rammang-rammang : berdialog dengan batu

0-cover-rammang-rammang-maros

Aku tak ingat sejak kapan aku punya perasaan berbeda setiap kali melihat batu. Bukan sekadar batu kecil tapi sebongkah batu, sebukit batu, bongkahan besar hasil sedimentasi dari magma gunung berapi ratusan tahun yang lalu dan membentuk bentang alam yang keras. Sahabatku Felicia hafal sekali kesukaanku ini ketika kami mendaki ke Sesar Lembang di Bandung, atau ketika kami menyusuri jalan di Ngarai Sianok dan berlama-lama di Lembah Harau.

Padahal perkenalanku dengan batu besar untuk pertama dan terakhir kalinya hanya di tahun ’98 ketika mendaki tebing Munara di Rumpin, Bogor sebelum memilih untuk mengenali batu-batu dengan keluar masuk goa. Selain itu, yang kuingat paling ketika nongkrong tiga hari di bawah Tebing Parang tower 2, itu pun jadi tim darat pendaki. Sepertinya aku lebih tertarik dengan batu besar sesudah berkenalan dengan Parang Jati di novel Bilangan Fu, si pemanjat tebing yang memilih untuk tidak menggunakan alat yang merusak batu untuk memanjat tebing. Tapi selebihnya, sepertinya aku cuma menikmati saat-saat memandang batu-batu besar yang terlihat indah itu.

Karena itu ketika ditanya kenapa harus mampir ke Rammang-rammang, jawabanku cuma satu :

Mau melihat batu.  Continue reading

flores flow #12 : bukit-bukit kering pulau rinca-komodo

rinca-11

If the bite doesn’t kill the prey outright, the venom will.

Matahari bersinar cukup terik ketika kami tiba di Pulau Rinca, yang termasuk dalam pengelolaan Taman Nasional Pulau Komodo. Dermaga Pulau Rinca hanya berisi empat perahu berukuran sedang. Mungkin sudah sejak pagi turis-turis ini tiba, sehingga menjelang jam 11 begini sudah tidak terlalu ramai. Menyusuri dermaga hingga ke pintu gerbang, ternyata tak ada satu pun ranger yang menyambut di situ. Lho, bagaimana ini? Tapi ada jalan setapak yang bagus ke arah kanan. Bersama dua pasang turis, kami menyusuri perkerasan jalan setapak itu, hingga bertemu gerbang dan satu padang besar kosong di mana jalan setapak ini seperti melayang di atasnya. Sequence yang indah sebagai jalan masuk!

Perbukitan berwarna keemasan terhampar di depan mata. Musim kemarau yang lambat berakhir di sini hanya menyisakan sedikit kehijauan pada pohon-pohon. Langit biru yang membentang di angkasa memberikan kontras ditengarai gugusan mega. Berjalan di tengah padang itu, di ujungnya baru ditemui kantor-kantor pengelola Taman Nasional ini.
Continue reading

flores flow #1 : fly to kelimutu

IMG_1505

The reason birds can fly and we can’t is simply because they have perfect faith, for to have faith is to have wings.”
― J.M. Barrie, The Little White Bird

“Dalam beberapa saat, pesawat ini akan mendarat di Bandar udara Komodo, Labuan Bajo..”
Lho? Kok di Labuan Bajo? Tujuanku kan mau ke Ende? Aku melihat gugusan pulau-pulau di laut Flores lewat jendela sambil bertengok-tengok pada pramugari yang sudah duduk manis di kursinya itu dalam posisi mau mendarat.

Drama urusan pesawat ini belum selesai rupanya. Setelah dua hari sebelumnya skedul penerbangan TransNusa Denpasar-Ende dibatalkan sepihak sehingga aku kelimpungan mencari tiket baru, tadi di bandara Ngurah Rai pun gate penerbangan Wings Air pindah dari gate 3 ke gate 5 tanpa pengumuman, sehingga kami berlari-lari pindah gate karena ada petugas keliling menanyakan : Ende? Ende? Dan sekarang pesawat ternyata mendaratnya di Labuan Bajo. Huwow!
Continue reading

renjana rinjani : jalan mengenali diri

cover

    Aku tidak pernah sampai puncak.

    Jam delapan tiga puluh pagi itu, ketika matahari mulai bangun dari balik punggungan puncak, ketika langit memantul di Danau Segara Anak di bawah, ketika tiupan menghantam tubuhku yang terseok-seok di jalur berpasir, aku menyerah.

    “Mas Sopyan, sampai sini saja,” ucapku gemetar sambil menahan tangis dan dingin. Satu jalur pendakian di depanku menuju puncak nampak 45 derajat di depan. Aku tak kuat lagi. Sudah hampir 6 jam kami berjalan dari Plawangan Sembalun, dan belum juga sampai titik pendakian akhir. Kakiku rasanya kaku untuk digerakkan.
    Continue reading

renjana rinjani : menuju kabut di hening sang dewi

DSC_0542

Roads go ever ever on,
Under cloud and under star.
Yet feet that wandering have gone
Turn at last to home afar.
Eyes that fire and sword have seen,
And horror in the halls of stone
Look at last on meadows green,
And trees and hills they long have known.
– J.R.R Tolkien, The Lord of the Rings

Kami turun dari mobil Isuzu Panther bak terbuka yang dikemudikan Bang Mamad dari Dinas SAR Rinjani. Angin dingin menerpa wajah-wajah yang hendak mendaki gunung berketinggian 3726 mdpl itu. Di depan kami, lembah desa Sembalun dengan dengan latar belakang pegunungan Rinjani yang berdiri gagah. Aku menghirup udara segar pagi itu. Jay merapatkan jaketnya, dingin rupanya juga menggigit kulitnya yang tebal itu.

Membuka bekal yang kami beli tadi di desa Aikmel, kami bersama-sama sarapan dengan lahap. Untuk mendaki Gunung Rinjani, kami ditemani oleh Budi dan Sopyan yang bertindak sebagai porter dan guide yang akan mengawal perjalanan kami. Sebenarnya kami hendak ditemani oleh Bang Icin, yang menjadi narahubung awalku dari Pancor, Lombok Timur. Bang Icin, pendiri tim SAR Rinjani, sudah mendaki gunung cantik itu lebih dari 100 kali. “Kalau Bang Icin ikut, jalannya cuma 2 jam hingga pos 3,” kata Sopyan. “Memang seharusnya berapa jam?” tanyaku. “Yah, kira-kira 5 jam, lah,” jelas pemuda berperawakan kecil itu.
Continue reading

renjana rinjani : bukan hanya membawa hati

cover1

To travel is the experience of ceasing to be the person you are trying to be, and becoming the person you really are.
― Paulo Coelho, Warrior of the Light

Sejauh yang aku ketahui, mendaki gunung adalah perjalanan dengan persiapan yang sangat banyak. Terlebih lagi perjalanan yang dilakukan lebih dari dua hari tanpa dekat dengan fasilitas layaknya di penginapan normal. Persiapan bukan cuma untuk diri sendiri, namun juga supaya jalur-jalur gunung yang kita jejaki tidak menanggung beban berat karena kita melalui dan sedikit merusaknya.

Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, yang merupakan salah satu gunung-gunung tinggi di Indonesia dengan ketinggian 3726 mdpl, menjadi salah satu impianku untuk melintasi padang-padangnya. Mendengar cerita beberapa orang yang pernah ke sana, terbit rasa iri untuk ikut menjelajahinya. Savana, jalur hutan, danau dan kabut, seperti memanggil-manggilku. Tapi kakiku yang kecil ini, apa sanggup? Pengalamanku mendaki gunung hanya berkisar gunung-gunung di Jawa Barat di masa pendidikan pencinta alam belasan tahun yang lalu, serta beberapa gunung wisata seperti Anak Krakatau, Bromo, Ijen, yah, bolehlah kalau Tangkuban Parahu mau dihitung. Jadi untuk menjelajah gunung ini perlu persiapan lebih untukku daripada pendaki-pendaki yang terbiasa.

Continue reading