nara heritage walk : kota pejalan kaki

0-nara-japan-buddha-hall-kofukuji-X

“No one saves us but ourselves. No one can and no one may. We ourselves must walk the path.”
― Gautama Buddha, Sayings Of Buddha

Sudah lama aku mendengar tentang kota Nara di Jepang, yang digadang-gadang sebagai sister-city dari beberapa kota di Indonesia. Dengan penjelasan seorang teman yang baru dari sana dan letaknya yang tidak terlalu jauh dari kota tinggalku dan Windu, membuatku mencari pengalaman baru di kota taman yang istimewa ini. Nara ditempuh dalam waktu sekitar satu jam dengan kereta dari Osaka. Jejaring JR Pass membuat kami hanya menunjukkan kartu saja dalam perjalanan di area prefektural Kansai ini.

Yang istimewa, kota Nara ini bisa dijelajahi sambil berjalan kaki. Pertama kali tiba di stasiun Nara, kami langsung menuju bangunan Tourist Information Center. Di situ kami bisa memdapatkan peta kota Nara beserta jalur umum yang dilewati sembari berjalan kaki. Seorang bapak tua akan menjelaskan dalam bahasa Inggris yang baik, tentang tempat-tempat yang bisa kami kunjungi. “You can walk to these place by four to six hours,” sambil menandai dengan pensil merah. Gambar rusa yang lucu menghiasi peta wisata kami, yang merupakan simbol kota Nara. Continue reading

himeji museum of literature, bahasa arsitektur tadao ando

0-cover-1

“What is it to die but to stand naked in the wind and to melt into the sun?”
― Kahlil Gibran, The Prophet

Orang Jepang sangat terkenal dengan kebiasaannya membaca. Sering dilihat dari berbagai ilustrasi, orang Jepang yang membaca di kereta, di bis, di taman, atau di banyak tempat. Mereka mempelajari tulisan-tulisan sastra sejak kecil, mulai dari legenda hingga cerita, kemudian sebagian menulis cerita juga di masa dewasa, dan tak sedikit yang mengembangkan dirinya dengan cerita bergambar. Maka tak heran, berbagai bangunan untuk mengakomodasi kecintaan rakyat Jepang terhadap literasi ini dibangun, salah satunya yang sengaja kukunjungi ketika berada di kota Himeji.

Selagi masih di kota ini, aku menemukan bahwa ada karya Tadao Ando yang berada di kota tersebut, yaitu Himeji Museum of Literature. Letaknya yang tak jauh dari jalur bis yang kami lewati sesudah turun dari Mount Shosha, tempat Kuil Engyoji berada. Hanya berjarak sekitar 200-an meter, kami menemukan dua bangunan dengan bentuk massa solid yang saling bersebelahan.
Continue reading

stempel di jepang, pengingat perjalanan

DSC_0831

Every man bears the whole stamp of the human condition.
Michel de Montaigne

Menurut beberapa berita yang pernah kubaca, orang Jepang suka sekali mengumpulkan stempel. Makanya di hari pertama aku sampai di sana dan menemukan stempel lucu di Osaka Castle, aku langsung mencari buku notes untuk tempat mengumpulkan koleksiku ini. Daripada koleksi pin, boneka, perangko, suvenir, magnet kulkas, gantungan kunci, atau barang-barang yang dibawa, sepertinya ini lebih murah (dan lebih ringan).

Di banyak tempat, di stasiun, di museum, di titik-titik menarik selalu ada stempel sebagai kenang-kenangan pengingat tempat. Bisa didapatkan dengan gratis di satu sudut awal, atau pun sesudah berkeliling museum atau taman sekali pun. Di stasiun, lokasi stempel biasanya di dekat gate masuk, atau di dekat pusat informasi, dengan ukuran yang cukup besar, sekitar diameter 6 cm. Gara-gara ini, setiap sampai di stasiun baru aku selalu celingukan mencari lokasi bak stempelnya.

Continue reading

menyusuri trotoar jepang demi manhole cover

DSC_0278

“If I collected dust, I wouldn’t mind if I got dust on it. My collection would grow and accumulate naturally. Probably my love would blend in with it as well, since I haven’t used it in so long.”
Jarod Kintz, This Book is Not FOR SALE

Ada foto yang menarik untuk dikoleksi selama menyusuri jalan-jalan di kota-kota Jepang. Jika orang-orang lain mengoleksi foto landmark, foto kuil, plang atau tempat-tempat lain sebagai penanda, aku mencari sesuatu yang lebih mudah ditemukan dan khas.

Jadi aku mengoleksi foto manhole cover (lubang untuk turun ke saluran bawah tanah) yang mudah ditemukan ketika berjalan kaki. Benda ini paling mudah ditemukan di trotoar. Bentuknya bundar dengan diameter sekitar 60 cm. Biasanya terbuat dari besi baja yang bergambar lambang-lambang yang berkaitan dengan kota. Ada yang berwarna, ataupun monokrom. Aku sendiri tidak tahu apakah di bawah sana ada berbagai macam fungsi untuk utilitas kota mengingat kota-kota di Jepang itu multi layer, tapi mengamati tutup di permukaan tanah ini sangat menarik.
Continue reading

traveling ke jepang : bawa koper atau ransel?

3-ninenzaka-kyoto

Jujur aku agak sulit memutuskan sewaktu bepergian ke Jepang mau bawa koper atau ransel. Tapi berhubung aku hanya punya ransel 35+10 liter itu plus daypack 25 liter, jadi benda itu saja yang kubawa. Untuk mewadahi kebutuhanku selama 12 hari, jaket, pakaian, tripod, tongsis, kamera, dan alat-alat lain memenuhi tasku. Rencananya ransel akan kutinggal di hotel, sementara daypack dibawa jalan-jalan.

Tapi ternyata ada lokasi-lokasi yang membuatku kepengin bawa koper karena, hmmm.. sakit juga punggung bawa ransel yang berat ini di akhir musim panas yang membuat keringat bercucuran ini. Tetapi setiap kondisi memang ada perbandingan-perbandingannya, koq.
Continue reading