. Betapa sulit untuk menahan diri membangun seluas-luasnya, untuk tetap membuka ruang hijau. Hanya karena merasa sanggup membayar, pemilik-pemilik lahan itu hanya membayar denda saja tanpa berpikir bahwa tanah terbuka itu mereka tutup dengan semena-mena. Seharusnya itu tak bisa tergantikan dengan denda, seharusnya tak ternilai. Denda tidak akan menyelesaikan masalah.

Kemana jadinya larinya uang denda tersebut?  Apakah dijadikan pos Badan Pertanahan untuk membebaskan lahan hijau menggantikan kebutuhan ruang hijau wilayah, atau digunakan sebagai sumber penghasilan yang akan digunakan ‘untuk kepentingan rakyat’ entah apa.

Bagaimana kalau seandainya benar-benar 30 % dari kota Jakarta jadi ruang hijau? Mungkin tidak akan membosankan lagi. Mungkin ibukota sudah tidak di sini. Mungkin barulah kita bisa bernafas lega.

“God still creates everything but land…” demikian kata Sunardjono Danudjo. 3)


Teater Atap Salihara . 04.09.10  :  16.48.

sumber :

1)  Dinas kependudukan dan pencatatan sipil 2)  Antaranews 3)   Dinas Pekerjaan Umum