Tag Archives: jawa barat

harris hotel bekasi : temporary living at the junction

0-harris-bekasi-cover

Panas, macet, jauh, rasanya selalu diidentikkan dengan Bekasi. Kotamadya yang terletak di sebelah timur Jakarta ini memang berkembang begitu saja seiring dengan tingkat perkembangan industri di sini, yang mengakibatkan kota ini memiliki aktivitas yang tinggi, dan juga intensitas yang tak kalah padat. Bekasi menjadi primadona sebagai kota penunjang kegiatan industri. Karena itu, tak heran jika jaringan Hotel Harris melirik Bekasi sebagai pasar potensial penunjang kegiatan bisnis sebagai fungsi akomodasi.

Lokasi Hotel Harris Bekasi ini tidak terlalu jauh dari stasiun Bekasi. Cuma 10 menit dari stasiun melalui Jalan Raya Perjuangan, lewat halaman belakang dan tiba di hotel cantik ini. Kalau lewat bagian depan stasiun, bisa naik taksi melalui gerbang depan kompleks Summarecon yang ditandai dengan jembatan layang melintasi jalan jendral Sudirman. Eh, kompleks? Iya dong, Hotel Harris Bekasi ini berada di tengah kompleks Summarecon. Lebih asyiknya lagi, di samping Mal Summarecon persis.

Tentu saja, area di jantung kota Bekasi ini menjadi strategis, karena mudah dijangkau dari Kawasan Industri Cakung, atau Kawasan Industri MM 2100. Daripada tinggal di kawasan hotel yang agak sepi, setidaknya di sini lebih banyak kehidupan. Malnya cukup ramai juga, loh.
Continue reading harris hotel bekasi : temporary living at the junction

tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

cover-sunyaragi

“Ngapain ke Goa Sunyaragi, kan cuma batu doang,” begitu kata salah seorang kerabat yang aku tinggali ketika aku pamit hendak ke situs bebatuan di selatan Cirebon itu. Seandainya ia tahu, bahwa keponakannya ini memang tergila-gila pada batu dengan ukuran besar, apalagi Goa Sunyaragi adalah salah satu tempat yang menggoda untuk ditilik, karena susunan batu-batunya yang membentuk ruangan-ruangan bak istana. Gunakan daya khayal secukupnya, dan jadikan dirimu seorang puteri.

Berada tak jauh dari terminal Harjamukti, Goa Sunyaragi bisa dicapai dengan kendaraan umum hingga tepat di depannya, atau dengan kendaraan pribadi. Pertama tiba aku celingukan mencari di mana pintu masuknya karena dikelilingi oleh pagar, sampai seorang petugas memanggilku untuk mendaftar dulu di satu pendopo. Dengan harga karcis sebesar Rp. 8000/orang, bebas berkeliling lingkungan situs yang cukup rapi ini. Bisa juga menggunakan pemandu, sih. Tapi karena mau agak lama, jadi aku hanya menguping sedikit-sedikit dari pemandu di rombongan depan.

Continue reading tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian

cover-keraton-kanoman

Life starts from a white hole and ends in a black hole.
― Santosh Kalwar

Mana yang lebih dulu ada? Keratonnya atau pasarnya? Pasti pemikiran itu muncul ketika mencari posisi Keraton Kanoman. Sejak aku lahir di Cirebon, belum pernah aku sampai ke Keraton ini, selain hanya kudengar lewat nama saja. Kanoman, di keluarga kami, hanyalah nama pasar yang berada di sebelah timur kota. Bukan pasar kering yang cantik, namun pasar benaran, seperti pasar-pasar yang umum ada di Pulau Jawa, lembab, becek, dan padat. Tidak ada bedanya dengan Pasar Pagi yang berada di dekat rumah kami.

Jadi selepas dari Keraton Kasepuhan, aku berjalan kaki ke arah Keraton Kanoman. “Lurus saja jalan ini, neng. Nanti ada jalan masuk di pasar, dilewati, nanti ketemu keratonnya,” kata mamang tukang tahu di ujung jalan Kasepuhan itu. Sambil berjalan di trotoar yang tidak terlalu bersih dan menguarkan bau amis itu (karena Cirebon kota Udang, kuterima saja aroma itu tanpa merasa terganggu), setelah lima belas menit aku menemukan pasarnya. Dan, jalan yang tadi disebutkan oleh tukang tahu itu ternyata cukup lebar, dengan gerbang besar bertuliskan : Pasar Kanoman. Lha?

Continue reading keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian

keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana

keraton-kasepuhan-cirebon-2-tempat-raja-Mande-Malang-Sumirang

Above us our palace waits, the only one I’ve ever needed. Its walls are space, its floor is sky, its center everywhere. We rise; the shapes cluster around us in welcome, dissolving and forming again like fireflies in a summer evening.
― Chitra Banerjee Divakaruni, The Palace of Illusions

Jika disebut ‘keraton’ saja di Cirebon, kebanyakan orang hanya tahu Keraton Kasepuhan yang berada di arah timur. Padahal sebenarnya di Cirebon ada dua keraton lagi yang bisa dikunjungi. Memang kompleks Kasepuhan ini paling tua jika dibandingkan dengan dua keraton lagi, Kanoman dan Kacirebonan, karenanya menjadi paling populer. Apalagi berbagai kegiatan budaya di Cirebon lebih sering dilaksanakan di alun-alun Keraton Kasepuhan.

Sebagai seseorang yang pernah numpang lahir saja di Cirebon, setiap liburan aku sering penasaran ada apa di dalam tempat tinggal raja-raja Cirebon ini. Tapi karena tidak tinggal dekat dengan keraton, maka keluargaku tidak pernah mengajak untuk jalan-jalan ke dekat sana, kecuali ketika ada acara malam Mauludan, dimana ada pasar malam dan aneka mainan dan makanan dijual, di depan Keraton Kasepuhan.

Dengan ketertarikanku pada budaya, aku menilik tiga keraton ini pada satu musim liburan, melihat peninggalan kerajaan di pesisir pantai ini. Hitung-hitung sambil melihat silsilah keluarga kami, walaupun sudah berjarak ratusan tahun. Kota Cirebon kini secara administratif dipimpin oleh Walikota, bukan salah satu dari ketiga penguasa keraton tersebut.

Continue reading keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana

solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

cover

Menurut aku, salah satu kota yang asyik untuk solo traveling itu adalah Cirebon. Kenapa demikian? Pertama karena aku lahir di sana, namun tidak pernah tinggal di situ sehingga setiap tahun selalu mampir untuk berkunjung pada kerabat. Masalahnya, dari seluruh sepupu-sepupu yang sebaya itu, tak satu pun yang tertarik untuk mengamati peninggalan budaya yang tersebar di berbagai kota seperti aku. Kalau makan, kami tetap pergi beramai-ramai. Jadilah aku yang suka membaca buku sejarah ini berkeliling Cirebon tanpa ditemani pemandu. Solo traveling, kenapa kamu tidak?

Cirebon berada di propinsi Jawa Barat, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa yang tak jauh dari perbatasan ke Jawa Tengah. Lokasinya yang sedikit bimbang ini membuat dialek bahasanya cukup berbeda dari bahasa Sunda pada umumnya di propinsi Jawa Barat. Bahasa Cirebon agak bercampur dengan bahasa Jawa, dan cengkok pengucapannya pun agak berbeda. Seperti karakteristik bahasa untuk kota-kota di tepi pantai, pengucapannya tidak halus, cenderung cepat dan keras.

Dengan posisi geografisnya, Cirebon di masa lalu sering dirapati oleh pendatang dari berbagai bangsa, seperti Melayu, Tionghoa, dan Arab. Bertempat juga di jalur pos utara Jawa, menjadi titik perpindahan suku Sunda dan Jawa. Akulturasi dari pertemuan ini membentuk budaya yang kaya baik dari makanan, pakaian, atau bangunan dan masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Continue reading solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

sinjang lawang : sungai dalam goa

DSCN0738

Percaya tidak, dulu aku sering menjelajah goa? Sewaktu zaman kuliah dulu, hampir tiap bulan aku keluar masuk goa. Baju coverall, helm boom, sepatu boots, senter, webbing, carabiner, selalu menemani ranselku. Baju basah, bau dan berlumpur selalu menjadi oleh-oleh dari perjalanan yang bisa dilakukan siang atau malam itu. Bebas! Di goa kan gelap, jadi tidak ada masalah tentang waktunya.

Sebenarnya aku cuma mengelilingi goa-goa di Jawa Barat, mulai dari kawasan goa di Citeureup, kawasan goa di Buniayu, Sukabumi, sampai goa-goa di area Bayah pun pernah kujelajahi keluar masuk selama berhari-hari. Kalau ingat masa-masa itu rasanya asyik sekali. Sayang, ketika waktu penjelajahan ke Luweng Jaran Jawa Timur dan sampai ke Maros Sulawesi, aku harus kembali lagi berkutat dengan modul kuliah yang memaksaku lulus. Bakti terhadap orang tua ternyata lebih besar dari ambisi masuk goa.

Continue reading sinjang lawang : sungai dalam goa

cirebon : mudik dan perut yang manja

DSC_0221

I’m on seafood diet
I see food, and I eat it.

Ada satu hal yang selalu aku inginkan setiap kali aku pulang ke Cirebon. MAKAN. Makan makanan khas Cirebon. Karena aku yakin, bahwa makanan paling enak dimakan di tempat asalnya, termasuk asap, mengantri, dan keramaiannya. Dan sebagai tempat lahirku lebih dari 30 tahun yang lalu, walaupun tidak pernah tinggal di situ, Cirebon selalu menjadi tempat yang dirindukan untuk pulang, terutama mengupayakan kenaikan berat badan.

Cirebon terletak di jalur Pantura, sekitar 3.5 jam naik kereta dari Jakarta, 5 jam dari Jogja naik kereta juga, 8 jam dari Surabaya, hampir 12 jam dari Blitar. Dengan mobil? Unpredictable. Kami pernah terjebak macet 12 jam ketika berangkat mudik sesudah sahur di Depok. Tahun berikutnya, kami berangkat sesudah buka maghrib, alhasil sampai Cirebon jam 7 pagi keesokan harinya. Selanjutnya, ayah memilih tidak bawa mobil kalau mudik. Atau kami baru mudik sesudah hari lebaran. Itu pun dari Bandung, karena mereka memilih tinggal di situ sembari menemani adikku kuliah. Ya, keluarga kami tinggal berpindah-pindah di pulau Jawa, sehingga sering melawan arus balik untuk pulang ke Cirebon. Ketika tinggal di Jakarta, itu ujian sesungguhnya.

Setiap kali tiba di kota Cirebon, perutku selalu mendadak lapar. Di depan Stasiun Kejaksan Cirebon berderet berbagai tukang empal gentong kebanggaan Cirebon. Sayangnya, karena mudik di lebaran kemarin aku naik kereta ekonomi, kereta turun di Stasiun Prujakan, yang tidak terlalu banyak tukang makanannya. Tapi ketika naik becak ke Gunungsari, hm.. hmm.. Perutku bergejolak. Angin berhembus kencang.

Continue reading cirebon : mudik dan perut yang manja