simpul belajar The Hive singapura

Memasuki kampus Nanyang Technological University di Singapura, suasana teduh dan sejuk melingkupi sebagian besar jalan-jalannya. Pikiranku melayang pada kampus almamater di tanah air yang juga berada di tengah hutan yang hijau, tapi sudah mulai penuh oleh bangunan. Bis tingkat yang membawa kami dari stasiun Bon Lay tadi ikut masuk dan mengelilingi jalan lingkar kampus. Kalau duduk di lantai atasnya, pemandangan kampus akan terpampang seluas jendela.

Tujuan kami, The Hive Learning Hub yang berada di setopan terakhir sebelum bis keluar dari jalur lingkar kampus NTU ini. Sesudah menunggu Intan yang naik bis berikutnya, kami hanya berjalan kaki hingga bangunan The Hive yang difungsikan sebagai simpul pertemuan, tidak hanya antar mahasiswa untuk saling bertukar wawasan dan ilmu, namun juga bisa bertemu rekanan bisnis yang diinisiasi dari kampus. Continue reading

Advertisements

upaya mengembalikan hijau

Good design is sustainable, Great design is responsible

Yang membuat aku banyak berpikir ketika mengunjungi beberapa bangunan yang menerapkan prinsip green building di Singapura ini, ternyata ada investor yang mau menanamkan modal yang cukup besar untuk sistem ini bisa dijalankan. Kebanyakan pengembang di negeri sendiri ketakutan dengan initial cost atau maintenance cost yang tinggi pada sistem dan tidak berpikir bahwa nilai penghematannya akan membuatnya untung sesudah beberapa tahun.

Bangunan-bangunan ini berdiri tidak hanya untuk jangka waktu yang pendek, sehingga bagaimana ia bekerja dan ‘menghidupi’ dirinya sendiri pun perlu dilakukan jangka panjang, tidak sekadar menaikkan biaya perawatan pada penyewa lantainya, tapi juga membuatnya cerdas dan hemat sehingga meminimalisasi dampak lingkungan terhadap generasi sesudahnya. Continue reading

bisik daun ti garut

0-garut-trauma-healing-pasca-banjir-story-telling-cover

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Sapardi Djoko Damono – Dalam Doaku

“Aku mau story telling, ya!”

Demikian usulku ketika bang Irvan memperlihatkan e-flyer acara Bisik Daun Ti Garut, sebuah acara yang diadakan sebagai bagian dari kegiatan Trauma Healing untuk korban banjir bandang di Garut beberapa waktu lalu. Anak-anak memang selalu mencuri perhatianku ketika bepergian ke mana pun karena wajah-wajah mereka yang polos membuat ingin berkenalan dan mengobrol. Story telling yang sepertinya hanya memakan waktu dua tiga jam saja pasti akan lebih mudah daripada masa mengajar di Kelas Inspirasi yang seharian. Walaupun sama-sama berhadapan dengan anak-anak, bercerita sepertinya lebih tidak harus membuat materi ajar yang terlalu berat. Kurang lebih sama seperti menulis, hanya saja diungkapkan secara verbal. Continue reading

dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?
Continue reading