nyiur hijau rote ndao

rote-0-menjelang senja

“Nemberala, Pak,” begitu kusebutkan tujuanku pada supir mobil sewaan yang menawarkan jasanya sesaat sesudah aku dan ketiga temanku tiba di Pelabuhan Ba’a, sesudah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Tempat itu kutuju karena dekat dengan pantai paling selatan Pulau Rote, pulau paling selatan di nusantara yang masih berpenghuni.

Dengan mobil sewaan, kami mulai melalui jalan-jalan di pulau Rote yang cukup mulus beraspal dan memang menjadi salah satu jalan utama menjelajah pulau. Ketika melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, aku jadi tahu bahwa sumber listrik di pulau ini menggunakan tenaga diesel, dengan kapal-kapal pengangkut solar yang rutin merapat.
Continue reading

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

south lombok : the blue, the pink, the beach

0-cover-south-lombok-gili-sunud

And me? I still believe in paradise. But now at least I know it’s not some place you can look for. Because it’s not where you go. It’s how you feel for a moment in your life when you’re a part of something. And if you find that moment… It lasts forever.
– The Beach [movie 2000]

Kapal bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Tanjung Luar di Lombok Selatan sekitar jam setengah sebelas pagi. Menurut Pak Man yang menyupiri perjalanan ke sini, jika tiba lebih pagi kami bisa melihat kesibukan pasar ikan yang menjual aneka hasil laut yang ditangkap oleh nelayan maupun dibudidayakan oleh petani laut.

Air laut yang berombak perlahan menampar-nampar tepi kapal kayu yang dilengkapi dengan jukung sebagai penyeimbang itu. Aku memperhatikan wajah pengemudinya yang mantap dan yakin mengendalikan kendaranya itu. Jika ia terlihat tenang, maka tak ada alasan untuk takut di laut. Lagipula perairan yang kami lalui cukup tenang tidak banyak goncangan yang berarti di atas kapal kecil yang memuat kami berdua belas yang mengikuti perjalanan Travel Writers Gathering Lombok ini.
Continue reading

diving mandeh, pesona bahari sumatera barat

0-mandeh-sumatera-barat-cover

Kadang-kadang aku berpikir kenapa aku tidak dilahirkan saja sebagai orang Sumatera Barat. Padahal dulu aku sering sekali dikira orang Minang. Sumpah, tempat ini indah luar biasa. Bisa dibilang di mana pun melangkah selalu indah. Makanya aku cuma berpikir sebentar ketika ditawari oleh adik-adik di KAPA FTUI, klub pencinta alam tempatku menimba ilmu dulu untuk melakukan petualangan lagi di Sumatera Barat, kali ini di bagian selatan.

Ah, karena dulu aku sudah pernah berjalan-jalan ke Padang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Batusangkar yang berada di sisi utara ibukota propinsi itu, maka aku tak menampik ajakan adik-adik ini ke Mandeh, yang bisa dicapai tak jauh dari pelabuhan Carocok Tarusan, lebih selatan dari Teluk Bayur dan Bungus. Jadilah aku terdaftar sebagai peserta perjalanan yang di-arrange oleh Widya, gadis aktif dari jurusan Metalurgi ini.  Continue reading

flores flow #13 : tentang laut, kapal, dan hati

1-labuan bajo-harbour

dan orang-orang yang turun dari perahu
membayangkan suatu kerajaan ringkik kuda
di lembah-lembah perbukitan
~ Sapardi Djoko Damono

Berlayar dari Labuan Bajo? Susuri jalan sepanjang tepian laut dan temukan banyak tawaran menggoda dari berbagai agen yang membuka jasanya. Mau kapal phinisi, kapal besar, kapal kecil, tergantung berapa jumlah rekan yang kamu bawa. Ingin berenang, snorkeling, diving, atau hanya berbaring-baring saja di geladak kapal, semua bisa disediakan.

Jalur pelayaran juga beraneka ragam. Jika punya waktu satu hari, bisa ke Pulau Rinca saja atau pulau Komodo saja. Dua hari satu malam, bisa mampir ke kedua pulau habitat kadal raksasa Komodo itu. Tambah satu hari lagi, bisa mampir Pulau Padar yang lengkungannya indah. Titik snorkeling dan diving yang menarik juga akan ditunjukkan oleh pemandu-pemandunya.
Continue reading

flores flow #12 : bukit-bukit kering pulau rinca-komodo

rinca-11

If the bite doesn’t kill the prey outright, the venom will.

Matahari bersinar cukup terik ketika kami tiba di Pulau Rinca, yang termasuk dalam pengelolaan Taman Nasional Pulau Komodo. Dermaga Pulau Rinca hanya berisi empat perahu berukuran sedang. Mungkin sudah sejak pagi turis-turis ini tiba, sehingga menjelang jam 11 begini sudah tidak terlalu ramai. Menyusuri dermaga hingga ke pintu gerbang, ternyata tak ada satu pun ranger yang menyambut di situ. Lho, bagaimana ini? Tapi ada jalan setapak yang bagus ke arah kanan. Bersama dua pasang turis, kami menyusuri perkerasan jalan setapak itu, hingga bertemu gerbang dan satu padang besar kosong di mana jalan setapak ini seperti melayang di atasnya. Sequence yang indah sebagai jalan masuk!

Perbukitan berwarna keemasan terhampar di depan mata. Musim kemarau yang lambat berakhir di sini hanya menyisakan sedikit kehijauan pada pohon-pohon. Langit biru yang membentang di angkasa memberikan kontras ditengarai gugusan mega. Berjalan di tengah padang itu, di ujungnya baru ditemui kantor-kantor pengelola Taman Nasional ini.
Continue reading

gili trawangan : living and tourism are coupled

DSC_0275

In any case, a little danger is a small price to pay for ridding a place of tourists.
― Tahir Shah, In Search of King Solomon’s Mines


Aku selalu menyesal memikirkan bahwa beberapa tahun yang lalu aku ke Lombok tapi tidak mampir Gili Trawangan apalagi mencoba snorkeling. Maklumlah dulu masih unyu dan belum banyak traveling (maksudnya, masih jadi traveler tingkat mahasiswa) dan belum bisa berenang. Makanya pas ada kesempatan ke Lombok lagi aku yang berencana tinggal hanya semalam di pulau ini jadi extend jadi dua malam. Tentunya supaya bisa menikmati one day tour snorkeling berkeliling beberapa point yang asyik di laut.

Gili (yang berarti pulau) Trawangan cukup mudah dicapai dari pulau Lombok atau Bali. Dari Lombok bisa menggunakan kapal kayu sedang yang berjalan tiap jam sepanjang hari dari pelabuhan Bangsal dengan tarif 15-20 ribu rupiah (kira-kira sesudah penyesuaian), atau mungkin speedboat dari beberapa operator hotel terkemuka di Lombok. Dari Bali banyak ditawarkan fastboat langsung ke Gili Trawangan melalui pelabuhan Padangbai dan harus mengecek jadwalnya terlebih dahulu.
Continue reading

tugu hotel : pantai bermatahari hingga purnama

DSC_0164_01

Tuan, apa itu surga?
Mungkin surga adalah tempat bidadari-bidadari bersenandung.
Mungkin surga adalah tempat di mana sungai-sungai susu mengalir deras
Mungkin surga adalah tempat di mana kau bisa awet muda selamanya
Mungkin surga adalah tempat mendapatkan apa-apa yang kau inginkan
Mungkin surga adalah tempat dalam khayalan

Untuk pasangan yang sedang berbulan madu, Tugu Hotel di Lombok ini menawarkan perfect hideaway, tempat bersembunyi dan berkasih-kasihan ditemani debur ombak yang berbuih ringan. Dengan villa-villa privat, jauh dari keramaian kota, orang bisa berlibur di sini dan lupa pulang. Lambaian pohon kelapa, deretan pepohonan yang cantik, suasana yang akrab dan intim menemani keseharian di persembunyian ini. Di pantai bisa berbaring berdua dengan cahaya matahari berlimpah, tanpa takut gulungan ombak atau keramaian manusia.
Continue reading