keping kenangan pulau galang

cover-pulau-galang-camp-vietnam-batam-kapal

All living things contain a measure of madness that moves them in strange, sometimes inexplicable ways. This madness can be saving; it is part and parcel of the ability to adapt. Without it, no species would survive.
― Yann Martel, Life of Pi

Hening mengiringi mobil yang membawa kami memasuki gerbang Camp Vietnam yang berada di Pulau Galang, yang ditempuh sekitar satu jam berkendara dari Pulau Batam melewati Jembatan Barelang. Menurut info yang sempat kubaca sebelumnya, kamp ini adalah tempat para pengungsi dari Vietnam yang merasa tidak aman berada di negaranya karena perang yang berkecamuk di sana. Mereka mencari tanah tempat tinggal tenang hingga keadaan negaranya pulih kembali.

Sudah tidak ada pengungsi yang berada di sini sejak dipulangkannya mereka secara bertahap hingga tahun 1996. Aku berpikir tempat ini semacam camp pengungsian yang pas-pasan seperti sering kulihat di televisi, namun ternyata Pemerintah Indonesia memberikan akomodasi yang sangat baik kepada para pengungsi saat itu. Sejak awal gerbang, pohon-pohon besar dan udara sejuk menyambut kami, dan peta wilayah yang menunjukkan fasilitas-fasilitas yang dibangun kala itu. Menarik, seperti kota baru adanya. Continue reading

jelajah kapal, jelajah krakatau

DSC_0322-lands

“Suara, nyanyian, musik, gunung, pantai, langit, padang pasir, laut yang membuat mereka indah sesungguhnya hal yang tidak kelihatan. Matahari juga tak bisa ditatap langsung oleh mata, tetapi yang membuatnya indah bukan hal yang bisa ditatap langsung oleh mata kan?”
— Fahd Jibran : Rahim

Dari beberapa perjalanan ke tepi lautan di tahun 2012 ini, mungkin perjalanan ke Krakatau adalah salah satu yang paling kusukai. Kepulauan yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatera ini aku kunjungi pada pertengahan September 2012, kira-kira dua minggu sesudah sempat ada lelehan lava keluar dari kawah Anak Krakatau yang masih aktif. Perjalanan yang diarungi dari gunung hingga laut.

Dalam perjalanan ini seluruh anggota rombongan kami tidak tanggung-tanggung, 90-an orang! Namun sepertinya tidak terlalu kendala karena beberapa orang dalam kelompok-kelompok yang mendaftar bersama. Tidak demikian denganku. Mendaftar mendadak sendiri karena salah satu rencanaku batal di akhir minggu, membuat aku tidak tergabung dengan kelompok mana pun. Namun sesudah menculik seorang teman yang suka memotret dari Yogya yang berdomisili di Jakarta, lega paling tidak ada yang bisa memotret bersama untuk di sana.

Dalam perjalanan, bertemu dengan banyak kenalan-kenalan baru, bahkan ketemu dengan seseorang yang sempat kenalan di Karimun Jawa. Memang di dunia traveling, tidak sulit menemukan teman yang sehobi dan tak sengaja ketemu lagi di tempat lain. Kurasa, momen berkenalan dengan banyak orang baru ini yang paling menyenangkan, di mana kita bisa saling berbagi tentang pengalaman-pengalaman sebelumnya, juga untuk belajar toleran pada orang lain. Bukankah bertemu orang baru itu bisa membuat kita mempelajari karakter orang lain, beda dengan orang-orang sekitar yang sehari-hari kita temui?

Kepulauan Krakatau relatif mudah dicapai, hanya sekitar 1-2 jam naik mobil (angkot) dari Pelabuhan Bakauheuni, ke arah Dermaga Canti, Kalianda. Dermaga ini adalah salah satu dermaga utama dari kepulauan yang menjadi pusat transportasi penduduk kepulauan. Beberapa kapal bersandar di pagi hari itu. Kapal penumpang dengan lebar sekitar 3 m dan panjang 10-12 meter ini banyak datang dimuati oleh hasil bumi, yaitu buah pisang. Selain itu, kapal-kapal ini juga mengangkut kendaraan yang digunakan untuk transportasi di sana. Jadi kapal-kapal ini tak sekadar menyeberangkan penumpang, namun juga kendaraannya. Semacam ferry namun berukuran kecil dan berbahan kayu.

Continue reading

karimun jawa : bertinggal di tengah laut

“The sea is emotion incarnate. It loves, hates, and weeps. It defies all attempts to capture it
with words and rejects all shackles. No matter what you say about it, there is always that which
you can’t.” 
― Christopher Paolini, Eragon

Manusia, kodratnya memang hidup di atas tanah. Karena itu jika tinggal tidak di tanah, akan kebingungan, dan akal pikirannya akan berusaha mencari cara bagaimana cara bertahan hidup di situ. Contoh sederhana aku rasakan ketika sampai di Wisma Apung, sebuah penginapan di tengah lautan di kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah. Sesudah terayun ombak dan gelombang selama hampir tiga jam sepeninggal dari Jepara, kemudian mendarat di Pulau Karimun Jawa besar, dilanjutkan naik perahu bermotor selama lima menit ke Wisma Apung, aku mendapati diriku merasa lapar amat sangat dan tak ada apa pun yang bisa dimakan di situ.

Penjaga Wisma Apung berkata,”Makanan baru datang jam tujuh malam, mbak. Sekarang lagi dimasak.” Waduh, makan apa ini? Masa kita menyate baby shark yang sedang asyik-asyik berenang di sekeliling penginapan? Jangan dong, hiu kan binatang dilindungi. Akhirnya kami menelepon tour leader dan memintanya untuk membelikan makanan lagi untuk kami dan diantar ke Wisma Apung. Seharusnya kan dia bilang kalau di sini tak ada makanan, sehingga bisa membeli terlebih dahulu di Pulau Karimun Jawa besar sebelum menyeberang. Continue reading

mengejar buih kilau kiluan

Kamu tahu, barisan ombak mengantarkan debar rasa yang sama?
– Tias Tatanka

Sekian lama aku tidak menginjakkan kaki di tempat bertemunya darat dan lautan, akhirnya aku memutuskan untuk bergabung dengan perjalanan ke pantai Kiluan Lampung dengan beberapa orang yang tak kukenal sama sekali sembari melepaskan lelah pekerjaan beberapa bulan ini. Aku butuh suasana dan teman-teman baru. Tak peduli apa kata orang bahwa perjalanan itu bukan untuk melarikan diri, yang jelas aku ingin mengikuti perjalanan ke tempat yang alami yang cukup sulit dijangkau ini. Rupanya perjalanan ini menimbulkan kekangenan tersendiri pada suasana yang biasa dilalui, jalanan, pohon-pohon berlari, orang-orang baru, titik perpindahan manusia…

Perjalanan 6 Juli 2012 dimulai dari satu titik di daerah Jakarta Barat, di mana kami yang satu sama lain baru berkenalan menunggu bis menuju Merak. Mudah menemukan bis ini, di seberang RS Harapan Kita, Slipi, adalah pemberhentian terakhir sebelum bis memasuki tol di gerbang Kebun Jeruk. Perjalanan malam hari ini sekitar 2 jam lamanya sampai Pelabuhan Merak sebagai titik temu berkumpul dengan teman-teman lain yang berasal dari berbagai lokasi.

Continue reading