melaka river cruise

    melaka adalah cerita tentang bandar
    pernah menjadi yang tersibuk di semenanjung
    melaka adalah cerita tentang air
    tempat hilir bertemu laut

foto1

Continue reading

Advertisements

kehilangan jejak di melaka

cover

“There is another alphabet, whispering from every leaf, singing from every river, shimmering from every sky.”
― Dejan Stojanovic

Perempuan itu melangkah turun dari bis yang membawanya dua jam lalu dari Terminal Bersepadu Sepadan di Kuala Lumpur. Hujan badai dan banjir di beberapa bagian ibukota negara Malaysia itu membuatnya terlambat berangkat hingga tiba di kota yang terkenal sebagai persinggahan kapal Portugis di masa lalu itu. Ia menguap. Dua orang yang tadi duduk di depannya mengobrol begitu keras hingga ia tidak dapat tidur di perjalanan. Badannya lelah dan ia ingin segera tiba di penginapan yang sudah dipesannya sebulan yang lalu.

Ia berjalan keluar terminal mengikuti arah orang-orang. Dipandangnya peta yang terpampang di ponselnya. Duh, aku sekarang menghadap mana ya? Ia mulai memperhatikan bangunan-bangunan sekitar sambil orientasi arah. Bukan hal yang terlalu sulit baginya.

Dilihatnya seorang gadis Tionghoa di depan terminal. “Hai, do you know how should I get to Jonker Street? tanyanya. Gadis itu tersenyum, “There’s a bus at the afternoon, but now you should go by taxi.” Continue reading

lintas petronas : ruang terbuka yang bersahabat

cover

A man in the skyscraper needs to feed a pigeon from his window to remember what great thing missing in his life: The touch of nature!
― Mehmet Murat ildan

Siang belum terlalu terik dan aku menengadahkan kepala memandang Menara Petronas. Bangunan yang didesain oleh Cesar Pelli setinggi 452 m itu harus dilihat sambil menudungkan tanganku di depan mata. Kilau keperakan yang membungkus bangunan dengan dengan circular struktur itu sesekali memberi pantulan silau. Aku teringat di masa kuliahku ketika kami belajar mengenai bangunan yang kala itu termasuk tertinggi di dunia. Ketika cita-cita kami masih setinggi langit yang dijangkau oleh arsitek-arsitek terkenal. Dan kali ini, aku berdiri di bawahnya, pencakar langit yang dibuka tahun tujuh belas tahun silam, dan kini masih tegak terawat. Ikon wisata negeri jiran, yang memanggil-manggil untuk dihampiri.

Aku tidak ikut mengantri untuk menaklukkan ketinggiannya. Sesuatu yang tinggi lebih indah dinikmati dari jauh, pikirku ketika itu. Satu permakluman karena aku tiba terlalu siang di Suria KLCC, mal berukuran cukup besar yang berada di podium bangunan Petronas ini. Tiket untuk naik ke atas hanya diberikan dalam jumlah terbatas setiap paginya.
Continue reading

batu cave & genting : outer kuala lumpur

cover

The cave you fear to enter holds the treasure you seek.
― Joseph Campbell


Sungguh, aku nggak tahu mau ke mana ketika aku membeli tiket promo CGK-KUL-CGK ini. Setelah membesarkan hati bahwa di Kuala Lumpur aku akan mencari bangunan-bangunan karya Ken Yeang, arsitek favoritku, maka aku menyusun beberapa rute. Tanya sana sini pada teman kantor yang pernah kuliah di Kuala Lumpur, mereka malah jarang jalan-jalan. Kalaupun iya, lebih banyak ke mal dan naik kendaraan pribadi.

Akhirnya aku mencontek perjalanan seseorang yang menghabiskan waktu satu hari di Kuala Lumpur. Dari situ aku memutuskan satu hari pertamaku ke Batu Caves dan Genting Highland. Tempat pertama aku tertarik karena tebing batu. Yang sering membaca post-ku mungkin tahu kalau aku tergila-gila pada tebing. Apalagi ada ratusan anak tangga di situ. Wih, cocok sekali untuk latihan fisik menjajal kekuatan sebelum menuju puncak nomor dua di Indonesia beberapa bulan kemudian, begitu angkuhku.

Tempat kedua, semata-mata karena rekomendasi mama, yang berpelesir ke sana beberapa tahun yang lalu. Katanya bagus, bagus, gitu. Aku sih sebenarnya tidak tertarik pada theme park atau kasino. Tapi ketika teman sekantorku cerita kalau ada kereta gantung menuju atas kawasan Genting yang cukup lama naiknya, aku langsung tertarik. Kereta gantung? Kereta gantung? Asyik banget naik kereta gantung di gunung!

Jadi, sesudah petualangan di KL Sentral itu, aku naik kereta ke stasiun Batu Caves. Stasiun ini ada di ujung sehingga nggak usah takut akan kelewatan. Begitu keluar stasiun, tebing-tebing batu yang besar itu sudah menghampar besar.
Continue reading

sejenak di kuala lumpur sentral: berhenti di titik silang ganti

cover

Think of life as a terminal illness, because if you do, you will live it with joy and passion, as it ought to be lived
~ Anna Quindlen

Panas menyengat ketika aku mendarat di bandara LCCT siang itu di hari terakhir bulan Agustus 2013 hampir jam 11 siang waktu setempat. Bermodal tiket promo yang kubeli sembilan bulan sebelumnya, akhirnya aku nekat pergi ke Malaysia seorang diri. Hore! Akhirnya pasporku berstempel juga. Benar, ini perjalanan ke luar negeriku yang pertama. Pikirku, kalau aku survive dengan transportasi Jakarta, kenapa di sini enggak?

Aku menghampiri shuttle bus yang terparkir berderet-deret di luar menuju terminal KL Sentral. Setelah menunjukkan pembayaran, aku memilih satu kursi di tepi jendela. Jalan tol tampak lengang dengan deretan pohon kelapa sawit di tepinya. Uwow, ini toh negeri jiran tempat berbondong-bondong perempuan dari negeriku mengadu nasib. Hampir satu jam di bus ketika memasuki kota Kuala Lumpur, dengan terowongan dan jalan layang di sana sini, dan gedung-gedung apartemen menjulang.

Aku mengecek ke googlemaps untuk tahu posisiku sudah sampai mana. Yes, I’m the googlemaps girl! Sebelum memutuskan untuk get lost ada baiknya mengetahui di mana lokasi terakhirku. Aku mengirim pesan lewat LINE ke seseorang di tanah air. “Udah sampai KL, nih!”

Bis memasuki area bawah tanah KL Sentral. Di sini berderet berbagai bus ke beberapa tujuan di Kuala Lumpur. Sebelumnya Muhidin, salah satu teman kuliah yang sekarang bekerja di Petronas, mengatakan,”Lo nanti turun di KL Sentral, Kuala Lumpur Sentral. Itu terminal keren banget, In. Kayak bandara!”
Continue reading