bekerja bersama wujudkan impian #UbahJakarta

“…what thrills me about trains is not their size or their equipment but the fact that they are moving, that they embody a connection between unseen places.”
― Marianne Wiggins

Sebagai seseorang yang bertinggal di selatan Jakarta, kebutuhan untuk menggunakan transportasi publik sangat mutlak untuk menunjang kegiatan sehari-hari menuju maupun di ibukota. Bayangkan saja apabila harus menggunakan kendaraan pribadi, selain boros oleh bahan bakar padahal hanya dipergunakan oleh satu orang, namun juga harus berebut jalan dengan ratusan bahkan ribuan pengguna jalan lainnya demi bisa beringsut-ingsut tiba di tempat bekerja. Karena itu transportasi umum massal menjadi pilihan utama, dengan daya tarik pada kecepatan mencapai pusat kota.

Memang menggunakan transportasi publik memerlukan sedikit pengorbanan, karena tak jarang harus berdesakan masuk yang membuat baju tak lagi licin ketika tiba. Atau kadang barang di saku berpindah tangan tanpa diketahui. Yang paling sial apabila ada gangguan teknis, yang mengakibatkan beberapa perjalanan terganggu dan penumpang menumpuk di terminal atau stasiun.

Berada di ibukota dengan segala karut marutnya juga tetap membutuhkan mobilitas untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Namun yang sering terjadi adalah jalanan begitu padat dengan kendaraan pribadi sehingga tidaklah lagi nyaman berada di tengah keramaian di siang hari dan terasa membuang-buang waktu belaka. Apalagi yang pergi sendiri, sangat tidak efektif untuk menggunakan kendaraan pribadi apalagi ternyata jalur yang dilalui hanyalah jalur protokol. Continue reading

Advertisements

serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

“The trains always arrive at your station. The question is which one to take?”
― Mehmet Murat ildan

Buat yang sering menyimak berita-berita transportasi India, pasti tahu bahwa kereta api adalah transportasi utama yang menjadi favorit banyak warga di negeri ini. Jalur kereta membentang dari dataran rendah Kerala hingga Darjeeling di atap dunia. Yang paling umum digunakan turis adalah Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi, jalur yang sudah berfungsi sejak tahun 1860. Atau bisa juga melipir ke sisi-sisi lain dari ujung-ujung kota, hampir selalu bisa dicapai dengan kereta.

Kereta di India ditarik sebagian besar dengan lokomotif diesel dan menggunakan gerbong jenis broad track gauge dengan lebar rel 5 ft 6 in/​1,676 mm seperti yang digunakan untuk BART system di San Fransisco, lebih besar daripada yang biasa digunakan di Indonesia. Karena itu, lebar gerbongnya cukup besar untuk diisi dengan susunan kursi yang cukup besar dalam semi kompartemen dalam gerbongnya.
Continue reading

MRT: jakarta underground

cover-iluni-ftui-visit-mrt-deep-tunnel

It’s time to reduce our reliance on highways in this regions and start a rapid transit systemthat will provide people to choice.
– Tom Maziars

Sejak pertama kali datang untuk tinggal di (dekat) Jakarta dua puluh tahun yang lalu, aku selalu berpikir bakal ada transportasi umum yang massal dan bagus untuk ibukota negara ini. Dulu berkeliling Jakarta bisa dengan KRL atau metromini dan bus kota yang melewati berbagai kemacetan di tengah kota. Tapi, memangnya mau terus-terusan berlama-lama di jalan seperti itu? Sementara orang-orang berlalu lalang ke negeri jiran dan membandingkan dengan transportasi di sana, Jakarta harus bebenah sedikit demi sedikit.

Setelah jalur Transjakarta multi koridor yang mencapai banyak ujung-ujung kota, rupanya rencana Mass Rapid Transit yang sudah kudengar sejak masa kuliah dahulu benar-benar terlaksana di ibukota. Mulai dari pendirian tiang-tiang beton di banyak tempat di sepanjang Fatmawati hingga Lebak Bulus dan tahu-tahu saja beberapa halte bus Transjakarta di Sudirman ditutup. Sebagai seseorang yang bergerak di bidang konstruksi, lama kelamaan penasaran juga bagaimana proses pembangunan di bawah tanah ini. Apalagi aku ini pencinta kereta dan hobi mencobai berbagai model transportasi ini di berbagai negara yang pernah kukunjungi.  Continue reading

warna-warni jalur transportasi jakarta

transportasi-jakarta-jalan-raya

“Nih, tanya Teh In saja..” seorang teman menyorongkan ponselnya padaku untuk membantu temannya di ujung sana yang bertanya bagaimana mendapatkan bus tujuan Bekasi dari Jakarta Convention Center. Aku menjelaskan dengan memintanya keluar JCC ke arah kiri hingga jalan raya depan tol dalam kota, naik naik Tranjakarta arah Cawang, turun di depan Plaza Semanggi hingga tepi jalannya dan menunggu bis Mayasari Bakti tujuan Bekasi di situ. Bukan sekali dua kali aku membantu teman-teman yang naik kendaraan umum dari mana ke mana di Jakarta. Bahkan seorang teman lain yang pemerhati kota berseloroh,”Mungkin teknologi aplikasi yang yang cocok untuk masyarakat sekarang adalah teknologi ngobrol-ngobrol. Ngobrol sama kamu, In. Kamu itu apps-nya.”

Aku pengguna transportasi umum secara aktif. Sejak lulus kuliah dan harus bekerja di Jakarta, aku harus menggunakan transportasi umum sebagai sarana bepergian setiap hari. Alasannya simpel, menghemat waktu, malas menyetir dalam waktu agak lama, dan macet. Mobil pribadi hanya aku gunakan di akhir pekan saja, itu pun tidak selalu. Naik kendaraan umum juga membuatku pengeluaran lebih hemat. Kan, lebih baik dananya dialihkan untuk ditabung dan piknik-piknik ke luar kota, daripada terbakar sia-sia di jalan setiap hari. Dan pastinya mengurangi penggunaan bahan bakar karbon emisi gas buang yang ke udara, juga mereduksi dosa terhadap bumi. Makanya, KRL dan bis menjadi sangat umum bagiku yang malas menyetir dan tidak mampu bayar supir pribadi ini. Continue reading

kansai international airport, gerbang masuk jepang dari tengah laut

kansai-international-airport-japan-3

It can hardly be a coincidence that no language on earth has ever produced the expression, ‘As pretty as an airport.’
― Douglas Adams, The Long Dark Tea-Time of the Soul

Aku pertama kali mendengar nama Bandar Udara Kansai di Osaka ini adalah ketika aku mengambil mata kuliah Struktur dan Konstruksi di semester 5. Pada mata kuliah yang mengajarkan tentang bangunan bentang lebar ini, beberapa contoh diberikan seperti stadion, jembatan atau bandara. Beberapa kebutuhan fungsi ruang memang membutuhkan jarak antar kolom yang lebih jauh, sehingga teknologi bentang lebar yang ditemukan oleh arsitek dan ahli-ahli konstruksi ini menarik untuk dipelajari.

Gambar goresan tangan arsitek Renzo Piano yang mensketsa tema ‘lepas landas’ menjadi dasar desainnya untuk mengembangkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh bandara internasional ini. Bandar udara dengan kode KIX ini berdiri pada tahun 1994 dengan dua area, yaitu daerah landasan pesawat dan bangunan bandaranya sendiri dengan termasuk fungsi penerimaan penumpang dan area komersial. Continue reading

riak menari sungai musi

0-cover-musi-palembang-kapal-XX


dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Sumatera adalah titik istimewa karena salah satu sisinya yang menghadap ke Selat Malaka, sebagai jalur persinggahan atas pelayaran jarak jauh dari Eropa ke Cina. Setelah pelayaran berbulan-bulan di Samudera Hindia, laut tenang di Selat Malaka menjadikan pesisir Sumatera sebagai pelabuhan alami yang merupakan tempat aman untuk reparasi kapal serta berdagang kapur barus, kemenyan, emas, dan lada. Tak pelak lagi, bandar-bandar di sisi timur Sumatera menjadi berposisi strategis sebagai ruang timbunan barang dagangan dan Sriwijaya adalah salah satu bandar yang bersinar.  Continue reading

sriwijaya air menuju langit nusa tenggara

0-cover-sriwijaya-air-sunrise

Setiap perjalanan terbangku bermula, aku selalu memasrahkan diri pada semesta, pada birunya langit dan awan-awan putih yang menggelayut, pada udara yang menjadi tempatku berada, pada menit-menit yang terhitung pasti, akan semuanya aku berdoa.

Selalu aku memilih untuk duduk di tepi jendela, di mana lubang kecil itu akan menunjukkan lansekap tanah, tinggi rendah nusa di bawahku. Di sana kadang aku memandang sawah, jalan, kumpulan pemukiman, sungai berkelok, dan gunung-gunung. Benar, gunung adalah pemandangan favoritku jika sedang berada di udara. Jika tidak sedang tertutup awan, membaca gunung seperti berbicara pada alam, pencapaian pada ketinggian tapak. Membaca peta, mencocokkan apa yang ada di kepala dengan yang dibawah sana, menerka-nerka nama. Continue reading

enjoy atmosphere with malang city tour bus

0-cover-malang-city-tour-bus

‘How come the Muggles don’t hear the bus? …
J.K. Rowling, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban

There is a memory that splendid while returning into the city of Malang. For me, Malang was holidays, because I’ve never actually lived here. But turn back more than 25 years ago, I always visit Malang every month, not just passing by, but some frequently visit.

When I took picture inside Ban Lam Wine & Bar at Tugu Hotel Malang, Pak Bagus, manager of the hotel just ask, “Why don’t you just try Malang City Tour Bus? It would be easily to travel around the old town of Malang.” Gasp, suddenly I was being attracted by the offer. Why not? I never imagined that Malang had their City Tour Bus, just like Semarjawi at Semarang, or Bandros at Bandung or Jakarta’s Mpok Siti. He explained, “This is Sunday, the bus will travel around more often.” Hm, actually I planned to go to Batu that day, but I feel doubtful because I had heard that all the way to Batu would stuck on traffic within Sunday.

Continue reading

semarang dalam cerita semarjawi

cover-semarjawi-semarang

@semarjawi: Dear Bebs, FYI, besok pagi muter reguler #Semarjawi di-close dl ya. Soalnya besok dicarter Bebeb² dr @TravelNBlogID

Grenggg… Bis merah bertingkat itu meninggalkan halaman Taman Srigunting, Gereja Blenduk. Warna yang kontras dengan lingkungan sekitarnya ini menjadikan bis ini menjadi ikon menarik ketika melalui jalan-jalan di kota Semarang. Matahari jam sembilan pagi di kota Semarang bersinar cerah sekali di atas kota atlas ini, tapi seluruh peserta #TravelNBlog 3 yang sudah mengikuti workshop sehari sebelumnya tetap bersemangat untuk naik bis istimewa ini. Untung Lestari, adek ketemu gede yang tinggal di Semarang sampai di titik awal tepat waktu, sehingga tidak ketinggalan.

Iya, istimewa dong! Seingatku, Semarang sudah lama tidak punya bis tingkat. Dulu memang sewaktu aku masih kecil masih sering nail bis tingkat dari jalan Pemuda hingga Simpang Lima, tapi beberapa kali aku pulang atau lewat kota ini, bis-bis itu sudah tidak beroperasi lagi. Kabarnya sih dipindahkan ke Solo, tapi sekarang pun entah masih beroperasi atau tidak. Jadi, keberadaan Semarjawi ini istimewa, karena bentuknya bis tingkat. Serunya lagi, bis ini akan membawa jalan-jalan keliling kota lama Semarang, dan kita bisa melihat dan belajar sekaligus tentang sejarah kota Semarang di masa lalu, yang peninggalannya tersebar di satu jalur tertentu. Lebih asyik lagi, bis ini tidak menggunakan pengudaraan buatan, melainkan alami karena sisi-sisinya yang terbuka, bahkan atapnya pun terbuka! Menyenangkan sekali melewatkan satu jam dengan naik moda transportasi ini.
Continue reading

flores flow #10 : pulang dari wae rebo naik apa?

bis 8-tampak samping

because he had no place he could stay in without getting tired of it and because there was nowhere to go but everywhere, keep rolling under the stars…
― Jack Kerouac, On the Road

Aku merogoh daypack hijauku sambil memastikan apakah semua peralatan elektronik yang semalam sempat di-charge di rumah Pak Blasius Monta sebelum genset mati sudah kubawa semua. Otokol yang meninggalkan desa Denge satu jam yang lalu masih terguncang-guncang di jalanan berbatu. Udara dini hari yang dingin menghembus dari samping. Hutan-hutan yang dilewati pun masih menyiratkan sepi.

Glek!
Mana charger kameraku? Lalu bagaimana aku memotret dalam tiga hari mendatang? Aku mulai sedikit panik (namun dalam hati panik beneran). Sementara waktu masih menunjukkan jam 4 pagi, hari masih gelap, dan kami semua masih di jalan antara Denge menuju Ruteng, in the middle of nowhere, tidak tahu di mana tepatnya kami berada.

Charger kameraku nggak ada…”
“Kemarin di meja tempat nge-charge iPad dan handphone, sudah kuambil semua.”
“Iya, tapi charger-nya ada di ujung dekat pintu, sedang mengisi baterai cadangan, yang satu sudah kumasukkan di kamera, satu lagi ku-charge.”
Continue reading