mudik bersama kereta tegal bahari

“[…] its small squares of fast-passing light, the early evening windows of the lives of hundreds of others.”
Ali Smith, The Whole Story and Other Stories

Lebaran tahun ini aku memutuskan untuk mudik ke Cirebon dengan kereta api. Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa di sini, karena toh memang setiap tahunnya aku mudik ke kota udang ini pun dengan kereta dengan berbagai jenis kereta. Memang, hampir semua kereta menuju Jawa Tengah dan Timur pasti melewati Cirebon, sehingga bisa dipilih kelas apa saja yang bisa dinaiki, tergantung dengan kemampuan kantong. Mulai dari kelas Argobromo Anggrek yang eksekutif terbaik hingga Matarmaja ekonomi 3-2 (dalam gerbongnya berbanjar bangku isi 3 dan 2 orang), berhenti di Cirebon. Continue reading

Advertisements

serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

“The trains always arrive at your station. The question is which one to take?”
― Mehmet Murat ildan

Buat yang sering menyimak berita-berita transportasi India, pasti tahu bahwa kereta api adalah transportasi utama yang menjadi favorit banyak warga di negeri ini. Jalur kereta membentang dari dataran rendah Kerala hingga Darjeeling di atap dunia. Yang paling umum digunakan turis adalah Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi, jalur yang sudah berfungsi sejak tahun 1860. Atau bisa juga melipir ke sisi-sisi lain dari ujung-ujung kota, hampir selalu bisa dicapai dengan kereta.

Kereta di India ditarik sebagian besar dengan lokomotif diesel dan menggunakan gerbong jenis broad track gauge dengan lebar rel 5 ft 6 in/​1,676 mm seperti yang digunakan untuk BART system di San Fransisco, lebih besar daripada yang biasa digunakan di Indonesia. Karena itu, lebar gerbongnya cukup besar untuk diisi dengan susunan kursi yang cukup besar dalam semi kompartemen dalam gerbongnya.
Continue reading

MRT: jakarta underground

cover-iluni-ftui-visit-mrt-deep-tunnel

It’s time to reduce our reliance on highways in this regions and start a rapid transit systemthat will provide people to choice.
– Tom Maziars

Sejak pertama kali datang untuk tinggal di (dekat) Jakarta dua puluh tahun yang lalu, aku selalu berpikir bakal ada transportasi umum yang massal dan bagus untuk ibukota negara ini. Dulu berkeliling Jakarta bisa dengan KRL atau metromini dan bus kota yang melewati berbagai kemacetan di tengah kota. Tapi, memangnya mau terus-terusan berlama-lama di jalan seperti itu? Sementara orang-orang berlalu lalang ke negeri jiran dan membandingkan dengan transportasi di sana, Jakarta harus bebenah sedikit demi sedikit.

Setelah jalur Transjakarta multi koridor yang mencapai banyak ujung-ujung kota, rupanya rencana Mass Rapid Transit yang sudah kudengar sejak masa kuliah dahulu benar-benar terlaksana di ibukota. Mulai dari pendirian tiang-tiang beton di banyak tempat di sepanjang Fatmawati hingga Lebak Bulus dan tahu-tahu saja beberapa halte bus Transjakarta di Sudirman ditutup. Sebagai seseorang yang bergerak di bidang konstruksi, lama kelamaan penasaran juga bagaimana proses pembangunan di bawah tanah ini. Apalagi aku ini pencinta kereta dan hobi mencobai berbagai model transportasi ini di berbagai negara yang pernah kukunjungi.  Continue reading

kartu pos dari tanah abang

“Life is the train, not the station” ~ Aleph
Paulo Coelho

Stasiun Tanah Abang adalah silang ganti jalur ke Barat (Merak-Rangkasbitung-Serang-Serpong-Parungpanjang-Tanah Abang), dengan jalur Selatan (Tanah Abang-Manggarai-Pasar Minggu-Depok-Bogor), juga bisa menuju jalur Kota Jakarta (Tanah Abang-Duri-Angke-Pasar Senen-Jatinegara), juga sebagai jalur Kereta Ekonomi jarak jauh, apalagi dengan lokasi Tanah Abang dengan tingkat kepadatan penduduk amat tinggi di Jakarta, tingkat bisnis dengan omzet miliaran sehari, menjadikan pergerakan manusia di dalamnya sangat tinggi.
Continue reading

depok – manggarai : PP

stasiun manggarai

“Time goes faster the more hollow it is.
Lives with no meaning go straight past you, like trains that don’t stop at your station.”
― Carlos Ruiz Zafón, The Shadow of the Wind

Ada banyak faktor yang membuat aku lebih memilih naik KRL daripada transportasi umum lainnya. Faktor utamanya adalah kecepatan. Faktor kedua adalah ekonomis dan murah. Faktor ketiga adalah, karena memang aku lebih menyukai naik kendaraan umum yang dapat dimuati lebih banyak orang, sehingga ada kemungkinan untuk bertemu orang-orang baru. Dengan kepadatan perpindahan kaum komuter yang tak sebanding dengan panjang jalan, kereta sebagai moda transportasi massal memang seharusnya dijadikan pilihan utama jika kepraktisan dan kecepatan menjadi faktor penentu.

Beberapa jalur kereta di Jabotabek sudah ada sejak tahun 1925. Tahun 1976 PJKA mendatangkan sejumlah kereta rel listrik dari Jepang, yang beberapa merupakan hibah dari pemerintah Jepang. Beberapa tempat yang mobilitasnya tinggi pun lama kelamaan berkembang tak hanya satu jalur saja, namun menjadi dua jalur sehingga intensitas kereta yang lewat pun menjadi semakin sering. Karena itu, daerah-daerah yang dilalui kereta menjadi pesat perkembangannya. Permukiman-permukiman baru tumbuh di sekitar stasiun. Makin banyak juga orang Jakarta yang pindah ke pinggiran dan memanfaatkan akses kereta untuk menuju tempat bekerjanya di Jakarta setiap pagi. Mungkin Jakarta sudah sedemikian sumpeknya untuk ditinggali, sementara di pinggiran masih ada area hijau dengan udara yang sejuk untuk mengawali hari.

Aku mulai rutin naik KRL sejak bekerja di kawasan Manggarai tahun 2004. Continue reading

jumpa Jakarta dan KRL Jabotabek

Takdir UMPTN mengatakan kalau aku harus kuliah di kampus beringin di Depok, bukan di kampus Ganesha cita-citaku. Meskipun diterima di beberapa perguruan tinggi swasta di Bandung, namun aku tetap memilih Depok, dengan pertimbangan sama-sama universitas negeri.

Kunjungan pertamaku di Depok, menginap di rumah salah satu kerabat di situ, yang kemudian mengajakku berjalan-jalan ke kota Jakarta naik… KRL alias Kereta Rel Listrik! Awalnya sempat ngeri juga naik KRL yang kondisinya penuh dan kita harus sigap untuk naik dan turun di stasiun yang dituju. Beda dengan kebiasaanku naik kereta api luar kota dengan jeda waktu naik turun yang santai, KRL ini mengejutkanku. Seperti di film-film luar negeri yang kutonton ketika orang berebutan di stasiun untuk naik kereta cepat, seperti ini juga yang kusaksikan di peron. Bedanya, kalau di film atau komik Kobo-chan itu KRLnya bersih dan pintunya selalu menutup otomatis, di KRL Jabodetabek ini agak kotor, pintunya tak bisa tertutup, dan penumpangnya berjubelan sampai atap.

Sudah menjadi kebiasaanku jika tinggal baru tinggal di satu kota, maka aku akan mencoba seluruh jalur kendaraan umumnya sampai ujung dan kembali lagi. Tak terkecuali naik KRL. Aku mencoba naik KRL ini sampai stasiun Kota, balik lagi ke Depok, atau ke arah stasiun Bogor, balik lagi ke Depok. Selain untuk mengenali kota Jakarta, juga untuk menghafalkan semua stasiun yang aku lalui.
-baca kelanjutannya->

rel dan masa kecil

Kereta apiku lari dengan kencang
Melintas sawah, bukit, serta ladang
Angin mengejar, mencoba menghalang
Kereta apiku laju bagai terbang

Larilah cepat hai kereta apiku
Bawa ku segera ke tempat ku tuju
Jika kau tampak kampung halamanku
Bunyikan nyaring seruling keretamu

Sejak kecil aku suka sekali dengan kereta api. Kediaman kakek nenek dari pihak ibu di Cirebon dan eyang putri dan kakung dari pihak ayah di Tulung Agung, sementara kami jauh terpisah mengelilingi pulau Jawa membuat ketika aku yang harus mengunjungi mereka, selalu menggunakan moda transportasi kereta api. Tentunya sewaktu kecil aku tidak punya hak memutuskan mau naik apa, tetapi menurut ayahku selain juga karena ongkos transportasi yang cukup murah, kereta api itu kendaraan yang gagah dan kokoh, terbuat dari besi dan pasti aman untuk dinaiki, karena kekuatannya itu selalu membuatnya menang.

Di dekat rumah nenekku di Cirebon terdapat satu jalur kereta api. Sewaktu aku masih kecil, masih ada kereta menuju pelabuhan Cirebon yang melalui rel tersebut. Aku sering menonton kereta tersebut lewat membawa gerbong bahan bakar atau gerbong barang. Kalau di dekat rumah eyang kakung dan eyang puteri di Tulung Agung, ada rel untuk lori pengangkut tebu dari perkebunan ke kompleks pabrik gula. Itu juga yang sering kulihat sembari jalan-jalan pagi. Paduan antara udara sejuk, sungai yang mengalir, dan kereta lori yang melintas itu selalu kunanti-nanti setiap liburan.

Sewaktu SD aku tinggal di Semarang. Rumahku di Jalan Sawojajar, sekitar Karang Ayu itu (sampai sekarang masih ada) berada tepat di depan rel jalur utara Jawa, hanya dipisahkan oleh jalan angkutan umum dan ketinggian rel (posisi rel lebih tinggi kira-kira 3 m dari jalan dan rumahku). Jadi setiap pagi, siang, sore, malam, sering terdengar suara klakson kereta yang berteriak kencang. Deru kotak besi itu juga menghiasi hari-hari sampai kami terbiasa. Tetapi intensitas lewatnya kereta tak sebanyak sekarang, jadi masih sempatlah aku dan teman-teman kadang berlompatan di bantalan rel di sore yang cerah, atau adu meniti keseimbangan di batang besi hitam itu, juga terburu berlarian apabila lamat-lamat terdengar suara lokomotif mendekat.
Continue reading

kereta ekonomi terakhir

Malam ini jam 22.05.

Kereta api ekonomi dari Tanah Abang menuju Depok-Bogor. Kereta terakhir malam itu. Kelas tiga, isinya rakyat jelata. Hujan deras di luar, walau tidak diiringi petir bertalu-talu , membasahi kursi-kursi fiberglas warna oranye. Jendela tidak bisa ditutup, sehingga percikan air masuk melaluinya. Layak? Yah, namanya rakyat, cuma bisa menerima, sudah kebawa saja untung, tidak ketinggalan dan tidak harus berganti-ganti kendaraan sampai tujuan. Sampai Depok hanya 1500 rupiah. Sampai Bogor hanya 2500 rupiah. Murah, hanya seharga sebotol air mineral 600 ml kios pinggir jalan, sudah bisa memindahkan rakyat sejauh 80 km.

Kereta ini kosong. Bisa dibilang kosong, karena hanya ada sekitar 30-an orang di dalam gerbong. Semuanya duduk. Hanya ada dua perempuan di situ. Aku dan seorang perempuan berperawakan sedang berambut keriting yang sedang menggunakan ponselnya. Ia tidak takut dirampas ponselnya. Aku takut. Maka ponsel kutaruh di dalam tas yang kupeluk di dada. Dan aku memilih membaca buku ini. Buku Cerita tentang Rakyat yang Suka bertanya. Kumpulan cerpen yang bisa diputus-putus membacanya tiap satu cerita. Tak ada petugas keamanan yang tampak di kereta. Tak ada petugas pemeriksa karcis. Mungkin kereta ini bebas, mengangkut siapa saja yang butuh tumpangan ke Bogor. Disubsidi, untuk membawa rakyat bolak balik dari Jakarta ke Bogor.
Continue reading

transportasi minim informasi

Hampir setiap hari ketika saya berangkat ke kantor naik kereta, selalu harus bertanya pada petugas porter karcis, “Keretanya sampai di mana, Pak?” atau “Kereta ke Tanah Abang sudah jalan belum?”
Ini kalau kadang-kadang saya terlambat atau keretanya yang terlambat datang. Dan tiap hari juga saya berpikir, ini bapak petugas portir apa tidak bosan menerima pertanyaan seperti itu, karena bukan saya saja yang bertanya, tapi mungkin hampir separuh dari pengguna jasa angkutan kereta juga bertanya demikian.

Informasi mengenai posisi kereta hanya diketahui oleh petugas yang berhubungan dengan petugas-petugas di stasiun lain, yang akan mengumumkannya ke khalayak penumpang di stasiun, kurang lebih 10 menit sekali. Nah, sementara menunggu diumumkan, penumpang sering tidak sabar dan bertanya pada petugas karcis. Petugas yang sudah lelah menjawab kadang menjawab dengan nada kesal karena menerima pertanyaan berulang. Karena apabila mengandalkan bertanya pada petugas, sering juga tidak tepat.
Petugas bilang, “Sebentar lagi, mbak..”
“Berapa menit lagi?”
“Tunggu aja, mbak, sudah di Citayam..”

Berarti 6-8 menit lagi kira- kira. Ternyata kereta baru muncul 15 menit kemudian. Padahal sudah bela-belain menunggu dan tidak sarapan, supaya bisa masuk dengan tenang. Eh, gara-gara informasi yang kurang benar, terpaksa berangkat dengan perut lapar.

Saya pikir, kenapa tidak dibuat sistem informasi sederhana saja. Daripada papan besar di pintu stasiun itu dijual untuk iklan tak laku-laku, lebih baik untuk papan informasi digital yang menginfokan posisi kereta akan tiba berapa menit lagi. Sehingga orang selalu terbaharui dengan informasi itu dan dapat mengatur waktu sempitnya itu dengan baik. Misalnya saja dengan sempat sarapan, beli kue, atau ke kamar kecil. Atau sederhana saja seperti titik-titik berlampu yang akan dipindahkan nyala lampunya kalau berpindah stasiun.

-baca kelanjutannya->

melalui rel : hidup adalah perjuangan !

hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti
usah kau menangisi hari kemarin.. [Dewa 19]

07.03. pagi.
Tua muda, berjejalan mengejar waktu, seakan ingin bertanding dengan kecepatan. Tak peduli panas, tak peduli keringat, untuk sebuah ketepatan. Kadang terselip wajah cantik yang harus melesakkan badannya ke dalam kumpulan manusia di badan besi itu dengan sedikit pergerakan. Manusia yang buat mereka, ‘waktu adalah uang’ adalah semboyan harian. Merekalah yang memberi denyut negeri ini, merekalah yang benar-benar memburu tepat waktu jika tidak ingin potong gaji. Merekalah yang memberikan pelayanan padamu di pusat perekonomian kota ini.

Dua ribu lima ratus rupiah Bogor-Jakarta, delapan puluh menit kurang lebih.

Yang beruntung bisa duduk di kursi, yang lain bisa berdiri berjejalan, yang tidak bisa masuk bertengger di atap. Siapa yang tidak beruntung? Merekalah orang-orang yang akan berkata, masih untung terbawa, jadi tidak terlambat. Mengeluh, namun menerima. Dua ribu lima ratus rupiah, lebih dari 60 km jauhnya, mau dapat enak? Dinikmati sajalah, katanya.

Mereka yang bekerja dengan tenaga, dari segala sektor, dari petugas kebersihan, sampai penjaga gerai ponsel. Dari sekretaris kantor sampai asisten manager. Dari ibu-ibu yang mau berobat ke rumah sakit sampai yang hendak kulakan barang dagangan. Tanpa gengsi. Semua mengejar waktu. Menyusur rel panjang yang (seharusnya) tanpa halangan. Tanpa macet seperti jalan aspal. Tanpa asap knalpot. Semua menumpukan waktu pada badan besi ini. Berharap tidak terlambat, dan mendapatkan kesempatan dan rejeki di hari itu. Merekalah pelaku perekonomian negeri ini, yang membuat roda bisnis berputar. Yang mengejar waktu. Yang seharusnya diperhatikan.

Ini sarana sehari-hari rakyat. Yang (seharusnya) dirawat dengan karcis kita, pajak kita. Yang menjadi tumpuan banyak orang dalam memutar kehidupannya, bukan hanya untuk memutar nasib negeri ini. Bukan kami tidak peduli pada negeri, tapi sudah terlalu sibuk dengan urusan perut sendiri.
Dua ribu lima ratus rupiah. Sedikit memang. 80 menit. Relatif lama. Sekitar 60 km jaraknya. Cukup jauh. Pada KRL Ekonomi sebagian waktunya dipasrahkankan. Setiap hari berdoa supaya tak ada gangguan supaya bisa sampai tempat kerja sesuai rencana dan kembali di malam harinya pada keluarga tercinta.

depok-manggarai. 10.06.11