tafisa-jakarta-2016-11-balap-bakiak

sportivitas alami permainan tradisional di TAFISA 2016

tafisa-jakarta-2016-11-balap-bakiak

‘I’ve got the snitch!’ he shouted, waving it above his head, and the game ended in complete confusion.
J.K. Rowling, Harry Potter & The Sorcerer’s Stone

Buat aku yang menghabiskan masa kecil keliling pulau Jawa, pasti akrab dengan segala permainan sore hari yang sering dimainkan bareng teman-teman di berbagai kota. Salah satu yang paling diingat adalah bentengan! Pernah bermain bentengan di masa kecil? Sepertinya sih terakhir main bentengan waktu SMP kelas 1 di Blitar, bikin berisik se-RT karena teriak-teriakan seru, demi memperebutkan tiang listrik oleh sekelompok orang? Apa coba filosofinya? Menurutku bentengan ini membawa nilai-nilai untuk memperjuangkan terus apa yang kita mau, hingga posisi itu jadi milik kita. Tentunya dengan kerjasama antar teman-teman yang berlarian dengan riang gembira serta kejujuran dan sportivitas antar kita sendiri. Karena, permainan seperti ini kan nggak ada wasitnya, apalagi Komite atau Persatuan Nasional-nya, sehingga aturan-aturannya diketahui dan disepakati bersama sebelum main. Kalau ketahuan curang, siap-siaplah di-huu dan disebelin jadi teman. Makanya, asyik-asyik sajalah. Continue reading

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?
Continue reading

arsitektur dan sustainabilitas, sebuah harapan untuk keseimbangan

arsitektur-sustainabilitas-writing

Menghadapi bumi yang semakin tua ini, sustainable architecture atau yang biasa dikatakan arsitektur berkelanjutan adalah topik yang menarik untuk dipelajari. Arsitektur sebagai peninggalan ikon waktu menjadi salah satu bentukan yang mengubah bentuk alam menjadi bentuk binaan. Perubahan-perubahan tapak yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia ini seringkali melupakan bahwa sebenernya kehidupan manusia sebagai pengguna ruang bangunan amat tergantung oleh alam, karena itu bagaimana pun desain lingkungan binaan, harus selalu memperhatikan alam, mengembalikan keseimbangan dan tidak menjadi pongah. Continue reading

menyepi di engyoji himeji

0-himeji-japan-mount-shosha-engyoji-cover

To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

“Kota ini cocok untuk menghabiskan masa tua, ya,” demikian pendapat Windu, kira-kira 30 menit sesudah kami menginjakkan kaki di Himeji, satu kota di sebelah barat Osaka, yang ditempuh dalam satu jam kereta antar kota. Sesudah tiba di terminal bus dan mengetahui bahwa bis menuju Mount Shosa masih berangkat 30 menit kemudian, kami memilih untuk berjalan-jalan berkeliling sambil membeli bekal di gerai minimarket siap saji.

Suasana Himeji jauh berbeda dengan Osaka. Tak banyak mobil berlalu lalang, bis yang sesekali lewat, udara sejuk yang berangin, bangunan-bangunan yang tertata rapi, orang-orang yang berjalan santai, lambat, tidak terburu-buru. Kami sering bertemu dengan serombongan orang tua yang sepertinya juga sedang bervakansi di kota ini. Continue reading

menilik ketinggian korowai lewat arsitektur

Papua, sang mutiara dari timur ini menyimpan rahasia yang disembunyikan dalam jalur-jalur yang sulit dilalui, perjalanan berhari-hari yang membuat banyak bagian dari pulau ini terisolasi dari perhatian negeri. “Dari Jayapura kami terbang ke Dekai, kemudian naik kapal selama 2 hari hingga Bumama, lalu berjalan kaki menembus hutan selama 2 hari hingga desa Yafufla, titik sebelum memasuki hutan tempat tinggal suku Korowai, yang masih harus ditempuh 2 jam perjalanan,” jelas Kevin Aditya Geovanni, ketua pelaksana Ekskursi Arsitektur ke pedalaman Korowai dalam pembukaan pameran dokumentasi arsitektur Menggapai Tonggak Cakrawala, di Museum Nasional 14-20 Maret 2016.

Siapa yang tak ingin tahu Papua, pulau besar di ujung timur nusantara, yang menyimpan aneka pesona, mulai dari hutan lebat, bawah laut yang indah, puncak-puncak gunung bersalju, penduduknya yang misterius, hingga perut-perut buminya berisi kekayaan yang mengundang decak serakah segelintir orang negeri.
Continue reading

riak menari sungai musi

0-cover-musi-palembang-kapal-XX


dalam diriku mengalir sungai panjang,
darah namanya;
dalam diriku menggenang telaga darah,
sukma namanya;
dalam diriku meriak gelombang sukma,
hidup namanya;
dan karena hidup itu indah,
aku menangis sepuas-puasnya

― Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni

Sumatera adalah titik istimewa karena salah satu sisinya yang menghadap ke Selat Malaka, sebagai jalur persinggahan atas pelayaran jarak jauh dari Eropa ke Cina. Setelah pelayaran berbulan-bulan di Samudera Hindia, laut tenang di Selat Malaka menjadikan pesisir Sumatera sebagai pelabuhan alami yang merupakan tempat aman untuk reparasi kapal serta berdagang kapur barus, kemenyan, emas, dan lada. Tak pelak lagi, bandar-bandar di sisi timur Sumatera menjadi berposisi strategis sebagai ruang timbunan barang dagangan dan Sriwijaya adalah salah satu bandar yang bersinar.  Continue reading

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

mentari mesem dari lasem

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

Tahukah kamu betapa bahagianya bangun tidur di tengah desa?
Bersepeda menuju tengah sawah sambil bertemu dengan anak-anak sekolah tertawa riang
Sembari menanti matahari yang terbit dari sisi bukit, bersembunyi malu-malu lalu perlahan mendadak terang.

Tahukah kamu bahwa menghirup udara ini adalah kemewahan sederhana?
Berkilometer jauh dari kota untuk menemukan sejuk menghembus sedikit
Sembari melambaikan tangan pada para petani berangkat usai pagi menggigit. Continue reading

0-tanjungputing-camp-leakey-jetty

berburu kasih sayang di camp leakey, tanjung puting

0-tanjungputing-camp-leakey-jetty

Seperti manusia, setiap individu orangutan memiliki kepribadian unik. Orangutan punya kompleksitas dan kerentanan emosi seperti manusia. Mereka juga bisamenunjukkan trauma, gangguan jiwa, juga afeksi terhadap yang dicinta. Itu yang selalu diceritakan orang-orang di sini tentang orangutan, dan meskipun baru empat hari melihat langsung, aku melihat kebenarannya.
Dewi ‘Dee’ Lestari – Supernova : Partikel

Apa sih yang dipikirkan Zarah Amala ketika ia melintasi jalur kayu di Camp Leakey ini? Pasti ia tidak berpikir apa-apa, masih menghitungnya sebagai pengalaman baru. Sepertiku, yang berjalan dengan santai, sambil menengok kaki-kaki kayu adakah orangutan di sana sedang bergelantungan?

Dan di ujung jalur kayu itu. Ada.

Continue reading

5-tanjungputing-pondok-tanggui-JALAN

pondok tanggui, cerita tanjung puting dan tapak hijau

5-tanjungputing-pondok-tanggui-JALAN

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.
Dewi ‘Dee’ Lestari, Supernova: Partikel

Diiringi cericit burung dan teriakan bekantan dan owa, pagi di tepi sungai itu pun gaduh. Tak seorang pun dari kami yang berniat bermalas-malasan dengan menunda bangun. Di pojok depan, Felicia membuka buku kitabnya tentang burung-burung tropis sambil berdiskusi dengan Indra tentang seekor spesies yang baru lewat. Lanny membaca buku sembari menanti sarapan siap, sementara aku, Putri dan Ima terpesona dengan primata pohon di seberang sungai yang sedang beraktivitas pagi.

Kelotok belum bergerak, namun gerakan-gerakan penghuninya sudah membuatnya bergetar. Di belakang, dua orang tukang masak menyiapkan pengganjal perut kami, sementara seorang kru mengisi air kamar mandi. Sayangnya tak satu pun dari kami yang berniat mandi. Indra berteriak menunjukkan burung King Fisher yang menclok di batang pohon tak berdaun. Cantik sekali, warnanya biru dan kuning terlihat nyata di depan langit berawan.
Continue reading