tentang jarak pulau kemaro

1-pulau-kemaro-palembang

Ada legenda seorang putri raja bernama Siti Fatimah yang disunting oleh seorang saudagar Tionghoa yang bernama Tan Bun An pada zaman kerajaan Palembang. Siti Fatimah diajak ke daratan Tiongkok untuk bertemu dengan orang tua Tan Bun An. Setelah di sana beberapa waktu, Tan Bun An beserta istri pamit pulang ke Palembang dan dihadiahi tujuh buah guci. Sesampai di perairan Musi dekat Pulau Kemaro, Tan Bun An hendak melihat hadiah yang diberikan. Begitu dibuka Tan Bun An kaget sekali karena isinya hanya sawi-sawi asin. Tanpa berpikir langsung dibuangnya guci-cuci tersebut ke sungai, tapi ternyata guci terakhir jatuh dan pecah di atas dek perahu layar, tan tampaklah hadiah-hadiah di dalamnya. Tan Bun An langsung melompat ke dalam sungai untuk mencari guci-guci tersebut, diikuti seorang pengawalnya. Siti Fatimah ikut terjun ke air mencari suaminya. Hingga kini penduduk sekitar mendatangi pulau Kemaro juga untuk mengenang tiga orang tersebut.

Pulau Kemaro, adalah tentang jarak. Tentang daratan mengapung yang dicapai tigapuluh menit berperahu dari Jembatan Ampera. Tentang berada di tengah sungai Musi selebar 1350 m. Tentang pulau yang berjarak dengan hujan, karenanya dinamakan Kemarau.

Pulau Kemaro, adalah tentang jarak. Tentang beberapa depa yang memisahkan klenteng Toa Pekong dengan pagoda. Tentang klenteng yang selalu ramai oleh orang-orang yang bersembahyang, dari satu tempat yang berjarak. Tentang kisah menyedihkan yang memisahkan pulau dengan penghuninya.

Pulau Kemaro, adalah tentang jarak. Tentang plaza luas di sekitar pagoda, memberi spasial untuk menikmati tinggi bangunan. Tentang pepohonan yang berdiri cukup jauh, memberi ruang supaya sang naga-naga bisa menjaga.

Jarak, menjadi sebuah bahasa. Karena tanpa jarak, bagaimana akan terbit rindu? Continue reading

Advertisements

riak menari sungai musi

0-cover-musi-palembang-kapal-XX


dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Sumatera adalah titik istimewa karena salah satu sisinya yang menghadap ke Selat Malaka, sebagai jalur persinggahan atas pelayaran jarak jauh dari Eropa ke Cina. Setelah pelayaran berbulan-bulan di Samudera Hindia, laut tenang di Selat Malaka menjadikan pesisir Sumatera sebagai pelabuhan alami yang merupakan tempat aman untuk reparasi kapal serta berdagang kapur barus, kemenyan, emas, dan lada. Tak pelak lagi, bandar-bandar di sisi timur Sumatera menjadi berposisi strategis sebagai ruang timbunan barang dagangan dan Sriwijaya adalah salah satu bandar yang bersinar.  Continue reading

seberang ilir jembatan ampera

0-jembatan-ampera-sungai-musi-palembang-1

betapa banyak perjalanan terhenti karena tidak ada jembatan?

Tidak kusangka bahwa Jembatan Ampera yang menjadi ikon kota itu benar-benar strategis sampai-sampai ke mana pun di Palembang sepertinya aku selalu melewati atau sekadar melihat jembatan ini. Tercatat sehari dua kali mondar-mandir lalu di tepinya atau melintas di atasnya. Warna merahnya yang cerah sangat mudah tertangkap mata berpadu dengan biru atau kelabu langit.

Perjalanan ke Palembang tahun 2015 lalu merupakan salah satu favoritku tahun lalu. Bukan saja karena aku terbang dengan tiket gratis dari Citilink, tapi karena di sana aku mendapat banyak teman dan saudara baru dari keluarga BPI Palembang. Walaupun aku tidak ikut komunitas ini, tapi rasa hangat amat terjaga. Bayangkan, baru saja tiba di Bandara Sultan Badaruddin Palembang saja, aku sudah dijemput untuk diantarkan ke tengah kota.  Continue reading