ziarah keramik gunung jati

0-ziarah-keramik-gunung-jati

Suatu hari, pernahkah kau teringat bahwa
ziarah adalah berkencan dengan sepi?
Menuju ruang persinggahan antara yang fana
dan baka dalam tetumbuh batu nisan.
Di sini, mengingat kembali hal muasal yang terjadi
ratusan tahun lalu,
ketika nama-nama itu masih hidup.

Dinding-dinding putih itu berbicara
tentang negeri jauh,
Menyeberang lautan, asal dari Ratu Ong Tien.
Serupa keramik yang menempuh perjalanan
panjang untuk menemani sang puteri,
dipersunting Sunan Gunung Jati
Continue reading

Advertisements

mega mendung dalam batik trusmi

0-cover-batik-trusmi-cirebon-x

“Apa guna warna langit dan bunyi jengkerik? Apa guna sajak dan siul? Yang buruk dari kapitalisme adalah menyingkirkan hal-hal yang percuma.”
― Goenawan Mohamad, Pagi dan Hal-Hal yang Dipungut Kembali

Berulang kali aku pulang ke Cirebon, bisa dibilang aku tidak pernah menyempatkan diri ke pusat batik Trusmi yang terkenal itu, karena lokasinya yang cukup jauh dari rumah keluarga. Padahal motif mega mendungnya yang terkenal itu terpapar hampir di semua tempat khas di Cirebon.

Ternyata, lokasi sentra batik di daerah Trusmi ini cukup mudah dicapai, bisa naik angkot GP tujuan Plered dan turun di depan gerbang besar bertuliskan selamat datang di Trusmi. Bisa berjalan kaki sambil melihat-lihat kanan kiri aneka toko batik yang berjajar di sepanjang jalan, atau naik becak sampai satu sentra batik terbesarnya yang berjarak sekitar 300 m dari jalan raya Cirebon-Plered.

Continue reading

giveaway cirebon : enam tahun blog

4-batik-trusmi-giveaway

I love writing and people love me writing so I love them too.

Aku punya rahasia menulis.
Aku tidak bisa melanjutkan tulisan, apabila tidak menemukan kalimat pertama.
Kalimat pertama adalah kunci.

Ingatkah kalian apa yang terjadi dalam hidupmu ketika umurmu 6 tahun? Aku sih ingat, ketika dulu duduk di kelas 2 SD (karena masuk SD di umur 5 tahun) dan menerima rapor terbagus sepanjang sejarah aku terima rapor selama 12 tahun, tidak tahu kenapa bisa sebagus itu padahal rasanya sih sekolah sambil bermain-main saja. Belajar, gembira, mengerjakan pe-er, setiap pulang sekolah bermain karet, petak umpet, jajan di pinggir sekolah, berlarian mengejar layang-layang, menonton film anak-anak di TVRI jam 17.30, dan mengerjakan pe-er hingga lagu Garuda Pancasila berkumandang dari layar kaca.

Tanpa terasa, blog tindaktandukarsitek.com ini sudah sampai di tahun ke enamnya pada tanggal 20 Mei 2016! Usia yang jika setara dengan anak kecil adalah saat mendapatkan pendidikan formal yang terarah. Jika dibilang, usia enam tahun adalah masa lucu-lucunya, masa bermain-main asyik tetapi harus belajar disiplin. Mengenakan seragam baru, penuh semangat untuk belajar, mencari hal-hal baru dalam hidupnya. Entah kalau ada yang bilang bahwa pendidikan itu membelenggu, tapi aku termasuk yang berpikir bahwa pendidikan itu mencerahkan, diimbangi oleh pencerahan dari alam sekitar dan tentu saja cukup bermain. Continue reading

tamansari goa sunyaragi : persinggahan sepi

cover-sunyaragi

“Ngapain ke Goa Sunyaragi, kan cuma batu doang,” begitu kata salah seorang kerabat yang aku tinggali ketika aku pamit hendak ke situs bebatuan di selatan Cirebon itu. Seandainya ia tahu, bahwa keponakannya ini memang tergila-gila pada batu dengan ukuran besar, apalagi Goa Sunyaragi adalah salah satu tempat yang menggoda untuk ditilik, karena susunan batu-batunya yang membentuk ruangan-ruangan bak istana. Gunakan daya khayal secukupnya, dan jadikan dirimu seorang puteri.

Berada tak jauh dari terminal Harjamukti, Goa Sunyaragi bisa dicapai dengan kendaraan umum hingga tepat di depannya, atau dengan kendaraan pribadi. Pertama tiba aku celingukan mencari di mana pintu masuknya karena dikelilingi oleh pagar, sampai seorang petugas memanggilku untuk mendaftar dulu di satu pendopo. Dengan harga karcis sebesar Rp. 8000/orang, bebas berkeliling lingkungan situs yang cukup rapi ini. Bisa juga menggunakan pemandu, sih. Tapi karena mau agak lama, jadi aku hanya menguping sedikit-sedikit dari pemandu di rombongan depan.

Continue reading

keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga

kacirebonan-cover (2)

Family is the most important thing in the world.
– Princess Diana

Ini kota kelahiranku. Selama bertahun-tahun sejak aku kecil, aku selalu belibur ke kota ini ke rumah Mbah Papih dan Mbah Mamih yang berwajah hangat. Mama pernah bercerita kalau keluarga Mbah Papih berasal dari Keraton Kacirebonan. Aku sering tak percaya, karena menurutku kalau orang keraton itu tinggalnya di istana, bukan rumah di kampung seperti kami ini. Tapi ternyata penjelasan tentang asal-usul keluarga kami itu tak pernah aku ketahui dengan pasti hingga sekarang, karena Mbah Papih keburu meninggal dunia ketika usiaku 10 tahun, umur yang belum bisa menampung penjelasan berat. Tapi lama kelamaan itu tak jadi soal bagi kami sekeluarga besar, karena yang lebih kami pentingkan adalah kebersamaan yang tak lupa bertemu setiap tahun sekali.

Banyak orang yang tidak tahu Keraton Kacirebonan, keraton termuda di Cirebon. Keraton ini berdiri sebagai bagian dari Keraton Kanoman yang berdiri terlebih dahulu. Agak terpisah dari kedua keraton sebelumnya, Kacirebonan didirikan tahun 1808 M untuk tempat tinggal Pangeran Raja Kanoman yang kembali dari pengasingannya di Ambon, sementara tahta di Keraton Kanoman sudah diambil alih oleh adiknya, Sultan Anom V. Keraton ini tidak terlalu besar, namun isinya sangat apik dan terawat. Padahal lokasi Keraton Kacirebonan kini malah di tepi Jalan Pulasaren yang cukup ramai dan besar, sehingga mudah dijangkau.

Continue reading

keraton Kanoman, tetap putih di tengah keramaian

cover-keraton-kanoman

Life starts from a white hole and ends in a black hole.
― Santosh Kalwar

Mana yang lebih dulu ada? Keratonnya atau pasarnya? Pasti pemikiran itu muncul ketika mencari posisi Keraton Kanoman. Sejak aku lahir di Cirebon, belum pernah aku sampai ke Keraton ini, selain hanya kudengar lewat nama saja. Kanoman, di keluarga kami, hanyalah nama pasar yang berada di sebelah timur kota. Bukan pasar kering yang cantik, namun pasar benaran, seperti pasar-pasar yang umum ada di Pulau Jawa, lembab, becek, dan padat. Tidak ada bedanya dengan Pasar Pagi yang berada di dekat rumah kami.

Jadi selepas dari Keraton Kasepuhan, aku berjalan kaki ke arah Keraton Kanoman. “Lurus saja jalan ini, neng. Nanti ada jalan masuk di pasar, dilewati, nanti ketemu keratonnya,” kata mamang tukang tahu di ujung jalan Kasepuhan itu. Sambil berjalan di trotoar yang tidak terlalu bersih dan menguarkan bau amis itu (karena Cirebon kota Udang, kuterima saja aroma itu tanpa merasa terganggu), setelah lima belas menit aku menemukan pasarnya. Dan, jalan yang tadi disebutkan oleh tukang tahu itu ternyata cukup lebar, dengan gerbang besar bertuliskan : Pasar Kanoman. Lha?

Continue reading

keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana

keraton-kasepuhan-cirebon-2-tempat-raja-Mande-Malang-Sumirang

Above us our palace waits, the only one I’ve ever needed. Its walls are space, its floor is sky, its center everywhere. We rise; the shapes cluster around us in welcome, dissolving and forming again like fireflies in a summer evening.
― Chitra Banerjee Divakaruni, The Palace of Illusions

Jika disebut ‘keraton’ saja di Cirebon, kebanyakan orang hanya tahu Keraton Kasepuhan yang berada di arah timur. Padahal sebenarnya di Cirebon ada dua keraton lagi yang bisa dikunjungi. Memang kompleks Kasepuhan ini paling tua jika dibandingkan dengan dua keraton lagi, Kanoman dan Kacirebonan, karenanya menjadi paling populer. Apalagi berbagai kegiatan budaya di Cirebon lebih sering dilaksanakan di alun-alun Keraton Kasepuhan.

Sebagai seseorang yang pernah numpang lahir saja di Cirebon, setiap liburan aku sering penasaran ada apa di dalam tempat tinggal raja-raja Cirebon ini. Tapi karena tidak tinggal dekat dengan keraton, maka keluargaku tidak pernah mengajak untuk jalan-jalan ke dekat sana, kecuali ketika ada acara malam Mauludan, dimana ada pasar malam dan aneka mainan dan makanan dijual, di depan Keraton Kasepuhan.

Dengan ketertarikanku pada budaya, aku menilik tiga keraton ini pada satu musim liburan, melihat peninggalan kerajaan di pesisir pantai ini. Hitung-hitung sambil melihat silsilah keluarga kami, walaupun sudah berjarak ratusan tahun. Kota Cirebon kini secara administratif dipimpin oleh Walikota, bukan salah satu dari ketiga penguasa keraton tersebut.

Continue reading

solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

cover

Menurut aku, salah satu kota yang asyik untuk solo traveling itu adalah Cirebon. Kenapa demikian? Pertama karena aku lahir di sana, namun tidak pernah tinggal di situ sehingga setiap tahun selalu mampir untuk berkunjung pada kerabat. Masalahnya, dari seluruh sepupu-sepupu yang sebaya itu, tak satu pun yang tertarik untuk mengamati peninggalan budaya yang tersebar di berbagai kota seperti aku. Kalau makan, kami tetap pergi beramai-ramai. Jadilah aku yang suka membaca buku sejarah ini berkeliling Cirebon tanpa ditemani pemandu. Solo traveling, kenapa kamu tidak?

Cirebon berada di propinsi Jawa Barat, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa yang tak jauh dari perbatasan ke Jawa Tengah. Lokasinya yang sedikit bimbang ini membuat dialek bahasanya cukup berbeda dari bahasa Sunda pada umumnya di propinsi Jawa Barat. Bahasa Cirebon agak bercampur dengan bahasa Jawa, dan cengkok pengucapannya pun agak berbeda. Seperti karakteristik bahasa untuk kota-kota di tepi pantai, pengucapannya tidak halus, cenderung cepat dan keras.

Dengan posisi geografisnya, Cirebon di masa lalu sering dirapati oleh pendatang dari berbagai bangsa, seperti Melayu, Tionghoa, dan Arab. Bertempat juga di jalur pos utara Jawa, menjadi titik perpindahan suku Sunda dan Jawa. Akulturasi dari pertemuan ini membentuk budaya yang kaya baik dari makanan, pakaian, atau bangunan dan masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Continue reading

cirebon : mudik dan perut yang manja

DSC_0221

I’m on seafood diet
I see food, and I eat it.

Ada satu hal yang selalu aku inginkan setiap kali aku pulang ke Cirebon. MAKAN. Makan makanan khas Cirebon. Karena aku yakin, bahwa makanan paling enak dimakan di tempat asalnya, termasuk asap, mengantri, dan keramaiannya. Dan sebagai tempat lahirku lebih dari 30 tahun yang lalu, walaupun tidak pernah tinggal di situ, Cirebon selalu menjadi tempat yang dirindukan untuk pulang, terutama mengupayakan kenaikan berat badan.

Cirebon terletak di jalur Pantura, sekitar 3.5 jam naik kereta dari Jakarta, 5 jam dari Jogja naik kereta juga, 8 jam dari Surabaya, hampir 12 jam dari Blitar. Dengan mobil? Unpredictable. Kami pernah terjebak macet 12 jam ketika berangkat mudik sesudah sahur di Depok. Tahun berikutnya, kami berangkat sesudah buka maghrib, alhasil sampai Cirebon jam 7 pagi keesokan harinya. Selanjutnya, ayah memilih tidak bawa mobil kalau mudik. Atau kami baru mudik sesudah hari lebaran. Itu pun dari Bandung, karena mereka memilih tinggal di situ sembari menemani adikku kuliah. Ya, keluarga kami tinggal berpindah-pindah di pulau Jawa, sehingga sering melawan arus balik untuk pulang ke Cirebon. Ketika tinggal di Jakarta, itu ujian sesungguhnya.

Setiap kali tiba di kota Cirebon, perutku selalu mendadak lapar. Di depan Stasiun Kejaksan Cirebon berderet berbagai tukang empal gentong kebanggaan Cirebon. Sayangnya, karena mudik di lebaran kemarin aku naik kereta ekonomi, kereta turun di Stasiun Prujakan, yang tidak terlalu banyak tukang makanannya. Tapi ketika naik becak ke Gunungsari, hm.. hmm.. Perutku bergejolak. Angin berhembus kencang.

Continue reading