tugu sri lestari hotel blitar, old-fashioned romantic

0-tugu-hotel-blitar-cover-y

Though we travel the world over to find the beautiful, we must carry it with us, or we find it not.
― Ralph Waldo Emerson

Hampir jam delapan malam ketika aku memasuki halaman Hotel Tugu Sri Lestari di Blitar, kota yang pernah kutinggali di awal tahun 90-an. Sebenarnya aku sudah tiba di Blitar sejak jam 4 sore, tetapi karena tiba-tiba aku kepengin ke Tulung Agung, satu kabupaten di sebelah barat Blitar tempat tinggal eyang kakung dan eyang putriku dulu, jadi aku membelokkan mobil dulu menuju kota yang berjarak satu jam dari Blitar itu.

Kota Blitar masih sepi dan tenang seperti kuingat 25 tahun silam. Bahkan ketika lampu lalu lintas berubah hijau dan aku belum bersiap menekan pedal gas, tidak ada pengendara di belakang yang gelisah dan mengklakson seperti di kota besar. Tak heran kota ini berulang kali menerima penghargaan sebagai kota berlalu lintas terbaik se-Jawa Timur.

Continue reading

Advertisements

enjoy atmosphere with malang city tour bus

0-cover-malang-city-tour-bus

‘How come the Muggles don’t hear the bus? …
J.K. Rowling, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

There is a memory that splendid while returning into the city of Malang. For me, Malang was holidays, because I’ve never actually lived here. But turn back more than 25 years ago, I always visit Malang every month, not just passing by, but some frequently visit.

When I took picture inside Ban Lam Wine & Bar at Tugu Hotel Malang, Pak Bagus, manager of the hotel just ask, “Why don’t you just try Malang City Tour Bus? It would be easily to travel around the old town of Malang.” Gasp, suddenly I was being attracted by the offer. Why not? I never imagined that Malang had their City Tour Bus, just like Semarjawi at Semarang, or Bandros at Bandung or Jakarta’s Mpok Siti. He explained, “This is Sunday, the bus will travel around more often.” Hm, actually I planned to go to Batu that day, but I feel doubtful because I had heard that all the way to Batu would stuck on traffic within Sunday.

Continue reading

tugu hotel malang : magical little asia

0-cover-hotel-tugu-malang-1

Bila kau memang alien, seharusnya kau bisa menemaniku berkelana mengelilingi dunia. Kita dapat menemukan takdir-takdir yang orang lain enggan jelajahi.
– Dewi Kharisma Michelia : Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya

Ada satu sisi yang luput dari perjalanan di masa kecilku di kota Malang dahulu. Karena selalu naik mobil, aku selalu melewatkan satu titik penting di kota apel ini. Padahal jika naik kereta, pasti akan menyempatkan mampir ke daerah ini, lokasi yang tak terlalu jauh dari alun-alun kota.

Pertengahan bulan lalu aku kembali ke kota dingin ini, dan mendapat kesempatan untuk menginap di Hotel Tugu Malang, yang terletak di salah satu titik historik kota, tepat berhadapan dengan alun-alun Tugu, yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting lainnya, Gedung Balaikota, Gedung DPRD, Gedung Markas Komando Militer, gedung SMA. Dan tepat di poros ujungnya, salah satu titik transportasi, Stasiun Tugu Malang.

Hotel Tugu agak sulit ditemukan padahal lokasinya strategis, karena ia tersembunyi di dalam ‘barrier‘ pepohonan hijau di depannya, mengurangi kebisingan kendaraan yang lalu lalang di depannya, dan menciptakan suasana sejuk dan dingin di dalamnya. Pepohonan, pensuplai utama oksigen, melingkupi hampir semua latar depannya. Continue reading

jati meranggas #5 : meru betiri, surga bersembunyi

cover

The beach is not a place to work; to read, write or to think.
― Anne Morrow Lindbergh, Gift from the Sea

cerita sebelumnya : jati meranggas #4 : air terjun sampai ke laut

Sebenarnya aku agak malu mengakui, bahwa Meru Betiri yang menjadi impianku adalah semacam ‘penaklukan’ atas Pulau Jawa karena sudah menjejak dari barat sampai akhirnya timur. Walau ternyata aku salah, karena masih ada Pantai Plengkung di semenanjung timur sana, namun memang sepertinya Sukamade bisa menjadi awalan.

Ketertarikanku lebih dengan lokasi ini ketika tahun 2005 naik pesawat menuju Bali. Beberapa menit sebelum mendarat di Bandara Ngurah Rai, tampak garis pantai Jawa Timur bagian selatan, dengan pasir putihnya yang indah. Saat itu timbul di hati kecilku yang sudah sering melintas jalan-jalan di Pulau Jawa sejak kecil, satu saat aku akan ke Meru Betiri untuk melengkapi peta perjalananku. Awal timbulnya sudah sejak kuliah aku sudah ingin ke sini, untuk alasan itu, bahwa kaki menaklukan Pulau Jawa ujung ke ujung.

Info tentang lokasi ini di kalangan teman-teman minim sekali. Dari milis, forum, teman dekat, alumni pencinta alam, tak satu pun yang kukenal pernah ke sana. Tak kusangka, ketika aku sedang merencanakan perjalanan ini, aku menulis di twitter whislistku di Pulau Jawa adalah Meru Betiri, kak Nungki Prameswari, seorang dokter gigi yang kukenal lewat twitter me-reply : mampir Pantai Sukamade..
Continue reading

jati meranggas #4 : air terjun sampai ke laut

cover-herd

I beg your pardon, Owl, but I th-th-th-think we coming to a fatterfall… a flutterfall…
a very big waterfall!
~ Piglet

cerita sebelumnya : jati meranggas #3: warna warni ijen

Setiap keterlambatan awal pasti menghasilkan keterlambatan-keterlambatan berikutnya. Namun, karena ini di perjalanan, alih-alih menyesal, lebih baik menikmati keterlambatan itu dan mendapatkan hal-hal berharga yang bisa kita lihat.

Dalam perjalanan melintasinya PTPN XII Ijen , kami melalui beberapa kelompok hutan, kelompok kebun dan kelompok permukiman. Daerah ini puluhan kilometer jauhnya dari kota, terbatasi oleh ketinggian pegunungan dan punya ritme sendiri untuk menjalani hari-harinya. Kota terdekat Bondowoso di sebelah barat, dan Banyuwangi di sebelah timur. Kemarin kami datang dari Bondowoso, hari ini kami turun lewat Banyuwangi. Keterlambatan berangkat dari Bromo berakibat kami kemalaman sampai Ijen. Terlambat berangkat dari Ijen pula membuat kami mengalami petualangan lain. Tetapi kami memilih untuk mendapatkan lebih banyak daripada jalan terburu-buru.

Pagi itu, sepulang dari kawah Ijen ke Catimor, kami melihat orang-orang sudah melakukan pekerjaannya di kebun. Ada yang menyiangi tanaman, menyemprot hama, menyemai tanaman di lahan-lahan baru. Masuk daerah pemukiman sudah terlihat sepi. Sepertinya orang dewasa bekerja ke kebun. Lalu di manakah anak-anak? Semula aku kira anak-anak ikut orang tuanya bekerja di kebun, lalu kemudian baru teringat, ini kan hari Sabtu, mungkin mereka sekolah. Ternyata benar, ada sebuah TK tak jauh dari wisma Catimor yang beraktivitas. Pagi hari itu, kami bisa melihat dengan jelas daerah permukiman yang termasuk kawasan afdeling Blawan. Di tengah permukiman, tepat di depan pabrik pengolahan kopi, terdapat pembangkit listrik mikrohidro yang memberi energi listrik untuk seluruh permukiman, mengambil tenaga dari sebuah sungai selebar 4-5 m yang mengalir di tengah permukiman. Pembangkit ini yang ditemui di malam sebelumnya dijaga oleh mas Rahman yang mengantar kami ke sumber air panas alami.
Continue reading

jati meranggas #3 : warna warni ijen

cover

Bagiku waktu selalu pagi. Di antara seluruh potongan 24 jam sehari, bagiku pagi adalah waktu terindah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan, ketika harapan-harapan baru merekah seirng kabut yang mengambang di pesawahan hingga nun jauh di kaki pegunungan.
~Tere Liye

cerita sebelumnya : jati meranggas #2 : pesisir, jati, dan kopi

Bagi kebanyakan orang, pemandangan yang paling dicari ketika mendaki gunung adalah saat matahari terbit. Saat berada di ketinggian ribuan dpl dan melihat saat sang bagaskara muncul di timur perlahan-lahan benar-benar membuat terpana dan hanya diam, mengagumi kebesaran-Nya. Sinar matahari pagi dengan pemandangan yang indah memberikan perasaan haru dan energi positif yang menyeruak ke seluruh tubuh.

Gunung Ijen dengan puncak 2386 mdpl, salah satu gunung tertimur di pulau Jawa, sebagian masuk di Banyuwangi dan sebagian di Bondowoso, menyongsong fajar lebih dulu daripada daerah-daerah lain di Jawa. Sebenarnya tidak terlalu sulit mencapai tempat ini. Jika memiliki kendaraan pribadi, lewat Bondowoso bisa melewati jalan tengah hutan kami lalui yang sudah aku ceritakan. Kalau melalui Banyuwangi, bisa naik dari daerah Licin terus ke atas sampai Paltuding, start point tempat kita harus mulai berjalan kaki sampai kawah. Kondisi jalan cukup bagus tidak banyak lubangnya, naik mobil biasa (tidak perlu jeep) atau motor bisa terus sampai Paltuding. Apabila tidak naik kendaraan pribadi, bisa ikut dengan truk pengangkut belerang dari Banyuwangi yang akan naik ke Paltuding, atau naik ojek selama hampir 2 jam juga tersedia di desa Licin, Banyuwangi.

Ada beberapa alternatif menginap sebelum naik ke gunung Ijen. Apabila ingin lebih dekat ke starting point, di Paltuding juga tersedia wisma yang bisa diinapi oleh tamu dari jauh, juga ada tanah lapang apabila ingin menggelar tenda di situ. Atau di kawasan perkebunan PTPN XII di wisma Arabica atau di wisma Catimor tempat kami tinggal yang juga bisa melihat proses pengolahan kopi dari dekat. Apabila wisma ini penuh, pihak penginapan akan mendistribusikan tamu-tamu untuk homestay di rumah penduduk, yang merupakan rumah pegawai PTPN XII juga. Pilihan kami menginap di Catimor karena ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi di dekat situ, seperti air panas, pengolahan kopi, melihat pemukiman perkebunan, juga air terjun Belawan yang tak jauh dari situ.
Continue reading

jati meranggas #2: pesisir, jati, dan kopi

foto1

the long and winding road
that leads to your door
will never disappear
I’ve seen that road before
it always leads me here
leads me to your door
-the Beatles-

cerita sebelumnya : jati meranggas #1 : matahari di atas bromo lautan pasir

Kenapa kami memilih Ijen sebagai tujuan selanjutnya? Pertama karena jangkauan gunung ini dengan berjalan kaki tidak terlalu jauh, menurut informasi hanya sekitar 2 jam saja. Karena kami tidak terlalu berpengalaman naik gunung, maka alih-alih ke Semeru dari Bromo, kami memilih Ijen di Jawa yang lebih Timur, dan juga lebih rendah, hanya 2386 mdpl. Selain itu, kami pikir jalur Bromo sampai Ijen sejauh 7 jam perjalanan itu pasti banyak yang bisa dilihat, kekhasan kota, tepi laut, juga hutan. Dengan formasi duduk aku di depan, Sansan dan Adhib di jok tengah, sementara Herdian di belakang, kami meninggalkan desa Ngadisari jam 1 siang, turun ke Probolinggo diantar hujan deras.

lalu lewat hutan
Siang menuju sore itu, cuaca cerah-cerah basah. Turun dari Bromo, kami menyusuri kota Probolinggo yang beberapa dari kami baru pertama kali melewati seumur hidup. Sewaktu kecil dulu aku pernah beberapa kali melintas sewaktu bolak balik ke Situbondo. Tapi ternyata kotanya sudah jauh berbeda. Patok-patok jalan yang didominasi warnya jingga cerah, dengan rel kereta yang menyusur di sebelah kiri kita sepanjang perjalanan kami menjauhi arah terbenam matahari. Ngobrol-ngobrol dengan mas Gitar yang saat itu sudah berganti kaus biru (mungkin supaya senada dengan warna mobilnya), ternyata ia pun belum pernah ke daerah Ijen. Ia hanya berbekal petunjuk arah dari temannya. Wah, asyik nih, berarti perjalanan kita lebih bernuansa petualangan lagi, secara semuanya adalah tour perdana. Nyasar-nyasar sedikit, bolehlah.
Continue reading

jati meranggas #1 : matahari di atas bromo lautan pasir

cover

i love indonesia more than ever
~ tulisan di kaos

Pohon apa yang meranggas di musim kemarau? Pertanyaan umum sejak SD ini cuma memiliki satu jawaban pasti : Jati. Entah kenapa, pohon mahoni, pohon karet, atau pohon-pohon kayu yang sengaja menggugurkan daunnya untuk menjaga ketersediaan air di dalam tubuhnya, tidak ikut menjadi opsi jawaban. Pertanyaan ini yang menjadi bahan kenangan kami, empat orang yang tidak pernah bepergian bersama sebelumnya, sepanjang penjelajahan kami keliling Jawa Timur yang penuh dengan pohon jati di sepanjang jalan. Lagipula, akronim Jawa Timur dan Jati Meranggas bisa jadi sama, yaitu Jatim. Tujuan perjalanan kami kali ini adalah Pegunungan Bromo, Pegunungan Ijen, dan terutama Taman Nasional Meru Betiri yang merupakan impianku mencapai ujung timur pulau Jawa.

ide dari dua kota
Awalnya digagas dari aku yang ingin ke Ijen dan Meru Betiri, dan Sansan yang kukenal dari jejaring maya goodreads indonesia jogja yang ingin ke Bromo dalam satu status facebooknya, akhirnya kami jadikan satu rangkaian saja sebagai satu tur ke Jawa Timur. Sejak Juli 2012 kami sudah mulai mengutik-utik itinerari yang pas untuk perjalanan ini, juga tanya-tanya kiri kanan sebagai pembanding harga yang harus dikeluarkan kelak. Agak merepotkan karena kami beda kota, sehingga komunikasi kami hanya lewat email dan twitter. Selain itu, aku dan Sansan juga mencari teman-teman seperjalanan yang lain untuk meringankan biaya patungan sewa jeep nanti. Banyak yang maju mundur, namun akhirnya yang berangkat selain kami berdua juga Herdian yang pernah kukenal di salah satu event jalan-jalan goodreads bandung dan Adhib, teman sekantor Sansan di Jogja.
Continue reading