Tag Archives: maluku utara

kapal

“Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat, karena aku ingin seiring dan bukan digiring.” 
― Dee Lestari

Judulnya sama dengan buku ke-9 Balada si Roy, Kapal. Ceritanya pun tentang Maluku, negeri berbagai pulau yang membuat kapal menjadi transportasi utama. Setelah berhari-hari naik berbagai macam kapal mulai dari speed boat, kapal kayu hingga ketinting, aku harus kembali ke Ternate dari Morotai. Karena tak mendapat tiket pesawat, maka pilihanku hanyalah jalur laut. Continue reading kapal

morotai dan macarthur


“There is no security on this earth; there is only opportunity.”
– Douglas MacArthur

Menjejakkan kaki di Morotai bukan sekadar keinginan biasa. Pulau kecil di penghujung Halmahera dan menghadap laut Pasifik ini memang bukan pulau biasa, karena pada saat Perang Dunia II, pulau ini adalah beberapa kali diperebutkan karena lokasinya yang strategis. Awalnya Jepang menguasai Morotai dengan kekuatan sebanyak satu batalyon atau sekitar 1000 orang personel, namun pada tahun 1944 Pasukan Sekutu yaitu Amerika Serikat dan Australia mengirimkan sembilan divisi atau sekitar 90 ribu pasukan untuk merebutnya.

Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat dikenal sebagai otak strategis dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di Morotai, ia berperan besar untuk kemenangan Amerika Serikat dan sekutu di Wilayah Pasifik. Ia terkenal dengan kata-katanya, “I shall return!” di tahun 1941 ketika ia menjabat sebagai Penasehat Angkatan Darat Filipina dan terpaksa mundur ke Australia usai penyerangan Jepang pada Pearl Harbour. Benar, ia kembali dan memenangkan daerah Pasifik lagi dari Jepang.

Bulan Juli 1944, komandan wilayah barat Pasifik Selatan ini memilih Morotai sebagai pangkalan udara dan laut yang dibutuhkan untuk membebaskan Mindanao (Filipina) pada 15 November 1944. Untuk menguasai kembali tidak mudah, karena tentara Jepang tersebar di banyak bagian pulau ini yang masih berupa hutan-hutan. Namun dengan ribuan tentara yang tergabung dalam Divisi Infanteri 31 dengan ratusan kapal laut, Oktober 1944 Morotai dikuasai Sekutu. Landasan terbang pun dibangun di di Warna dan Pitu yang diperuntukkan untuk pesawat tempur dan pesawat pembom, sehingga panjang landasannya menyesuaikan dengan kebutuhan pesawat-pesawat tersebut. Continue reading morotai dan macarthur

kanca, dodola, dan doa seorang ayah

“All the beaches of the world, could never amount to, nor implore the one grain of sand that I stand on, which is your love.”
― Anthony Liccione

“Kak, kemarin ke Pulau Kakara, kan? Kayaknya aku lihat di dermaga,” seorang gadis manis berkulit terang menyapaku di fastboat tujuan Pulau Morotai yang kunaiki dari dermaga Tobelo. Sembari memeluk ponselku yang bekerja mencari tiket cara kembali dari Morotai ke Ternate, aku tersenyum dan membalas sapaannya. “Oh, iya? Memang kemarin di Kakara juga?” Rupanya gadis itu, yang kemudian kuketahui bernama June bersama temannya Friandry usai mengikuti Ruang Berbagi Ilmu di Pulau Bacan lalu menghabiskan sisa waktunya di Maluku Utara dengan ke Morotai. “Wah, keren ya ikut RUBI. Aku baru seringnya ikut Kelas Inspirasi saja,” obrolan kami tiba-tiba nyambung karena ternyata kami semua punya hobi mengajar dan memotivasi anak Indonesia di bidang pendidikan ini. Continue reading kanca, dodola, dan doa seorang ayah

dua senja langit tobelo

“What a grand thing, to be loved! What a grander thing still, to love!” 
― Victor Hugo

Pernahkah bepergian hanya mengandalkan kejutan tanpa ekspektasi, karena rencana yang mendadak saja terjadi atas dorongan orang-orang baik yang ada di sekitar. Tiba-tiba saja rasanya berada di dalam mobil travel menuju Tobelo, dengan tujuan rumah tinggal keluarga ibu Heni dan Indah, sebagai tempat transit sementara sebelum kembali menyeberang, tanpa tahu bagaimana cara kembali ke Ternate lagi.

Mungkin benar ada jika ada yang berkata bahwa Tobelo itu adalah to-be-loved, karena sudut-sudutnya yang indah mengundang untuk bercengkrama sembari menunggu kapal yang berangkat esok hari. Banyak cerita yang terungkap ketika tiba, tentang masa lalu yang tak semua orang tahu. Continue reading dua senja langit tobelo

orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan

Melakukan perjalanan sendirian, tentu saja tidak bisa semata menggantungkan harapan pada jadwal yang benar atau perjalanan yang lancar. Apalagi jika lokasinya di tempat yang jauh dari kehidupan sehari-hari dengan pola yang berbeda juga.

Sesudah dua hari berkeliling Ternate Tidore dengan sinyal Telkomsel yang tewas karena kabel bawah laut yang sedang diperbaiki padahal itinerari pun belum ada, atas petunjuk ibu pemilik penginapan, aku mengangkat ransel menuju pelabuhan Dufa-dufa, untuk menyeberang ke Jailolo. Speed boat berkapasitas 15 orang mengantar kami meninggalkan ibukota Maluku Utara untuk menuju pulau terbesar di propinsi tersebut, Halmahera. Continue reading orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan

pemandu lokal dari tidore

“We have all a better guide in ourselves, if we would attend to it, than any other person can be.”
― Jane Austen, Mansfield Park

Namanya Iki. Aku mengenalnya tepat ketika turun dari kapal yang membawaku menyeberang dari Pelabuhan Bastion ke Tidore. Ia langsung mengenali penampilanku yang ‘turis banget’ dan menawarkan jasanya untuk mengantarkanku berkeliling pulau rempah ini. Badannnya hitam dengan perawakannya tinggi besar. Semula aku agak takut, tapi ia cukup ramah apalagi sesudah menyepakati harga sebesar seratus dua puluh ribu hingga tiba lagi di pelabuhan. “Nanti foto-fotoin saya di spot-spot bagus, ya, Bang,” pintaku.

“Kalau turis memang biasanya lebih suka naik motor, kak. Lebih segar katanya,” ceritanya di awal perjalanan. Aku menyepakati perkataannya. Dengan naik motor, menikmati pemandangan langsung tanpa penghalang kaca jendela, mengatur cepat lambatnya perjalanan jika melihat sesuatu yang menarik. Continue reading pemandu lokal dari tidore

ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

Kevin Lynch mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen penting dalam pembentukan imaji fisik suatu kota. Dalam bukunya yang berjudul Image of the City, terdapat pengaruh-pengaruh dari pencitraan yang dilihat secara fisik untuk memperkuat makna kota. Mengacu pada lima elemen, yaitu path, edge, district, node, dan landmark, yang seringkali berulang lagi dalam satu lingkungan, bukan hanya seluas fungsi kota, unsur-unsur ini muncul bukan hanya karena sengaja dibangun oleh manusia, tapi bisa juga memang muncul karena kegiatan manusianya yang membuat unsur ini menjadi berfungsi dengan sendirinya.

Bukan berarti jika elemen-elemen ini tidak dipenuhi, maka suatu tempat tidak layak disebut kota, karena ini hanyalah salah satu tengara fisik yang mudah diamati ketika berkeliling kota, ketimbang harus memahami batas-batas administratif yang ditentukan oleh pemerintahan. Berkeliling pada satu sisi Pulau Ternate di sebelah timur menghadap Laut Jailolo, tempat mayoritas kegiatan bisnis dan sosial berlangsung yang tidak banyak berubah sejak masa perdagangan Portugis hingga VOC. Pola perkotaan yang berbasis pada laut, mengakibatkan orientasi kota tidak mengacu pada pusat tertentu, melainkan pada tepian laut lepas. Karena itu area kegiatan sosial lebih banyak terletak di tepian perairan yang mengelilingi pulau.
Continue reading ruang-ruang sosial di tepi laut ternate