Category Archives: green environment

dua puluh empat jam di Palu

Sebelum memulai petualangan di lautan Sulawesi Tengah, aku tiba di Palu, ibukota propinsi yang selama ini hanya tahu dari buku geografi saja. Mendarat di sini pada jam setengah sebelas WITA, rasanya seperti sudah tengah hari saja, karena kota ini memang berada dekat dengan garis khatulistiwa dengan posisinya di 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT.

Dilihat dari udara, kota ini didominasi oleh atap seng gelombang yang menjadi penutup bangunan-bangunan dengan berbagai warna. Ketika mengobrol dengan supir yang menjemput kami, memang di Palu tidak banyak ada tanah liat sehingga tidak umum mengubahnya menjadi genting. Kalauppun ada, pasti hanya digunakan sebagai bata saja.

Kota Palu berada di tengah teluk Palu, berbentuk memanjang dari timur ke barat, sehingga garis pantainya memanjang berbentuk huruf U. Di tengahnya, terdapat Sungai Palu yang dihubungkan dengan jembatan Palu berwarna kuning yang cukup terkenal. Area pusat kota lebih banyak pada Palu di sisi timur teluk, termasuk area perdagangan dan pusat pemerintahan, sementara yang arah ke barat relatif lebih sepi. Namun, di sisi selatannya, kota juga berkembang dengan pesat dengan jalan-jalan aspal yang bagus dan lebar.  Continue reading dua puluh empat jam di Palu

sportivitas alami permainan tradisional di TAFISA 2016

tafisa-jakarta-2016-11-balap-bakiak

‘I’ve got the snitch!’ he shouted, waving it above his head, and the game ended in complete confusion.
J.K. Rowling, Harry Potter & The Sorcerer’s Stone

Buat aku yang menghabiskan masa kecil keliling pulau Jawa, pasti akrab dengan segala permainan sore hari yang sering dimainkan bareng teman-teman di berbagai kota. Salah satu yang paling diingat adalah bentengan! Pernah bermain bentengan di masa kecil? Sepertinya sih terakhir main bentengan waktu SMP kelas 1 di Blitar, bikin berisik se-RT karena teriak-teriakan seru, demi memperebutkan tiang listrik oleh sekelompok orang? Apa coba filosofinya? Menurutku bentengan ini membawa nilai-nilai untuk memperjuangkan terus apa yang kita mau, hingga posisi itu jadi milik kita. Tentunya dengan kerjasama antar teman-teman yang berlarian dengan riang gembira serta kejujuran dan sportivitas antar kita sendiri. Karena, permainan seperti ini kan nggak ada wasitnya, apalagi Komite atau Persatuan Nasional-nya, sehingga aturan-aturannya diketahui dan disepakati bersama sebelum main. Kalau ketahuan curang, siap-siaplah di-huu dan disebelin jadi teman. Makanya, asyik-asyik sajalah. Continue reading sportivitas alami permainan tradisional di TAFISA 2016

tertawan arsitektur tongkonan

0-toraja-kete-kesu-tongkonan-banua

Di bawah langit biru cerah dan awan-awan yang sedikit berhamburan, aku tiba di depan sawah membentang dan beberapa ekor kerbau menyambut di tepian jalan. Berjalan kaki dari tepi jalan raya yang tidak terlalu lebar, aku menuju Kete’ Kesu’, salah satu pemukiman adat Toraja yang cukup terkenal dan sering dijadikan titik kunjungan turis yang bertandang ke Rantepao, Sulawesi Selatan.

Dengan tebing batu sebagai latar belakang, berdiri 5 tongkonan, rumah adat Toraja berukuran besar yang berjajar di depan 10 tongkonan kecil yang berfungsi sebagai lumbung. Dari cerita di situ dijelaskan bahwa tongkonan ini sudah berusia ratusan tahun dan melewatkan beberapa generasi yang tinggal di situ. Kata “tongkonan“ berasal dari bahasa Toraja “ Ma’ Tongkon” yang berarti “duduk”, melaras pada cerita bahwa rumah Tongkonan itu ditempati untuk duduk berkumpul milik tetua adat berdiskusi membicarakan permasalahan dari anggota masyarakat dan keturunannya. Continue reading tertawan arsitektur tongkonan

dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?
Continue reading dunia anna : utang energi pada lingkungan

arsitektur dan sustainabilitas, sebuah harapan untuk keseimbangan

arsitektur-sustainabilitas-writing

Menghadapi bumi yang semakin tua ini, sustainable architecture atau yang biasa dikatakan arsitektur berkelanjutan adalah topik yang menarik untuk dipelajari. Arsitektur sebagai peninggalan ikon waktu menjadi salah satu bentukan yang mengubah bentuk alam menjadi bentuk binaan. Perubahan-perubahan tapak yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia ini seringkali melupakan bahwa sebenernya kehidupan manusia sebagai pengguna ruang bangunan amat tergantung oleh alam, karena itu bagaimana pun desain lingkungan binaan, harus selalu memperhatikan alam, mengembalikan keseimbangan dan tidak menjadi pongah. Continue reading arsitektur dan sustainabilitas, sebuah harapan untuk keseimbangan

menyepi di engyoji himeji

0-himeji-japan-mount-shosha-engyoji-cover

To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

“Kota ini cocok untuk menghabiskan masa tua, ya,” demikian pendapat Windu, kira-kira 30 menit sesudah kami menginjakkan kaki di Himeji, satu kota di sebelah barat Osaka, yang ditempuh dalam satu jam kereta antar kota. Sesudah tiba di terminal bus dan mengetahui bahwa bis menuju Mount Shosa masih berangkat 30 menit kemudian, kami memilih untuk berjalan-jalan berkeliling sambil membeli bekal di gerai minimarket siap saji.

Suasana Himeji jauh berbeda dengan Osaka. Tak banyak mobil berlalu lalang, bis yang sesekali lewat, udara sejuk yang berangin, bangunan-bangunan yang tertata rapi, orang-orang yang berjalan santai, lambat, tidak terburu-buru. Kami sering bertemu dengan serombongan orang tua yang sepertinya juga sedang bervakansi di kota ini. Continue reading menyepi di engyoji himeji

menilik ketinggian korowai lewat arsitektur

Papua, sang mutiara dari timur ini menyimpan rahasia yang disembunyikan dalam jalur-jalur yang sulit dilalui, perjalanan berhari-hari yang membuat banyak bagian dari pulau ini terisolasi dari perhatian negeri. “Dari Jayapura kami terbang ke Dekai, kemudian naik kapal selama 2 hari hingga Bumama, lalu berjalan kaki menembus hutan selama 2 hari hingga desa Yafufla, titik sebelum memasuki hutan tempat tinggal suku Korowai, yang masih harus ditempuh 2 jam perjalanan,” jelas Kevin Aditya Geovanni, ketua pelaksana Ekskursi Arsitektur ke pedalaman Korowai dalam pembukaan pameran dokumentasi arsitektur Menggapai Tonggak Cakrawala, di Museum Nasional 14-20 Maret 2016.

Siapa yang tak ingin tahu Papua, pulau besar di ujung timur nusantara, yang menyimpan aneka pesona, mulai dari hutan lebat, bawah laut yang indah, puncak-puncak gunung bersalju, penduduknya yang misterius, hingga perut-perut buminya berisi kekayaan yang mengundang decak serakah segelintir orang negeri.
Continue reading menilik ketinggian korowai lewat arsitektur