6 things to do at morrissey hotel residence jakarta

morrissey-jakarta-0

Arrived at Morrissey Hotel Residence by the end of December, find yourself walk through the stair and meet those red coach, chilling around by the lounge of the ‘klasse’ and warm yourself before join to the nest.

1. Cooking

Yes, all the room that you stay at Morrissey has the mini pantry that you can cook your food by yourself. Once you enter the room, there’s a table completed with electric stove, a kitchen sink, and a small microwave to heat up my food. That drawer under the table filled with the knife, spoons, cups, even pans for do a real cooking experience. Don’t be afraid of the smell, because an exhaust fan can suck all the smoke and smell out of our cooking experience. Even in the cabinet above can be found glasses and plates in various sizes that can be used. Bring your own instant food, and avoid starving. Continue reading

menemani senja di orange resto

0-cover-orange-resto-bogor

“Orange? Like Effie’s hair?” I say.
“A bit more muted,” he says. “More like sunset.”
― Suzanne Collins, Catching Fire

Apa sih harapanmu ketika senja tiba? Kalau mengingat masa kecilku dulu, senja adalah saat bermain, saat untuk bertamu, atau saat ketika sudah mandi dan berdandan rapi untuk minum teh dan membaca buku. Namun sore itu aku tiba di Orange Resto, yang berlokasi di Jl Sancang, tak jauh dari pintu tol Jagorawi, tanpa mandi dan tanpa larangan untuk masuk restoran dan memesan sejumlah penganan. Continue reading

himeji museum of literature, bahasa arsitektur tadao ando

0-cover-1

“What is it to die but to stand naked in the wind and to melt into the sun?”
― Kahlil Gibran, The Prophet

Orang Jepang sangat terkenal dengan kebiasaannya membaca. Sering dilihat dari berbagai ilustrasi, orang Jepang yang membaca di kereta, di bis, di taman, atau di banyak tempat. Mereka mempelajari tulisan-tulisan sastra sejak kecil, mulai dari legenda hingga cerita, kemudian sebagian menulis cerita juga di masa dewasa, dan tak sedikit yang mengembangkan dirinya dengan cerita bergambar. Maka tak heran, berbagai bangunan untuk mengakomodasi kecintaan rakyat Jepang terhadap literasi ini dibangun, salah satunya yang sengaja kukunjungi ketika berada di kota Himeji.

Selagi masih di kota ini, aku menemukan bahwa ada karya Tadao Ando yang berada di kota tersebut, yaitu Himeji Museum of Literature. Letaknya yang tak jauh dari jalur bis yang kami lewati sesudah turun dari Mount Shosha, tempat Kuil Engyoji berada. Hanya berjarak sekitar 200-an meter, kami menemukan dua bangunan dengan bentuk massa solid yang saling bersebelahan.
Continue reading

harris & pop hotel kelapa gading, strategis di jakarta utara

cover-pop-harris-hotel-kelapa-gading

Somethings in life aren’t as easy as drinking orange juice, see?
― William Astout

Kelapa Gading dikenal sebagai daerah yang berkembang sangat pesat dalam tiga dasawarsa ini. Berawal dari lahan kosong yang kemudian berkembang menjadi tanah permukiman, lambat laun Kelapa Gading menjadi area bisnis yang mumpuni untuk orang-orang yang bertinggal di situ. Daripada harus memulai usaha di tempat yang lebih jauh, dekat tempat tinggal menjadi satu alternatif pilihan.

Karena itu juga, ruko-ruko yang berderet di sepanjang Jalan Boulevard Raya tidak pernah sepi, seakan apa pun yang dijual di situ pasti laku. Aneka toko kue, restoran Cina, toko bangunan, biro jasa, bank, apotik, karaoke, atau bidang-bidang bisnis lainnya sukses menangguk untung di kawasan Jakarta Utara ini.

Pertokoan menjamur mulai dari sepanjang jalan Boulevar Raya, hingga berubah menjadi pusat bisnis yang diperhitungkan. Tak heran, lokasi Kelapa Gading yang berada dekat dengan kawasan industri Pulogadung, atau kawasan industri Sunter, maupun pelabuhan dagang terbesar yaitu Tanjung Priok membuatnya menjadi kawasan penunjang yang strategis. Puluhan perumahan terus tumbuh, juga gedung-gedung apartemen sebagai hunian.
Continue reading

liburan rasa ramadan di grand zuri BSD

grand-zuri-bsd-cover

Senangnya membaca email dari Grand Zuri Hotel BSD yang mengundangku menginap barang semalam. Bukan apa-apa, buatku yang tinggal di Depok yang kecil dan padat ini, pergi ke Bumi Serpong Damai alias BSD, walaupun harus melintasi 2 propinsi dan tiga kotamadya, selalu terasa bagaikan liburan. Area pemukiman yang direncanakan dengan cermat pada tahun 1986 ini makin berkembang pesat diikuti juga dengan area bisnisnya. Namun perencanaan di distrik BSD ini seperti sudah dipikirkan matang sejak tiga puluh tahun silam dengan jaringan infrastruktur jalan yang cukup besar dan tertata rapi. Makanya, kalau ada acara ke arah BSD dan sekitarnya sini, aku selalu senang, karena mata sedikit dimanjakan dengan keteraturan.

Sejak keluar tol hingga tiba di Grand Zuri Hotel BSD, jalan raya yang dilewati cukup lega, selalu menggodaku untuk bersepeda atau main sepatu roda meluncur di atasnya. Sekeluarnya dari pintu tol Alam Sutra, mobil membawa kami hingga Jalan Raya Serpong yang ramai lancar, terus hingga memasuki area BSD city. Melewati bundaran ITC BSD yang selalu ramai, terus ke arah Serpong hingga melewati mal Teraskota. Nah, Grand Zuri terletak tak jauh dari mal ini. Pas banget kalau mau jalan-jalan di BSD, karena lokasinya cukup strategis. Menurut Mbak Dhini, yang mengawal kami, lokasinya tak jauh dari Taman Tekno yang merupakan pusat bisnis industri BSD, sehingga okupansi hotelnya sering didapat dari aktivitas bisnis di situ. Hotel dengan arsitektur bergaya mediterania ini juga hanya berjarak sekitar 15 menit dari stasiun Rawabuntu, untuk naik kereta tujuan Jakarta.
Continue reading

gramedia central park : guilty pleasure

cover-logo-gramedia

Books loved anyone who opened them, they gave you security and friendship and didn’t ask for anything in return; they never went away, never, not even when you treated them badly.
― Cornelia Funke, Inkheart

Aku tercenung mendengar penjelasan mas Adit di Restoran Penang Bistro Central Park siang itu di acara peluncuran Gramedia Konsep Baru, Inspirasi yang Menghidupkan Ide Kamu. Gramedia Central Park tak lagi menjadi Toko Buku Gramedia, melainkan berubah konsep menjadi Toko Gramedia. Zaman yang telah berubah membuat gaya hidup masyarakat pun berubah. Gramedia kini tak lagi sekadar toko buku, namun juga mengembangkan suasana yang mendukung untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi. Isi Gramedia pun dibuat selain menarik pembeli buku, juga produk-produk lain yang berkaitan dengan buku.

Dulu aku pernah membaca satu cerita di majalah Bobo, tentang seseorang yang membuka usahanya dengan menjual buku. Lama-lama ia juga menjual alat-alat tulis, keperluan lain-lain, hingga tokonya penuh dan jarang menjual buku. Pada suatu hari datanglah seseorang ke toko buku itu dan menanyakan satu buku tertentu. Penjualnya mengatakan ia tidak menjual buku itu, sehingga pengunjung tadi mempertanyakan, kenapa ia masih menamakan tokonya toko buku?

Cerita ini begitu kuat ada di benakku sampai-sampai langsung terlintas di pikiranku ketika Toko Buku Gramedia akan berubah konsep menjadi Toko Gramedia. Akankah nasibnya menjadi seperti ini? Pikiranku menjadi semacam tidak rela mendengar toko ini menjual panci di samping buku memasak, atau sepeda di samping buku-buku olahraga.
Continue reading

jakarta : berjalan di jantung kota

cover

walk, friendship, and ice cream are good companion.

Lapangan Monas tidak pernah membosankan untuk dikunjungi. Area hijau seluas kurang lebih 80 ha ini sering menjadi pilihanku untuk bersantai. Kadang pagi, kadang siang, kadang malam. Lokasinya di jantung kota Jakarta membuatnya mudah dikunjungi. Apalagi dengan gedung-gedung pemerintahan di sekelilingnya, membuat akses transportasi mengitarinya tak pernah mati.

“Aku sering ke sini. Hampir setiap hari kalau naik kereta lewat sini. Kalau menunggu jadwal kereta malam juga di sini. Kadang-kadang pulang kantor ngobrol dengan teman-teman juga di lapangan monas,” ceritaku pada kak Tekno Bolang yang pagi itu datang duluan dengan Rio hijaunya. Janjian jam tujuh pagi, pemilik blog lostpacker.com baru tiba jam setengah sembilan sambil tersenyum lebar. Aku saja baru tiba jam delapan setelah jogging dari stasiun Gondangdia. Hari ini memang rencana jalan-jalan bareng Travel Blogger Indonesia di Jakarta.

Kami berjalan ke arah halte Museum Nasional sambil menunggu kak Firsta yang katanya datang naik bis transjakarta. Tepi Monas dengan jalur pedestrian dibatasi dengan pagar setinggi 3 meter. Beberapa tahun sebelumnya, gubernur Jakarta kala itu, Sutiyoso yang mengusulkannya. Akibatnya taman Monas tidak lagi bisa dimasuki dari mana pun, melainkan hanya bisa dari pintu-pintu besar di sudut-sudutnya. Banyak penentangan terhadap kebijakan ini dulu, karena menjadikan taman Monas tidak ramah lagi untuk warganya. Di pemerintahan sekarang, ada tambahan bangku-bangku di tepian pedestrian yang bisa digunakan untuk istirahat menikmati lalu lalang kendaraan.
Continue reading

graffiti restaurant : meet the hours

DSC_0587

Love, like a chicken salad or restaurant hash, must be taken with blind faith or it loses its flavor.
Helen Rowland

Perlu 15 menit bagiku untuk menyetir dari persimpangan Lebak bulus di depan PoinSquare dan Carefour untuk sampai di Hotel Mercure, tempat restoran Graffiti berada. Menerima undangan dari kak Olyvia Bendon untuk menemaninya bersantap malam di sana, aku tiba di lobby hotel yang ditata hangat dengan lampu bernuansa kuning. Ada satu pembatas unik dari besi yang bernuansa bulat-bulat dengan jarum jam. Wah, banyak waktu di sini.
Continue reading

sejenak di kuala lumpur sentral: berhenti di titik silang ganti

cover

Think of life as a terminal illness, because if you do, you will live it with joy and passion, as it ought to be lived
~ Anna Quindlen

Panas menyengat ketika aku mendarat di bandara LCCT siang itu di hari terakhir bulan Agustus 2013 hampir jam 11 siang waktu setempat. Bermodal tiket promo yang kubeli sembilan bulan sebelumnya, akhirnya aku nekat pergi ke Malaysia seorang diri. Hore! Akhirnya pasporku berstempel juga. Benar, ini perjalanan ke luar negeriku yang pertama. Pikirku, kalau aku survive dengan transportasi Jakarta, kenapa di sini enggak?

Aku menghampiri shuttle bus yang terparkir berderet-deret di luar menuju terminal KL Sentral. Setelah menunjukkan pembayaran, aku memilih satu kursi di tepi jendela. Jalan tol tampak lengang dengan deretan pohon kelapa sawit di tepinya. Uwow, ini toh negeri jiran tempat berbondong-bondong perempuan dari negeriku mengadu nasib. Hampir satu jam di bus ketika memasuki kota Kuala Lumpur, dengan terowongan dan jalan layang di sana sini, dan gedung-gedung apartemen menjulang.

Aku mengecek ke googlemaps untuk tahu posisiku sudah sampai mana. Yes, I’m the googlemaps girl! Sebelum memutuskan untuk get lost ada baiknya mengetahui di mana lokasi terakhirku. Aku mengirim pesan lewat LINE ke seseorang di tanah air. “Udah sampai KL, nih!”

Bis memasuki area bawah tanah KL Sentral. Di sini berderet berbagai bus ke beberapa tujuan di Kuala Lumpur. Sebelumnya Muhidin, salah satu teman kuliah yang sekarang bekerja di Petronas, mengatakan,”Lo nanti turun di KL Sentral, Kuala Lumpur Sentral. Itu terminal keren banget, In. Kayak bandara!”
Continue reading

pancake bersama sahabat

Pancakes-quote

Love is a bicycle with two pancakes for wheels. You may see love as more of an exercise in hard work, but I see it as more of a breakfast on the go.
― Jarod Kintz, This Book is Not for Sale

Sebenarnya aku bisa memasak pancake sendiri di rumah. Aku punya alat khususnya, kok. Mmm, maksudnya, aku punya wajan datar berdiameter 12 cm untuk mengubah adonan telur, terigu, gula dan susu itu berubah menjadi selapis pancake yang tinggal disiram sirup maple atau susu cair untuk dinikmati sendiri. Kalau kamu pernah membaca buku Pippi si Kaus Panjang karangan Astrid Lindgren, selalu ada adegan Pippi memasak pancake (diterjemahkan sebagai panekuk) untuk dimakan bersama Thomas dan Annika. Jika tidak dimakan di Pondok Serbaneka, mereka membawa panekuk ini untuk piknik di hutan.

Kalau akhirnya aku ingin makan pancake bersama Firsta dan kak Olive, masa iya mereka harus jauh-jauh ke rumahku di Depok? Lebih baik kami ketemuan di tengah kota saja, karena harus disadari bahwa DKI Jakarta ini propinsi, yang pasti akan memakan waktu untuk mencapai tempat satu sama lain. Posisi Firsta di Jakarta Timur, dan kak Olive di Jakarta Selatan, sementara kantorku di Jakarta Pusat, membuatku memilih tempat janjian di tengah-tengah. Mumpung Firsta sedang di Jakarta juga. Sesama traveler seperti kami ini, agak sulit mendapatkan janji temu yang agak pas.
Continue reading