Category Archives: plaza piazza

star vista mall singapore: bermain angin

“Jadi, apa yang membuat bangunan ini masuk kategori Green Building?” Begitu tanya bu Elisa sesaat kami menaiki eskalator di tepi atrium besar Star Vista Mall yang berada di kawasan Buona Vista pada perjalanan ekskursi Sustainable Architecture ke Singapura beberapa waktu yang lalu. Bangunan dengan bentuk sudut-sudut bertumpuk itu sudah memesona pandanganku sejak dari seberang kaveling tanah terbuka di depan stasiun MRT.

Star Vista Mall adalah mall pertama di Singapura yang menggunakan ventilasi alami untuk koridor-koridornya. Bukaan massa yang besar pada atrium ditopang oleh kolom-kolom super besar yang dijadikan sebagai pusat kegiatan dan koridor tepi yang menghadapnya, membuat sirkulasi udara berjalan dengan lancar, dengan bukaan-bukaan kecil di ujung-ujungnya untuk mengalirkan udara. Karena beban energi pada pusat perbelanjaan terutama pada sistem pendingin, dengan ventilasi natural seperti ini tentu kerja mesin pendingin tak terbebani dengan koridor. Sehingga tentu saja, angka pemakaian energi per m2 bangunan akan menurun. Meski demikian, tetap saja di beberapa titik ada penggunaan kipas angin untuk lebih menyalurkan udara. Continue reading star vista mall singapore: bermain angin

osaka : tradisional, modern, dan hura-hura

0-cover-osaka-castle-TEXT


Anywhere there is life, there are eyes. And things, too, speak to those who have ears to hear.
― Eiji Yoshikawa: Taiko

“Ini istananya Hideyoshi Toyotomi?” Aku kagum melihat istana besar yang selama ini hanya ada dalam benak, dari buku-buku yang kubaca. Hideyoshi Toyotomi kukenal dari buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang beberapa tahun yang lalu menemani perjalananku ke kantor. Taiko mengisahkan perjalanan seorang pengantar sandal, hingga menjadi seorang panglima besar kerajaan Jepang di tahun 1586. Buku ini menjadi salah satu buku yang mempengaruhi hidupku tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam buku Taiko dikisahkan tentang Jepang pada abad ke-16, ketika keshogunan tercerai berai. Hideyoshi yang lahir sebagai anak petani, datang sebagai abdi Oda Nobunaga seorang daimyo di provinsi Owari, mempelajari sekitar dan memohon kesempatan bertempur sehingga akhirnya ia bisa menjadi salah satu pelindung Kaisar. Dengan kesetiaannya yang tinggi akhirnya ia mendapatkan kepercayaan untuk memerintah di satu propinsi, dan berlanjut dengan penaklukan daerah-daerah lain di Jepang hingga akhirnya ia menjadi seorang Taiko, yang berkedudukan di Osaka dan mendirikan istana di bekas kuil Ishiyama Honganji. Dengan sentral pada istana, penduduk yang sudah bermukim sejak lokasi ini menjadi kuil, makin meluas dan menjadi cikal bakal kota. Sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Edo, Osaka menjadi pusat pemerintahan Jepang karena tempatnya yang strategis di tepi lautan sebagai pusat ekonomi dan transportasi. Continue reading osaka : tradisional, modern, dan hura-hura

satu cerita dari pasar malam sekaten jogja

cover

Tebak apa yang kamu pasti temukan di pasar malam. Kincir, komidi putar, tong setan. Semua yang berputar. Semua untuk bermain-main.

“Gerimis begini, In. Jadi kita pergi?” tanya Jay di teras rumahnya pada hari Sabtu sore di bulan Januari. Aku mengangguk. Lha, bukannya dia yang semangat empat lima mengajakku dan beberapa teman untuk menyaksikan acara Sekaten yang digelar di bulan Maulud dan kebetulan jatuh pada akhir tahun hingga awal tahun di alun-alun keraton Jogjakarta. Mendung memang menggantung sejak pagi aku tiba di kota pelajar ini hingga turunlah titik-titik air di genting. Ah, gerimis sedikit ini, tak apalah.

Tak mengindahkan gerimis halus itu, kami tetap naik motor menuju alun-alun yang tak terlalu jauh dari rumah Jay. Setiba di sana, Jay memarkir motornya di salah satu tempat parkir di sebelah timur alun-alun, kemudian mengajakku memasuki area pasar malam Sekaten. Ia sempat masuk anjungan Pemda DIY untuk menyerahkan beberapa berkas, lalu keluar melihat-lihat sekeliling.

“Katanya kamu mau naik kincir? Itu ada beberapa,” katanya sambil menunjuk beberapa kincir besi yang tersebar di alun-alun. Kincir memang salah satu wahana yang selalu ditemui di area pasar malam, sepaket dengan perahu ayun, ontang anting, komidi putar, atau permainan anak lainnya. Aku tertarik naik kincir itu karena kupikir bisa melihat pemandangan alun-alun Sekaten dari atas sana. Warna-warni lampunya pasti menarik, kataku waktu itu pada Jay.
Continue reading satu cerita dari pasar malam sekaten jogja

candi kalasan yang kesepian, candi sambisari yang anggun

cover

Ini, Candi Kalasan. Candi ini kebetulan saja terlewat dalam perjalanan pulang dari Istana Ratu Boko. Entah bagaimana hari itu jalan-jalanku sangat berbudaya sekali. Candi Kalasan cukup mudah dicapai dari tepi jalan raya menuju Solo. Cuma membayar parkir pada penjaganya, dan donasi secukupnya, aku mengelilingi candi tunggal ini.

Semuka kupikir candi ini adalah candi Hindu karena bentuknya yang tinggi menjulang. Tapi ternyata, agak mirip dengan candi Mendut di sekitar Borobudur, candi Kalasan adalah candi Buddha. Memiliki empat sisi dengan ukiran yang cukup rumit, beberapa bagian candi ini sudah tidak sempurna lagi. Seperti Istana Ratu Boko, candi ini pun dibangun pada masa Rakai Panangkaran di abad ke-8.
Continue reading candi kalasan yang kesepian, candi sambisari yang anggun

mencari sepi di istana ratu boko

cover

… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa. ― Ayu Utami, Lalita

Membayangkan hanya punya satu hari santai di Jogja di tengah liburan pendekku, aku memilih untuk mengunjungi situs-situs budaya di jalur jalan menuju Solo. Jogja merupakan salah satu kota yang sering kukunjungi, dipermudah dengan adanya layanan Traveloka yang membantu dalam mendapatkan tiket penerbangan dan juga hotel budget dengan cepat, seperti Zodiak dan Whiz Hotel di kota Jogja. Kunjungan ke Jogja ini sebenarnya sudah beberapa kali, tapi banyak alasan ingin terus berkunjung ke sana. Mungkin karena kota ini kental dengan peninggalan kebudayaannya, karena setelah kenal Borobudur dan Prambanan di kunjungan beberapa tahun sebelumnya, aku ingin mengunjungi Istana Ratu Boko yang ternyata masih dalam pengelolaan Borobudur Park.

Pada waktu itu, motor yang kunaiki merayap pelan menaiki tanjakan di jalan aspal menuju kompleks istana Ratu Boko. Aku membayangkan cerita beberapa teman yang bersusah payah mengayuh sepedanya dari tengah kota Jogja sampai tiba di gerbang masuknya. Lokasi Situs Istana Ratu Boko terletak di (Dusun Samberwatu, Desa Sambirejo) dan (Dusun Dawung, Desa Bokoharjo) Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kira-kira 3-4 km sebelah selatan candi Prambanan, menuju jalan raya ke Piyungan. Petunjuk jalan membuat belokan jalan kecil ke tempat ini mudah dikenali. Continue reading mencari sepi di istana ratu boko

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading jakarta : berjalan di jantung kota

lintas petronas : ruang terbuka yang bersahabat

cover

A man in the skyscraper needs to feed a pigeon from his window to remember what great thing missing in his life: The touch of nature!
― Mehmet Murat ildan

Siang belum terlalu terik dan aku menengadahkan kepala memandang Menara Petronas. Bangunan yang didesain oleh Cesar Pelli setinggi 452 m itu harus dilihat sambil menudungkan tanganku di depan mata. Kilau keperakan yang membungkus bangunan dengan dengan circular struktur itu sesekali memberi pantulan silau. Aku teringat di masa kuliahku ketika kami belajar mengenai bangunan yang kala itu termasuk tertinggi di dunia. Ketika cita-cita kami masih setinggi langit yang dijangkau oleh arsitek-arsitek terkenal. Dan kali ini, aku berdiri di bawahnya, pencakar langit yang dibuka tahun tujuh belas tahun silam, dan kini masih tegak terawat. Ikon wisata negeri jiran, yang memanggil-manggil untuk dihampiri.

Aku tidak ikut mengantri untuk menaklukkan ketinggiannya. Sesuatu yang tinggi lebih indah dinikmati dari jauh, pikirku ketika itu. Satu permakluman karena aku tiba terlalu siang di Suria KLCC, mal berukuran cukup besar yang berada di podium bangunan Petronas ini. Tiket untuk naik ke atas hanya diberikan dalam jumlah terbatas setiap paginya.
Continue reading lintas petronas : ruang terbuka yang bersahabat