Category Archives: plaza piazza

hijau, hijau, hijau, Jakartaku

sedikit hijau di ruang kota

Mencari hijau di Jakarta?

Di Jakarta yang hijau kita akan temui taman-taman di mana-mana. Setiap jalan ada jalur hijaunya, ruang terbuka hijau ada di setiap wilayah. Anak-anak berlarian di lapangan bola, kekasih bergandengan di taman. Trotoar dari paving block dilalui oleh kaki-kaki  yang melangkah di bawah naungan pohon. Angsana, lamtoro, flamboyan, meneduhi banyak ruas jalan ibukota.

Mimpi?

Bisa jadi. Melihat perencanaan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta, kabarnya ruang terbuka hijau (RTH) hanya 13,9 % dari  total luas wilayah. Berapa yang dibutuhkan sebenarnya? Target sebenarnya yang untuk memenuhi kebutuhan bernapas penduduk Jakarta sejumlah 8.524.022 1) jiwa ini sebenarnya minimal 30 %. Itu baru penduduk. Bagaimana dengan penduduk harian yang ada di Jakarta hanya siang hari saja. Berarti jumlah kebutuhan ruang hijaunya makin besar.

Hmm, rasanya masih jauh dan sulit dicapai. Untuk menaikkan dari yang sekarang 9,6 % menjadi 13,9% saja banyak sekali lahan yang harus dibebaskan.2) Sebenarnya ketentuan bahwa RTH 30 % itu ditargetkan 20 % di ruang publik, artinya RTH yang diusahakan pemerintah, dan 10 % di lahan pribadi yang seting dijadikan syarat untuk pengurusan IMB. Di gambar blad RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) dijelaskan, ketentuan prosentase ruang terbuka, yang dinyatakan sebagai KDB (Koefisien Dasar Bangunan) yang harus dipatuhi oleh pemilik lahan. Tapi sayangnya, ruang hijau pun masih terkena permainan korupsi. Pemilik lahan masih serakah berusaha memenuhi lahannya dengan bangunan, sehingga kongkalikong dengan petugas badan pertanahan pun terjadi. Hijau daun, hijau rumput, bisa ditukar dengan hijau uang.

Miris rasanya. Betapa sulit untuk menahan diri membangun seluas-luasnya, untuk tetap membuka ruang hijau. Hanya karena merasa sanggup membayar, pemilik-pemilik lahan itu hanya membayar denda saja tanpa berpikir bahwa tanah terbuka itu mereka tutup dengan semena-mena. Seharusnya itu tak bisa tergantikan dengan denda, seharusnya tak ternilai. Denda tidak akan menyelesaikan masalah.

Kemana jadinya larinya uang denda tersebut?  Apakah dijadikan pos Badan Pertanahan untuk membebaskan lahan hijau menggantikan kebutuhan ruang hijau wilayah, atau digunakan sebagai sumber penghasilan yang akan digunakan ‘untuk kepentingan rakyat’ entah apa.

Bagaimana kalau seandainya benar-benar 30 % dari kota Jakarta jadi ruang hijau? Mungkin tidak akan membosankan lagi. Mungkin ibukota sudah tidak di sini. Mungkin barulah kita bisa bernafas lega.

“God still creates everything but land…” demikian kata Sunardjono Danudjo. 3)


Teater Atap Salihara . 04.09.10  :  16.48.

sumber :

1)  Dinas kependudukan dan pencatatan sipil 2)  Antaranews 3)   Dinas Pekerjaan Umum

bukan pasar malam, sore di batavia

museum fatahillah

Apa sih yang dibutuhkan orang kota? Apa iya orang-orang kota itu selalu membutuhkan mal? Tidak selalu. Mereka membutuhkan ruang gerak, ruang bernapas, berolah raga, eksistensi diri.

Halaman museum ini salah satu jawabannya. Walaupun museumnya tutup, aktivitas di lapangannya tetap semarak. Museum Fatahillah di kawasan Kota, Jakarta. Hanya selemparan batu dari Stasiun Jakarta Kota maupun halte busway Kota, suasana ramai seperti taman. Perkerasan yang dikelilingi oleh beberapa museum ini, Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, sama sekali tidak bisa dibilang sepi. Ratusan orang tumpah ruah di sana.

Pernah suatu siang aku ke sana di hari libur. Aku terkejut, ternyata minat remaja sekarang ke museum sangat tinggi. Dilihat dari antrian di depan loket Museum Fatahillah yang banyak dikunjungi berombongan. Tampak juga sekelompok remaja dengan dandanan seperti mau ke mal, sebenarnya aku meragukan bahwa mereka akan studi sejarah di sini, karena lebih banyak kegiatan foto-fotonya.

Hiburan di sini murah, jelas. Ruang terbuka. Gratis masuknya dan hanya memanjakan mata. Terkadang berpikir, seperti inikah plaza di Eropa? Banyak orang berkumpul dan menikmati senja? Tidak seramai pasar malam yang berjualan aneka barang? Paling banyak adalah orang berjualan gelang. Gelang lilit warna warni. Ada juga pelukis tato temporer. Di samping banyak tukang jual minuman, dengan gerobak standar yang sama dengan di tempat-tempat lain.

Plaza dengan batu candi hitam sebagai penutup lantainya sangat ramai. Tenda-tenda bekas festival masih ada. Ini bukan pasar malam. Tempat ini pun tidak memusat. Bukan tengah orientasinya, tapi melihat ke pelataran teras museum fatahillah. Dari situ bisa memandang ke Cafe Batavia dan Gedung Pos.

Satu yang kutemukan di sini bahwa ada magnet yang menjadi pusat keramaian. Seperti terlempar ke masa dulu. Pandangan ke Museum Fatahillah ditinggalkan, dan melihat ke teriakan yang ramai dilingkari pengunjung. Keramaian pertama. Tukang obat? pikirku.

tukang obat

Ah, benar, itu tukang obat. Aku hampir tidak percaya melihatnya. Hari begini masih ada tukang obat? Bukan di pasar pula? Tukang obat itu dikelilingi pengunjung dengan diameter lebih kurang 10 m. Cukup banyak, dan unik menurutku. Beberapa bule yang melintas juga menonton tukang obat itu yang beraksi dengan suara keras dari mikrofon. Orang-orang sampai berlapis 3-4 melihatnya. Entah hanya sekadar ingin tahu saja atau benar-benar butuh bantuan orang ini. Dulu kabarnya, kalau tukang obat beraksi, anak buahnya selalu berada di antara penonton, sambil ikut bersandiwara berpura-pura jadi pasien mendadak. Sehingga aksi si tukang obat untuk mengobati pasien berhasil. Setelah ini, orang-orang yang tak tahu apa-apa memborong obatnya karena takut penyakitnya, baik yang sedang menderita atau belum untuk persediaan.

Selain tukang obat, ada kelompok pecut dari banten. Mereka bergantian mengayunkan pecutnya dengan suara menggelegar diiringi suara perkusi. Ada beberapa juga yang menari topeng. Setelah beberapa pemain, ada yang mengedarkan kantong mencari recehan dari penonton.

bola-bola batu

Beberapa makanan khas juga dijual di sini. Kerak telor betawi juga ada. Pedagang makanan bertebaran di pinggir-pinggir. Yang nampak sangat kasat mata adalah penyewaan sepeda. Kalau banyak yang bilang sepeda onthel, bagiku malah aneh. Bukannya semua sepeda (saja) memang di-onthel (dikayuh). Lain halnya dengan (sepeda) motor. Rupanya istilah onthel menjadi generik untuk sepeda tua ini. Kalau jamanku di rumah eyang dulu, namanya sepeda kebo.

Pembatas area terbuka ini dengan area luar dengan satu elemen unik. Bola-bola batu. Andesit hitam berdiameter 40-50 cm ini berjejeran di tepian taman. Sebagai pembatas supaya motor tidak memasuki area. Mungkin ada beberapa yang iseng menggulirkannya. Tapi rasanya tidak ada yang berani mengangkatnya dengan tangan kosong. Sambil melirik meriam yang berada di depan museum Fatahillah, ini bukan bola meriam kan? Ukurannya terlalu besar untuk bola meriam. Dan ternyata ia sangat dinamis. Tak terpatok. Kalau berdiri di atasnya, akan terasa goyangannya siap membuatmu terpelanting kalau tak seimbang.

dasaad musin building

Daasad Musin Building, yang menjadi setting novel Rahasia Meede ini, ternyata dalamnya dijadikan gudang dan area biliar. Terlihat lusuh tak berdaya menghadapi ancaman bangunan minimalis. Sayang sekali, peninggalan secantik ini hanya untuk dijadikan reruntuhan tontonan dan latar belakang foto senja berwarna sephia. Seandainya ia jadi culture center atau perpustakaan dengan cafe, akankah ada pemodalnya? Pengunjungnya sudah pasti ada. Khalayak ramai ini yang memadati taman setiap hari libur. Entah siapa, entah kapan, apakah hanya menunggu hingga lapuk menggerogoti?

Untunglah, di sebelahnya bangunan kantor pos yang terawat dengan baik. Catnya bersih dan terlihat ia difungsikan sehari-hari. Sebagai penyambung tangan untuk banyak dokumen, kepercayaan jelas menjadi modal utama. Karena itu, di salah satu truknya, jelas tercantum seperti kita lihat di ponsel berbahasa Indonesia.

PESAN TERKIRIM.

KRL, manggarai-depokbaru, texting on shaking train..

2010.06.17.   18.40-17.25

masihkah kau menjadi magnet, bundaran HI?

deutsche bank, mandarin oriental, ..

Sore itu langit cerah. Matahari mulai meluncur ke barat. Memandang air mancur dari jembatan penyeberangan. Ah, rupanya ingin mendekat. Langkah bergegas mengikuti irama cepat. Berkerumun orang ingin memandang juga. Di depan taman yang berhias marmer italia warna terracota. Beragam orang ingin mengabadikan.

Apa sih yang menarik dari sebuah kolam berdiameter 30 m itu yang memancarkan airnya berganti-ganti, tergantung waktu dan pengaturan oleh si empunya. Ah, siapa pula si empunya itu, gubernur Jakarta-kah? Atau rakyat jelata yang mengabadikannya lewat lensa kamera?

Lihatlah komposisi itu, Hotel Nikko, Wisma Nusantara, Deutsche Bank, Hotel Mandarin Oriental, Wisma BCA, Hotel Indonesia, Grand Hyatt Plaza Indonesia. Semua mengitari memandang patung selamat datang di tengah kolam itu. Padahal patung itu sendiri tidak berorientasi pada dirinya sendiri. Ia yang dijadikan pusat teryata masih berpusat pada yang lain. Ia memandang ke arah silang Monas, bersama teman-temannya, patung di Tugu Tani dan di Pancoran. Jauh di atas kita untuk menghindari dari sumpeknya Jakarta. Patung Selamat datang di bundaran HI, masih aman dari debu kendaraan, dibuatkan ruang terbuka yang cukup untuk menikmatinya. Patung Pancoran teman jauhnya, makin mudah digapai dari jalan layang di sebelahnya.

Matahari makin turun di sebelah barat. Tak ada penunjuk waktu di sana. Hanya ada layar televisi super besar di samping pos polisi yang mati karena tak kuat membuang energi. Kerumunan mulai berpencar. Satu per satu mengambil gaya sendiri, mengabadikan kenangan di air mancur yang hanya menari satu jam lagi. Beberapa orang menyeberang jalan. Berlari melintas mendekat ke arah kolam. Kolam itu tidak bergolak. Tak peduli dengan lalu lintas yang pekak.

Melihat sekeliling, bangunan rendah merunduk pada bundaran. Namun sosok jangkung di belakangnya merangkul dan melindungi. Siapa yang ramah? Hanya yang paling depankah? Apakah keramahan hanya bisa ditunjukkan oleh yang rendah? Atau yang rendah ini sebagai tameng si tinggi? Coba lihatlah lansekap tata bangunan yang tinggi di belakang. Apakah ini namanya tipologi? Haruskan membanding ke negara tetangga lagi, atau bahkan sampai di mana Mies van de Rohe si pencetus ’less is more’ tinggal di belahan bumi lain?

Ah, lansekap langit yang dilatar depan oleh gedung-gedung tinggi mengangkasa. Menilik ke Mandarin Oriental yang menyudut mundur tepat pada titik pandang Grand Hyatt Plaza Indonesia. Tidakkah terasa dialog antar keduanya? Yang satu terasa pada massa yang dikurangi, dan yang lain pada ditambahkan bentuk massa. Ketika dihubungkan pada satu titik di kolam lingkar tepat pada garis singgung keduanya.

Memandang Hotel Indonesia yang kini memiliki Grand Indonesia sebagai kawan bermainnya, saudara muda yang jauh lebih cantik dan bersinar, sementara ia tetap tampil rendah dan bersahaja. Dijaga di belakangnya Wisma BCA bak tentara penjaga masif yang siap melindunginya.

Wisma Nusantara pernah punya kenangan tertinggi. Berdiri megah menyanjung dirinya sendiri. Diselamatkan restorasi dan disanding dengan hotel Nikko bahkan menjadi pusat berita televisi swasta untuk menayangkan acara pagi.

Mengabadikan beberapa momen sore hari. Orang berjalan, berfoto, berdemo, hingga cuci kaki. Bercanda, bercengkrama di depan polisi. Di depan ruang kota yang tak pernah sepi. Ruang terbuka yang jarang ada untuk dinikmati. Satu lingkaran yang menjadi magnet kota ini. Melewatkan hari, dengan senyum tersungging di pipi.

manggarai, kamis.03.06.2010. mendung agak-agak mau hujan. 4th day headache, 3rd night unsleeping.