luput dari perencanaan mal

DSC_0471

“Buy what you don’t have yet, or what you really want, which can be mixed with what you already own. Buy only because something excites you, not just for the simple act of shopping.”
― Karl Lagerfeld

Terus terang, aku muak dengan mal, sehingga bangunan itu yang selalu kupersalahkan sebagai sumber kepadatan dan kemunduran kota. Memang, transaksi jual beli adalah sumber keramaian suatu daerah, indikasi pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Tetapi apabila sudah terlalu banyak, buat apa? Dengan adanya penularan glamorisasi Jakarta ke kota-kota kecil, menjadikan masyarakat non urban semakin konsumtif.

Aku berpendapat, arsitek ikut bertanggung jawab juga atas kematian sebuah kota, yang membuat kota tumbuh dengan glamornya dan menumbuhkan juga sisi printil-printilnya seperti hunian-hunian sesak di tengah kota yang mensuplai kebutuhan bangunan-bangunan mewah tersebut. Ketika ada satu pusat ekonomi baru yang tumbuh di satu daerah, akan memancing masyarakat mampu untuk melakukan transaksi jual beli di situ, baik karena butuh, atau hanya sebagai tempat hiburan, atau pemuas gengsi karena berada di lokasi dengan perputaran uang tinggi. Tidak hanya menarik pembeli, mal juga menarik pekerja dengan kemampuan finansial secukupnya, yang ternyata menciptakan ruang-ruang baru di sekitarnya yang tidak tertata sebagai bagian dari adanya keramaian berikut.

Muncul tempat ‘ngetem’ baru oleh angkutan umum yang menurun-naikkan penumpang di depan, seringkali menimbulkan kemacetan. Sering arsitek hanya memikirkan tempat drop-off mobil dan jumlah parkir gedung, tetapi alpa akan pengunjung yang datang dengan angkutan umum. Tidak mau merelakan lahannya dibuat menjorok ke dalam supaya memberi ruang untuk angkutan umum yang berhenti sejenak, sehingga mereka berhenti dengan memakan badan jalan yang seharusnya untuk laluan kendaraan lewat. Padahal, intensitas pengunjung yang datang dengan angkutan umum lebih banyak daripada kendaraan pribadi.
Continue reading

Advertisements

jelajah kapal, jelajah krakatau

DSC_0322-lands

“Suara, nyanyian, musik, gunung, pantai, langit, padang pasir, laut yang membuat mereka indah sesungguhnya hal yang tidak kelihatan. Matahari juga tak bisa ditatap langsung oleh mata, tetapi yang membuatnya indah bukan hal yang bisa ditatap langsung oleh mata kan?”
— Fahd Jibran : Rahim

Dari beberapa perjalanan ke tepi lautan di tahun 2012 ini, mungkin perjalanan ke Krakatau adalah salah satu yang paling kusukai. Kepulauan yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatera ini aku kunjungi pada pertengahan September 2012, kira-kira dua minggu sesudah sempat ada lelehan lava keluar dari kawah Anak Krakatau yang masih aktif. Perjalanan yang diarungi dari gunung hingga laut.

Dalam perjalanan ini seluruh anggota rombongan kami tidak tanggung-tanggung, 90-an orang! Namun sepertinya tidak terlalu kendala karena beberapa orang dalam kelompok-kelompok yang mendaftar bersama. Tidak demikian denganku. Mendaftar mendadak sendiri karena salah satu rencanaku batal di akhir minggu, membuat aku tidak tergabung dengan kelompok mana pun. Namun sesudah menculik seorang teman yang suka memotret dari Yogya yang berdomisili di Jakarta, lega paling tidak ada yang bisa memotret bersama untuk di sana.

Dalam perjalanan, bertemu dengan banyak kenalan-kenalan baru, bahkan ketemu dengan seseorang yang sempat kenalan di Karimun Jawa. Memang di dunia traveling, tidak sulit menemukan teman yang sehobi dan tak sengaja ketemu lagi di tempat lain. Kurasa, momen berkenalan dengan banyak orang baru ini yang paling menyenangkan, di mana kita bisa saling berbagi tentang pengalaman-pengalaman sebelumnya, juga untuk belajar toleran pada orang lain. Bukankah bertemu orang baru itu bisa membuat kita mempelajari karakter orang lain, beda dengan orang-orang sekitar yang sehari-hari kita temui?

Kepulauan Krakatau relatif mudah dicapai, hanya sekitar 1-2 jam naik mobil (angkot) dari Pelabuhan Bakauheuni, ke arah Dermaga Canti, Kalianda. Dermaga ini adalah salah satu dermaga utama dari kepulauan yang menjadi pusat transportasi penduduk kepulauan. Beberapa kapal bersandar di pagi hari itu. Kapal penumpang dengan lebar sekitar 3 m dan panjang 10-12 meter ini banyak datang dimuati oleh hasil bumi, yaitu buah pisang. Selain itu, kapal-kapal ini juga mengangkut kendaraan yang digunakan untuk transportasi di sana. Jadi kapal-kapal ini tak sekadar menyeberangkan penumpang, namun juga kendaraannya. Semacam ferry namun berukuran kecil dan berbahan kayu.

Continue reading