annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

teater-bunga-penutup-abad-booklet

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini menjadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian – dan dia takkan balik berulang.(Anak Semua Bangsa)

Duhai Annelies, gadis Indo jelita yang meruntuhkan hati Minke, si philogynik, juga hati banyak orang yang membaca kisahnya pada buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis muda anak seorang Belanda dan Nyai Pribumi yang hidup di tahun 1898 di dalam rumah besar Wonokromo, dilahirkan, mempesona karena kecantikan, kehalusan dan kemanjaannya.
Continue reading

terres des hommes : melihat dunia dari udara Antoine de Saint-Exupéry

IMG_20140821_191230

Setiap perjalananku bermula, sejak lepas landas aku memasrahkan diriku pada langit. Pada birunya atmosfer dan awan-awan yang berarak. Aku paling suka duduk di tepi jendela, memandang keluar, memperhatikan bangunan di bawah sana yang perlahan mengecil, memandang arus sungai yang berkelok, danau-danau yang tampak seperti pecahan genangan, pepohonan seperti gerumbulan hijau, gunung-gunung yang dikitari awan tipis, tepian garis pantai yang kontras dengan birunya laut, kapal-kapal yang menuju daratan, hingga cuma biru di sekeliling.

    Namun aneh sekali pelajaran geografi yang kuterima waktu itu! Guillaumet tidak memberi pelajaran tentang Spanyol kepadaku; ia menjadikan Spanyol sahabatku. Ia tidak membicarakan hidrografi ataupun penduduk, bukan juga binatang ternak. Ia tidak berbicara tentang kota Guadix, tapi tentang tiga pohon jeruk dekat Guadix sepanjang sebuah ladang : “Waspadalah kepada pohon-pohon jeruk itu, tandai pada peta…” Dan sejak itu, pada petaku, pohon jeruk menempati tempat lebih penting daripada Sierra Nevada. Ia tidak berbicara tentang kota Lorca kepadaku, tapi tentang rumah petani dekat kota Lorca. Tentang sebuah rumah petani yang hidup. Dan tentang para petaninya. Dan tentang para petani perempuannya. Dan pasangan itu, yang entah berada di mana, seribu lima ratus kilometer dari kita, memiliki peranan yang luar biasa pentingnya. Mereka tinggal dengan nyamannya di lereng gunung, seperti penjaga mercu suar, dan di bawah naungan bintang-bintang, mereka selalu siap menolong manusia. (h.16)

Continue reading

jangan lupa bahagia, ya!

DSC_0273

Happiness [is] only real when it shared
~ Jon Krakauer : Into the Wild

Ketika Ken Ariestyani menawariku untuk menulis cerita perjalananku bersama dengan penulis-penulis lain dalam #antologiwomentraveler aku langsung menerima dengan sukacita. Ken sudah lebih dulu menelurkan buku pertamanya Mahameru, Bersamamu tentang perjalanannya mendaki gunung Semeru. Dua hari kemudian, ada grup baru dalam WhatsApp-ku yang membahas tentang penulisan buku ini.

Dua minggu adalah tenggat yang diberi oleh editor kami untuk menulis maksimal 15 lembar A4. Hah? DUA MINGGU??? Sementara waktu sehari-hariku habis di kantor dan di jalan, aku berpikir kapan menyelesaikan tulisan ini, ya? Akhirnya kupilih dua akhir pekan untuk menyelesaikan cerita, itu pun disambi jalan-jalan ke kota tua Jakarta, karena banyak acara di bulan Desember kemarin.

Ada dua pilihan destinasi yang ingin kuceritakan. Aku bingung antara Minangkabau atau Nias, karena sama-sama asyik. Tapi akhirnya kupilih Minangkabau karena selain banyak makanan juga yang bisa diceritakan, juga karena ini perjalananku pertama berdua saja dengan sahabat, sehingga ada beberapa gereget yang bisa digali. Sembari membuka-buka blog, aku merangkai ulang narasi-narasi untuk diceritakan dalam bentuk buku. Tidak mau terlalu sama dengan blog, harus lebih enak dibaca sebagai catatan perjalanan.
Continue reading

belajar dari sarongge, belajar untuk indonesia

DSC_0641s


Menunggu kadang-kadang menjadi satu-satunya pilihan. Berkebun adalah menunggu. Setelah biji ditebar, atau bibit ditanam, tak banyak yang bisa kita lakukan. Kecuali merawat, memupuknya. Tak ada yang bisa mempercepat tumbuhnya biji sawi, atau puspa yang kau tanam di ujung kebun kita itu. Semua punya waktunya sendiri-sendiri.
[h.273]

Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini di lantai basemen Blok M Square. Pertama melihat aku langsung tertarik, berjudul Sarongge, karya Tosca Santoso, dengan sampul sebuah pohon besar yang rindang, dengan pengantar Ayu Utami. Saat itu aku tidak menanyakan harganya, karena takut mahal dan belum tahu harga aslinya. Dan lagi, jumlah buku yang belum kubaca di rumah juga menumpuk banyak, sehingga aku tidak berniat menambah timbunanku itu.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku ingat lagi dengan buku itu, ketika daerah Sarongge mulai diperbincangkan di twitter. Baru aku tahu, bahwa Sarongge itu nama daerah di kawasan Puncak, di mana di sana ada program adopsi pohon dari Green Radio. Aku mulai mencari lewat toko buku online yang ternyata sudah tidak ada stok dan akhirnya menanyakan ke penulisnya langsung @toscasantoso via twitter. Ternyata di toko-toko buku di Jakarta sudah tidak ada, dan masa iya aku keliling seluruh toko buku? Jakarta itu kan propinsi, sehingga agak sulit dicapai ujung satu dengan satunya lagi. Bisa berhari-hari kalau keliling.
Continue reading

bercermin lewat : arsitektur yang lain

Image

 

Arsitektur Yang Lain: Sebuah Kritik Arsitektur by Avianti Armand
My rating: 5 of 5 stars

Kita telah lama jadi penghuni “waktu”.
Sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar “ruang transit”.

Arsitektur itu bicara ruang, bukan sekadar bangunan. Ruang yang berfungsi sebagai tempat berkegiatan manusia dan ruang yang (sayangnya) hanya untuk dipamerkan. Pertama ia menyinggung soal rumah, yang tak lagi sebagai ruang bertinggal, namun hanya sebagai tempat singgah di malam hari. Membuatku bertanya-tanya, jadi mana yang bisa kita sebut sebagai tempat bertinggal itu apabila lebih dari 50% hari dihabiskan untuk tidak berada di situ? Penduduk manakah aku bila 15 jam hidupku berada di Jakarta, dan sisanya berada di Depok, itu pun dalam keadaan tidak sadar alias tidur. Tidak ada kontribusi apa pun untuk ruang bertinggalku selain sebagai tempat domisili belaka sebagai syarat administratif seorang warga negara. Mungkin pada akhirnya yang kita tempati adalah ruang waktu, dan alamat pasti di mana kita adalah alamat e-mail.

Continue reading

ceritakan ranselmu! : mengejar mimpi bersama travel writer


“Mungkin aku tak pernah menorehkan apa-apa untuk KAPA sewaktu masih aktif, tapi percayalah, KAPA menorehkan sesuatu yang besar pada diriku. Keberanian dan pantang menyerah. “

KAPA atau Kamuka Parwata adalah ruang bermainku di masa aku kuliah arsitektur. Klub pencinta alam yang berdiri tahun 1972 ini melantikku di tahun 1998, ketika aku sedang gemar-gemarnya jalan-jalan. Belajar untuk mengarungi semesta. Menembus batas ruang yang terbentuk dari perimeter kota. Membaui alam sebagai dasar kebutuhan ruang terbuka. Sebagai distraksi dari kepenatan pikiran menjadi mahasiswi arsitektur, perjalanan membuatku lebih peka pada kebutuhan dasar akan ruang-ruang hidup. Berada pada tempat terbuka, atau ruang berkapasitas minimal kebutuhan.

Dari kesukaanku menulis, bukan hanya cerita perjalanan, namun hal-hal lain, membuatku ingin menularkan kesukaanku ini untuk anak KAPA sekarang, sehingga mereka jadi bisa menuliskan perjalanannya menjadi lebih menarik, dan informatif bagi pembacanya. Memindahkan perjalanan ke barisan huruf dan kata, memberi deskripsi yang menggambarkan kondisi, mencari sudut pandang yang menarik, memberi nyawa pada tulisan untuk memikat pembacanya. Aku pun masih belajar hingga kini.

Jelas, pengalamanku menulis yang tidak terakui ini tidak akan membuatku serta merta bisa mengajari mereka. Terlintaslah ide baru untuk acara diskusi semi workshop tentang penulisan. Awalnya, idenya hanyalah membuat diskusi tentang bagaimana menulis cerita perjalanan sekaligus promo buku Perjalanan ke Atap Dunia bersama penulisnya, Daniel Mahendra. Untuk mendampingi penulis muda sahabatku ini kami tidak ada pilihan lain selain mas Gol A Gong, penulis cerita perjalanan senior idola kami berdua sebagai teman cakap yang akan menimpali diskusi. Apalagi mas Gong (begitu kami biasa memanggilnya) juga menulis kata pengantar untuk buku terbaru Daniel tersebut. Bukan sekadar kata pengantar malah, ini lebih seperti ulasan untuk cerita yang tertuliskan.

Ternyata gayung bersambut. KAPA antusias sekali dengan ide diskusi ini. Bisa sebagai bekal penulisan buku 40 tahun yang persiapannya sudah mereka mulai. Dan juga melengkapi program kerja pelatihan jurnalistik. Dibantulah aku oleh sekelompok tim dari KAPA yaitu Cherina, Tania, Miftah, Ratna, Samantha, dan Ghanniya untuk menggodok acara ini.

Continue reading

berkata-kata Jakarta : Kata Fakta Jakarta

Editor : Elisa Sutanudjaja, Anggriani Arifin, Gita Hastarika
Penulis : Rujak Center for Urban Studies
Info Grafis : Farid Rakun
Rancang Grafis : Cecil Mariani, Patricia Adele
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal. : 384 halaman
ISBN : 978-602099898-1-6

Membaca-baca buku ini, jadi pengen nanya, kenapa kamu mau tinggal di Jakarta?
Ah, aku nggak tinggal di Jakarta. Cuma kerja aja di sini. Setiap hari pulang ke pinggiran Jakarta.

Tapi kan kamu sehari-hari di Jakarta. Coba, berapa banyak waktu yang kamu habiskan di Jakarta!
Hmm, jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Wah, empat belas jam! Benar juga ya, aku banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Kalau dipikir-pikir, semestinya aku sudah menjadi penduduk Jakarta, karena sudah 60 % waktuku kuhabiskan di Jakarta. Aku mencari uang dengan menjadi penduduk Jakarta selama itu. Belum lagi kalau lembur, wih!

Tapi menjadi penduduk setengah hari begitu beda dengan yang sehari-hari tinggal di Jakarta. Yang tinggal di Jakarta harus menghadapi kemacetan setiap hari. Dalam jarak dekat sekalipun. Bayangkan dari Salemba ke Kramat saja tidak bisa dicapai dalam waktu 10 menit di pagi hari. Apalagi di Tanah Abang. Paling ruwet daerah sekitar situ. Yang tidak tinggal di Jakarta tinggal naik kendaraan umum langsung dan bisa sampai di tengah kota.
Ya, itu untuk yang kendaraan umumnya seperti kereta, tentu sangat praktis, karena langsung ke tengah kota tanpa harus melewati jalan raya yang macet luar biasa. Bayangkan, kalau tidak naik kereta, orang-orang pinggiran itu berangkat jam setengah enam atau jam enam pagi! Sayangnya, tidak semua daerah terjangkau kereta. Coba kamu pikir, kenapa jalan-jalan menuju Jakarta begitu macet?

Karena mobil pribadi, kan? Banyak yang tidak memaksimalkan ruang di mobil pribadinya. Satu mobil diisi satu orang saja. Lalu pada saat masuk daerah 3 in 1 pakai joki. Tapi di daerah bukan 3 in 1 itu mobil-mobil pribadi bikin macet. Apa semua Jakarta diberlakukan 3 in 1 aja supaya tidak macet lagi?
Wah, mana bisa begitu selama sistem transportasi umum tidak diperbaiki? Transportasi diperbaiki sehingga bisa mencapai jumlah kebutuhan warga Jakarta, baik yang warga tetap atau warga siang hari saja, barulah kita bisa melepas kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum. Tapi, selama pemerintahnya hanya sibuk membangun jalan layang ini itu yang banyak menggunakannya juga kendaraan pribadi. Coba lihat Jl Antasari itu, jalanan itu sehari-hari penuh dengan kendaraan pribadi, dulu. Lalu dibuat jalan layang di atasnya. Yang bakal lewat siapa? Kendaraan pribadi, oy! Jalur angkutan umum di Jl Antasari itu kan cuma sedikit. Bandingkan dengan padatnya Fatmawati- Panglima Polim. Kenapa nggak di situ aja? Sayang kan pepohonan hijau di Antasari yang harus ditebangi?

 

Padahal tanaman hijau kan sangat perlu untuk keteduhan dan juga sebagai paru-paru kota. Apa memang untuk dapat udara bersih di Jakarta harus mahal ya? Membangun taman-taman kota yang Cuma bisa dinikmati masyarakat menengah. Sementara masyarakat menengah ke bawah, harus berdesakan dalam gang sempit, dengan udara dan sanitasi yang sangat kurang. Justru anehnya, di tepi daerah padat, selalu ada tanah kosong, namun dimiliki pengembang besar. Tak berapa lama lagi, pasti berubah jadi perkantoran atau mal.
-baca kelanjutannya->

review buku : RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau

RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau RTH 30 %! Resolusi (Kota) Hijau by Nirwono Joga, Iwan Ismaun
My rating: 4 of 5 stars

Penulis : Nirwono Joga dan Iwan Ismaun
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2011, Softcover
Jumlah hal.: 272 halaman
ISBN : 9789792271850

Hijau. Tanaman hijau adalah kebutuhan manusia mutlak untuk mempertahankan hidupnya. Tanaman menyerap karbondioksida yang kita keluarkan dan mengeluarkan oksigen untuk kita hirup. Oleh karena itu kita sebenarnya tidak bisa hidup tanpa tanaman hijau. Persyaratan 30% untuk kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) itu seharusnya merupakan kebutuhan yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh.

Buku ini memang hanya memberi judul RTH 30% Resolusi (Kota) Hijau. Namun dalam contoh keseluruhan yang dibahas hanya kota Jakarta, pusat segala kecarutmarutan korupsi negeri, bahkan untuk lahan hijau yang tidak selalu jadi pertimbangan. Kota Jakarta yang makin sedikit lahan hijaunya dari tahun ke tahun. Di halaman 37 dipaparkan peta berkurangnya RTH di Jakarta sejak tahun 1972-2008. Selalu miris melihat fenomena seperti ini di kota. Di setiap kota yang mengklaim dirinya lebih maju, selalu area terbuka hijaunya menjadi berkurang. Pembangunan pusat perbelanjaan, perkantoran, industri, sangat sering meninggalkan kebutuhan akan Ruang Terbuka Hijau. Sekarang ini kita bisa lihat, berapa banyak pusat perbelanjaan di Jakarta yang tidak menyisakan satu jengkal tanah pun untuk RTH. Sisa lahan yang ada, menjadi jalan, perkerasan, parkir. Dianggapnya itu ruang terbuka yang bisa menyerap air. Padahal dengan kebanyakan jalan beton seperti sekarang ini, air tidak bisa menembus ke melalui pori-pori jalan, karena dasar beton dialas plastik. Bukan hanya aspal di atas sirtu (pasirbatu) yang bisa terlewati air dengan mudah.

Ya, apa yang terjadi jika kita kehilangan Ruang hijau? Tentu kita akan kekurangan udara segar, kekurangan air bersih, kekurangan tempat teduh, dan banyak lagi alasan dari yang lokal sampai global. Di sini dijabarkan, fungsi Ruang Terbuka Hijau untuk konservasi tanah dan air, menciptakan iklim mikro yang baik, pengendali pencemaran, habitat satwa, dan sarana kesehatan dan olahraga. Dalam tata ruang, area hijau muncul dalam cetak biru tata ruang kota. Ada area RTH publik yang sudah ditentukan kawasannya, ada RTH pribadi yang disyaratkan dengan KDB (Koefisien Dasar Bangunan yang berarti persentase luasan maksimal yang boleh dibangun dalam satu tapak) dan KDH (Koefisien Dasar hijau). Nilai ruang terbuka pribadi ini mutlak seharusnya dipatuhi, karena ini adalah untuk kenyamanan bersama. Apabila melanggar, sanksinya adalah bongkar, bukan denda yang bisa digantikan dengan uang, kembalikan pada persentase area terbuka yang tak boleh dibangun. Kembalikan pada fungsi aslinya sebagai area penyerapan air tanah.

-baca kelanjutannya->

review : The Phaidon Atlas of Contemporary World Architecture

The Phaidon Atlas of Contemporary World ArchitectureThe Phaidon Atlas of Contemporary World Architecture by Phaidon Press
My rating: 5 of 5 stars

Apakah harapan saya terlalu berlebihan apabila saya ingin ada satu karya dari Indonesia yang masuk dalam buku ini? Ternyata, buku yang memuat amat banyak karya arsitektur dari mancanegara ini tidak memuat satu pun bangunan dari Indonesia.

Menandai beberapa karya-karya yang berfungsi sebagai wadah budaya, di buku ini banyak dimuat bangunan dengan fungsi sekolah, perpustakaan, museum, kantor pemerintahan, dengan desain yang indah. Memang tidak bisa dipungkiri, perkembangan eksplorasi arsitektur di Indonesia hanya berkutat pada Mal alias Plaza alias Square, dan apartemen berlantai banyak dengan mengadaptasi gaya romawi atau mediteran. Dan arsitektur lokal yang mendominasi bentuk-bentuk kantor pemerintahan daerah di Indonesia. Bukankah kalau bisa lebih dieksplorasi lokal bisa mengglobal?

Sebagai contoh lihatlah Gedung Dharmala Land di Sudirman karya Paul Rudolph yang mengadaptasi atap miring di Indonesia menjadi gedung bertingkat tinggi. Bukan hanya semena-mena mengambil bentuk joglo hanya sebagai tempelan di kantor-kantor pemerintah. Coba kita bahas beberapa fungsi bangunan yang agak terlupakan dalam prioritas pemerintah.



Wisma Dharmala, Sudirman

Pertama, museum. Berapa banyak sih museum yang didirikan dalam 10 tahun terakhir ini? Banyak orang menilai museum hanya untuk peninggalan jaman dahulu, tidak dianggap hip atau trendy. Sehingga gedung-gedung yang diperuntukkan untuk museum ini hanyalah gedung-gedung tua peninggalan Belanda yang direhabilitasi sehingga menjadi museum. Menimbulkan kesan horror. Hanya beberapa museum baru yang dibangun berkumpul di Taman Mini Indonesia Indah.



Museum Wayang, Taman Fatahillah, Jakarta

-baca kelanjutannya->