orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan

Melakukan perjalanan sendirian, tentu saja tidak bisa semata menggantungkan harapan pada jadwal yang benar atau perjalanan yang lancar. Apalagi jika lokasinya di tempat yang jauh dari kehidupan sehari-hari dengan pola yang berbeda juga.

Sesudah dua hari berkeliling Ternate Tidore dengan sinyal Telkomsel yang tewas karena kabel bawah laut yang sedang diperbaiki padahal itinerari pun belum ada, atas petunjuk ibu pemilik penginapan, aku mengangkat ransel menuju pelabuhan Dufa-dufa, untuk menyeberang ke Jailolo. Speed boat berkapasitas 15 orang mengantar kami meninggalkan ibukota Maluku Utara untuk menuju pulau terbesar di propinsi tersebut, Halmahera. Continue reading

Advertisements

terang merdeka gunung sangar

 

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari.”
– Sukarno

Pekik ceria dari anak-anak yang mengikuti lomba makan kerupuk di kegelapan malam Desa Gunung Sangar itu memecah keheningan yang biasanya hanya ditimpali oleh suara tonggeret dan kodok yang bersahut-sahutan. Malam itu menjelang 17 Agustus 2017, di desa yang terletak di balik gunung gemunung Citeureup-Hambalang-Jonggol, namun hanya sekitar 40 km dari Jakarta itu diadakan berbagai lomba-lomba seperti acara-acara meriah di daerah lain di Pulau Jawa. Sengaja lomba-lomba ini diadakan di malam hari, untuk merasakan keriaan desa ini yang sudah memiliki listrik mandiri dengan tenaga mikro hidro beberapa bulan sebelumnya.

Desa Gunung Sangar ditempuh dengan perjalanan mobil selama dua jam dari Citeureup, yang berlanjut dengan berjalan kaki melewati jalan setapak selama 1-2 jam melalui beberapa punggungan hijau yang melingkupinya. Terdapat 18 rumah di sini dengan mata pencaharian sebagai petani, dengan tingkat pendidikan yang minim akibat kurangnya akses dari desa menuju titik-titik sosial di sekitarnya. Sebelumnya, penerangan di malam hari hanya menggunakan lampu minyak di rumah-rumah warga.  Continue reading

half day: miyajima

Karena tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Hiroshima, paginya aku langsung check out dari J-Hoppers, menitipkan ransel jinggaku dan hanya menenteng daypack hijau untuk mengunjungi Pulau Miyajima. Untunglah malam sebelumnya aku sempat mencicip okonomiyaki, hidangan olahan telur khas kota ini.

Dari stasiun Dobashi, aku naik streetcar hingga stasiun Hiroden-Nishi Hiroshima. Tak jauh dari situ, aku berjalan kaki ke stasiun Nishi-Hiroshima untuk berganti dengan kereta yang masuk jaringan JR. Untunglah, sehingga aku tak perlu membeli tiket lagi, hanya menunjukkan tiket JR Pass-ku untuk naik kereta ke Miyajima-guchi. Dari situ aku tinggal naik ferry selama 15 menit ke pulau Miyajima. Continue reading

pemandu lokal dari tidore

“We have all a better guide in ourselves, if we would attend to it, than any other person can be.”
― Jane Austen, Mansfield Park

Namanya Iki. Aku mengenalnya tepat ketika turun dari kapal yang membawaku menyeberang dari Pelabuhan Bastion ke Tidore. Ia langsung mengenali penampilanku yang ‘turis banget’ dan menawarkan jasanya untuk mengantarkanku berkeliling pulau rempah ini. Badannnya hitam dengan perawakannya tinggi besar. Semula aku agak takut, tapi ia cukup ramah apalagi sesudah menyepakati harga sebesar seratus dua puluh ribu hingga tiba lagi di pelabuhan. “Nanti foto-fotoin saya di spot-spot bagus, ya, Bang,” pintaku.

“Kalau turis memang biasanya lebih suka naik motor, kak. Lebih segar katanya,” ceritanya di awal perjalanan. Aku menyepakati perkataannya. Dengan naik motor, menikmati pemandangan langsung tanpa penghalang kaca jendela, mengatur cepat lambatnya perjalanan jika melihat sesuatu yang menarik. Continue reading

tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading

toraja tau-tau: berangkat dari rantepao

0-toraja-cover

Tang ki pomabanda penawa
Ya mo passanan tengko ki
Umpasundun rongko’ki
[lagu Toraja: Marendeng Marampa]

Aku terkantuk di dalam bis besar dengan trayek Makasar-Toraja ini yang meninggalkan poolnya pada jam 10 malam. Menurut info yang didapat, perjalanan di Sulawesi Selatan ini akan ditempuh dalam waktu 8 jam. Berada dalam bis dengan ukuran kursi lebar memeluk badan, ditambah bantal dan selimut yang menemani perjalanan, membuatku lekas berpindah ke alam mimpi hingga terbangun ketika pagi menjelang di sekitar kota Makale yang berhawa sejuk. Satu jam kemudian aku, Winny, dan Lukman tiba di kota Rantepao untuk menuju rumah salah satu teman yang asli orang Toraja, kak Olive di depan alun-alun.

Setelah menyegarkan tubuh, kak Olive menyarankan kami untuk berkeliling Rantepao, mulai dari mengunjungi makam di Londa, rumah adat di Kete’ Kesu’, dan makam batu di Lemo. Memang Toraja adalah salah satu destinasi impianku sejak dulu, sejak masa kuliah aku mengikuti seminar yang bercerita tentang rumah tongkonan yang menjadi ciri khas dari masyarakat adatnya. Di banyak tempat di Toraja, rumah adat ini masih banyak berdiri di satu lingkungan pemukiman yang terdiri dari beberapa rumah tongkonan. Continue reading

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

menyepi di engyoji himeji

0-himeji-japan-mount-shosha-engyoji-cover

To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

“Kota ini cocok untuk menghabiskan masa tua, ya,” demikian pendapat Windu, kira-kira 30 menit sesudah kami menginjakkan kaki di Himeji, satu kota di sebelah barat Osaka, yang ditempuh dalam satu jam kereta antar kota. Sesudah tiba di terminal bus dan mengetahui bahwa bis menuju Mount Shosa masih berangkat 30 menit kemudian, kami memilih untuk berjalan-jalan berkeliling sambil membeli bekal di gerai minimarket siap saji.

Suasana Himeji jauh berbeda dengan Osaka. Tak banyak mobil berlalu lalang, bis yang sesekali lewat, udara sejuk yang berangin, bangunan-bangunan yang tertata rapi, orang-orang yang berjalan santai, lambat, tidak terburu-buru. Kami sering bertemu dengan serombongan orang tua yang sepertinya juga sedang bervakansi di kota ini. Continue reading

elegi fatumnasi

0-cover-fatumnasi

Di jalanan ini aku banyak bertemu dengan orang hebat,
salah satunya adalah Mateos Anin, seorang bijak bestari dari Fatumnasi.
Ia mengajariku tentang arti sebuah ketulusan, ia juga yang menerima kehadiranku seperti anaknya sendiri.
~ Tekno Bolang : Kembara [2014]

Kami terantuk-antuk di bak belakang Toyota Fortuner yang kunaiki bersama Firsta dan Dea, serta tim dari ASITA NTT yang mengundang kami menjelajah pulau Timor. Dari kota Soe yang merupakan ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan itu, jalanan yang mula-mula berupa aspal mulus, lalu berubah menjadi agak kasar dengan tanjakan-tanjakan curam yang membuat kami harus berpegangan pada tepi bak mobil. Bukannya kami tak muat duduk di dalam kabin, tapi rasanya lebih asyik di luar dan merasakan angin menampar-nampar pipi dan meniup rambut, melihat hamparan tanah-tanah kering di sekitar sepanjang jalan. Continue reading

warisan lampau desa adat beleq, sembalun

0-cover-sembalun-desa-adat-beleq-blek

Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu berterima kasih kepadamu dan bersukaria 
Lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi beras di tampah, kemudian nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
[Emha Ainun Najib]

Bagian mana dari desa Sembalun yang menjadi favoritku? Aku rasa, aku suka semuanya. Terlebih lagi jika berada di ketinggian dan memperhatikan sawah-sawah yang menghampar permai di bawah sana, mendengarkan cericit burung dan angin yang mengalun.

Desa Sembalun ini bukan hanya Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung saja seperti yang sering diberitakan oleh media-media, namun lebih luas lagi di sekitarnya, begitu cerita Mbak Lia, pemilik Nauli Bungalow tempatku tinggal selama di Sembalun. Ia bercerita, sewaktu beberapa tahun yang lalu ada syuting film di sini, artis-artisnya merasa damai, karena bisa menjalani hidup seperti manusia biasa, tidak dikejar-kejar penggemar seperti biasa jika hidup di kota besar. “Kalau Dude Herlino yang datang, pasti dikerubutin juga sih..”
Continue reading