Category Archives: journey

rekomendasi sewa kapal di labuan bajo

Labuan Bajo mungkin adalah salah satu tempat yang menarik hatiku di Indonesia. Gugusan pulau-pulaunya yang membentang dengan lautnya yang biru cerah membuat hidup di kapal selama tiga hari menjadikan hati dipenuhi kebahagiaan. Mulai dari pelabuhan, bertemu dengan berbagai macam jenis kapal mulai dari kapal ferry, kapal Pelni, kapal barang, kapal tongkang, kapal nelayan, hingga kapal pinisi menjangkar dengan indahnya di perairan pelabuhan pada areanya masing-masing. Continue reading rekomendasi sewa kapal di labuan bajo

kolf braza dari tepi sungai

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Kapal speedboat yang membawa kami menderu di sungai Aswet usai dilepas di Pelabuhan yang berada di belakang pasar Agats bersama menuju Distrik Kolf Braza yang menurut informasi berjarak sekitar enam jam dari ibukota kabupaten tersebut. Di pelabuhan tadi kami juga bertemu Kak Seto yang hendak ke Distrik Jetsy untuk beraktivitas dengan anak-anak. Tim yang berangkat adalah Prof. Heri Hermansyah, Albert Roring, Dr. Sri Wahyuni, dr. Taufik, dr. Firsandi, Dr. Chairul Hudaya, Indri Juwono, I Made Genta, Ade Putra dan Ahmad Lutfi. Di bawah bantuan komando Letda CKM dr. Marsandi yang juga merupakan alumni FKUI, tim berangkat jam 08.00 menggunakan tiga speedboat beserta logistik yang diperlukan. Tim juga dibantu oleh Sertu Anang dari SatgasKes III Asmat serta Pratu Hepsy dan Kopda Wahyu dari batalion yang mengawal perjalanan kami sehingga total anggota tim menjadi 14 orang.
Continue reading kolf braza dari tepi sungai

morotai dan macarthur


“There is no security on this earth; there is only opportunity.”
– Douglas MacArthur

Menjejakkan kaki di Morotai bukan sekadar keinginan biasa. Pulau kecil di penghujung Halmahera dan menghadap laut Pasifik ini memang bukan pulau biasa, karena pada saat Perang Dunia II, pulau ini adalah beberapa kali diperebutkan karena lokasinya yang strategis. Awalnya Jepang menguasai Morotai dengan kekuatan sebanyak satu batalyon atau sekitar 1000 orang personel, namun pada tahun 1944 Pasukan Sekutu yaitu Amerika Serikat dan Australia mengirimkan sembilan divisi atau sekitar 90 ribu pasukan untuk merebutnya.

Jenderal Douglas MacArthur dari Amerika Serikat dikenal sebagai otak strategis dari pertempuran-pertempuran yang terjadi di Morotai, ia berperan besar untuk kemenangan Amerika Serikat dan sekutu di Wilayah Pasifik. Ia terkenal dengan kata-katanya, “I shall return!” di tahun 1941 ketika ia menjabat sebagai Penasehat Angkatan Darat Filipina dan terpaksa mundur ke Australia usai penyerangan Jepang pada Pearl Harbour. Benar, ia kembali dan memenangkan daerah Pasifik lagi dari Jepang.

Bulan Juli 1944, komandan wilayah barat Pasifik Selatan ini memilih Morotai sebagai pangkalan udara dan laut yang dibutuhkan untuk membebaskan Mindanao (Filipina) pada 15 November 1944. Untuk menguasai kembali tidak mudah, karena tentara Jepang tersebar di banyak bagian pulau ini yang masih berupa hutan-hutan. Namun dengan ribuan tentara yang tergabung dalam Divisi Infanteri 31 dengan ratusan kapal laut, Oktober 1944 Morotai dikuasai Sekutu. Landasan terbang pun dibangun di di Warna dan Pitu yang diperuntukkan untuk pesawat tempur dan pesawat pembom, sehingga panjang landasannya menyesuaikan dengan kebutuhan pesawat-pesawat tersebut. Continue reading morotai dan macarthur

kanca, dodola, dan doa seorang ayah

“All the beaches of the world, could never amount to, nor implore the one grain of sand that I stand on, which is your love.”
― Anthony Liccione

“Kak, kemarin ke Pulau Kakara, kan? Kayaknya aku lihat di dermaga,” seorang gadis manis berkulit terang menyapaku di fastboat tujuan Pulau Morotai yang kunaiki dari dermaga Tobelo. Sembari memeluk ponselku yang bekerja mencari tiket cara kembali dari Morotai ke Ternate, aku tersenyum dan membalas sapaannya. “Oh, iya? Memang kemarin di Kakara juga?” Rupanya gadis itu, yang kemudian kuketahui bernama June bersama temannya Friandry usai mengikuti Ruang Berbagi Ilmu di Pulau Bacan lalu menghabiskan sisa waktunya di Maluku Utara dengan ke Morotai. “Wah, keren ya ikut RUBI. Aku baru seringnya ikut Kelas Inspirasi saja,” obrolan kami tiba-tiba nyambung karena ternyata kami semua punya hobi mengajar dan memotivasi anak Indonesia di bidang pendidikan ini. Continue reading kanca, dodola, dan doa seorang ayah

nagasaki, kebangkitan kota pelabuhan

“You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one”
Imagine-John Lennon

Ternyata Nagasaki memberi kesan yang tidak sama dengan Hiroshima. Kota ini jauh lebih tenang dan manis menyambutku dengan penuh keakraban. Mendung pagi menggelayut ketika aku menyusur tepi pelabuhan yang berangin cukup kencang. Kapal-kapal kayu dan besi yang bersandar di dermaga membuatku enggan beranjak dari papan-papan kayu yang berderak. Aku berkeliling di bagian luar bangunan pelabuhannya yang bertema gelombang, dengan lengkung-lengkung material zincalum sebagai dinding. Terasa sekali tempat ini sudah begitu modern, namun tetap berpadu cantik dengan perairan.

Seorang bapak tua yang sedang berolahraga pagi menyapaku ramah, “Ohayou gozaimasu. Good morning.” Aku membalasnya dengan senyuman dan kata-kata serupa. Udara berangin tak mengendurkan semangatnya untuk melakukan gerakan-gerakan ringan di tepi laut. Uh, semoga tidak hujan hari ini, pikirku melihat langit pagi yang kelabu. Sepanjang sisi pelabuhan banyak restoran-restoran dan kafe yang menghadap kapal-kapal yang parkir di situ. Tidak tercium bau amis seperti biasanya di tepi laut. Nagasaki menjadi kota pelabuhan yang cantik dan strategis dengan berbagai obyek wisata andalannya. Continue reading nagasaki, kebangkitan kota pelabuhan

half day: miyajima

Karena tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Hiroshima, paginya aku langsung check out dari J-Hoppers, menitipkan ransel jinggaku dan hanya menenteng daypack hijau untuk mengunjungi Pulau Miyajima. Untunglah malam sebelumnya aku sempat mencicip okonomiyaki, hidangan olahan telur khas kota ini.

Dari stasiun Dobashi, aku naik streetcar hingga stasiun Hiroden-Nishi Hiroshima. Tak jauh dari situ, aku berjalan kaki ke stasiun Nishi-Hiroshima untuk berganti dengan kereta yang masuk jaringan JR. Untunglah, sehingga aku tak perlu membeli tiket lagi, hanya menunjukkan tiket JR Pass-ku untuk naik kereta ke Miyajima-guchi. Dari situ aku tinggal naik ferry selama 15 menit ke pulau Miyajima. Continue reading half day: miyajima

mengheningkan cipta di hiroshima

Udara panas menyengat ketika aku turun di stasiun Hiroshima siang hari itu. Aku bergegas mencari pusat informasi untuk memperjelas cara menuju hostel dari stasiun. Sebenarnya aku sudah mencari tahu sebelumnya melalui google map, tapi tetap saja untuk lebih yakinnya, aku bertanya di kantor mungil itu. Karena aku tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali, maka tourist information centre adalah salah satu tempat untuk mengorek keterangan menuju lokasi hingga sejelas-jelasnya. Dan di Jepang, fungsi ini selalu berada dekat atau di stasiun.

Keluar dari stasiun, aku menaiki streetcar (tram) jalur kuning tujuan Dobashi. Kuhitung ada 13 stasiun hingga streetcar ini akan berhenti di tempat aku aku turun. Peta di tanganku bertuliskan huruf kanji buta kubaca, namun juga dilengkapi dengan tulisan latin. Peta ini cukup lengkap informasinya, termasuk cara transit streetcar antar jalur, cara menukar uang kecil di mesin, sampai beberapa lokasi wisata favorit. Untunglah, di setiap perhentian diumumkan nama stasiun yang lamat-lamat kucocokkan dengan tulisan di peta. Ransel jinggaku kuletakkan di lantai trem sehingga agak menghalangi orang lewat. Berkali-kali aku bilang ‘sorry’ sambil menundukkan kepala.

Ting! “Dobashi!” seru pengeras suara di dalam streetcar. Continue reading mengheningkan cipta di hiroshima