rasa desa di villa soegi jogja

cover

Kira-kira jam delapan pagi waktu Solo, aku membuka aplikasi HotelQuickly di ponsel untuk mendapatkan deal terbaik hari itu di Jogja, kota tempat aku menginap malam hari nanti. Kenapa baru pesan? Iya, karena aplikasi HotelQuickly hanya untuk pemesanan pada hari ini dan keesokan harinya. Dan jam delapan pagi adalah jam dibuka deal untuk hari itu, makanya harus buru-buru booking sebelum kehabisan kamar di hotel favorit. Nah! Harus quick, kan? Apalagi aku punya voucher IDR 300.000 ketika acara press conference-nya, nggak salah kalau dipakai, nih!

Aku menjatuhkan pilihan pada salah satu chain hotel yang berlokasi di Kusumonegaran, yang saat itu memasang harga sekitar IDR 80.000 (tentunya harga tercantum setelah dipotong voucher). Widiihh, murah banget kan? Langsung aku klik hotelnya dan ‘book a room’. Aah, tapi karena sinyal di perjalanan kereta Solo dan Jogja yang putus sambung, ketika akhirnya mendapatkan kepastian, didapat pesan ‘your room already taken by another user’. Ouch, gigit jari, deh.
Continue reading

satu cerita dari pasar malam sekaten jogja

cover

Tebak apa yang kamu pasti temukan di pasar malam. Kincir, komidi putar, tong setan. Semua yang berputar. Semua untuk bermain-main.

“Gerimis begini, In. Jadi kita pergi?” tanya Jay di teras rumahnya pada hari Sabtu sore di bulan Januari. Aku mengangguk. Lha, bukannya dia yang semangat empat lima mengajakku dan beberapa teman untuk menyaksikan acara Sekaten yang digelar di bulan Maulud dan kebetulan jatuh pada akhir tahun hingga awal tahun di alun-alun keraton Jogjakarta. Mendung memang menggantung sejak pagi aku tiba di kota pelajar ini hingga turunlah titik-titik air di genting. Ah, gerimis sedikit ini, tak apalah.

Tak mengindahkan gerimis halus itu, kami tetap naik motor menuju alun-alun yang tak terlalu jauh dari rumah Jay. Setiba di sana, Jay memarkir motornya di salah satu tempat parkir di sebelah timur alun-alun, kemudian mengajakku memasuki area pasar malam Sekaten. Ia sempat masuk anjungan Pemda DIY untuk menyerahkan beberapa berkas, lalu keluar melihat-lihat sekeliling.

“Katanya kamu mau naik kincir? Itu ada beberapa,” katanya sambil menunjuk beberapa kincir besi yang tersebar di alun-alun. Kincir memang salah satu wahana yang selalu ditemui di area pasar malam, sepaket dengan perahu ayun, ontang anting, komidi putar, atau permainan anak lainnya. Aku tertarik naik kincir itu karena kupikir bisa melihat pemandangan alun-alun Sekaten dari atas sana. Warna-warni lampunya pasti menarik, kataku waktu itu pada Jay.
Continue reading

candi kalasan yang kesepian, candi sambisari yang anggun

cover

Ini, Candi Kalasan. Candi ini kebetulan saja terlewat dalam perjalanan pulang dari Istana Ratu Boko. Entah bagaimana hari itu jalan-jalanku sangat berbudaya sekali. Candi Kalasan cukup mudah dicapai dari tepi jalan raya menuju Solo. Cuma membayar parkir pada penjaganya, dan donasi secukupnya, aku mengelilingi candi tunggal ini.

Semuka kupikir candi ini adalah candi Hindu karena bentuknya yang tinggi menjulang. Tapi ternyata, agak mirip dengan candi Mendut di sekitar Borobudur, candi Kalasan adalah candi Buddha. Memiliki empat sisi dengan ukiran yang cukup rumit, beberapa bagian candi ini sudah tidak sempurna lagi. Seperti Istana Ratu Boko, candi ini pun dibangun pada masa Rakai Panangkaran di abad ke-8.
Continue reading

mencari sepi di istana ratu boko

cover

… Segala yang rupa ini membantu kita mencapai yang tanpa rupa. ― Ayu Utami, Lalita

Membayangkan hanya punya satu hari santai di Jogja di tengah liburan pendekku, aku memilih untuk mengunjungi situs-situs budaya di jalur jalan menuju Solo. Jogja merupakan salah satu kota yang sering kukunjungi, dipermudah dengan adanya layanan Traveloka yang membantu dalam mendapatkan tiket penerbangan dan juga hotel budget dengan cepat, seperti Zodiak dan Whiz Hotel di kota Jogja. Kunjungan ke Jogja ini sebenarnya sudah beberapa kali, tapi banyak alasan ingin terus berkunjung ke sana. Mungkin karena kota ini kental dengan peninggalan kebudayaannya, karena setelah kenal Borobudur dan Prambanan di kunjungan beberapa tahun sebelumnya, aku ingin mengunjungi Istana Ratu Boko yang ternyata masih dalam pengelolaan Borobudur Park.

Pada waktu itu, motor yang kunaiki merayap pelan menaiki tanjakan di jalan aspal menuju kompleks istana Ratu Boko. Aku membayangkan cerita beberapa teman yang bersusah payah mengayuh sepedanya dari tengah kota Jogja sampai tiba di gerbang masuknya. Lokasi Situs Istana Ratu Boko terletak di (Dusun Samberwatu, Desa Sambirejo) dan (Dusun Dawung, Desa Bokoharjo) Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kira-kira 3-4 km sebelah selatan candi Prambanan, menuju jalan raya ke Piyungan. Petunjuk jalan membuat belokan jalan kecil ke tempat ini mudah dikenali. Continue reading

jatuh cinta kepada hijau

Suatu pagi di tengah liburanku di Jogja, aku memilih untuk bersepeda berkeliling daerah tempatku menginap, alih-alih menyusuri kota yang makin ramai. Udara pagi sejuk sisa hujan semalam. Lokasi ini tidak terlalu jauh dari kota, hanya beberapa ratus meter dari ringroad. Banyak hal-hal yang sudah lama tidak kulihat di kota melintas, dan membuatku berpikir banyak. Alangkah hidupnya tempat ini.

sawah
Aku mulai dari meninggalkan kompleks perumahan menemukan persawahan luas membentang. Di sekitar sawah itu selalu terdapat pohon pisang, sementara tepian jalan diteduhi dengan pohon lamtoro. Pelan kukayuh sepedaku, sambil menghirup udara yang masih segar walaupun waktu sudah menunjukkan pukul delapan. Sawah-sawah yang baru tumbuh beberapa bulan itu seakan menyapa, “Hai, sudah lama kami tidak menyapamu. Ayo turun dan bermain dengan kami.”

sawah di godean, sleman.

sawah di godean, sleman.

Sudah lama aku tidak melihat sawah kecuali dalam perjalanan ke luar kota. Di Jakarta sudah tidak ada sawah lagi yang ditemukan. Daerah penyangganya seperti Bekasi dan Karawang, yang dulu dikenal sebagai lumbung padi, sudah berganti wujud sebagai ladang industri, yang memerah jengkal lahannya menjadi berpenghasilan berkali lipat yang masuk kantong pengusaha.
Continue reading