jalan asia afrika: nuansa kolonial masa lampau bandung

Jalan raya Asia Afrika menjadi salah satu destinasi favorit sejak kecil di Bandung. Ketika bertinggal di Jalan Lengkong di masa kanak-kanak, kerap kali ayah dan ibu membawaku untuk menyusuri jalan ini hingga alun-alun Bandung untuk melatih langkah kakiku yang mungil. Dahulu jalan Asia Afrika adalah salah satu ruas Groote Postweeg atau Jalan Pos yang diinisiasi oleh Gubernur Jenderal Daendels yang dimaksudkan sebagai jalan utama yang mendorong pertumbuhan kota dan pusat bisnis di sekitarnya. Berbagai bangunan memiliki fungsi sama sejak seabad yang lalu, hanya nama institusi kepemilikannya yang berubah-ubah. Namun tak sedikit juga yang beralih fungsi walaupun tetap mempertahankan bentuk aslinya.

“Bandung, ibukota Priangan, semasa era kemerdekaan nasional juga mashur di dunia, sebagai ibukota Asia-Afrika, karena di sinilah untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 1955. Bahwa Bandung terkenal juga sebagai ibukota Asia-Afrika memang bukan suatu kebetulan. Setelah usai Perang Dunia II, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai pelopor Asia-Afrika yang membebaskan diri dari kolonialisme. Vietnam pada 15 Agustus 1945 dan Indonesia dua hari setelah itu, 17 Agustus 1945. Vietnam dan Indonesia telah membuktikan, bangsa jajahan bisa memerdekakan diri dari kekuasaan kolonial Dunia Utara. Maka sejak itu Asia-Afrika bergolak untuk memerdekakan dirinya. Tanpa keberhasilan dua negara pelopor ini sulit dibayangkan gerakan-gerakan kemerdekaan di Dunia Selatan bisa sukses.”
Pramoedya Ananta Toer – Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Menyusuri Jalan Asia Afrika mulai dari perempatan Tamblong hingga Alun-alun di malam minggu menimbulkan banyak kisah berkelebat tentang sejarah bangunan yang masih berdiri dan dipelihara hingga kini. Berjalan kaki tentunya memiliki pesona tersendiri karena bisa mengamati dalam lambat, mengingat pada masa dahulu ketika belum banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang.

Grand Hotel Preanger

Berlokasi di perempatan Asia-Afrika dan Jalan Tamblong, Grand Hotel Preanger ini dahulu adalah toko kecil yang menjual kebutuhan pemilik perkebunan Priangan yang berlibur ke pusat kotaGroote Postweeg . Karena akhirnya mengalami kebangkrutan dan melihat banyak peluang yang bisa didapat dari pelancong, W.H.C Van Deeterkom mengubah toko tersebut menjadi hotel di tahun 1897.

Hotel yang menjadi kebanggaan orang-orang Belanda di kota Bandung, direnovasi pada tahun 1929 oleh Ir. Soekarno yang tidak mengubah gaya arsitektur kunonya. Lokasinya yang strategis dipilih menjadi tempat tinggal beberapa kepala negara juga pada saat KTT Asia Afrika tahun 1955. Beberapa tokoh penting dunia yang pernah menginap di Grand Hotel Preanger diantaranya adalah Charlie Chaplin (bintang film Amerika Serikat), Amelia Earhart (pelopor penerbangan dunia Amerika Serikat) dan Gamal Abdul Nasser (Kepala Negara Mesir).

Hingga kini, sudut ini masih berfungsi sebagai hotel yang melayani tamu-tamu baik dalam negeri maupun luar negeri, dan info tentang sejarah hotel ini bisa ditemui di Museum Preanger yang berada di dalam hotelnya. Ketika peringatan Konferensi Asia Afrika tahun 2015, trotoar di depan hotel ini dipasang bola-bola batu bertuliskan nama-nama negara yang hadir.

Hotel Savoy Homann

Tahun 1936-1939 menggantikan hotel milik keluarga Homann, dibangun hotel Savoy Homann yang terinspirasi dari kemajuan kecepatan kendaraan di tahun 1930-an. Bentuk aerodinamik dengan desain gelombang samudera digunakan oleh Albert Frederik Aalbers untuk menggantikan desain lama hotel keluarga ini. Ruangan di dalamnya juga bergaya art deco yang mengikuti gaya interior kapal uap modern yang masa itu melayani hubungan antar benua.
Bagian eksterior dengan barisan balkon bergelombang di sekeliling dinding kaca terinspirasi sebagai ombak laut, sementara tiang tinggi dan deretan jendela bulat menggambarkan massa hotel yang seolah-olah kapal besar.

Hotel ini juga menjadi titik penting pada saat Konferensi Asia Afrika karena lokasinya yang dekat dengan gedung Merdeka sehingga juga dijadikan tempat menginap oleh tamu-tamu kenegaraan. Hingga kini, hotel Savoy Homann masih berdiri kokoh dengan bentuk massa yang tidak berubah selama hampir 100 tahun, walaupun sudah berganti-ganti pengelola, dan masih menjadi salah satu obyek arsitektur penanda zaman pada saat berdirinya.

Tidak ada saat yang tidak tepat untuk mengamati hotel ini karena keindahan klasiknya. Baik pagi, siang maupun malam hari, Hotal Savoy homann selalu menebarkan aura elegan seperti seorang putri. Jika di masa lalu hotel ini sempat berwarna rona jingga, saat ini warna batu kelabu memberinya kesan matang dan terpandang.

Titik Nol kota Bandung

Tugu yang berdiri tepat di depan Hotel Savoy Homann ini adalah titik di mana Gubernur Jenderal Daendels memerintahkan pada Bupati Bandung Wiranatakusumah II di tahun 1810 dengan mengatakan, “Zorg, dat als ik terug kom hier een staad is gebouwd”, yang berarti “Usahakan, jika aku kembali ke sini, di daerah ini telah dibangun sebuah kota”. Sebagai salah satu jalan yang dilalui untuk pembangunan jalan 1000 km yang membentang di pulau Jawa, Daendels mengharapkan pembangunan kota Bandung Baru di sekitar titik yang ia tetapkan itu.

Pusat kota Bandung yang berpindah dari Dayeuhkolot ke tepian sungai Cikapundung yang dahulu masih lahan kosong berupa hutan ini diinisiasi oleh Bupati Wiranatakusumah II sehingga membuat perkembangan dan perkembangan kota menjadi seperti sekarang ini.

Berpuluh tahun kemudian, di titik kilometer nol ini didirikan monumen mesin penggiling perataan (stoomwall) disertai batu prasasti bersejarah yang didedikasikan untuk rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa saat membangun Jalan Raya Pos. Monumen ini diresmikan tahun 2004 oleh Gubernur Jawa Barat. Jarak kota Bandung ke kota-kota lainnya diukur dari masing-masing titik nol di kota-kota itu, termasuk di Bandung.

Mesin Cetak di depan Gedung Pikiran Rakyat

Gedung Pikiran Rakyat yang menjadi redaksi surat kabar yang terkenal di Jawa Barat ini sejak tahun 1971, adalah karya CP Wolff Schoemaker yang dibangun tahun 1920 dengan gaya arsitektur neo klasik. Sebelum ditempati Pikiran Rakyat, gedung ini pernah digunakan sebagai kantor de Kock, Sparkes & Co pada tahun 1920-an, Autohandel Mascotte di tahun 1930-an dan pada tahun 1950-an ditempati Mascotte Trading Co.

Penempatan mesin cetak lawas tipe Linotype model 73 4728 ini dipasang pada tahun 2011 di halaman Gedung Pikiran Rakyat untuk mengenang masa mesin yang pernah dipakai untuk menerbitkan berita-berita hariannya pada tahun 1974 hingga 1986. Mesin linotype ini berjaya pada tahun 1960-1970 sebagai mesin standard untuk koran, majalah dan poster.

Mesin linotype bisa mencetak  koran  4 sampai 5 kali lebih cepat dari sebelumnya dan dipatenkan oleh Ottmar Mergenthaler di Amerika Serikat pada  1884. Mesin cetak ciptaan Gutenberg yang sebelumnya biasa dipakai  hanya bisa mencetak tidak lebih dari 8 halaman koran.

Gedung Merdeka

Bangunan ini adalah titik sentral berkumpulnya warga Bandung yang menikmati Asia Afrika. Jika siang ramai orang datang ke museumnya, di malam hari cukup ramai oleh orang-orang yang berjalan-jalan di depan, bahkan beberapa performing art juga mengambil tempat di seruas trotoar ini.

Memang sejak zaman dahulu bangunan yang digunakan sebagai klub eksklusif Societeit Concordia ini adalah gedung pertemuan bergengsi dengan ballroom yang besar dengan lantai kayu cikenhout. Dirancang pada tahun 1940 oleh C.P. Wolff Schoemaker dengan gaya art deco, namun direnovasi lagi pada bagian sayap kirinya oleh A.F. Aalbers dengan gaya International Style.

Berbagai fungsi mewarnai penggunaan gedung ini, mulai dari pusat kebudayaan di masa pendudukan Jepang, markas pemuda Indonesia usai kemerdekaan RI, dan akhirnya menjadi Gedung Merdeka yang digunakan untuk Konferensi Asia Afrika. Gedung ini sempat juga menjadi gedung Konstituante 1955, Badan Perancang Nasional 1959 hingga kantor MPRS dari tahun 1960-1971.

Dengan banyaknya fungsi yang pernah menempati Gedung Merdeka ini, tak heran warga Bandung begitu lekat dengan kenangan-kenangan sehingga siang malam sekitar gedung selalu ramai. Tahun 1980 gedung Merdeka ditetapkan sebagai Museum Konferensi Asia Afrika yang bisa dikunjungi setiap hari (kecuali Senin) tidak hanya untuk melihat-lihat koleksi museumnya saja, namun juga bisa untuk perhelatan kebudayaan.

Warenhuis de Vries

Tidak disangka, bangunan cantik di seberang gedung Merdeka yang memanjang itu dahulu adalah toserba pertama di tahun 1920 yang dimiliki oleh Klaas de Vries. Bangunan yang didesain oleh Edward Cuypers dan Hulswit ini tadinya merupakan rumah tinggal yang beralih fungsi. “Werenhuis de Vries” atau “Supermarket de Vries” sangat laris di akhir pekan karena sebagian pelanggannya adalah Priangan Planters yang berkunjung ke tengah kota Bandung.

Dengan bentuk memanjang, usaha di toko ini cukup beragam karena pernah dijadikan toko pakaian “Modelhuis Lafayette” bahkan toko daging dan agen penjualan mobil Chevrolet dan Cadillac. Sebagai toko serba ada, Werenhuis de Fries pernah menyediakan dranken provisien (minuman beralkohol), meubelen (mebeler), porcelen glas (pecah belah), sigaren (cerutu), landbouwbenoodigdheren, import, commionairs venduhouders, export, kuns boek papierhandel dan sebagainya.

Bangunan ini tidak memiliki halaman karena langsung bertemu dengan trotoar jalur pejalan kaki. Sekarang setelah dibeli oleh Bank NISP-OCBC, direstorasi hingga kembali ke bentuk aslinya, juga dijadikan museum untuk kegiatan perbankan. Kaca-kaca bening yang difungsikan pada fasadenya membuat orang mudah untuk menengok ke dalamnya bahkan ketika berada di seberang sekali pun.

Gedung PLN Bandung

Ternyata, gedung dengan logo PLN di jalan Asia Afrika ini, memang sudah sejak dulunya milik Perusahaan Listrik. Dibangun tahun 1933 oleh C.P.W. Schoemaker, gedung ini milik Bandeongsche Electriciteit Maatschapij yang kemudian berubah menjadi GEBEO yang merupakan kepanjangan dari Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken pada tahun 1920. Penggunaan nama “Gemeenschappelijk” menunjukkan bahwa perusahaan ini tidak murni milik swasta, melainkan sebagian sahamnya adalah milik pemerintah Belanda. Nama GEBEO ini yang kemudian sering dilafalkan orang Bandung sebagai Hebeo, yang kemudian menjadi tenar.

Berada di tepi sungai Cikapundung, menjadikan titik berdirinya adalah salah satu tempat strategis di Bandung apalagi fungsinya sebagai kantor tenaga listrik. Saat ini gedung GEBEO menjadi kantor PLN Bandung dengan bentuk yang tidak banyak berubah, dan hanya ramai untuk aktivitas di siang hari saja.

Nedhandel NV

Menemukannya terselip sesudah jembatan penyeberangan orang yang besar di depan alun-alun, gedung ini dibangun untuk Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM) NV, merupakan perusahaan dagang milik Belanda yang berkembang di dunia perbankan. Di kemudian hari NHM NV ini berubah menjadi salah satu bank ternama di Belanda, yaitu ABN-AMRO.

Namun perkembangan NHM di Indonesia yang tahun 1960 diambil alih pemerintah berubah menjadi Bang Expor-Impor (Bank Exim). Usai merger dengan dengan Bank Dagang Negara (BDN), Bank Bumi Daya (BBD) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi  Bank Mandiri di tahun 1999, aset bank ini otomatis menjadi milik Bank Mandiri yang gaya arsitekturnya tetap dipertahankan pada bagian fasade-nya yang menghadap Alun-alun Bandung.

Taman Alun-alun Bandung

Area ini banyak sekali dengan kenangan masa kecil ketika masih balita dan berlarian di situ. Seingatku dulu alun-alun Bandung di awal tahun 1980-an bukanlah merupakan lapangan rumput seperti halnya banyak alun-alun di pulau Jawa, namun pelataran dengan perkerasan yang penuh dengan pot-pot besar yang ditata dengan bunga-bunga di dalamnya.

Terdapat juga air mancur yang di tepinya muda-mudi asyik bercengkerama sembari menunggu senja, alun-alun ini dikellilingi oleh berbagai pusat perbelanjaan yang terkenal di tahun itu, yang terbesar adalah Plaza Palaguna yang kini sudah dibongkar. Kerap kali juga mama mengajakku makan siomay di samping bioskop Dian atau Radiocity yang kini juga dijadikan sebagai cagar budaya.

Alun-alun yang berada di depan Masjid Raya ini sejak tahun 2014 memiliki halaman rumput sintetis yang ramai sekali dipergunakan warga setiap hari, tidak peduli siang dan malam. Mulai dari muda-mudi hingga keluarga besar dan pelancong menghabiskan hari di setiap sudutnya. Apalagi di malam hari, hampir tak bisa ditemui sudut untuk melempar bola karena banyaknya orang yang memenuhi lapangan ini. Meskipun demikian anak-anak masih bermain bola plastik yang bisa disepak-sepak dalam jarak dekat.

Di depannya, masjid raya Bandung selalu ramai juga oleh orang-orang yang menunaikan ibadah. Kedua menara di sampingnya, yang salah satunya bisa dinaiki hingga puncak menjadi destinasi wisata yang cukup asyik, karena dari puncaknya bisa menikmati pemandangan kota Bandung.

Gedung Jiwasraya

Tepat di sebelah utara alun-alun, mudah sekali melihat Gedung Jiwasraya yang bergaya arsitektur Neo Klasik Art Deco. Sedari dulu dibangun untuk Perusahaan Asuransi Jiwa Nederlanche Indische Levens Verzekering en Lijfren Maatchaappij yang menjadi cikal bakal asuransi Jiwasraya ketika tahun 1959 dinasionalisasi menjadi PT Perusahaan Pertanggungan Djiwa Sedjahtera yang pada tahun 1965 dilebur menjadi Perusahaan Negara Asuransi Djiwasraja.

Bangunan ini paling kuingat sebagai orientasi arah di alun-alun, karena bentuknya yang mencolok dan besar serta mudah dilihat dari berbagai sisi, dengan warnanya yang putih dan tidak pernah berubah sejak zaman ku kecil hingga sekarang. Walaupun tidak diketahui siapa arsitek yang mendesain bangunan ini, tapi jika dilihat dari gayanya sepertinya salah satu dari keluarga Schoemaker mengambil peran di sini.

Gedung Bank Mandiri

Seperti halnya gedung Jiwasraya di sebelahnya, Gedung Bank Mandiri ini juga sejak dahulu dibangun sebagai kantor Escomplo Bank di tahun 1915. Usai dimiliki oleh Bank Dagang Negara yang kemudian dimerger dengan Bank Mandiri, kondisi fasade bangunan tidak mengalami perubahan dari bentuk aslinya.

Keunikannya karena letaknya di sudut persimpangan Jalan Asia Afrika dan Jalan Banceuy memiliki menara jam sebagai penangkap perhatian. Sayangnya karena sekarang jalan mobil satu arah dari alun-alun ke arah pasar baru, maka fungsi menara sebagai vocal point menjadi terabaikan karena akan selalu ditemui dari arah belakangnya. Ditambah lagi jembatan penyeberangan yang membentang di atasnya menutupi pandangan terhadap bangunan ini secara agak bebas dari jalan raya.

Swarha

Bangunan lengkung yang berada di sudut jalan Asia Afrika ini sekarang lebih serring terlihat kusam dan tidak memperlihatkan kemegahannya di masa jaya dulu. Hanya dari huruf-huruf yang masih tegak berdiri sejak puluhan tahun yang lalu yang mengenali bahwa namanya adalah SWARHA.

Sebagai salah satu karya Wolff Schoemaker, sepintas lengkung gedung ini agak mirip dengan gaya Savoy Homann walaupun didesain oleh orang yang berbeda. Di tahun 1955, gedung ini berfungsi sebagai hotel tempat menginap para wartawan untuk liputan KAA karena letaknya yang dekat sekali dengan kantor pos.

Asal nama Swarha, yakni singkatan dari nama Said Wiratmana Abdurrachman Hassan. Beliau adalah putra dari Syech Abdurrachman bin Abdullah Hassan, yang berdasarkan cerita mulut ke mulut, merupakan salah satu saudagar kaya yang berasal dari Timur Tengah.

Hampir tidak ada kegiatan lagi di dalam gedung ini, kecuali toko Indra yang menjual kain, dan merupakan pemilik bangunan hingga kini. Sebagian fasadenya tertutup oleh pelebaran bangunan masjid dan jembatan penyeberangan menyisakan kenangan masa lalu.

Kantor Pos Besar Bandung

Agak terpisah dari hiruk pikuk Asia Afrika, kantor pos besar yang berlokasi di seberang Gedung Bank Mandiri dan Gedung Swarha ini sejak awal didirikan berfungsi sebagai Posten Telegraf Kantoor (Kantor Pos dan Telegraf), dan berada di jalur jalan pos-nya Daendels. Dirancang oleh arsitek berkebangsaan Belanda, J. van Gendt, gaya yang dianut adalah art deco geometric (modern fungsional) yang dipadu atap bangunan tropis. Aktivitas yang mengiringinya sejak dahulu pun tetap kegiatan ekspedisi maupun surat menyurat dengan di dalam hall besar seperti terjadi di banyak kantor pos yang dididirikan di masa yang sama di Indonesia.

Melihat dari lokasinya yang berada di tengah dua kawasan, Agaknya gedung ini menghubungkan banyak urusan antar kota dari berbagai perusahaan strategis pemerintah yang berada di sepanjang jalan pos, maupun kegiatan bisnis dari sisi barat hingga Pasar Baru Bandung.

Tidak sama juga dengan bangunan-bangunan sebelumnya yang merapat pada tepi jalan raya, gedung Kantor Pos justru memiliki pekarangan yang cukup lebar hingga fasade bangunan. Sepertinya dulu menjadi area bongkar muat atau penempatan kuda-kuda kereta sebelum diangkut ke kota lain. Pada bagian depan kantor pos terdapat bis surat dengan tulisan Brievenbus (bis surat) dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Butuh berapa lama untuk menyusuri jalan Asia Afrika sepanjang 650 meter ini? Dengan berbagai macam pengamatan menarik dan berfoto-foto, aku menghabiskan dua jam menyusurinya sambil berjalan kaki, duduk, makan eskrim, atau larut dalam keriuhan orang-orang yang malam mingguan di depan Gedung Merdeka dan duduk-duduk di alun-alun sambil beristirahat. Jalan yang selalu macet kalau dilalui dengan kendaraan bermotor ini selalu nyaman untuk dinikmati dalam lambat, apalagi di malam hari di tengah lampu-lampu mercury yang menerangi kecantikan berbagai bangunan peninggalan. Karena gedung-gedung itu sendiri adalah monumen, penanda waktu yang bercerita masa dengan sendirinya.

“Dan Bandung bagiku bukan hanya masalah geografis,
Lebih jauh dari itu melibatkan perasaan, yang bersamaku ketika sunyi”
Pidi Baiq

Usai berjalan-jalan malam di Asia Afrika, menghabiskan akhir pekan di kota Bandung bisa mengistirahat diri di Holiday Inn Pasteur. hanya sekitar 20 menit dari taksi usai berjalan kaki dan menikmati malam, melintasi jembatan Pasopati.

Advertisements

4 thoughts on “jalan asia afrika: nuansa kolonial masa lampau bandung

  1. Johanes Anggoro says:

    wow cantik juga sepanjang jalan asia afrika di malam hari ya mbak indri. lebih kerasa romantisme masa lalunya. jalan asia afrika memang kesukaanku kalo ke bandung, tapi seringnya pagi. kapan-kapan mau coba ah pas malam hari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s