Category Archives: review

little woodstock, pleasant stay at gili trawangan

cover

The human capacity for burden is like bamboo- far more flexible than you’d ever believe at first glance.
― Jodi Picoult, My Sister’s Keeper

Hujan deras di pelabuhan Bangsal menemani awal perjalananku ke Gili Trawangan. Pulau kecil yang sering menjadi destinasi wisatawan mancanegara ini menjadi tujuan istirahatku sesudah turun gunung. Perjalanan lewat air selama tiga puluh menit itu tiba di tepi pantai yang berpasir putih, dan sama sekali tidak hujan!

Aku menelepon pemilik Little Woodstock yang sudah ku-booking beberapa hari sebelumnya untuk menunjukkan arah menuju tempat penginapan tersebut. Tak lama kemudian, muncul satu karyawannya naik sepeda dan membawakan ranselku. Ternyata Little Woodstock tidak berada di tepi pantai seperti banyak penginapan lainnya, namun termasuk di tengah-tengah pulau. Aku memesannya lewat situs booking.com, dan berharap tempatnya secantik gambar-gambarnya.

Sekitar sepuluh menit berjalan kaki kami bertemu gerbang bambu di kanan dan di kiri.”Selamat datang di Little Woodstock..” sapa Pak Reza, pemilik tempat ini yang sedang bersantai-santai di bale-balenya. Bangunan-bangunan bambu berwarna kuning tertangkap mata di tengah taman dengan aneka warna yang cantik. Di sebelah kananku area resepsionis yang merangkap dapur dan tempat tinggal karyawannya. Pak Reza sendiri duduk santai sambil menonton televisi di sofa dan memperkenalkan diri. Keramahan seperti sedang berkunjung ke rumah teman rasanya.
Continue reading little woodstock, pleasant stay at gili trawangan

mengulik adlienz : si gadis pelarian laut

adlien

You did not kill the fish only to keep alive and to sell for food, he thought. You killed him for pride and because you are a fisherman. You loved him when he was alive and you loved him after. If you love him, it is not a sin to kill him. Or is it more?
― Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea

Hah, dapat jatah mereview blognya Adlienz! Asyik! Buat aku, perempuan bernama lengkap Atrasina Adlina ini amat istimewa, karena ialah satu-satunya dari teman-teman di Travel Bloggers Indonesia, yang pernah sampai di rumahku di Depok! Biasanya kan orang suka malas karena rumahku jauh di selatan sana, tapi malam itu sepulang aku kerja ia yang sedang berlibur mengunjungiku di Depok.

Pemilik blog Adlienerz.com ini kukenal dari jejaring TBI ketika ia masih bekerja di Maumere, ujung Nusa tenggara Timur. Sekarang ia ditugaskan di Ambon, Maluku untuk mengawasi perdagangan ikan di Indonesia yang akan dikapalkan ke luar negeri. Sementara itu sebelumnya ia kuliah di Makassar, Sulawesi Selatan. Keren bukan? Tempat-tempat di mana ia tinggal adalah tempat-tempat yang super pengen aku singgahi di Indonesia.

Adlienz sangat mencintai laut. Kecintaan ini yang membawanya memilih untuk belajar Kelautan di Universitas Hasanuddin Makasar, alih-alih belajar di Depok, tempatnya berasal. Makassar yang telah membawa berkeliling laut-laut Indonesia untuk bertugas membuatnya lebih mencintai dunia kemaritiman Indonesia seperti diceritakan dalam tulisan Just Follow your Travelling Passion, guys!!
Continue reading mengulik adlienz : si gadis pelarian laut

tugu hotel : pantai bermatahari hingga purnama

DSC_0164_01

Tuan, apa itu surga?
Mungkin surga adalah tempat bidadari-bidadari bersenandung.
Mungkin surga adalah tempat di mana sungai-sungai susu mengalir deras
Mungkin surga adalah tempat di mana kau bisa awet muda selamanya
Mungkin surga adalah tempat mendapatkan apa-apa yang kau inginkan
Mungkin surga adalah tempat dalam khayalan

Untuk pasangan yang sedang berbulan madu, Tugu Hotel di Lombok ini menawarkan perfect hideaway, tempat bersembunyi dan berkasih-kasihan ditemani debur ombak yang berbuih ringan. Dengan villa-villa privat, jauh dari keramaian kota, orang bisa berlibur di sini dan lupa pulang. Lambaian pohon kelapa, deretan pepohonan yang cantik, suasana yang akrab dan intim menemani keseharian di persembunyian ini. Di pantai bisa berbaring berdua dengan cahaya matahari berlimpah, tanpa takut gulungan ombak atau keramaian manusia.
Continue reading tugu hotel : pantai bermatahari hingga purnama

tugu hotel : tepian lombok utara menatap rinjani

DSC_0325_01

“In, temenin ke Lombok, yuk! Nginep di Hotel Tugu, arsitekturnya bagus, loh..,” ajak Vira, salah satu founder indohoy.com yang kukunjungi malam itu di apartemennya sambil mengembalikan adaptor. Eh, Lombok? Baru 10 bulan yang silam aku mengunjungi pulau itu mendaki gunung Rinjani dan berkeliling. Tapi tawaran Vira amat menggoda iman untuk kembali ke pulau seribu masjid itu. Jaringan Hotel Tugu yang dikenal sebagai heritage boutique hotel dan sering memasukkan unsur budaya di bangunan maupun materialnya, membuatku tertarik untuk melihat bagaimana bahan-bahan kuno masih relevan dimasukkan ke masa kini. Dua hari kemudian aku menyetujui untuk bertemu Vira di Lombok pada awal Oktober.

Pulau Lombok terlihat amat sepi ketika aku tiba hampir tengah malam itu. Seorang supir yang menjemputku, bernama Pak Lalu membawaku ke kompleks hotel Tugu sejauh hampir 2 jam dari Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah. Menuju ke utara, Pak Lalu lincah membawa kendaraannya melalui Monkey Forest, salah satu hutan yang menarik juga di dataran tinggi Lombok. Sebenarnya ada jalan lain ke sini, yaitu melalui tepian pantai Senggigi, namun agak memutar sekitar 15-20 menit.

Kami berkendara terus ke utara sampai Pak Lalu menunjukkan simpang arah Pelabuhan Bangsal, tempat naik kapal menyeberang ke Gili Trawangan. Berbelok ke kanan, tak lama kemudian muncullah patok arah bertuliskan Hotel Tugu. “Pantai ini namanya Pantai Sire, di Lombok Utara” sambil menyetir Pak Lalu memberitahuku. Mobil memasuki jalan desa yang berpasir, melalui satu kampung yang penduduknya sudah tertidur, kemudian melalui satu dinding yang di sampingnya terdapat deretan pohon kayu berwarna putih, baru kami memasuki gerbang berhenti di depan bangunan lobby. Karena mengantuk, aku langsung tidur begitu memasuki kamar yang sudah terisi terlebih dahulu oleh Vira.
Continue reading tugu hotel : tepian lombok utara menatap rinjani

colours of india : food that guide me

DSC_0269

Semua yang kenal baik denganku pasti tahu betapa inginnya aku pergi ke India. Negeri di Asia Tengah yang masakannya kaya dengan bahan rempah ini adalah tempat yang kuimpikan gara-gara ingin napak tilas perjalanan karakter si Roy ciptaan mas Gol A Gong. Berkali-kali aku menyusun rencana, tapi selalu gagal karena tak ada teman jalan yang mau diajak bareng. Terus terang, aku belum berani bepergian ke India sendiri, walaupun banyak juga orang-orang yang solo traveling di sana. Semoga tahun depan India menjadi salah satu destinasi yang kutuju, selain beberapa negara di Asia Tengah lainnya.

Karena itu, ketika ada undangan makan di Hotel Indonesia Kempinski untuk mencoba beberapa masakan di sana dalam rangkaian Colours of India, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebelumnya aku sudah beberapa kali makan masakan India di Jakarta, Singapura atau Malaysia. Rasa rempahnya yang tajam dengan berbagai bumbu kari menemani berbagai roti khas atau nasi. Dibandingkan dengan masakan Indonesia yang sama-sama kaya rempah, masakan India berbau lebih tajam. Continue reading colours of india : food that guide me

graffiti restaurant : meet the hours

DSC_0587

Love, like a chicken salad or restaurant hash, must be taken with blind faith or it loses its flavor.
Helen Rowland

Perlu 15 menit bagiku untuk menyetir dari persimpangan Lebak bulus di depan PoinSquare dan Carefour untuk sampai di Hotel Mercure, tempat restoran Graffiti berada. Menerima undangan dari kak Olyvia Bendon untuk menemaninya bersantap malam di sana, aku tiba di lobby hotel yang ditata hangat dengan lampu bernuansa kuning. Ada satu pembatas unik dari besi yang bernuansa bulat-bulat dengan jarum jam. Wah, banyak waktu di sini.
Continue reading graffiti restaurant : meet the hours