berburu kasih sayang di camp leakey, tanjung puting

0-tanjungputing-camp-leakey-jetty

Seperti manusia, setiap individu orangutan memiliki kepribadian unik. Orangutan punya kompleksitas dan kerentanan emosi seperti manusia. Mereka juga bisamenunjukkan trauma, gangguan jiwa, juga afeksi terhadap yang dicinta. Itu yang selalu diceritakan orang-orang di sini tentang orangutan, dan meskipun baru empat hari melihat langsung, aku melihat kebenarannya.
Dewi ‘Dee’ Lestari – Supernova : Partikel

Apa sih yang dipikirkan Zarah Amala ketika ia melintasi jalur kayu di Camp Leakey ini? Pasti ia tidak berpikir apa-apa, masih menghitungnya sebagai pengalaman baru. Sepertiku, yang berjalan dengan santai, sambil menengok kaki-kaki kayu adakah orangutan di sana sedang bergelantungan?

Dan di ujung jalur kayu itu. Ada.

Continue reading

pondok tanggui, cerita tanjung puting dan tapak hijau

5-tanjungputing-pondok-tanggui-JALAN

Menjadi kuat bukan berarti kamu tahu segalanya. Bukan berarti kamu tidak bisa hancur. Kekuatanmu ada pada kemampuanmu bangkit lagi setelah berkali-kali jatuh. Jangan pikirkan kamu akan sampai di mana dan kapan. Tidak ada yang tahu. Your strength is simply your will to go on.
Dewi ‘Dee’ Lestari, Supernova: Partikel

Diiringi cericit burung dan teriakan bekantan dan owa, pagi di tepi sungai itu pun gaduh. Tak seorang pun dari kami yang berniat bermalas-malasan dengan menunda bangun. Di pojok depan, Felicia membuka buku kitabnya tentang burung-burung tropis sambil berdiskusi dengan Indra tentang seekor spesies yang baru lewat. Lanny membaca buku sembari menanti sarapan siap, sementara aku, Putri dan Ima terpesona dengan primata pohon di seberang sungai yang sedang beraktivitas pagi.

Kelotok belum bergerak, namun gerakan-gerakan penghuninya sudah membuatnya bergetar. Di belakang, dua orang tukang masak menyiapkan pengganjal perut kami, sementara seorang kru mengisi air kamar mandi. Sayangnya tak satu pun dari kami yang berniat mandi. Indra berteriak menunjukkan burung King Fisher yang menclok di batang pohon tak berdaun. Cantik sekali, warnanya biru dan kuning terlihat nyata di depan langit berawan.
Continue reading

tanjung puting, lintas alam demi orangutan

0-cover-orangutan

“Jangan pisahkan dirimu dari binatang.”
“Biar apa, Ayah?”
“Biar kamu tidak sombong jadi manusia,” ujarnya sambil tersenyum.”
Dewi ‘Dee’ Lestari, Supernova: Partikel

Suara motor kapal mengiringi perjalanan kami meninggalkan Pelabuhan Kumai. Sejujurnya, aku lebih suka jika tidak ada suara menderu-deru di belakang itu. Rasanya lebih asyik jika pengarungan ini cuma ditemani semilir angin, kemerisik dedaunan dan kicau burung yang beterbangan. Tapi jika begitu, pasti butuh tenaga ekstra untuk mendayung sekuat tenaga. Kapal ini dinamakan kelotok, karena suara mesinnya yang berisik berbunyi klotoklotoklotok itu bertingkat dua, bagian bawah kabin, dan bagian atas ruang bebas tempat kami bisa duduk-duduk bercengkrama memandang sungai.
Continue reading

tanjung puting, sebuah mimpi dari partikel supernova

cover-tanjung puting partikel supernova

    “Kenapa kamu di sini, Zarah?”
    Dadaku seperti dihunjam. Pertanyaan final itu harus kujawab.
    “Saya mencari rumah, Bu,” jawabanku meluncur begitu saja, “Mungkin bisa saya temukan di sini.”
    Bu Inga lurus menatapku, mencari sesuatu yang perlu ia konfirmasi. “Saya percaya, rumah itu ditemukan di dalam,” katanya lembut sambil menempelkan tangan di dada. “Kalau di dalam damai, semua tempat bisa jadi rumah kita.”
    Partikel – Dee (h.213)

Mendengar kata Tanjung Puting, seketika ingatanku melayang pada Partikel. Di situlah Zarah Amala menemukan ‘rumah’-nya, tempat di mana ia dirindukan. Bukan oleh keluarganya, namun oleh kekuatan yang begitu mencintainya. Dan aku menggumam dalam hati, harus ke sana.

Tanjung Puting bukan destinasi wisata yang populer seperti banyak tempat lain. Banyak yang bertanya, “Di mana itu?” ketika aku bercerita tentang lokasi yang ingin kukunjungi karena sebuah buku itu. Aku sendiri awalnya tidak tahu dengan pasti, di mana Tanjung Puting berada. Aku pikir hutan tropis ini berada di tengah pedalaman Kalimantan, di aliran sungai tempat orangutan bisa berkeliaran dengan bebas, hutan yang masih terjaga dengan cara menuju ke sana yang tidak mudah dan tidak murah. Karena menurut informasi, cara menuju Tanjung Puting hanyalah menyewa kapal, dan seketika hal itu yang membuatku gentar, takut dengan biayanya.
Continue reading