ke laut, siapa takut?

Menghabiskan akhir pekan yang panjang ke Kepulauan Togean di Teluk Tomini Sulawesi, adalah salah satu titik impianku di Indonesia. Hidup di antara pulau-pulau, transportasi dengan kapal ke mana-mana, dan menghabiskan hari di bawah sinar matahari yang melimpah ruah, mensyukuri negeri bahari yang indah ini. Apa saja sih hal favoritku di Togean? Continue reading

sensasi varanasi

Varanasi is older than history, older than tradition, older even than legend, and looks twice as old as all of them put together
– Mark Twain

“Do you know that this city has three names?” demikian Shiva, supir tuktuk yang mengantar kami berkeliling ke kota tua Benares bertanya. Saya menggelengkan kepala sambil menunggu penjelasannya. Ia melanjutkan cerita bahwa dahulu kota ini bernama Kashi, yang dialiri oleh sungai Varuna, sehingga diberi nama Varanasi. Selain itu oleh penduduk setempat, kota ini juga dikenal sebagai Benares atau Banaras, terutama di kawasan kota tuanya di mana terdapat perguruan tinggi terkemuka Banaras Hindu University. Rupanya selain sungai Gangā yang menjadi banyak tujuan wisata budaya dari mancanegara, sungai Varuna juga memiliki peranan penting dalam sejarah kota. Continue reading

seandainya ada om-telolet-om di kolkata


“Clouds come floating into my life, no longer to carry rain or usher storm, but to add color to my sunset sky.”
― Rabindranath Tagore, Stray Birds

Pagi di Kolkata menampilkan sinar mataharinya malu-malu. Sudah empat jam sejak pendaratanku di Bandara Netaji Subhas Chandra Bose dari Kualalumpur tengah malam tadi, yang kuhabiskan dengan berusaha tidur di kursi ruang kedatangan sambil menggigil kedinginan karena AC yang cukup dingin. Usai melewati imigrasi dengan mudah, mungkin karena wajah Asia yang cukup bersahabat ini, serta dokumen-dokumen yang lengkap, resmilah kami menjadi turis di India.

Sesudah menukarkan lembaran 100 dolar dengan 6100 rupee, kami keluar dari bandara dan langsung disambut oleh deretan taksi warna kuning. Wah, taksi ini lucu sekali, seperti yellow cab di New York rasanya. Karena kami sudah membeli tiket taksi seharga 280 rupee hingga Howrah Junction Station, jadi tak ada tawar-tawaran lagi, langsung naik ke taksi yang sudah berbaris rapi. Continue reading

cerita kupu dan batu dari bantimurung dan leang-leang

0-cover-bantimurung-leang-leang-kupu-kupu

“and when all the wars are over, a butterfly will still be beautiful.”
― Ruskin Bond, Scenes from a Writer’s Life

Tak lengkap berada di Maros tanpa berkunjung ke kerajaan kupu-kupu di Bantimurung dan gos-goa prasejarah di Leang-leang. Daerah yang masih berada di antara gugusan tebing-tebing batu ini menjadi habitat dari banyak spesies serangga yang berwarna-warni cantik itu. Info tentang Bantimurung cukup mudah didapat dari berbagai tulisan di blog sebagai salah satu tempat wisata yang wajib didatangi apabila berkunjung ke Makassar.

Sebenarnya Bantimurung yang berada di kabupaten Maros ini lebih dekat dengan Bandara Hasanuddin, sehingga kalau tiba dengan pesawat, bisa saja langsung ke sini. Apalagi sekarang ini banyak penerbangan ke Makassar dengan tiket pesawat murah yang membuat banyak orang bisa bepergian ke manapun dengan harga yang cukup terjangkau, menjelajahi sudut-sudut unik nusantara. Continue reading

rammang-rammang : berdialog dengan batu

0-cover-rammang-rammang-maros

Aku tak ingat sejak kapan aku punya perasaan berbeda setiap kali melihat batu. Bukan sekadar batu kecil tapi sebongkah batu, sebukit batu, bongkahan besar hasil sedimentasi dari magma gunung berapi ratusan tahun yang lalu dan membentuk bentang alam yang keras. Sahabatku Felicia hafal sekali kesukaanku ini ketika kami mendaki ke Sesar Lembang di Bandung, atau ketika kami menyusuri jalan di Ngarai Sianok dan berlama-lama di Lembah Harau.

Padahal perkenalanku dengan batu besar untuk pertama dan terakhir kalinya hanya di tahun ’98 ketika mendaki tebing Munara di Rumpin, Bogor sebelum memilih untuk mengenali batu-batu dengan keluar masuk goa. Selain itu, yang kuingat paling ketika nongkrong tiga hari di bawah Tebing Parang tower 2, itu pun jadi tim darat pendaki. Sepertinya aku lebih tertarik dengan batu besar sesudah berkenalan dengan Parang Jati di novel Bilangan Fu, si pemanjat tebing yang memilih untuk tidak menggunakan alat yang merusak batu untuk memanjat tebing. Tapi selebihnya, sepertinya aku cuma menikmati saat-saat memandang batu-batu besar yang terlihat indah itu.

Karena itu ketika ditanya kenapa harus mampir ke Rammang-rammang, jawabanku cuma satu :

Mau melihat batu.  Continue reading

menuruni batutumonga hingga palawa

0-toraja-bori-batutumonga-cover

“Harry – you’re a great wizard, you know.”
“I’m not as good as you,” said Harry, very embarrassed, as she let go of him.
“Me!” said Hermione. “Books! And cleverness! There are more important things – friendship and bravery and – oh Harry – be careful!”
― J.K. Rowling, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone

Sampai sebelum berangkat ke Toraja ini, aku hanya sekali bertemu Winny Alna di salah satu acara yang diadakan di Jakarta. Selain itu, kami hanya bercengkrama di blog, bertegur sapa lewat komentar, dan berbalas twitter saja. Rupanya jadwal jalan Winny dan aku ke Toraja klop, sehingga kami memutuskan untuk menjelajah bersama. Surprisingly, gadis batak ini membuat perjalanan seru dan cerah dengan berbagai keputusan spontan. Sesudah seharian banyak berjalan kaki di Londa, Kete Kesu dan Lemo, di hari kedua kami memutuskan “naik gunung”.  Continue reading

nyiur hijau rote ndao

rote-0-menjelang senja

“Nemberala, Pak,” begitu kusebutkan tujuanku pada supir mobil sewaan yang menawarkan jasanya sesaat sesudah aku dan ketiga temanku tiba di Pelabuhan Ba’a, sesudah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Tempat itu kutuju karena dekat dengan pantai paling selatan Pulau Rote, pulau paling selatan di nusantara yang masih berpenghuni.

Dengan mobil sewaan, kami mulai melalui jalan-jalan di pulau Rote yang cukup mulus beraspal dan memang menjadi salah satu jalan utama menjelajah pulau. Ketika melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, aku jadi tahu bahwa sumber listrik di pulau ini menggunakan tenaga diesel, dengan kapal-kapal pengangkut solar yang rutin merapat.
Continue reading

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

mentari mesem dari lasem

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

Tahukah kamu betapa bahagianya bangun tidur di tengah desa?
Bersepeda menuju tengah sawah sambil bertemu dengan anak-anak sekolah tertawa riang
Sembari menanti matahari yang terbit dari sisi bukit, bersembunyi malu-malu lalu perlahan mendadak terang.

Tahukah kamu bahwa menghirup udara ini adalah kemewahan sederhana?
Berkilometer jauh dari kota untuk menemukan sejuk menghembus sedikit
Sembari melambaikan tangan pada para petani berangkat usai pagi menggigit. Continue reading