Mengembangkan Potensi Desa lewat Rural Enterpreneurship Bali Utara 2018

Sejak dulu, setiap kali aku liburan ke desa-desa di berbagai wilayah di Indonesia selalu terpikir, bagaimana jika suatu saat nanti aku tinggal di desa saja dan membuat usaha dari sini. Potensi-potensi alami dari penjuru ini bisa menjadi energi untuk kehidupan yang lebih baik. Pengembangan potensi desa ini tentu seharusnya bisa mengurangi minat orang untuk selalu memenuhi kota besar hingga sesak, dan menimbulkan banyak masalah yang harus diselesaikan. Keguyuban dan ketulusan masyarakat desa mungkin menjadi daya tarik, namun pendekatan terhadap masyarakatnya adalah tantangan tersendiri.

Untuk yang bekerja dan berusaha di kota besar, liburan dan waktu luang jauh dari hiruk pikuknya kota selalu menjadi hal yang diimpi-impikan. Mungkin rasanya tak cukup hanya akhir pekan saja untuk membayar lelahnya kerja selama satu minggu. Jika sudah terus menerus begitu, sering berat bertemu Senin lagi. Jika sudah begitu, muncul pemikiran kenapa tidak berusaha jauh dari kota saja? Dari desa-desa yang banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia ini.

Continue reading

Advertisements

selamat pagi desa binamzain asmat papua

“It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end.”
― Ursula K. Le Guin, The Left Hand of Darkness

Aku teringat pertama kali jatuh cinta pada Kolf Braza, adalah ketika pagi menyapa usai beristirahat setelah perjalanan panjang dari Agats. Kabut dan embun menyapa dari pucuk-pucuk pohon sagu, yang siluetnya memberikan dimensi kala mengedarkan pandangan mata. Udara dingin menggigit kulit, dengan semburat kebiruan di kejauhan, sementara burung-burung bersahutan menyambut pagi.

Aku melangkah pada jalan kayu yang melayang di atas tanah seperti pada titian, menghirup aroma pagi yang haru. Di sekumpulan sisi lain desa, anjing-anjing menggonggong membangunkan satu sama lain, seperti panggilan untuk memulai hari. Pagi yang setengah riuh dari Kolf Braza, sebelum matahari menggeliat dan pergerakan dimulai. Continue reading

kolf braza dari tepi sungai

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Kapal speedboat yang membawa kami menderu di sungai Aswet usai dilepas di Pelabuhan yang berada di belakang pasar Agats bersama menuju Distrik Kolf Braza yang menurut informasi berjarak sekitar enam jam dari ibukota kabupaten tersebut. Di pelabuhan tadi kami juga bertemu Kak Seto yang hendak ke Distrik Jetsy untuk beraktivitas dengan anak-anak. Tim yang berangkat adalah Prof. Heri Hermansyah, Albert Roring, Dr. Sri Wahyuni, dr. Taufik, dr. Firsandi, Dr. Chairul Hudaya, Indri Juwono, I Made Genta, Ade Putra dan Ahmad Lutfi. Di bawah bantuan komando Letda CKM dr. Marsandi yang juga merupakan alumni FKUI, tim berangkat jam 08.00 menggunakan tiga speedboat beserta logistik yang diperlukan. Tim juga dibantu oleh Sertu Anang dari SatgasKes III Asmat serta Pratu Hepsy dan Kopda Wahyu dari batalion yang mengawal perjalanan kami sehingga total anggota tim menjadi 14 orang.
Continue reading

cerita dari agats, kota sejuta papan

“To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.”
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

Setelah sekitar 10 jam perjalanan malam di laut, KRI Hasan Basri merapat di Pelabuhan Besar Agats, Papua pada jam 07.16 WIT. Malam sebelumnya kami berangkat dari Dock Freeport di Timika untuk menuju ibukota kabupaten Asmat ini melalui jalur laut. Jalur ini adalah salah satu pilihan menuju Agats dari Timika, selain menggunakan pesawat udara hingga bandara Ewer di Agats.

Hampir keseluruhan tanah di Agats adalah rawa-rawa, sehingga tak heran bahwa kota ini berdiri di atas tonggak-tonggak yang memenuhi setiap ujung kotanya. Sementara barang-barang diangkut lagi dengan perahu ketinting dari tepi pelabuhan, kami berjalan kaki menyusuri jalan di kota Agats. Tim UI Peduli bersama Satgas Kesehatan TNI akan berada di Asmat selama beberapa waktu untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Continue reading

kanca, dodola, dan doa seorang ayah

“All the beaches of the world, could never amount to, nor implore the one grain of sand that I stand on, which is your love.”
― Anthony Liccione

“Kak, kemarin ke Pulau Kakara, kan? Kayaknya aku lihat di dermaga,” seorang gadis manis berkulit terang menyapaku di fastboat tujuan Pulau Morotai yang kunaiki dari dermaga Tobelo. Sembari memeluk ponselku yang bekerja mencari tiket cara kembali dari Morotai ke Ternate, aku tersenyum dan membalas sapaannya. “Oh, iya? Memang kemarin di Kakara juga?” Rupanya gadis itu, yang kemudian kuketahui bernama June bersama temannya Friandry usai mengikuti Ruang Berbagi Ilmu di Pulau Bacan lalu menghabiskan sisa waktunya di Maluku Utara dengan ke Morotai. “Wah, keren ya ikut RUBI. Aku baru seringnya ikut Kelas Inspirasi saja,” obrolan kami tiba-tiba nyambung karena ternyata kami semua punya hobi mengajar dan memotivasi anak Indonesia di bidang pendidikan ini. Continue reading

orang-orang baik yang ditemui dalam perjalanan

Melakukan perjalanan sendirian, tentu saja tidak bisa semata menggantungkan harapan pada jadwal yang benar atau perjalanan yang lancar. Apalagi jika lokasinya di tempat yang jauh dari kehidupan sehari-hari dengan pola yang berbeda juga.

Sesudah dua hari berkeliling Ternate Tidore dengan sinyal Telkomsel yang tewas karena kabel bawah laut yang sedang diperbaiki padahal itinerari pun belum ada, atas petunjuk ibu pemilik penginapan, aku mengangkat ransel menuju pelabuhan Dufa-dufa, untuk menyeberang ke Jailolo. Speed boat berkapasitas 15 orang mengantar kami meninggalkan ibukota Maluku Utara untuk menuju pulau terbesar di propinsi tersebut, Halmahera. Continue reading

terang merdeka gunung sangar

 

“Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari.”
– Sukarno

Pekik ceria dari anak-anak yang mengikuti lomba makan kerupuk di kegelapan malam Desa Gunung Sangar itu memecah keheningan yang biasanya hanya ditimpali oleh suara tonggeret dan kodok yang bersahut-sahutan. Malam itu menjelang 17 Agustus 2017, di desa yang terletak di balik gunung gemunung Citeureup-Hambalang-Jonggol, namun hanya sekitar 40 km dari Jakarta itu diadakan berbagai lomba-lomba seperti acara-acara meriah di daerah lain di Pulau Jawa. Sengaja lomba-lomba ini diadakan di malam hari, untuk merasakan keriaan desa ini yang sudah memiliki listrik mandiri dengan tenaga mikro hidro beberapa bulan sebelumnya.

Desa Gunung Sangar ditempuh dengan perjalanan mobil selama dua jam dari Citeureup, yang berlanjut dengan berjalan kaki melewati jalan setapak selama 1-2 jam melalui beberapa punggungan hijau yang melingkupinya. Terdapat 18 rumah di sini dengan mata pencaharian sebagai petani, dengan tingkat pendidikan yang minim akibat kurangnya akses dari desa menuju titik-titik sosial di sekitarnya. Sebelumnya, penerangan di malam hari hanya menggunakan lampu minyak di rumah-rumah warga.  Continue reading

half day: miyajima

Karena tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Hiroshima, paginya aku langsung check out dari J-Hoppers, menitipkan ransel jinggaku dan hanya menenteng daypack hijau untuk mengunjungi Pulau Miyajima. Untunglah malam sebelumnya aku sempat mencicip okonomiyaki, hidangan olahan telur khas kota ini.

Dari stasiun Dobashi, aku naik streetcar hingga stasiun Hiroden-Nishi Hiroshima. Tak jauh dari situ, aku berjalan kaki ke stasiun Nishi-Hiroshima untuk berganti dengan kereta yang masuk jaringan JR. Untunglah, sehingga aku tak perlu membeli tiket lagi, hanya menunjukkan tiket JR Pass-ku untuk naik kereta ke Miyajima-guchi. Dari situ aku tinggal naik ferry selama 15 menit ke pulau Miyajima. Continue reading

pemandu lokal dari tidore

“We have all a better guide in ourselves, if we would attend to it, than any other person can be.”
― Jane Austen, Mansfield Park

Namanya Iki. Aku mengenalnya tepat ketika turun dari kapal yang membawaku menyeberang dari Pelabuhan Bastion ke Tidore. Ia langsung mengenali penampilanku yang ‘turis banget’ dan menawarkan jasanya untuk mengantarkanku berkeliling pulau rempah ini. Badannnya hitam dengan perawakannya tinggi besar. Semula aku agak takut, tapi ia cukup ramah apalagi sesudah menyepakati harga sebesar seratus dua puluh ribu hingga tiba lagi di pelabuhan. “Nanti foto-fotoin saya di spot-spot bagus, ya, Bang,” pintaku.

“Kalau turis memang biasanya lebih suka naik motor, kak. Lebih segar katanya,” ceritanya di awal perjalanan. Aku menyepakati perkataannya. Dengan naik motor, menikmati pemandangan langsung tanpa penghalang kaca jendela, mengatur cepat lambatnya perjalanan jika melihat sesuatu yang menarik. Continue reading

tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading