tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading

toraja tau-tau: berangkat dari rantepao

0-toraja-cover

Tang ki pomabanda penawa
Ya mo passanan tengko ki
Umpasundun rongko’ki
[lagu Toraja: Marendeng Marampa]

Aku terkantuk di dalam bis besar dengan trayek Makasar-Toraja ini yang meninggalkan poolnya pada jam 10 malam. Menurut info yang didapat, perjalanan di Sulawesi Selatan ini akan ditempuh dalam waktu 8 jam. Berada dalam bis dengan ukuran kursi lebar memeluk badan, ditambah bantal dan selimut yang menemani perjalanan, membuatku lekas berpindah ke alam mimpi hingga terbangun ketika pagi menjelang di sekitar kota Makale yang berhawa sejuk. Satu jam kemudian aku, Winny, dan Lukman tiba di kota Rantepao untuk menuju rumah salah satu teman yang asli orang Toraja, kak Olive di depan alun-alun.

Setelah menyegarkan tubuh, kak Olive menyarankan kami untuk berkeliling Rantepao, mulai dari mengunjungi makam di Londa, rumah adat di Kete’ Kesu’, dan makam batu di Lemo. Memang Toraja adalah salah satu destinasi impianku sejak dulu, sejak masa kuliah aku mengikuti seminar yang bercerita tentang rumah tongkonan yang menjadi ciri khas dari masyarakat adatnya. Di banyak tempat di Toraja, rumah adat ini masih banyak berdiri di satu lingkungan pemukiman yang terdiri dari beberapa rumah tongkonan. Continue reading

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

menyepi di engyoji himeji

0-himeji-japan-mount-shosha-engyoji-cover

To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

“Kota ini cocok untuk menghabiskan masa tua, ya,” demikian pendapat Windu, kira-kira 30 menit sesudah kami menginjakkan kaki di Himeji, satu kota di sebelah barat Osaka, yang ditempuh dalam satu jam kereta antar kota. Sesudah tiba di terminal bus dan mengetahui bahwa bis menuju Mount Shosa masih berangkat 30 menit kemudian, kami memilih untuk berjalan-jalan berkeliling sambil membeli bekal di gerai minimarket siap saji.

Suasana Himeji jauh berbeda dengan Osaka. Tak banyak mobil berlalu lalang, bis yang sesekali lewat, udara sejuk yang berangin, bangunan-bangunan yang tertata rapi, orang-orang yang berjalan santai, lambat, tidak terburu-buru. Kami sering bertemu dengan serombongan orang tua yang sepertinya juga sedang bervakansi di kota ini. Continue reading

elegi fatumnasi

0-cover-fatumnasi

Di jalanan ini aku banyak bertemu dengan orang hebat,
salah satunya adalah Mateos Anin, seorang bijak bestari dari Fatumnasi.
Ia mengajariku tentang arti sebuah ketulusan, ia juga yang menerima kehadiranku seperti anaknya sendiri.
~ Tekno Bolang : Kembara [2014]

Kami terantuk-antuk di bak belakang Toyota Fortuner yang kunaiki bersama Firsta dan Dea, serta tim dari ASITA NTT yang mengundang kami menjelajah pulau Timor. Dari kota Soe yang merupakan ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan itu, jalanan yang mula-mula berupa aspal mulus, lalu berubah menjadi agak kasar dengan tanjakan-tanjakan curam yang membuat kami harus berpegangan pada tepi bak mobil. Bukannya kami tak muat duduk di dalam kabin, tapi rasanya lebih asyik di luar dan merasakan angin menampar-nampar pipi dan meniup rambut, melihat hamparan tanah-tanah kering di sekitar sepanjang jalan. Continue reading

warisan lampau desa adat beleq, sembalun

0-cover-sembalun-desa-adat-beleq-blek

Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu berterima kasih kepadamu dan bersukaria 
Lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi beras di tampah, kemudian nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
[Emha Ainun Najib]

Bagian mana dari desa Sembalun yang menjadi favoritku? Aku rasa, aku suka semuanya. Terlebih lagi jika berada di ketinggian dan memperhatikan sawah-sawah yang menghampar permai di bawah sana, mendengarkan cericit burung dan angin yang mengalun.

Desa Sembalun ini bukan hanya Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung saja seperti yang sering diberitakan oleh media-media, namun lebih luas lagi di sekitarnya, begitu cerita Mbak Lia, pemilik Nauli Bungalow tempatku tinggal selama di Sembalun. Ia bercerita, sewaktu beberapa tahun yang lalu ada syuting film di sini, artis-artisnya merasa damai, karena bisa menjalani hidup seperti manusia biasa, tidak dikejar-kejar penggemar seperti biasa jika hidup di kota besar. “Kalau Dude Herlino yang datang, pasti dikerubutin juga sih..”
Continue reading

semilir nauli, bungalow di kaki rinjani

11-nauli-bungalow-sembalun-lombok-pekarangan

Aku tidak bisa menggambarkan seperti apa perasaanku ketika tiba di Nauli Bungalow tengah malam itu, selain perasaan yang campur aduk antara Rinjani, Sembalun, dan kenangan-kenangan tentangnya beberapa tahun sebelumnya. Sebenarnya aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke kaki Rinjani selama sehari semalam untuk memandangi gunung yang pernah gagal kudaki sampai puncak itu.

Namun tempat ini manis, dan teramat sayang untuk dilupakan. Di tengah hembusan angin, aku merasakan kehangatan tuan rumah yang membuatku nyaman. Tidak ada konter resepsionis atau lounge besar seperti halnya hotel berbintang, hanya satu bangunan ruang bersama dengan meja-meja makan dan televisi yang menyambut. Dingin gemerutuk seketika terasa ketika turun dari mobil. Kami duduk-duduk dulu di situ sambil bertemu mas Teguh yang sudah menanti perjalanan kami. Tanpa jendela kaca yang melindungi, angin menelusup lewat sisi-sisi bangunan.

“Lihat keluar sana, itu Rinjani sudah kelihatan,” kata mas Teguh, induk semang kami selama di Lombok.
Continue reading

mendamba flamboyan di lombok selatan

flamboyan-lombok-8

I need you like a blossom needs rain, like the winter ground needs spring-to soothe my parched soul.
Solange nicole

Hatiku girang bukan kepalang ketika pagi itu menerima sms berisi pemberitahuan bahwa aku terpilih sebagai peserta Travel Writer Gathering Lombok Sumbawa 2015. Ternyata CV yang kukirim cukup memikat juri untuk mengundangku berpartisipasi dalam acara mereka. Kupastikan lagi pemberitahuan itu lewat email dan itinerari yang dikirim kemudian.

Tapi aku sempat was-was tidak bisa berangkat karena aktivitas gunung Barujari anak Rinjani yang bergejolak dan membuat penerbangan dari dan ke Lombok ditutup. Ternyata bukan aku saja yang gelisah, namun panitia penyelenggara pun merasa demikian. Untunglah, ketika mereka memundurkan jadwal acara dua hari lebih lambat, aktivitas vulkanik sudah kembali normal, dan aku bersama Adie Riyanto dan Lutfi Retno berhasil terbang dan mendarat di bandara internasional Lombok, walaupun sempat drama tegang di atas pesawat yang ajrut-ajrutan dan membuat kami cemas. Peserta dari berbagai kota datang berangsur-angsur sehingga kami baru bisa melakukan perjalanan bersama keesokan harinya. Continue reading

desa mandeh yang permai

8-desa-mandeh-sumatera-barat

Konon kabarnya, di pelukan ibulah perasaan berubah menjadi damai, semua lelah sirna. Tak terkecuali ke desa Mandeh yang berarti ibu, menjadi rumah pulang selama tiga hari. Lelah sudah bertualang di laut pada siang, terdampar sore dan malam untuk beristirahat di sini. Terletak dikelilingi perbukitan, akses desa ini paling mudah adalah menggunakan kapal dari Carocok Tarusan, terus melalui muara memasuki sungai.

Kapal berderet bertambat di sepanjang sempadan. Sungai yang dangkal membuat kapal harus berjalan perlahan. Bilah kayu digunakan untuk mengemudi, mendorong kapal mengarahkan. Agar pertemuan dengan kapal-kapal lain yang melintas tidak terjadi tumbukan. Continue reading

hamparan hijau tembakau lombok

0-cover-tembakau-lombok

After some time he felt for his pipe. It was not broken, and that was something. Then he felt for his pouch, and there was some tobacco in it, and that was something more. Then he felt for matches and he could not find any at all, and that shattered his hopes completely.
― J.R.R. Tolkien, The Hobbit

“Hah, ke Lombok lagi?”
Begitulah kata mama yang baru berulang tahun ke 60 ketika aku mengutarakan undangan untuk ke Lombok. Sepertinya dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun aku ke Pulau Seribu Masjid ini sudah tiga kali walau pun tidak ada urusan proyek apa pun. Okelah, namanya juga hobi piknik.

Ternyata, undangan ke Lombok kali ini bukan piknik, bukan ke desa adat, bukan snorkeling ke gili, bukan leyeh-leyeh di resort, apalagi bukan mendaki gunung Rinjani yang jelita, melainkan mengamati dari dekat bagaimana pertanian tembakau menghidupi masyarakat Lombok Timur. Sisi hamparan hijau dari pulau ini yang selalu nampak dari udara adalah kebun tembakau hijau yang mendominasi dari arah timur hingga selatan Pulau Lombok. Bukan hamparan kangkung seperti yang selama ini dibangga-banggakan sebagai ikon kuliner khas pulau (lalu tetiba perut teringat pada plecing kangkung yang pedasnya membuat berkeringat, segar sih!). Tapi karena jalan-jalan ini bareng dengan blogger-blogger lainnya yang sudah cukup terkenal di dunia maya, dan penuh canda tawa, maka sepertinya perjalanan ini mendekati piknik.
Continue reading