warna-warni jalur transportasi jakarta

transportasi-jakarta-jalan-raya

“Nih, tanya Teh In saja..” seorang teman menyorongkan ponselnya padaku untuk membantu temannya di ujung sana yang bertanya bagaimana mendapatkan bus tujuan Bekasi dari Jakarta Convention Center. Aku menjelaskan dengan memintanya keluar JCC ke arah kiri hingga jalan raya depan tol dalam kota, naik naik Tranjakarta arah Cawang, turun di depan Plaza Semanggi hingga tepi jalannya dan menunggu bis Mayasari Bakti tujuan Bekasi di situ. Bukan sekali dua kali aku membantu teman-teman yang naik kendaraan umum dari mana ke mana di Jakarta. Bahkan seorang teman lain yang pemerhati kota berseloroh,”Mungkin teknologi aplikasi yang yang cocok untuk masyarakat sekarang adalah teknologi ngobrol-ngobrol. Ngobrol sama kamu, In. Kamu itu apps-nya.”

Aku pengguna transportasi umum secara aktif. Sejak lulus kuliah dan harus bekerja di Jakarta, aku harus menggunakan transportasi umum sebagai sarana bepergian setiap hari. Alasannya simpel, menghemat waktu, malas menyetir dalam waktu agak lama, dan macet. Mobil pribadi hanya aku gunakan di akhir pekan saja, itu pun tidak selalu. Naik kendaraan umum juga membuatku pengeluaran lebih hemat. Kan, lebih baik dananya dialihkan untuk ditabung dan piknik-piknik ke luar kota, daripada terbakar sia-sia di jalan setiap hari. Dan pastinya mengurangi penggunaan bahan bakar karbon emisi gas buang yang ke udara, juga mereduksi dosa terhadap bumi. Makanya, KRL dan bis menjadi sangat umum bagiku yang malas menyetir dan tidak mampu bayar supir pribadi ini. Continue reading

harris & pop hotel kelapa gading, strategis di jakarta utara

cover-pop-harris-hotel-kelapa-gading

Somethings in life aren’t as easy as drinking orange juice, see?
― William Astout

Kelapa Gading dikenal sebagai daerah yang berkembang sangat pesat dalam tiga dasawarsa ini. Berawal dari lahan kosong yang kemudian berkembang menjadi tanah permukiman, lambat laun Kelapa Gading menjadi area bisnis yang mumpuni untuk orang-orang yang bertinggal di situ. Daripada harus memulai usaha di tempat yang lebih jauh, dekat tempat tinggal menjadi satu alternatif pilihan.

Karena itu juga, ruko-ruko yang berderet di sepanjang Jalan Boulevard Raya tidak pernah sepi, seakan apa pun yang dijual di situ pasti laku. Aneka toko kue, restoran Cina, toko bangunan, biro jasa, bank, apotik, karaoke, atau bidang-bidang bisnis lainnya sukses menangguk untung di kawasan Jakarta Utara ini.

Pertokoan menjamur mulai dari sepanjang jalan Boulevar Raya, hingga berubah menjadi pusat bisnis yang diperhitungkan. Tak heran, lokasi Kelapa Gading yang berada dekat dengan kawasan industri Pulogadung, atau kawasan industri Sunter, maupun pelabuhan dagang terbesar yaitu Tanjung Priok membuatnya menjadi kawasan penunjang yang strategis. Puluhan perumahan terus tumbuh, juga gedung-gedung apartemen sebagai hunian.
Continue reading

susur tangerang : mulai dengan cisadane

DSC_0002

Sungai menjadi jalan pulangnya ke rumah tak berwadak, tapi ia selalu tahu di mana harus mengetuk pintu.
[Dee – Supernova, Akar]

Sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bahwa susur Tangerang-ku akan berawal dengan wisata air begini. Baru dua menit tiba di bantaran sungai, duo blogger karib kak Tekno Bolang ‘lostpacker’ dan kak Wiranurmansyah yang setia menunggu sejak pagi langsung mengajakku naik perahu kecil untuk merasakan aliran sungai Cisadane. Aku juga dikenalkan dengan kak Fendi, teman mereka berdua.

Wih, aku meniti lunas kapal tersebut mencari tempat duduk yang paling oke. Meskipun tidak terlalu bisa berenang, tapi aku tidak pernah takut naik perahu. Di perahu ini tidak ada pelampung penyelamat, jadi modal pasrah saja apabila ada apa-apa. Yakinlah kalau tukang perahu ini sudah jago mengemudikan perahunya.

Sebenarnya perahu ini bukan perahu wisata, tapi perahu penyeberangan warga yang ada di sisi barat Cisadane ke area keramaian di sisi timur. Ketika berada di perahu, terlihat jelas sisi timur dengan bangunan yang tersusun rapi, berbatasan dengan sungai adalah bantaran kali dengan tanggul beton dan jalan raya. Sementara di sisi barat sungai ini ada deretan pohon bambu dan rumah-rumah penduduk. Air sungai pun langsung ketemu dengan tanah merah tepian. Untunglah rumah-rumah ini cukup berjarak dari sungai, sehingga tidak terlalu sering terkena dampak pasang sungai.
Continue reading

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading

terminal : titik silang ganti yang gagal di depok

terminal1

Cab Driver: Where you wanna go?
Viktor Navorski: I am going home.
~ The Terminal [movie-2004]

Dulu, tahun 2002, ketika aku masih rutin sebagai pengguna bis Patas AC 84, hampir setiap hari aku memasuki Terminal Depok. Ketika itu, terminal Depok dibagi menjadi dua, bagian depan dan belakang. Bagian depan untuk tujuan antarkota, bagian belakang untuk tujuan dalam kota. Karena Depok bukan bagian dari Jakarta, maka berbagai bis dari beberapa tujuan terminal di Jakarta akan memasuki terminal Depok di bagian depan. Penumpang yang sampai terminal Depok bisa turun di pelataran terminal kemudian berjalan kaki ke terminal belakang untuk naik kendaraan umum dalam kota Depok ke tempat tujuannya.

Kendaraan umum ini yang biasa disebut angkot, akan keluar melalui pintu terminal yang sebelah utara. Di sini sering terjadi titik macet yang luar biasa. Rute-rute angkot ke arah Depok bagian timur akan berbelok kanan memotong jalur jalan Arif Rahman Hakim untuk menuju persimpangan Ramanda. Sedangkan rute-rute angkot yang ke arah Depok bagian Barat akan berbelok kiri dan langsung dihadang oleh persimpangan kereta KRL yang tertutup hampir setiap 5 menit sekali. Dengan kemacetan ini, orang lebih suka naik angkot di ujung dekat persimpangan kereta, atau yang ke arah Timur akan menunggu di seberang jalan sesudah angkot tersebut menyeberang jalan Arif Rahman Hakim. Praktis fungsi terminal sebagai titik silang ganti gagal karena tidak ada kegiatan menaikkan penumpang di dalam terminal, karena menunggu penumpang akan tertahan lama di dalam angkot untuk berusaha keluar dari terminal.
Continue reading

depok – manggarai : PP

stasiun manggarai

“Time goes faster the more hollow it is.
Lives with no meaning go straight past you, like trains that don’t stop at your station.”
― Carlos Ruiz Zafón, The Shadow of the Wind

Ada banyak faktor yang membuat aku lebih memilih naik KRL daripada transportasi umum lainnya. Faktor utamanya adalah kecepatan. Faktor kedua adalah ekonomis dan murah. Faktor ketiga adalah, karena memang aku lebih menyukai naik kendaraan umum yang dapat dimuati lebih banyak orang, sehingga ada kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Dengan kepadatan perpindahan kaum komuter yang tak sebanding dengan panjang jalan, kereta sebagai moda transportasi massal memang seharusnya dijadikan pilihan utama jika kepraktisan dan kecepatan menjadi faktor penentu.

Beberapa jalur kereta di Jabotabek sudah ada sejak tahun 1925. Tahun 1976 PJKA mendatangkan sejumlah kereta rel listrik dari Jepang, yang beberapa merupakan hibah dari pemerintah Jepang. Beberapa tempat yang mobilitasnya tinggi pun lama kelamaan berkembang tak hanya satu jalur saja, namun menjadi dua jalur sehingga intensitas kereta yang lewat pun menjadi semakin sering. Karena itu, daerah-daerah yang dilalui kereta menjadi pesat perkembangannya. Permukiman-permukiman baru tumbuh di sekitar stasiun. Makin banyak juga orang Jakarta yang pindah ke pinggiran dan memanfaatkan akses kereta untuk menuju tempat bekerjanya di Jakarta setiap pagi. Mungkin Jakarta sudah sedemikian sumpeknya untuk ditinggali, sementara di pinggiran masih ada area hijau dengan udara yang sejuk untuk mengawali hari.

Aku mulai rutin naik KRL sejak bekerja di kawasan Manggarai tahun 2004. Continue reading

jumpa Jakarta dan KRL Jabotabek

Takdir UMPTN mengatakan kalau aku harus kuliah di kampus beringin di Depok, bukan di kampus Ganesha cita-citaku. Meskipun diterima di beberapa perguruan tinggi swasta di Bandung, namun aku tetap memilih Depok, dengan pertimbangan sama-sama universitas negeri.

Kunjungan pertamaku di Depok, menginap di rumah salah satu kerabat di situ, yang kemudian mengajakku berjalan-jalan ke kota Jakarta naik… KRL alias Kereta Rel Listrik! Awalnya sempat ngeri juga naik KRL yang kondisinya penuh dan kita harus sigap untuk naik dan turun di stasiun yang dituju. Beda dengan kebiasaanku naik kereta api luar kota dengan jeda waktu naik turun yang santai, KRL ini mengejutkanku. Seperti di film-film luar negeri yang kutonton ketika orang berebutan di stasiun untuk naik kereta cepat, seperti ini juga yang kusaksikan di peron. Bedanya, kalau di film atau komik Kobo-chan itu KRLnya bersih dan pintunya selalu menutup otomatis, di KRL Jabodetabek ini agak kotor, pintunya tak bisa tertutup, dan penumpangnya berjubelan sampai atap.

Sudah menjadi kebiasaanku jika tinggal baru tinggal di satu kota, maka aku akan mencoba seluruh jalur kendaraan umumnya sampai ujung dan kembali lagi. Tak terkecuali naik KRL. Aku mencoba naik KRL ini sampai stasiun Kota, balik lagi ke Depok, atau ke arah stasiun Bogor, balik lagi ke Depok. Selain untuk mengenali kota Jakarta, juga untuk menghafalkan semua stasiun yang aku lalui.
-baca kelanjutannya->

berkata-kata Jakarta : Kata Fakta Jakarta

Editor : Elisa Sutanudjaja, Anggriani Arifin, Gita Hastarika
Penulis : Rujak Center for Urban Studies
Info Grafis : Farid Rakun
Rancang Grafis : Cecil Mariani, Patricia Adele
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal. : 384 halaman
ISBN : 978-602099898-1-6

Membaca-baca buku ini, jadi pengen nanya, kenapa kamu mau tinggal di Jakarta?
Ah, aku nggak tinggal di Jakarta. Cuma kerja aja di sini. Setiap hari pulang ke pinggiran Jakarta.

Tapi kan kamu sehari-hari di Jakarta. Coba, berapa banyak waktu yang kamu habiskan di Jakarta!
Hmm, jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Wah, empat belas jam! Benar juga ya, aku banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Kalau dipikir-pikir, semestinya aku sudah menjadi penduduk Jakarta, karena sudah 60 % waktuku kuhabiskan di Jakarta. Aku mencari uang dengan menjadi penduduk Jakarta selama itu. Belum lagi kalau lembur, wih!

Tapi menjadi penduduk setengah hari begitu beda dengan yang sehari-hari tinggal di Jakarta. Yang tinggal di Jakarta harus menghadapi kemacetan setiap hari. Dalam jarak dekat sekalipun. Bayangkan dari Salemba ke Kramat saja tidak bisa dicapai dalam waktu 10 menit di pagi hari. Apalagi di Tanah Abang. Paling ruwet daerah sekitar situ. Yang tidak tinggal di Jakarta tinggal naik kendaraan umum langsung dan bisa sampai di tengah kota.
Ya, itu untuk yang kendaraan umumnya seperti kereta, tentu sangat praktis, karena langsung ke tengah kota tanpa harus melewati jalan raya yang macet luar biasa. Bayangkan, kalau tidak naik kereta, orang-orang pinggiran itu berangkat jam setengah enam atau jam enam pagi! Sayangnya, tidak semua daerah terjangkau kereta. Coba kamu pikir, kenapa jalan-jalan menuju Jakarta begitu macet?

Karena mobil pribadi, kan? Banyak yang tidak memaksimalkan ruang di mobil pribadinya. Satu mobil diisi satu orang saja. Lalu pada saat masuk daerah 3 in 1 pakai joki. Tapi di daerah bukan 3 in 1 itu mobil-mobil pribadi bikin macet. Apa semua Jakarta diberlakukan 3 in 1 aja supaya tidak macet lagi?
Wah, mana bisa begitu selama sistem transportasi umum tidak diperbaiki? Transportasi diperbaiki sehingga bisa mencapai jumlah kebutuhan warga Jakarta, baik yang warga tetap atau warga siang hari saja, barulah kita bisa melepas kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum. Tapi, selama pemerintahnya hanya sibuk membangun jalan layang ini itu yang banyak menggunakannya juga kendaraan pribadi. Coba lihat Jl Antasari itu, jalanan itu sehari-hari penuh dengan kendaraan pribadi, dulu. Lalu dibuat jalan layang di atasnya. Yang bakal lewat siapa? Kendaraan pribadi, oy! Jalur angkutan umum di Jl Antasari itu kan cuma sedikit. Bandingkan dengan padatnya Fatmawati- Panglima Polim. Kenapa nggak di situ aja? Sayang kan pepohonan hijau di Antasari yang harus ditebangi?

 

Padahal tanaman hijau kan sangat perlu untuk keteduhan dan juga sebagai paru-paru kota. Apa memang untuk dapat udara bersih di Jakarta harus mahal ya? Membangun taman-taman kota yang Cuma bisa dinikmati masyarakat menengah. Sementara masyarakat menengah ke bawah, harus berdesakan dalam gang sempit, dengan udara dan sanitasi yang sangat kurang. Justru anehnya, di tepi daerah padat, selalu ada tanah kosong, namun dimiliki pengembang besar. Tak berapa lama lagi, pasti berubah jadi perkantoran atau mal.
-baca kelanjutannya->

review buku : RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau

RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau by Nirwono Joga, Iwan Ismaun
My rating: 4 of 5 stars

Penulis : Nirwono Joga dan Iwan Ismaun
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN : 9789792271850

Hijau. Tanaman hijau adalah kebutuhan manusia mutlak untuk mempertahankan hidupnya. Tanaman menyerap karbondioksida yang kita keluarkan dan mengeluarkan oksigen untuk kita hirup. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak bisa hidup tanpa tanaman hijau. Persyaratan 30% untuk kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) itu seharusnya merupakan kebutuhan yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Buku ini memang hanya memberi judul RTH 30% Resolusi (Kota) Hijau. Namun dalam contoh keseluruhan yang dibahas hanya kota Jakarta, pusat segala kecarutmarutan korupsi negeri, bahkan untuk lahan hijau yang tidak selalu jadi pertimbangan. Kota Jakarta yang makin sedikit lahan hijaunya dari tahun ke tahun. Di halaman 37 dipaparkan peta berkurangnya RTH di Jakarta sejak tahun 1972-2008. Selalu miris melihat fenomena seperti ini di kota. Di setiap kota yang mengklaim dirinya lebih maju, selalu area terbuka hijaunya menjadi berkurang. Pembangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, industri, sangat sering meninggalkan kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau. Sekarang ini kita bisa lihat, berapa banyak pusat perbelanjaan di Jakarta yang tidak menyisakan satu jengkal tanah pun untuk RTH. Sisa lahan yang ada, menjadi jalan, perkerasan, parkir. Dianggapnya itu ruang terbuka yang bisa menyerap air. Padahal dengan kebanyakan jalan beton seperti sekarang ini, air tidak bisa menembus ke melalui pori-pori jalan, karena dasar beton dialas plastik. Bukan hanya aspal di atas sirtu (pasirbatu) yang bisa terlewati air dengan mudah.

Ya, apa yang terjadi jika kita kehilangan Ruang hijau? Tentu kita akan kekurangan udara segar, kekurangan air bersih, kekurangan tempat teduh, dan banyak lagi alasan dari yang lokal sampai global. Di sini dijabarkan, fungsi Ruang Terbuka Hijau untuk konservasi tanah dan air, menciptakan iklim mikro yang baik, pengendali pencemaran, habitat satwa, dan sarana kesehatan dan olahraga. Dalam tata ruang, area hijau muncul dalam cetak biru tata ruang kota. Ada area RTH publik yang sudah ditentukan kawasannya, ada RTH pribadi yang disyaratkan dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan yang berarti persentase luasan maksimal yang boleh dibangun dalam satu tapak) dan KDH (Koefisien Dasar hijau). Nilai ruang terbuka pribadi ini mutlak seharusnya dipatuhi, karena ini adalah untuk kenyamanan bersama. Apabila melanggar, sanksinya adalah bongkar, bukan denda yang bisa digantikan dengan uang, kembalikan pada persentase area terbuka yang tak boleh dibangun. Kembalikan pada fungsi aslinya sebagai area penyerapan air tanah.

-baca kelanjutannya->

trotoar untuk pejalan kaki, bukan motor!

“Yang naik mobil berasa yang punya jalanan, yang naik motor berasa serigala jalanan, yang pejalan kaki berasa gak punya jalan.” 1)

Begitulah kondisi di banyak jalur pejalan kaki di Jakarta. Contoh di atas adalah di depan Stasiun Gambir Jakarta Pusat, salah satu titik silang ganti antar moda transportasi di Jakarta. Selain taksi dan bis, ojek motor adalah salah satu moda transportasi yang dominan di tempat ini.

Di lokasi ini, motor bebas berlalu lalang di atas trotoar yang menghadap ke Jl Medan Merdeka Timur ini. Tak sedikit orang yang merasa terganggu dengan kehadiran motor-motor ini di trotoar. Padahal di tempat khusus pejalan kaki ini, banyak orang yang sedang menunggu bis ke tempat tujuannya masing-masing. Motor dengan seenaknya naik trotoar dan menawarkan jasa ojek. Setengah memaksa dan mengganggu.

Padahal, Stasiun Gambir adalah Stasiun terbesar di Jakarta, yang terbaik (katanya). Depan Tugu Monas, dekat Masjid Istiqlal yang terbesar, bahkan tak jauh dari Istana Kenegaraan. Seharusnya, depan Stasiun Gambir bisa menjadi contoh ketertiban. Tapi lihat saja, malah menjadi contoh ketidak tertiban yang ditiru oleh wilayah-wilayah lain di Jakarta.

Pejalan kaki hanya mengambil tempat kurang dari seperdelapan badan jalan. Dan lokasi mangkal ojek sudah disediakan di ujung stasiun Gambir. Tapi mereka masih saja asyik mondar-mandir di trotoar mencari penumpang pejalan kaki yang putus asa karena angkutan umumnya tak muncul-muncul. Sering, sebagai pejalan kaki, kesal karena mereka seenaknya lewat, membunyikan klakson lagi. Kalau ditegur hanya senyum kecil, tidak merasa bersalah. Kalau sudah begini mau apa? Apa harus dipasang patok-patok di trotoar supaya tidak bisa dilewati motor seperti di Jl Wahid Hasyim?

Tentunya tidak bisa dengan sikap nerimo saja atau ‘orang kayak gitu nggak bisa dibilangin’. Peraturan yang jelas-jelas melarang pengendara motor naik ke trotoar, dan pejalan kaki yang kompak mengusir motor dari trotoar. Fasilitas itu untuk kepentingan bersama, ada porsinya masing-masing. Pejalan kaki yang hanya meminta sedikit dari pembangunan super ibukota, seharusnya mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Di banyak tempat, di tempat-tempat yang jauh lebih tidak tertib daripada stasiun Gambir, sangat mudah ditemukan motor yang naik trotoar, alasan menghindari macet atau ingin cepat sampai. Tak ada sanksi yang jelas untuk pengendara-pengendara nakal ini. Efek domino dari tingginya kepemilikan motor dan tetap sedikitnya jalan yang bisa mereka lalui. Mestinya mereka berpikir, yang buat macet kan ketidaktertiban mereka sendiri, jadi jangan suka menyalahkan macet.

Mari kita berteriak, “Turun lo, motor! Ini tempat pejalan kaki!”

depok. white room. 10-12-11. 01.48.

1) Dari twitter @AbimantraP