visit tidore island – rempah bersejarah

“Each spice has a special day to it. For turmeric it is Sunday, when light drips fat and butter-colored into the bins to be soaked up glowing, when you pray to the nine planets for love and luck.”
― Chitra Banerjee Divakaruni, The Mistress of Spices

Bayangkanlah dirimu di masa lalu berdiri pada puncak Benteng Tahula Tidore, mengawasi kapal-kapal yang datang dan pergi dengan teropong sembari mencatat aktivitas yang terjadi, melayangkan pandang pada separuh badan pulau, mengira-ngira muatan rempah apa yang dibawa dalam kapal-kapal kayu yang kelak berlayar hingga Eropa. Kemudian seolah aroma pala, cengkeh, kayumanis, menguar dari geladak kapalnya.

Setiap orang yang belajar sejarah di masa sekolah dahulu, pasti menemukan nama Tidore yang bersanding dengan Ternate sebagai salah satu pulau penghasil rempah di Indonesia. Pulau dengan gunung Kie Matubu Tidore dengan ketinggian sekitar 5900 kaki ini memiliki garis pantai yang dipeluk oleh birunya laut Maluku Utara yang indah, dengan garis cakrawala yang seolah menghilang ditelan batas langit dan samudera.

Gunung berapi yang dahulu aktif ini tentulah yang memberikan lahan subur pada dataran di sekitarnya sehingga menjadi tanah tumbuhnya pala, cengkeh dan kayumanis yang menjadikannya sebagai komoditi andalan untuk diekspor hingga tanah Eropa. Rerimbun hutan pala dan cengkeh mendominasi lereng-lereng sejauh mata memandang ketika berkeliling Tidore. Continue reading

menuruni batutumonga hingga palawa

0-toraja-bori-batutumonga-cover

“Harry – you’re a great wizard, you know.”
“I’m not as good as you,” said Harry, very embarrassed, as she let go of him.
“Me!” said Hermione. “Books! And cleverness! There are more important things – friendship and bravery and – oh Harry – be careful!”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone

Sampai sebelum berangkat ke Toraja ini, aku hanya sekali bertemu Winny Alna di salah satu acara yang diadakan di Jakarta. Selain itu, kami hanya bercengkrama di blog, bertegur sapa lewat komentar, dan berbalas twitter saja. Rupanya jadwal jalan Winny dan aku ke Toraja klop, sehingga kami memutuskan untuk menjelajah bersama. Surprisingly, gadis batak ini membuat perjalanan seru dan cerah dengan berbagai keputusan spontan. Sesudah seharian banyak berjalan kaki di Londa, Kete Kesu dan Lemo, di hari kedua kami memutuskan “naik gunung”.  Continue reading

tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading

toraja tau-tau: berangkat dari rantepao

0-toraja-cover

Tang ki pomabanda penawa
Ya mo passanan tengko ki
Umpasundun rongko’ki
[lagu Toraja: Marendeng Marampa]

Aku terkantuk di dalam bis besar dengan trayek Makasar-Toraja ini yang meninggalkan poolnya pada jam 10 malam. Menurut info yang didapat, perjalanan di Sulawesi Selatan ini akan ditempuh dalam waktu 8 jam. Berada dalam bis dengan ukuran kursi lebar memeluk badan, ditambah bantal dan selimut yang menemani perjalanan, membuatku lekas berpindah ke alam mimpi hingga terbangun ketika pagi menjelang di sekitar kota Makale yang berhawa sejuk. Satu jam kemudian aku, Winny, dan Lukman tiba di kota Rantepao untuk menuju rumah salah satu teman yang asli orang Toraja, kak Olive di depan alun-alun.

Setelah menyegarkan tubuh, kak Olive menyarankan kami untuk berkeliling Rantepao, mulai dari mengunjungi makam di Londa, rumah adat di Kete’ Kesu’, dan makam batu di Lemo. Memang Toraja adalah salah satu destinasi impianku sejak dulu, sejak masa kuliah aku mengikuti seminar yang bercerita tentang rumah tongkonan yang menjadi ciri khas dari masyarakat adatnya. Di banyak tempat di Toraja, rumah adat ini masih banyak berdiri di satu lingkungan pemukiman yang terdiri dari beberapa rumah tongkonan. Continue reading

annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

teater-bunga-penutup-abad-booklet

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini menjadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian – dan dia takkan balik berulang.(Anak Semua Bangsa)

Duhai Annelies, gadis Indo jelita yang meruntuhkan hati Minke, si philogynik, juga hati banyak orang yang membaca kisahnya pada buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis muda anak seorang Belanda dan Nyai Pribumi yang hidup di tahun 1898 di dalam rumah besar Wonokromo, dilahirkan, mempesona karena kecantikan, kehalusan dan kemanjaannya.
Continue reading

rumah-rumah yang berlari dalam perjalanan menuju kolbano

rumah-adat-timor-soe-0-cover

Aku menempelkan hidungku pada kaca mobil yang melaju dari kota Soe. Pepohonan berlari, tiang listrik berkari, rumah-rumah berlari. Pegunungan  yang membentang dari Soe menyajikan lansekap timbul tenggelam, menyembunyikan kehidupan di balik pepohonan gewang yang tegak berdiri tinggi.

Pikiranku kembali pada satu berita di tahun 1990-an tentang batang-batang rumah adat Timor yang dicat warna sesuai dengan warna sarung kesukaan  penghuninya. Di mana desa itu berada? Karena yang tertangkap mataku sekarang adalah rumah-rumah berwarna senada, monokrom serupa sepia dari balik kaca mobil.

Continue reading

ziarah keramik gunung jati

0-ziarah-keramik-gunung-jati

Suatu hari, pernahkah kau teringat bahwa
ziarah adalah berkencan dengan sepi?
Menuju ruang persinggahan antara yang fana
dan baka dalam tetumbuh batu nisan.
Di sini, mengingat kembali hal muasal yang terjadi
ratusan tahun lalu,
ketika nama-nama itu masih hidup.

Dinding-dinding putih itu berbicara
tentang negeri jauh,
Menyeberang lautan, asal dari Ratu Ong Tien.
Serupa keramik yang menempuh perjalanan
panjang untuk menemani sang puteri,
dipersunting Sunan Gunung Jati
Continue reading

mega mendung dalam batik trusmi

0-cover-batik-trusmi-cirebon-x

“Apa guna warna langit dan bunyi jengkerik? Apa guna sajak dan siul? Yang buruk dari kapitalisme adalah menyingkirkan hal-hal yang percuma.”
― Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali

Berulang kali aku pulang ke Cirebon, bisa dibilang aku tidak pernah menyempatkan diri ke pusat batik Trusmi yang terkenal itu, karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah keluarga. Padahal motif mega mendungnya yang terkenal itu terpapar hampir di semua tempat khas di Cirebon.

Ternyata, lokasi sentra batik di daerah Trusmi ini cukup mudah dicapai, bisa naik angkot GP tujuan Plered dan turun di depan gerbang besar bertuliskan selamat datang di Trusmi. Bisa berjalan kaki sambil melihat-lihat kanan kiri aneka toko batik yang berjajar di sepanjang jalan, atau naik becak sampai satu sentra batik terbesarnya yang berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Cirebon-Plered.

Continue reading

menyepi di engyoji himeji

0-himeji-japan-mount-shosha-engyoji-cover

To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

“Kota ini cocok untuk menghabiskan masa tua, ya,” demikian pendapat Windu, kira-kira 30 menit sesudah kami menginjakkan kaki di Himeji, satu kota di sebelah barat Osaka, yang ditempuh dalam satu jam kereta antar kota. Sesudah tiba di terminal bus dan mengetahui bahwa bis menuju Mount Shosa masih berangkat 30 menit kemudian, kami memilih untuk berjalan-jalan berkeliling sambil membeli bekal di gerai minimarket siap saji.

Suasana Himeji jauh berbeda dengan Osaka. Tak banyak mobil berlalu lalang, bis yang sesekali lewat, udara sejuk yang berangin, bangunan-bangunan yang tertata rapi, orang-orang yang berjalan santai, lambat, tidak terburu-buru. Kami sering bertemu dengan serombongan orang tua yang sepertinya juga sedang bervakansi di kota ini. Continue reading

osaka : tradisional, modern, dan hura-hura

0-cover-osaka-castle-TEXT


Anywhere there is life, there are eyes. And things, too, speak to those who have ears to hear.
― Eiji Yoshikawa: Taiko

“Ini istananya Hideyoshi Toyotomi?” Aku kagum melihat istana besar yang selama ini hanya ada dalam benak, dari buku-buku yang kubaca. Hideyoshi Toyotomi kukenal dari buku Taiko karya Eiji Yoshikawa yang beberapa tahun yang lalu menemani perjalananku ke kantor. Taiko mengisahkan perjalanan seorang pengantar sandal, hingga menjadi seorang panglima besar kerajaan Jepang di tahun 1586. Buku ini menjadi salah satu buku yang mempengaruhi hidupku tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam buku Taiko dikisahkan tentang Jepang pada abad ke-16, ketika keshogunan tercerai berai. Hideyoshi yang lahir sebagai anak petani, datang sebagai abdi Oda Nobunaga seorang daimyo di provinsi Owari, mempelajari sekitar dan memohon kesempatan bertempur sehingga akhirnya ia bisa menjadi salah satu pelindung Kaisar. Dengan kesetiaannya yang tinggi akhirnya ia mendapatkan kepercayaan untuk memerintah di satu propinsi, dan berlanjut dengan penaklukan daerah-daerah lain di Jepang hingga akhirnya ia menjadi seorang Taiko, yang berkedudukan di Osaka dan mendirikan istana di bekas kuil Ishiyama Honganji. Dengan sentral pada istana, penduduk yang sudah bermukim sejak lokasi ini menjadi kuil, makin meluas dan menjadi cikal bakal kota. Sebelum pusat pemerintahan dipindahkan ke Edo, Osaka menjadi pusat pemerintahan Jepang karena tempatnya yang strategis di tepi lautan sebagai pusat ekonomi dan transportasi. Continue reading