solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

cover

Menurut aku, salah satu kota yang asyik untuk solo traveling itu adalah Cirebon. Kenapa demikian? Pertama karena aku lahir di sana, namun tidak pernah tinggal di situ sehingga setiap tahun selalu mampir untuk berkunjung pada kerabat. Masalahnya, dari seluruh sepupu-sepupu yang sebaya itu, tak satu pun yang tertarik untuk mengamati peninggalan budaya yang tersebar di berbagai kota seperti aku. Kalau makan, kami tetap pergi beramai-ramai. Jadilah aku yang suka membaca buku sejarah ini berkeliling Cirebon tanpa ditemani pemandu. Solo traveling, kenapa kamu tidak?

Cirebon berada di propinsi Jawa Barat, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa yang tak jauh dari perbatasan ke Jawa Tengah. Lokasinya yang sedikit bimbang ini membuat dialek bahasanya cukup berbeda dari bahasa Sunda pada umumnya di propinsi Jawa Barat. Bahasa Cirebon agak bercampur dengan bahasa Jawa, dan cengkok pengucapannya pun agak berbeda. Seperti karakteristik bahasa untuk kota-kota di tepi pantai, pengucapannya tidak halus, cenderung cepat dan keras.

Dengan posisi geografisnya, Cirebon di masa lalu sering dirapati oleh pendatang dari berbagai bangsa, seperti Melayu, Tionghoa, dan Arab. Bertempat juga di jalur pos utara Jawa, menjadi titik perpindahan suku Sunda dan Jawa. Akulturasi dari pertemuan ini membentuk budaya yang kaya baik dari makanan, pakaian, atau bangunan dan masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Continue reading

traveloka : melekatkan sahabat

image

They say nothing lasts forever…
…dreams change, trends come and go, but friendships never go out of style.
~ Carrie Bradshaw, Sex & The City

Bagaimana rasanya punya sahabat karib yang senantiasa bersama selama bertahun-tahun? Kami berenam hingga sekarang masih suka berbagi canda dan tawa. Aku, Despin, Iin, Tiwi, Vina, dan Selvie sudah bersahabat hampir dua dekade. Aneka kegembiraan dan cobaan tentu kami lalui bersama. Dulu kami sama-sama sering menginap di rumah Tiwi untuk mengerjakan tugas kuliah, mengikuti Kerja Sosial menginap di tenda peleton berhari-hari, saling dukung jika salah dua (mungkin salah tiga) dari kami tidak lulus studio arsitektur di semester.

Kegiatan selain kuliah kami tidak sama, tapi entah kenapa kami merasa cocok satu sama lain. Mungkin inilah yang namanya chemistry persahabatan. Iin dan Tiwi tidak mengganggu ketika aku dan Despin asyik nongkrong di kegiatan kecintaalaman. Kami tetap suka menunggu Vina yang sempat kuliah dobel di fakultas sebelah. Dan Selvie yang rajin sering membantu tugas-tugas kami yang studionya tertinggal dua semester (termasuk aku tentunya). Mungkin satu-satunya hobi kami yang menyatukan benar adalah kecintaan kami pada buku. Kami selalu mampir ke toko buku, atau menghabiskan waktu membuka-buka koleksi Iin.
Continue reading

wayang, upaya memperkuat nilai-nilai luhur bangsa

IMG_2994 

Sehabis lesat pasopati, senja datang tergesa, perang terhenti. Seorang ibu meraihmu dalam gugu yang nyeri. Gelombang rindu tak sampai-sampai. Betapapun telah deras berbadai-badai hujan di batinnya, untukmu Karna cukuplah kiranya gerimis wangi ini. Kami dilarang menangisi.‪ #‎karnatandhing_020315‬

Di panggung Mahakarya Indonesia, Nanang Hape mengangkat Karna di tangannya, si ksatria dari Hastina yang dipisahkan dengan kelima saudara-saudaranya Pandawa Lima, dan terpaksa bertarung melawan mereka karena setianya pada sang guru, Duryudana. Lelaki ini, yang berusaha untuk bercerita tentang wayang untuk generasi muda yang sudah mulai melupakan kebiasaan-kebiasaan lama ini.

Aku ingat dulu sewaktu kecil, sering ada pertunjukan wayang kulit di kampung kakekku yang dipentaskan hingga semalam suntuk. Waktu itu aku tidak banyak tahu tentang cerita-cerita ini, tapi pelajaran bahasa Jawa berhasil membuatku penasaran untuk mengetahui lebih banyak kisah-kisah mereka. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Gatotkaca, putera Bima yang perkasa, atau keanggunan Abimanyu yang mewarisi ketampanan Arjuna dan cantiknya Dewi Subadra. Mulailah aku banyak membaca tentang kisah-kisah Pandawa Lima yang semua berakhir dengan perang besar di Kurusetra.
Continue reading

candi gedong songo : menapaki jalan batu bersusun pagi hari

candi-gedong-songo-3-d

    salamku matahari, wangi pohon, dedaunan, kupu-kupu menari,
    embun di pucuk-pucuk rerumputan.
    ikutlah bersama dan menyapa batu-batu, cukup kuatkan kakimu.

Jam ponselku menunjukkan pukul enam pagi ketika kami tiba di pelataran kompleks candi Gedong Songo. Sesudah berada dalam mobil selama hampir satu jam, angin pegunungan berhembus menggigit tulang seketika pintu terbuka. “Wah, tukang karcisnya belum buka. Sarapan dulu, yuk!” ajak Astin yang menyetir mobil sejak jam lima pagi tadi di Semarang mengeluh lapar. Beruntunglah ada satu warung yang menjual mi instan rebus yang mampu mengganjal perut sebelum mulai mendaki.

Candi Gedong Songo terletak tidak jauh dari kota Semarang. Dari Banyumanik, kawasan atas kota Semarang bisa ditempuh dalam waktu satu jam mengendarai mobil menuju arah Ambarawa, kemudian berbelok ke arah barat dan terus mendaki sampai daerah Bandungan. Daerah dataran tinggi yang sering menjadi tempat peristirahatan warga Semarang ini jalannya tidak terlalu lebar sehingga membutuhkan skill yang cukup untuk menyetir belok sambil mendaki begini. Untung Astin cukup piawai mengemudikan mobilnya sampai-sampai tidak mau kugantikan. Mungkin dia tidak percaya pada kemampuan anak kota sepertiku. Setelah beberapa kali berbelak-belok melewati villa-villa asyik dan Pasar Bandungan, kami tiba di pelataran parkir Kompleks Candi Gedong Songo. Untung tadi Astin masih ingat dengan jalannya, sehingga kami bisa sampai. Daripada mengandalkan googlemaps yang sinyalnya timbul tenggelam, lebih disarankan bertanya pada penduduk setempat apabila menemukan persimpangan meragukan.
Continue reading

Toyota Rush menantang jalur selatan Pulau Jawa

1809266_lowres1

Sejak aku memperoleh SIM pertamaku belasan tahun lalu (iya, SIM di dompet ini yang ketiga), cita-citaku cuma satu, touring keliling Jawa pakai mobil ala tokoh-tokoh di film Cinta Dalam Sepotong Roti (maaf kalau referensinya jadul banget, tapi dulu nggak ada film Indonesia yang keren). Jadi, setelah bertahun-tahun tinggal di tanah Jawa tercinta ini, ternyata banyak tempat yang belum sempat aku jelajahi dengan alasan, medannya berat. Itu kata ayahku yang sama sekali tidak mengijinkan puteri semata wayangnya ini berkendara ke luar kota sekalipun. Tapi saking anaknya ini agak bandel, setiap kali bepergian ke luar kota selalu ngumpet-ngumpet meminta gantian menyetir mobil teman supaya skill mengemudi bertambah. Oh, untuk diketahui, aku adalah pengemudi dengan persneling manual dan sedang berusaha belajar menggunakan transmisi Automatic. Namanya juga cewek jadul, pasti bisanya manual.
Continue reading

the dream way to kerala, india

DSCN0615-EDITED2

India or Hongkong?
INDIA of course!
(click above to vote me)

Begitu kalau ditanya orang mana destinasi luar negeri yang ingin kudatangi. Kenapa India? It’s such a reason, karena India adalah negeri yang sangat ingin kudatangi sejak zaman kuliah. Terutama sih sejak baca petualangan-nya mas Gol A Gong di India dalam Balada si Roy jilid 9 dan 10. Keinginan untuk menapaktilasi jejaknya begitu kuat, namun sayangnya bukan uang yang menghalangi, karena uang kan bisa dicari, yaa.. Tapi teman jalan! Hm, terus terang aku tidak berani ke India sendirian seperti perjalananku solo traveling ke negeri-negeri lain (sebenarnya baru tiga negara, sih) karena banyak pemberitaan di media bahwa harrashment di India begitu besar, apalagi untuk perempuan yang berjalan sendirian. Perempuan selalu menjadi topik menarik untuk diperbincangkan di India, begitu juga dalam beberapa buku karya sastra yang ditulis oleh novelis-novelis perempuan India ternama, Chitra Banerjee Divakaruni, Kiran Desai, Jhumpa Lahiri atau Arundhati Roy.
Continue reading

colours of india : food that guide me

DSC_0269

Semua yang kenal baik denganku pasti tahu betapa inginnya aku pergi ke India. Negeri di Asia Tengah yang masakannya kaya dengan bahan rempah ini adalah tempat yang kuimpikan gara-gara ingin napak tilas perjalanan karakter si Roy ciptaan mas Gol A Gong. Berkali-kali aku menyusun rencana, tapi selalu gagal karena tak ada teman jalan yang mau diajak bareng. Terus terang, aku belum berani bepergian ke India sendiri, walaupun banyak juga orang-orang yang solo traveling di sana. Semoga tahun depan India menjadi salah satu destinasi yang kutuju, selain beberapa negara di Asia Tengah lainnya.

Karena itu, ketika ada undangan makan di Hotel Indonesia Kempinski untuk mencoba beberapa masakan di sana dalam rangkaian Colours of India, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebelumnya aku sudah beberapa kali makan masakan India di Jakarta, Singapura atau Malaysia. Rasa rempahnya yang tajam dengan berbagai bumbu kari menemani berbagai roti khas atau nasi. Dibandingkan dengan masakan Indonesia yang sama-sama kaya rempah, masakan India berbau lebih tajam. Continue reading

air asia dalam rengkuhan mimpi rinjani

cover

Free as a bird | It’s the next best thing to be | Free as a bird
Home, home and dry | Like a homing bird I’ll fly | As a bird on wings
Whatever happened to | The life that we once knew? | Can we really live without each other?
[Beatles]

“Lari, mbak! Pesawatnya sudah boarding!” begitu mas-mas pemeriksa tiket meneriaki kami yang tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta pada pukul 05.50 menit di tanggal 5 Maret 2011 pagi. Pesawat dijadwalkan terbang pada jam 06.15. Tentu saja maskapai yang lebih sering tepat waktu daripada delay-nya ini tidak ingin kehilangan predikatnya hanya karena rombongan konyol seperti kami. Untung saja, Sisil yang mem-booking tiket untuk kami sudah melakukan mobile check-in. Jadi, kami semua tinggal melenggang masuk kabin pesawat.

Seharusnya.

Kejadiannya, aku, Sisil, Ika dan Ayu harus berlari-lari sepanjang terminal 3, dari bawah hingga galeri koridor, lorong hingga naik pesawat. Sepertinya semua penumpang bernapas lega ketika kami berempat masuk pesawat. Muka merah padam sengaja disembunyikan ketika duduk di kursi masing-masing yang terpencar. Demi menghemat biaya, kami tidak me-reserve nomor kursi. Jadilah bebas terpencar begini. Memang asyiknya naik Air Asia itu, dari pemesanan hingga check-in kita bisa lakukan secara online, dengan tambahan berbagai fasilitas yang dibutuhkan saja. Jadi kalau tidak butuh bagasi, tidak beli. Tidak butuh memilih tempat duduk, tidak beli. Tidak butuh makanan di jalan, tidak perlu beli juga. Cocok sekali untuk pengguna jasa yang minimalis seperti aku. Irit, maksudnya.

Tiket AirAsia ini dibeli beberapa minggu sebelum berangkat. Memang bukan tiket promo, namun tetap saja harganya termurah dibandingkan maskapai lain. Dengan armada Airbus A320, harga murah ini tetap didukung kelayakan kualitas penerbangan. Terbukti kami yang langsung tidur begitu lepas landas dan baru sadar kembali karena sinar matahari mulai menerpa jendela-jendela. Yay, hanya 35 menit waktu tempuh Jakarta-Jogja, saatnya untuk menikmati kota budaya ini dan bertemu dengan komunitas Goodreads Indonesia Jogja yang janjian ketemu di Benteng Vredeburg.
Continue reading