nagasaki, kebangkitan kota pelabuhan

“You may say I’m a dreamer
But I’m not the only one
I hope someday you’ll join us
And the world will be as one”
Imagine-John Lennon

Ternyata Nagasaki memberi kesan yang tidak sama dengan Hiroshima. Kota ini jauh lebih tenang dan manis menyambutku dengan penuh keakraban. Mendung pagi menggelayut ketika aku menyusur tepi pelabuhan yang berangin cukup kencang. Kapal-kapal kayu dan besi yang bersandar di dermaga membuatku enggan beranjak dari papan-papan kayu yang berderak. Aku berkeliling di bagian luar bangunan pelabuhannya yang bertema gelombang, dengan lengkung-lengkung material zincalum sebagai dinding. Terasa sekali tempat ini sudah begitu modern, namun tetap berpadu cantik dengan perairan.

Seorang bapak tua yang sedang berolahraga pagi menyapaku ramah, “Ohayou gozaimasu. Good morning.” Aku membalasnya dengan senyuman dan kata-kata serupa. Udara berangin tak mengendurkan semangatnya untuk melakukan gerakan-gerakan ringan di tepi laut. Uh, semoga tidak hujan hari ini, pikirku melihat langit pagi yang kelabu. Sepanjang sisi pelabuhan banyak restoran-restoran dan kafe yang menghadap kapal-kapal yang parkir di situ. Tidak tercium bau amis seperti biasanya di tepi laut. Nagasaki menjadi kota pelabuhan yang cantik dan strategis dengan berbagai obyek wisata andalannya. Continue reading

Advertisements

half day: miyajima

Karena tidak ingin tinggal lebih lama lagi di Hiroshima, paginya aku langsung check out dari J-Hoppers, menitipkan ransel jinggaku dan hanya menenteng daypack hijau untuk mengunjungi Pulau Miyajima. Untunglah malam sebelumnya aku sempat mencicip okonomiyaki, hidangan olahan telur khas kota ini.

Dari stasiun Dobashi, aku naik streetcar hingga stasiun Hiroden-Nishi Hiroshima. Tak jauh dari situ, aku berjalan kaki ke stasiun Nishi-Hiroshima untuk berganti dengan kereta yang masuk jaringan JR. Untunglah, sehingga aku tak perlu membeli tiket lagi, hanya menunjukkan tiket JR Pass-ku untuk naik kereta ke Miyajima-guchi. Dari situ aku tinggal naik ferry selama 15 menit ke pulau Miyajima. Continue reading

mengheningkan cipta di hiroshima

Udara panas menyengat ketika aku turun di stasiun Hiroshima siang hari itu. Aku bergegas mencari pusat informasi untuk memperjelas cara menuju hostel dari stasiun. Sebenarnya aku sudah mencari tahu sebelumnya melalui google map, tapi tetap saja untuk lebih yakinnya, aku bertanya di kantor mungil itu. Karena aku tidak bisa berbahasa Jepang sama sekali, maka tourist information centre adalah salah satu tempat untuk mengorek keterangan menuju lokasi hingga sejelas-jelasnya. Dan di Jepang, fungsi ini selalu berada dekat atau di stasiun.

Keluar dari stasiun, aku menaiki streetcar (tram) jalur kuning tujuan Dobashi. Kuhitung ada 13 stasiun hingga streetcar ini akan berhenti di tempat aku aku turun. Peta di tanganku bertuliskan huruf kanji buta kubaca, namun juga dilengkapi dengan tulisan latin. Peta ini cukup lengkap informasinya, termasuk cara transit streetcar antar jalur, cara menukar uang kecil di mesin, sampai beberapa lokasi wisata favorit. Untunglah, di setiap perhentian diumumkan nama stasiun yang lamat-lamat kucocokkan dengan tulisan di peta. Ransel jinggaku kuletakkan di lantai trem sehingga agak menghalangi orang lewat. Berkali-kali aku bilang ‘sorry’ sambil menundukkan kepala.

Ting! “Dobashi!” seru pengeras suara di dalam streetcar. Continue reading

jalan asia afrika: nuansa kolonial masa lampau bandung

Jalan raya Asia Afrika menjadi salah satu destinasi favorit sejak kecil di Bandung. Ketika bertinggal di Jalan Lengkong di masa kanak-kanak, kerap kali ayah dan ibu membawaku untuk menyusuri jalan ini hingga alun-alun Bandung untuk melatih langkah kakiku yang mungil. Dahulu jalan Asia Afrika adalah salah satu ruas Groote Postweeg atau Jalan Pos yang diinisiasi oleh Gubernur Jenderal Daendels yang dimaksudkan sebagai jalan utama yang mendorong pertumbuhan kota dan pusat bisnis di sekitarnya. Berbagai bangunan memiliki fungsi sama sejak seabad yang lalu, hanya nama institusi kepemilikannya yang berubah-ubah. Namun tak sedikit juga yang beralih fungsi walaupun tetap mempertahankan bentuk aslinya.

“Bandung, ibukota Priangan, semasa era kemerdekaan nasional juga mashur di dunia, sebagai ibukota Asia-Afrika, karena di sinilah untuk pertama kali diselenggarakan Konferensi Asia-Afrika, 1955. Bahwa Bandung terkenal juga sebagai ibukota Asia-Afrika memang bukan suatu kebetulan. Setelah usai Perang Dunia II, Vietnam dan Indonesia tampil sebagai pelopor Asia-Afrika yang membebaskan diri dari kolonialisme. Vietnam pada 15 Agustus 1945 dan Indonesia dua hari setelah itu, 17 Agustus 1945. Vietnam dan Indonesia telah membuktikan, bangsa jajahan bisa memerdekakan diri dari kekuasaan kolonial Dunia Utara. Maka sejak itu Asia-Afrika bergolak untuk memerdekakan dirinya. Tanpa keberhasilan dua negara pelopor ini sulit dibayangkan gerakan-gerakan kemerdekaan di Dunia Selatan bisa sukses.”
Pramoedya Ananta Toer – Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Continue reading

pemandu lokal dari tidore

“We have all a better guide in ourselves, if we would attend to it, than any other person can be.”
― Jane Austen, Mansfield Park

Namanya Iki. Aku mengenalnya tepat ketika turun dari kapal yang membawaku menyeberang dari Pelabuhan Bastion ke Tidore. Ia langsung mengenali penampilanku yang ‘turis banget’ dan menawarkan jasanya untuk mengantarkanku berkeliling pulau rempah ini. Badannnya hitam dengan perawakannya tinggi besar. Semula aku agak takut, tapi ia cukup ramah apalagi sesudah menyepakati harga sebesar seratus dua puluh ribu hingga tiba lagi di pelabuhan. “Nanti foto-fotoin saya di spot-spot bagus, ya, Bang,” pintaku.

“Kalau turis memang biasanya lebih suka naik motor, kak. Lebih segar katanya,” ceritanya di awal perjalanan. Aku menyepakati perkataannya. Dengan naik motor, menikmati pemandangan langsung tanpa penghalang kaca jendela, mengatur cepat lambatnya perjalanan jika melihat sesuatu yang menarik. Continue reading

ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

Kevin Lynch mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen penting dalam pembentukan imaji fisik suatu kota. Dalam bukunya yang berjudul Image of the City, terdapat pengaruh-pengaruh dari pencitraan yang dilihat secara fisik untuk memperkuat makna kota. Mengacu pada lima elemen, yaitu path, edge, district, node, dan landmark, yang seringkali berulang lagi dalam satu lingkungan, bukan hanya seluas fungsi kota, unsur-unsur ini muncul bukan hanya karena sengaja dibangun oleh manusia, tapi bisa juga memang muncul karena kegiatan manusianya yang membuat unsur ini menjadi berfungsi dengan sendirinya.

Bukan berarti jika elemen-elemen ini tidak dipenuhi, maka suatu tempat tidak layak disebut kota, karena ini hanyalah salah satu tengara fisik yang mudah diamati ketika berkeliling kota, ketimbang harus memahami batas-batas administratif yang ditentukan oleh pemerintahan. Berkeliling pada satu sisi Pulau Ternate di sebelah timur menghadap Laut Jailolo, tempat mayoritas kegiatan bisnis dan sosial berlangsung yang tidak banyak berubah sejak masa perdagangan Portugis hingga VOC. Pola perkotaan yang berbasis pada laut, mengakibatkan orientasi kota tidak mengacu pada pusat tertentu, melainkan pada tepian laut lepas. Karena itu area kegiatan sosial lebih banyak terletak di tepian perairan yang mengelilingi pulau.
Continue reading

dua puluh empat jam di Palu

Sebelum memulai petualangan di lautan Sulawesi Tengah, aku tiba di Palu, ibukota propinsi yang selama ini hanya tahu dari buku geografi saja. Mendarat di sini pada jam setengah sebelas WITA, rasanya seperti sudah tengah hari saja, karena kota ini memang berada dekat dengan garis khatulistiwa dengan posisinya di 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT.

Dilihat dari udara, kota ini didominasi oleh atap seng gelombang yang menjadi penutup bangunan-bangunan dengan berbagai warna. Ketika mengobrol dengan supir yang menjemput kami, memang di Palu tidak banyak ada tanah liat sehingga tidak umum mengubahnya menjadi genting. Kalauppun ada, pasti hanya digunakan sebagai bata saja.

Kota Palu berada di tengah teluk Palu, berbentuk memanjang dari timur ke barat, sehingga garis pantainya memanjang berbentuk huruf U. Di tengahnya, terdapat Sungai Palu yang dihubungkan dengan jembatan Palu berwarna kuning yang cukup terkenal. Area pusat kota lebih banyak pada Palu di sisi timur teluk, termasuk area perdagangan dan pusat pemerintahan, sementara yang arah ke barat relatif lebih sepi. Namun, di sisi selatannya, kota juga berkembang dengan pesat dengan jalan-jalan aspal yang bagus dan lebar.  Continue reading

sensasi varanasi

Varanasi is older than history, older than tradition, older even than legend, and looks twice as old as all of them put together
– Mark Twain

“Do you know that this city has three names?” demikian Shiva, supir tuktuk yang mengantar kami berkeliling ke kota tua Benares bertanya. Saya menggelengkan kepala sambil menunggu penjelasannya. Ia melanjutkan cerita bahwa dahulu kota ini bernama Kashi, yang dialiri oleh sungai Varuna, sehingga diberi nama Varanasi. Selain itu oleh penduduk setempat, kota ini juga dikenal sebagai Benares atau Banaras, terutama di kawasan kota tuanya di mana terdapat perguruan tinggi terkemuka Banaras Hindu University. Rupanya selain sungai Gangā yang menjadi banyak tujuan wisata budaya dari mancanegara, sungai Varuna juga memiliki peranan penting dalam sejarah kota. Continue reading

seandainya ada om-telolet-om di kolkata


“Clouds come floating into my life, no longer to carry rain or usher storm, but to add color to my sunset sky.”
― Rabindranath Tagore, Stray Birds

Pagi di Kolkata menampilkan sinar mataharinya malu-malu. Sudah empat jam sejak pendaratanku di Bandara Netaji Subhas Chandra Bose dari Kualalumpur tengah malam tadi, yang kuhabiskan dengan berusaha tidur di kursi ruang kedatangan sambil menggigil kedinginan karena AC yang cukup dingin. Usai melewati imigrasi dengan mudah, mungkin karena wajah Asia yang cukup bersahabat ini, serta dokumen-dokumen yang lengkap, resmilah kami menjadi turis di India.

Sesudah menukarkan lembaran 100 dolar dengan 6100 rupee, kami keluar dari bandara dan langsung disambut oleh deretan taksi warna kuning. Wah, taksi ini lucu sekali, seperti yellow cab di New York rasanya. Karena kami sudah membeli tiket taksi seharga 280 rupee hingga Howrah Junction Station, jadi tak ada tawar-tawaran lagi, langsung naik ke taksi yang sudah berbaris rapi. Continue reading

IJSW 2017: memperkenalkan ‘jakarta’

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-0-cover

Liburan kali ini mendadak harus kembali ke kampus sesudah ada pemberitahuan seru, International Joint Eco City Workshop & Studio, yang diselenggarakan bareng dengan Cardiff University dari Inggris dan Florida University dari Amerika. Jadi beberapa mahasiswa dari dua perguruan tinggi ini bergabung dengan Universitas Indonesia di Departemen Arsitektur FTUI untuk bersama-sama melakukan workshop tentang lingkungan di Indonesia, khususnya Jakarta, Depok dan sekitarnya. Kota ini memang banyak menyimpan kejutan-kejutan di balik pembangunannya yang pesat dan seolah tak kenal henti. Sebagai ibukota negara dengan penduduknya yang amat padat, ada berbagai hal yang perlu dibangun untuk menuju kota yang berkelanjutan. Continue reading