Tag Archives: lombok

renjana rinjani : bukan hanya membawa hati

cover1

To travel is the experience of ceasing to be the person you are trying to be, and becoming the person you really are.
― Paulo Coelho, Warrior of the Light

Sejauh yang aku ketahui, mendaki gunung adalah perjalanan dengan persiapan yang sangat banyak. Terlebih lagi perjalanan yang dilakukan lebih dari dua hari tanpa dekat dengan fasilitas layaknya di penginapan normal. Persiapan bukan cuma untuk diri sendiri, namun juga supaya jalur-jalur gunung yang kita jejaki tidak menanggung beban berat karena kita melalui dan sedikit merusaknya.

Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang merupakan salah satu gunung-gunung tinggi di Indonesia dengan ketinggian 3726 mdpl, menjadi salah satu impianku untuk melintasi padang-padangnya. Mendengar cerita beberapa orang yang pernah ke sana, terbit rasa iri untuk ikut menjelajahinya. Savana, jalur hutan, danau dan kabut, seperti memanggil-manggilku. Tapi kakiku yang kecil ini, apa sanggup? Pengalamanku mendaki gunung hanya berkisar gunung-gunung di Jawa Barat di masa pendidikan pencinta alam belasan tahun yang lalu, serta beberapa gunung wisata seperti Anak Krakatau, Bromo, Ijen, yah, bolehlah kalau Tangkuban Parahu mau dihitung. Jadi untuk menjelajah gunung ini perlu persiapan lebih untukku daripada pendaki-pendaki yang terbiasa.

Continue reading renjana rinjani : bukan hanya membawa hati

tugu hotel : pantai bermatahari hingga purnama

DSC_0164_01

Tuan, apa itu surga?
Mungkin surga adalah tempat bidadari-bidadari bersenandung.
Mungkin surga adalah tempat di mana sungai-sungai susu mengalir deras
Mungkin surga adalah tempat di mana kau bisa awet muda selamanya
Mungkin surga adalah tempat mendapatkan apa-apa yang kau inginkan
Mungkin surga adalah tempat dalam khayalan

Untuk pasangan yang sedang berbulan madu, Tugu Hotel di Lombok ini menawarkan perfect hideaway, tempat bersembunyi dan berkasih-kasihan ditemani debur ombak yang berbuih ringan. Dengan villa-villa privat, jauh dari keramaian kota, orang bisa berlibur di sini dan lupa pulang. Lambaian pohon kelapa, deretan pepohonan yang cantik, suasana yang akrab dan intim menemani keseharian di persembunyian ini. Di pantai bisa berbaring berdua dengan cahaya matahari berlimpah, tanpa takut gulungan ombak atau keramaian manusia.
Continue reading tugu hotel : pantai bermatahari hingga purnama

tugu hotel : tepian lombok utara menatap rinjani

DSC_0325_01

“In, temenin ke Lombok, yuk! Nginep di Hotel Tugu, arsitekturnya bagus, loh..,” ajak Vira, salah satu founder indohoy.com yang kukunjungi malam itu di apartemennya sambil mengembalikan adaptor. Eh, Lombok? Baru 10 bulan yang silam aku mengunjungi pulau itu mendaki gunung Rinjani dan berkeliling. Tapi tawaran Vira amat menggoda iman untuk kembali ke pulau seribu masjid itu. Jaringan Hotel Tugu yang dikenal sebagai heritage boutique hotel dan sering memasukkan unsur budaya di bangunan maupun materialnya, membuatku tertarik untuk melihat bagaimana bahan-bahan kuno masih relevan dimasukkan ke masa kini. Dua hari kemudian aku menyetujui untuk bertemu Vira di Lombok pada awal Oktober.

Pulau Lombok terlihat amat sepi ketika aku tiba hampir tengah malam itu. Seorang supir yang menjemputku, bernama Pak Lalu membawaku ke kompleks hotel Tugu sejauh hampir 2 jam dari Bandara Internasional Lombok di Praya, Lombok Tengah. Menuju ke utara, Pak Lalu lincah membawa kendaraannya melalui Monkey Forest, salah satu hutan yang menarik juga di dataran tinggi Lombok. Sebenarnya ada jalan lain ke sini, yaitu melalui tepian pantai Senggigi, namun agak memutar sekitar 15-20 menit.

Kami berkendara terus ke utara sampai Pak Lalu menunjukkan simpang arah Pelabuhan Bangsal, tempat naik kapal menyeberang ke Gili Trawangan. Berbelok ke kanan, tak lama kemudian muncullah patok arah bertuliskan Hotel Tugu. “Pantai ini namanya Pantai Sire, di Lombok Utara” sambil menyetir Pak Lalu memberitahuku. Mobil memasuki jalan desa yang berpasir, melalui satu kampung yang penduduknya sudah tertidur, kemudian melalui satu dinding yang di sampingnya terdapat deretan pohon kayu berwarna putih, baru kami memasuki gerbang berhenti di depan bangunan lobby. Karena mengantuk, aku langsung tidur begitu memasuki kamar yang sudah terisi terlebih dahulu oleh Vira.
Continue reading tugu hotel : tepian lombok utara menatap rinjani

air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani

cover

Free as a bird | It’s the next best thing to be | Free as a bird
Home, home and dry | Like a homing bird I’ll fly | As a bird on wings
Whatever happened to | The life that we once knew? | Can we really live without each other?
[Beatles]

“Lari, mbak! Pesawatnya sudah boarding!” begitu mas-mas pemeriksa tiket meneriaki kami yang tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada pukul 05.50 menit di tanggal 5 Maret 2011 pagi. Pesawat dijadwalkan terbang pada jam 06.15. Tentu saja maskapai yang lebih sering tepat waktu daripada delay-nya ini tidak ingin kehilangan predikatnya hanya karena rombongan konyol seperti kami. Untung saja, Sisil yang mem-booking tiket untuk kami sudah melakukan mobile check-in. Jadi, kami semua tinggal melenggang masuk kabin pesawat.

Seharusnya.

Kejadiannya, aku, Sisil, Ika dan Ayu harus berlari-lari sepanjang terminal 3, dari bawah hingga galeri koridor, lorong hingga naik pesawat. Sepertinya semua penumpang bernapas lega ketika kami berempat masuk pesawat. Muka merah padam sengaja disembunyikan ketika duduk di kursi masing-masing yang terpencar. Demi menghemat biaya, kami tidak me-reserve nomor kursi. Jadilah bebas terpencar begini. Memang asyiknya naik Air Asia itu, dari pemesanan hingga check-in kita bisa lakukan secara online, dengan tambahan berbagai fasilitas yang dibutuhkan saja. Jadi kalau tidak butuh bagasi, tidak beli. Tidak butuh memilih tempat duduk, tidak beli. Tidak butuh makanan di jalan, tidak perlu beli juga. Cocok sekali untuk pengguna jasa yang minimalis seperti aku. Irit, maksudnya.

Tiket AirAsia ini dibeli beberapa minggu sebelum berangkat. Memang bukan tiket promo, namun tetap saja harganya termurah dibandingkan maskapai lain. Dengan armada Airbus A320, harga murah ini tetap didukung kelayakan kualitas penerbangan. Terbukti kami yang langsung tidur begitu lepas landas dan baru sadar kembali karena sinar matahari mulai menerpa jendela-jendela. Yay, hanya 35 menit waktu tempuh Jakarta-Jogja, saatnya untuk menikmati kota budaya ini dan bertemu dengan komunitas Goodreads Indonesia Jogja yang janjian ketemu di Benteng Vredeburg.
Continue reading air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani