0-cover-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

cerita kupu dan batu dari bantimurung dan leang-leang

0-cover-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

“and when all the wars are over, a butterfly will still be beautiful.”
― Ruskin Bond, Scenes from a Writer’s Life

Tak lengkap berada di Maros tanpa berkunjung ke kerajaan kupu-kupu di Bantimurung dan gos-goa prasejarah di Leang-leang. Daerah yang masih berada di antara gugusan tebing-tebing batu ini menjadi habitat dari banyak spesies serangga yang berwarna-warni cantik itu. Info tentang Bantimurung cukup mudah didapat dari berbagai tulisan di blog sebagai salah satu tempat wisata yang wajib didatangi apabila berkunjung ke Makassar.

Sebenarnya Bantimurung yang berada di kabupaten Maros ini lebih dekat dengan Bandara Hasanuddin, sehingga kalau tiba dengan pesawat, bisa saja langsung ke sini. Apalagi sekarang ini banyak penerbangan ke Makassar dengan tiket pesawat murah yang membuat banyak orang bisa bepergian ke manapun dengan harga yang cukup terjangkau, menjelajahi sudut-sudut unik nusantara. Continue reading

0-cover-rammang-rammang-maros

rammang-rammang : berdialog dengan batu

0-cover-rammang-rammang-maros

Aku tak ingat sejak kapan aku punya perasaan berbeda setiap kali melihat batu. Bukan sekadar batu kecil tapi sebongkah batu, sebukit batu, bongkahan besar hasil sedimentasi dari magma gunung berapi ratusan tahun yang lalu dan membentuk bentang alam yang keras. Sahabatku Felicia hafal sekali kesukaanku ini ketika kami mendaki ke Sesar Lembang di Bandung, atau ketika kami menyusuri jalan di Ngarai Sianok dan berlama-lama di Lembah Harau.

Padahal perkenalanku dengan batu besar untuk pertama dan terakhir kalinya hanya di tahun ’98 ketika mendaki tebing Munara di Rumpin, Bogor sebelum memilih untuk mengenali batu-batu dengan keluar masuk goa. Selain itu, yang kuingat paling ketika nongkrong tiga hari di bawah Tebing Parang tower 2, itu pun jadi tim darat pendaki. Sepertinya aku lebih tertarik dengan batu besar sesudah berkenalan dengan Parang Jati di novel Bilangan Fu, si pemanjat tebing yang memilih untuk tidak menggunakan alat yang merusak batu untuk memanjat tebing. Tapi selebihnya, sepertinya aku cuma menikmati saat-saat memandang batu-batu besar yang terlihat indah itu.

Karena itu ketika ditanya kenapa harus mampir ke Rammang-rammang, jawabanku cuma satu :

Mau melihat batu.  Continue reading

0-toraja-bori-batutumonga-cover

menuruni batutumonga hingga palawa

0-toraja-bori-batutumonga-cover

“Harry – you’re a great wizard, you know.”
“I’m not as good as you,” said Harry, very embarrassed, as she let go of him.
“Me!” said Hermione. “Books! And cleverness! There are more important things – friendship and bravery and – oh Harry – be careful!”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone

Sampai sebelum berangkat ke Toraja ini, aku hanya sekali bertemu Winny Alna di salah satu acara yang diadakan di Jakarta. Selain itu, kami hanya bercengkrama di blog, bertegur sapa lewat komentar, dan berbalas twitter saja. Rupanya jadwal jalan Winny dan aku ke Toraja klop, sehingga kami memutuskan untuk menjelajah bersama. Surprisingly, gadis batak ini membuat perjalanan seru dan cerah dengan berbagai keputusan spontan. Sesudah seharian banyak berjalan kaki di Londa, Kete Kesu dan Lemo, di hari kedua kami memutuskan “naik gunung”.  Continue reading

rote-0-menjelang senja

nyiur hijau rote ndao

rote-0-menjelang senja

“Nemberala, Pak,” begitu kusebutkan tujuanku pada supir mobil sewaan yang menawarkan jasanya sesaat sesudah aku dan ketiga temanku tiba di Pelabuhan Ba’a, sesudah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Tempat itu kutuju karena dekat dengan pantai paling selatan Pulau Rote, pulau paling selatan di nusantara yang masih berpenghuni.

Dengan mobil sewaan, kami mulai melalui jalan-jalan di pulau Rote yang cukup mulus beraspal dan memang menjadi salah satu jalan utama menjelajah pulau. Ketika melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, aku jadi tahu bahwa sumber listrik di pulau ini menggunakan tenaga diesel, dengan kapal-kapal pengangkut solar yang rutin merapat.
Continue reading

semau-0-cover-desa-1

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

mentari mesem dari lasem

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

Tahukah kamu betapa bahagianya bangun tidur di tengah desa?
Bersepeda menuju tengah sawah sambil bertemu dengan anak-anak sekolah tertawa riang
Sembari menanti matahari yang terbit dari sisi bukit, bersembunyi malu-malu lalu perlahan mendadak terang.

Tahukah kamu bahwa menghirup udara ini adalah kemewahan sederhana?
Berkilometer jauh dari kota untuk menemukan sejuk menghembus sedikit
Sembari melambaikan tangan pada para petani berangkat usai pagi menggigit. Continue reading

0-cover-south-lombok-gili-sunud

south lombok : the blue, the pink, the beach

0-cover-south-lombok-gili-sunud

And me? I still believe in paradise. But now at least I know it’s not some place you can look for. Because it’s not where you go. It’s how you feel for a moment in your life when you’re a part of something. And if you find that moment… It lasts forever.
– The Beach [movie 2000]

Kapal bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Tanjung Luar di Lombok Selatan sekitar jam setengah sebelas pagi. Menurut Pak Man yang menyupiri perjalanan ke sini, jika tiba lebih pagi kami bisa melihat kesibukan pasar ikan yang menjual aneka hasil laut yang ditangkap oleh nelayan maupun dibudidayakan oleh petani laut.

Air laut yang berombak perlahan menampar-nampar tepi kapal kayu yang dilengkapi dengan jukung sebagai penyeimbang itu. Aku memperhatikan wajah pengemudinya yang mantap dan yakin mengendalikan kendaranya itu. Jika ia terlihat tenang, maka tak ada alasan untuk takut di laut. Lagipula perairan yang kami lalui cukup tenang tidak banyak goncangan yang berarti di atas kapal kecil yang memuat kami berdua belas yang mengikuti perjalanan Travel Writers Gathering Lombok ini.
Continue reading

diving mandeh, pesona bahari sumatera barat

0-mandeh-sumatera-barat-cover

Kadang-kadang aku berpikir kenapa aku tidak dilahirkan saja sebagai orang Sumatera Barat. Padahal dulu aku sering sekali dikira orang Minang. Sumpah, tempat ini indah luar biasa. Bisa dibilang di mana pun melangkah selalu indah. Makanya aku cuma berpikir sebentar ketika ditawari oleh adik-adik di KAPA FTUI, klub pencinta alam tempatku menimba ilmu dulu untuk melakukan petualangan lagi di Sumatera Barat, kali ini di bagian selatan.

Ah, karena dulu aku sudah pernah berjalan-jalan ke Padang, Bukittinggi, Payakumbuh dan Batusangkar yang berada di sisi utara ibukota propinsi itu, maka aku tak menampik ajakan adik-adik ini ke Mandeh, yang bisa dicapai tak jauh dari pelabuhan Carocok Tarusan, lebih selatan dari Teluk Bayur dan Bungus. Jadilah aku terdaftar sebagai peserta perjalanan yang di-arrange oleh Widya, gadis aktif dari jurusan Metalurgi ini.  Continue reading