osaka : tradisional, modern, dan hura-hura

0-cover-osaka-castle-TEXT


Anywhere there is life, there are eyes. And things, too, speak to those who have ears to hear.
― Eiji Yoshikawa: Taiko

“Ini istananya Hideyoshi Toyotomi?” Aku kagum melihat istana besar yang selama ini hanya ada dalam benak, dari buku-buku yang kubaca. Hideyoshi Toyotomi kukenal dari buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang beberapa tahun yang lalu menemani perjalananku ke kantor. Taiko mengisahkan perjalanan seorang pengantar sandal, hingga menjadi seorang panglima besar kerajaan Jepang di tahun 1586. Buku ini menjadi salah satu buku yang mempengaruhi hidupku tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam buku Taiko dikisahkan tentang Jepang pada abad ke-16, ketika keshogunan tercerai berai. Hideyoshi yang lahir sebagai anak petani, datang sebagai abdi Oda Nobunaga seorang daimyo di provinsi Owari, mempelajari sekitar dan memohon kesempatan bertempur sehingga akhirnya ia bisa menjadi salah satu pelindung Kaisar. Dengan kesetiaannya yang tinggi akhirnya ia mendapatkan kepercayaan untuk memerintah di satu propinsi, dan berlanjut dengan penaklukan daerah-daerah lain di Jepang hingga akhirnya ia menjadi seorang Taiko, yang berkedudukan di Osaka dan mendirikan istana di bekas kuil Ishiyama Honganji. Dengan sentral pada istana, penduduk yang sudah bermukim sejak lokasi ini menjadi kuil, makin meluas dan menjadi cikal bakal kota. Sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Edo, Osaka menjadi pusat pemerintahan Jepang karena tempatnya yang strategis di tepi lautan sebagai pusat ekonomi dan transportasi. Continue reading

Advertisements

satu cerita dari pasar malam sekaten jogja

cover

Tebak apa yang kamu pasti temukan di pasar malam. Kincir, komidi putar, tong setan. Semua yang berputar. Semua untuk bermain-main.

“Gerimis begini, In. Jadi kita pergi?” tanya Jay di teras rumahnya pada hari Sabtu sore di bulan Januari. Aku mengangguk. Lha, bukannya dia yang semangat empat lima mengajakku dan beberapa teman untuk menyaksikan acara Sekaten yang digelar di bulan Maulud dan kebetulan jatuh pada akhir tahun hingga awal tahun di alun-alun keraton Jogjakarta. Mendung memang menggantung sejak pagi aku tiba di kota pelajar ini hingga turunlah titik-titik air di genting. Ah, gerimis sedikit ini, tak apalah.

Tak mengindahkan gerimis halus itu, kami tetap naik motor menuju alun-alun yang tak terlalu jauh dari rumah Jay. Setiba di sana, Jay memarkir motornya di salah satu tempat parkir di sebelah timur alun-alun, kemudian mengajakku memasuki area pasar malam Sekaten. Ia sempat masuk anjungan Pemda DIY untuk menyerahkan beberapa berkas, lalu keluar melihat-lihat sekeliling.

“Katanya kamu mau naik kincir? Itu ada beberapa,” katanya sambil menunjuk beberapa kincir besi yang tersebar di alun-alun. Kincir memang salah satu wahana yang selalu ditemui di area pasar malam, sepaket dengan perahu ayun, ontang anting, komidi putar, atau permainan anak lainnya. Aku tertarik naik kincir itu karena kupikir bisa melihat pemandangan alun-alun Sekaten dari atas sana. Warna-warni lampunya pasti menarik, kataku waktu itu pada Jay.
Continue reading

candi kalasan yang kesepian, candi sambisari yang anggun

cover

Ini, Candi Kalasan. Candi ini kebetulan saja terlewat dalam perjalanan pulang dari Istana Ratu Boko. Entah bagaimana hari itu jalan-jalanku sangat berbudaya sekali. Candi Kalasan cukup mudah dicapai dari tepi jalan raya menuju Solo. Cuma membayar parkir pada penjaganya, dan donasi secukupnya, aku mengelilingi candi tunggal ini.

Semuka kupikir candi ini adalah candi Hindu karena bentuknya yang tinggi menjulang. Tapi ternyata, agak mirip dengan candi Mendut di sekitar Borobudur, candi Kalasan adalah candi Buddha. Memiliki empat sisi dengan ukiran yang cukup rumit, beberapa bagian candi ini sudah tidak sempurna lagi. Seperti Istana Ratu Boko, candi ini pun dibangun pada masa Rakai Panangkaran di abad ke-8.
Continue reading

mencari sepi di istana ratu boko

cover

… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa. ― Ayu Utami, Lalita

Membayangkan hanya punya satu hari santai di Jogja di tengah liburan pendekku, aku memilih untuk mengunjungi situs-situs budaya di jalur jalan menuju Solo. Jogja merupakan salah satu kota yang sering kukunjungi, dipermudah dengan adanya layanan Traveloka yang membantu dalam mendapatkan tiket penerbangan dan juga hotel budget dengan cepat, seperti Zodiak dan Whiz Hotel di kota Jogja. Kunjungan ke Jogja ini sebenarnya sudah beberapa kali, tapi banyak alasan ingin terus berkunjung ke sana. Mungkin karena kota ini kental dengan peninggalan kebudayaannya, karena setelah kenal Borobudur dan Prambanan di kunjungan beberapa tahun sebelumnya, aku ingin mengunjungi Istana Ratu Boko yang ternyata masih dalam pengelolaan Borobudur Park.

Pada waktu itu, motor yang kunaiki merayap pelan menaiki tanjakan di jalan aspal menuju kompleks istana Ratu Boko. Aku membayangkan cerita beberapa teman yang bersusah payah mengayuh sepedanya dari tengah kota Jogja sampai tiba di gerbang masuknya. Lokasi Situs Istana Ratu Boko terletak di (Dusun Samberwatu, Desa Sambirejo) dan (Dusun Dawung, Desa Bokoharjo) Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kira-kira 3-4 km sebelah selatan candi Prambanan, menuju jalan raya ke Piyungan. Petunjuk jalan membuat belokan jalan kecil ke tempat ini mudah dikenali. Continue reading

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading

lintas petronas : ruang terbuka yang bersahabat

cover

A man in the skyscraper needs to feed a pigeon from his window to remember what great thing missing in his life: The touch of nature!
― Mehmet Murat ildan

Siang belum terlalu terik dan aku menengadahkan kepala memandang Menara Petronas. Bangunan yang didesain oleh Cesar Pelli setinggi 452 m itu harus dilihat sambil menudungkan tanganku di depan mata. Kilau keperakan yang membungkus bangunan dengan dengan circular struktur itu sesekali memberi pantulan silau. Aku teringat di masa kuliahku ketika kami belajar mengenai bangunan yang kala itu termasuk tertinggi di dunia. Ketika cita-cita kami masih setinggi langit yang dijangkau oleh arsitek-arsitek terkenal. Dan kali ini, aku berdiri di bawahnya, pencakar langit yang dibuka tahun tujuh belas tahun silam, dan kini masih tegak terawat. Ikon wisata negeri jiran, yang memanggil-manggil untuk dihampiri.

Aku tidak ikut mengantri untuk menaklukkan ketinggiannya. Sesuatu yang tinggi lebih indah dinikmati dari jauh, pikirku ketika itu. Satu permakluman karena aku tiba terlalu siang di Suria KLCC, mal berukuran cukup besar yang berada di podium bangunan Petronas ini. Tiket untuk naik ke atas hanya diberikan dalam jumlah terbatas setiap paginya.
Continue reading

kuta beachwalk : oase hijau dan air di tepi pantai

cover

If the sky, that we look upon
Should tumble and fall
All the mountains should crumble to the sea
I won’t cry, I won’t cry
No, I won’t shed a tear
Just as long as you stand, stand by me

[Ben E. King – Stand By Me]

“Tiw, pinjam sandal dong buat jalan-jalan.. gue cuma bawa sandal jepit selain sepatu trekking.”
“Hah, buat apa? Di Beachwalk itu, orang dandannya ya kayak elo gitu, Ndri. Celana pendek sama sandal jepit.”

Aku tiba di Bali setelah berkeliling Jawa Timur hampir 4 hari akhir tahun 2012 lalu, naik kapal ferry dari Banyuwangi. Pikirku, daripada kembali lagi ke Surabaya yang memakan waktu hampir 7 jam, lebih baik aku menyeberang ke Bali dan terbang kembali ke Jakarta lewat Denpasar. Cuma sekitar 3 jam jarak antara Gilimanuk-Denpasar. Lagipula, aku bisa mengunjungi sahabatku Tiwi dan beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota tempatku mencari uang.

Aku mengajak Tiwi ke Kuta Beachwalk, satu bangunan social hub di Kuta yang baru jadi namun masih soft opening. Bangunan seluas 93.005 m² ini berada di Pantai Kuta, tepat di pusat keramaiannya, sehingga mudah dijangkau orang yang sedang berwisata di pantai yang terkenal sampai mancanegara ini. Didesain oleh Envirotec Indonesia, biro konsultan tempatku bekerja selama 3 tahun ini. Walaupun aku tidak ikut dalam tim desain maupun pelaksanaannya, tapi aku jatuh hati pada banyaknya koridor terbuka pada bangunan ini, juga pola-pola organik yang membuatnya lunak.
Continue reading

kota di kuta

cover

I’m moving
I’m coming
Can you hear, what I hear
It’s calling you my dear
Out of reach
(Take me to my beach)
I can hear it, calling you
I’m coming not drowning
Swimming closer to you
[Pure Shores ~ All Saints]

Siapa di sini yang pernah berfoto di depan Hard Rock Bali yang berlokasi di Kuta? Sebagian anak muda sepertinya pernah melakukannya, pertanda ia sudah sangat eksis liburan di pantai terpopuler di Indonesia ini. Aku? Belum pernah. Hehehe.. Ketika November 2012 kembali ke pantai Kuta bareng Tiwi, sahabatku ini mengancam,”Awas ya, kalau lo minta gue moto-motoin di depan Hard Rock!” Aku tertawa geli,”Ya enggak lah, kan semua orang sudah foto-foto di situ, masa gue ikut-ikutan?”.

Sombong banget jawabanku. Seperti kalau bepergian ke tempat-tempat lain tidak tergiur untuk berfoto di salah satu ikon sculpture-nya. Lalu memamerkannya di social media supaya orang lain tidak tertarik. Lha, ini Kuta! Everybody was here! Hampir semua teman yang suka bepergian pernah mampir di tepi pantai ini. Terus apa istimewanya kalau aku pamer sedang berada di sini?

Pantai Kuta berada di kabupaten Badung, Bali, sangat populer di kalangan turis mancanegara. Dari udara, sebelum mendarat di bandara Ngurah Rai, bisa dilihat garis pantai berpasir putih yang membentang sejauh kira-kira 1500 m. Ke utara, pantai ini terus sampai Legian dan Seminyak, yang masih giat membangun cottage dan hotel di sana sini demi memenuhi kebutuhan turis (bah!).
Continue reading

a sunset walk in singapore

cover

What strange phenomena we find in a great city, all we need do is stroll about with our eyes open.
Life swarms with innocent monsters.
[Charles Baudelaire]

Ke Singapura untuk belanja? Sepertinya itu bukan tipeku. Pertama memang karena aku nggak terlalu suka belanja, dan juga masih banyak yang bisa dilakukan di Singapura tanpa belanja. Bahkan untuk berburu buku yang menjadi favoritku, kali ini kulewatkan karena memang lebih tertarik untuk mencoba hal yang lain.

Aku mendapatkan kesempatan ke Singapura ini di sebuah acara pesta blogger Be Inspired to Inspire yang diadakan oleh Skyscanner Indonesia, satu situs web pencarian tiket pesawat yang berkedudukan di Inggris, sewaktu merayakan ulang tahunnya cabang Indonesianya yang pertama di Jakarta bulan Oktober lalu. Mendapatkan undangan dengan memasukkan satu judul perjalananku ke Nias, ternyata aku beruntung memenangkan satu perjalanan ke Singapura selama 3 hari 2 malam ketika penarikan undian. Bukan itu saja, di acara tersebut tulisanku juga menang sebagai pemenang tulisan terbaik. Wah, rasanya malam itu beruntung sekali. Kebetulan kedua, aku belum pernah ke Singapura sebelumnya. Hi, norak ya, ketika temen-teman sudah wira-wiri ke negara yang dulu bernama Tumasik itu, aku malah belum pernah.

Karena kupikir di Singapura banyak bangunan yang bagus, maka aku menjadikan perjalanan ini sebagai wisata arsitektur. Apalagi negara ini juga digadang-gadang dengan sistem transportasinya yang nyaman dan informatif, makin semangatlah aku menjajal kendaraan umum di sana nanti.
Continue reading

rendang minang #5: keliling hari di bukittinggi

cover

kepada singgalang bertanya aku
wahai gunung masa kanakku
di lututmu kampung ibuku
kenapa indahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam rinduku?

kepada merapi berkata aku
wahai gunung masa bayiku
di telapakmu kampung ayahku
kenapa gagahmu dari dahulu
tak habis-habis dalam ingatanku?

:dua gunung kepadaku bicara ~ Taufiq Ismail

cerita sebelumnya : rendang minang #4: air sungai, air manis, air terjun, air hujan

Setiap aku bilang akan berkunjung ke Minangkabau, pasti semua orang menyarankan untuk berkunjung ke Bukittinggi. Kota dengan ketinggian sekitar 900 m dpl ini, yang diapit oleh Gunung Singgalang dan Gunung Marapi, terkenal dengan banyaknya penulis, pemikir, penyair yang berasal dari sini. Salah satu proklamator Indonesia, Moh. Hatta, lahir di kota bertingkat ini. Juga ada Tan Malaka, juga seorang politikus yang banyak membuat tulisan-tulisan pandangan kerakyatan dan kenegaraannya. Kota ini juga pernah dijadikan Ibukota negara sementara dengan Sjafruddin Prawiranegara sebagai presidennya selama 207 hari.

Marco Kusumawijaya, seorang ahli tata kota pernah menuturkan dalam satu kuliah umumnya, bahwa pusat kota Bukittinggi itu seluas Lapangan Merdeka di tengah Jakarta Pusat dengan Monas sebagai aksis tengahnya. Jika di Lapangan Merdeka di bidang datar dengan aktivitas tidak berarti kecuali di hari-hari tertentu ketika diadakan acara, pusat kota Bukittinggi dengan konturnya yang bertingkat naik turun, riuh oleh berbagai aktivitas manusia. Perbedaan yang bukan hanya jarak melainkan ketinggian tetap membuat suasana kota ini hidup dan berwarna. Di Lapangan Merdeka yang datar hanya ramai di seputaran Monas saja, sementara Bukittinggi ramai dengan aktivitas niaga di sepanjang jalan, pelancong di seputar Jam Gadang, Pasar Atas dengan kegiatan jual belinya, atau celah-celah pandang untuk sekadar bersantai melihat bagian bawah kota.
Continue reading