mentari mesem dari lasem

1-matahari-terbit-lasem-sunrise-A

Tahukah kamu betapa bahagianya bangun tidur di tengah desa?
Bersepeda menuju tengah sawah sambil bertemu dengan anak-anak sekolah tertawa riang
Sembari menanti matahari yang terbit dari sisi bukit, bersembunyi malu-malu lalu perlahan mendadak terang.

Tahukah kamu bahwa menghirup udara ini adalah kemewahan sederhana?
Berkilometer jauh dari kota untuk menemukan sejuk menghembus sedikit
Sembari melambaikan tangan pada para petani berangkat usai pagi menggigit. Continue reading

Advertisements

di balik tembok pecinan lasem

cover-lasem-heritage

…kuketahui bahwa pemandangan yang tertatap oleh mata bisa sangat mengecoh pemikiran dalam kepala: bahwa kita merasa menatap sesuatu yang benar, padahal kebenaran itu terbatasi sudut pandang dan kemampuan mata kita sendiri.
― Seno Gumira Ajidarma

Satu hal yang membuatku penasaran pada kota Lasem adalah tembok-tembok tinggi dan tebal yang mengelilingi pekarangan tempat tinggal mereka. Aku jadi teringat ungkapan orang-orang di masa kecilku dulu, kalau pagar tinggi tertutup selalu diidentikan dengan rumah milik orang Cina. Karena Lasem sering sekali disebut sebagai Little Tiongkok, tak heran jika suasana menyusuri jalan-jalannya seperti daerah pemukiman Cina yang didominasi tembok-tembok besar, karena kota ini adalah salah satu pelabuhan Mataram yang diizinkan didarati pedagang Cina pada masa perdagangan rempah dahulu.

Di kampung Karangturi didominasi oleh tembok-tembok dengan pintu-pintu yang sudah berusia tua yang menjadi aksen dominan dari deretan bata ini. Di beberapa bagian yang terkelupas tampak susunan bata yang berukuran besar, pertanda bangunan ini dibangun pada masa yang telah lampau. Warna cat kayu yang kusam tidak berkilat, menyembunyikan apa yang ada di balik tembok tersebut. Handel besar dari besi sering menjadi pajangan unik di jalanan.
Continue reading

Koran Tempo : Menyusuri Jejak Budaya Lasem

DSC_5240

Minggu pagi itu, sambil memandangi pegunungan Gede Pangrango dan pegunungan Salak dari sudut-sudut hotel 101 Suryakancana Bogor, aku membaca Koran Tempo sambil menyesap teh hangat sesudah berenang pagi, dan menemukan salah satu artikelku tentang Lasem, dimuat di harian ini. Sudah dua minggu berlalu, sekarang aku akan berbagi yang aku ceritakan tentang Lasem.

Sejarah terulur begitu panjang di kota kecil ini.
Kebiasaan baru yang muncul masih beraroma kultural.

Panas menggigit menerpa kulit kami begitu turun dari bis AC, padahal belum lagi tengah hari. Tapi tak ada waktu untuk berkeluh-kesah, karena penjelajahan di Kota Lasem ini segera kami mulai. Tujuan pertama sudah ditetapkan: Rumah Candu Lawang Amba!

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, persis menempel di pesisir Pantai Utara Jawa Tengah. Posisi geografis itulah sumber suhu menyengat yang kami rasakan kini. Apa yang menarik dari kota tua yang selama ini hanya menjadi perlintasan jalur Semarang-Surabaya ini? Sebagai titik pendaratan orang Cina dalam penjelajahannya ke tanah Jawa, ratusan tahun silam, tentu banyak jejak sejarah yang layak dinikmati. Dan itulah alasan kami, saya dan beberapa orang teman, menyambangi Lasem.

Belakangan kota ini juga mendapat julukan Little Tiongkok, barangkali karena pemukiman bergaya Cina banyak tersebar di wilayah ini. Salah satunya, Rumah Candu Lawang Amba. Tentu saja dari namanya sudah dipahami, rumah ini dulu menjadi salah satu titik persebaran candu alias opium ke pelbagai penjuru Jawa. Dan itu memang terlihat dari sebuah lubang di belakang runah yang langsung menerus ke Sungai Lasem. Dari lubang itulah candu dikirim. “Rumah ini dulu milik Kapten Liem,” jelas Pak Gandor, salah satu pemuka masyarakat Tionghoa yang menemani kami.
Continue reading

9 trik (tidak) tersesat di Lasem

0-cover-rumah-candu-lasem[1]

“Sudah sampai mana?”
“Baru lepas Terboyo 5 menit yang lalu.”

Jam 6 pagi itu, ketika matahari baru beranjak naik ke angkasa, bersama dengan orang-orang berangkat bekerja, dan anak-anak belasan tahun berangkat ke sekolah, alih-alih kembali ke Jakarta, aku malah melanjutkan akhir pekan di Semarang dengan melanjutkan perjalanan ke jalur Pantura Jawa Tengah. Ghana menjemputku jam 5 pagi di Semarang dan menitipkan motor di stasiun, kemudian lanjut ke terminal Terboyo. Drama pertama pagi ini, kami salah naik bis. Ternyata bis yang kami naiki tidak ke terminal, melainkan tujuan Salatiga! Untunglah kemarin aku baru mengantar kak Tekno Bolang ke terminal ini, jadi langsung menyadari begitu bisnya beda arah.

 

Pastikan bis yang kamu naiki tujuannya benar.

“Duh, Ghana. Untung kamu bareng aku pagi ini. Coba aku berangkat duluan semalam, pasti kamu nggak sampai-sampai.”
“Emm, aku biasa nyasar gitu kok, Mbak,” kilah mahasiswa yang membolos pagi itu. Tidak heran, nama blog-nya saja lostinparadise.web.id. Rupanya nyasar memang salah satu kurikulumnya.
Continue reading

kenangan simpang tugu muda semarang

cover-tugu-muda

selalu ada beberapa kenangan yang tidak pernah pudar…

Yang paling kuingat dari kota Semarang yang pernah menjadi kota tinggalku selama lima tahun, adalah Tugu Muda dan Lawang Sewu. Betapa tidak, rumahku dulu di daerah Karangayu tidak terlalu jauh dari situ sehingga bisa dibilang ke mana pun ayah dan ibuku membawaku di dalam kota Semarang, hampir pasti akan melewati dua ikon menarik Semarang ini.

Diajak ibu belanja ke Pasar Bulu? Selemparan pandangan mata, pasti kulihat Tugu Muda. Ikut ke kantor ayah di dekat Pasar Johar? Untuk mencapai Jalan Pemuda terus hingga ke Johar, melewati Tugu Muda. Olahraga pagi ke Stadion Tri Lomba Juang? Berangkat dari rumah pasti melewati titik ramai ini. Ke Simpang Lima untuk nongkrong-nongkrong dan makan tahu petis? Sebelum melewati jalan Pandanaran pasti lewat Tugu Muda juga. Tak heran, di usiaku yang waktu itu amat belia, Tugu Muda lekat sekali dalam ingatanku sampai bertahun-tahun kemudian, aku kembali lagi ke sana.

Continue reading

candi gedong songo : menapaki jalan batu bersusun pagi hari

candi-gedong-songo-3-d

    salamku matahari, wangi pohon, dedaunan, kupu-kupu menari,
    embun di pucuk-pucuk rerumputan.
    ikutlah bersama dan menyapa batu-batu, cukup kuatkan kakimu.

Jam ponselku menunjukkan pukul enam pagi ketika kami tiba di pelataran kompleks candi Gedong Songo. Sesudah berada dalam mobil selama hampir satu jam, angin pegunungan berhembus menggigit tulang seketika pintu terbuka. “Wah, tukang karcisnya belum buka. Sarapan dulu, yuk!” ajak Astin yang menyetir mobil sejak jam lima pagi tadi di Semarang mengeluh lapar. Beruntunglah ada satu warung yang menjual mi instan rebus yang mampu mengganjal perut sebelum mulai mendaki.

Candi Gedong Songo terletak tidak jauh dari kota Semarang. Dari Banyumanik, kawasan atas kota Semarang bisa ditempuh dalam waktu satu jam mengendarai mobil menuju arah Ambarawa, kemudian berbelok ke arah barat dan terus mendaki sampai daerah Bandungan. Daerah dataran tinggi yang sering menjadi tempat peristirahatan warga Semarang ini jalannya tidak terlalu lebar sehingga membutuhkan skill yang cukup untuk menyetir belok sambil mendaki begini. Untung Astin cukup piawai mengemudikan mobilnya sampai-sampai tidak mau kugantikan. Mungkin dia tidak percaya pada kemampuan anak kota sepertiku. Setelah beberapa kali berbelak-belok melewati villa-villa asyik dan Pasar Bandungan, kami tiba di pelataran parkir Kompleks Candi Gedong Songo. Untung tadi Astin masih ingat dengan jalannya, sehingga kami bisa sampai. Daripada mengandalkan googlemaps yang sinyalnya timbul tenggelam, lebih disarankan bertanya pada penduduk setempat apabila menemukan persimpangan meragukan.
Continue reading

semarang dalam cerita semarjawi

cover-semarjawi-semarang

@semarjawi: Dear Bebs, FYI, besok pagi muter reguler #Semarjawi di-close dl ya. Soalnya besok dicarter Bebeb² dr @TravelNBlogID

Grenggg… Bis merah bertingkat itu meninggalkan halaman Taman Srigunting, Gereja Blenduk. Warna yang kontras dengan lingkungan sekitarnya ini menjadikan bis ini menjadi ikon menarik ketika melalui jalan-jalan di kota Semarang. Matahari jam sembilan pagi di kota Semarang bersinar cerah sekali di atas kota atlas ini, tapi seluruh peserta #TravelNBlog 3 yang sudah mengikuti workshop sehari sebelumnya tetap bersemangat untuk naik bis istimewa ini. Untung Lestari, adek ketemu gede yang tinggal di Semarang sampai di titik awal tepat waktu, sehingga tidak ketinggalan.

Iya, istimewa dong! Seingatku, Semarang sudah lama tidak punya bis tingkat. Dulu memang sewaktu aku masih kecil masih sering nail bis tingkat dari jalan Pemuda hingga Simpang Lima, tapi beberapa kali aku pulang atau lewat kota ini, bis-bis itu sudah tidak beroperasi lagi. Kabarnya sih dipindahkan ke Solo, tapi sekarang pun entah masih beroperasi atau tidak. Jadi, keberadaan Semarjawi ini istimewa, karena bentuknya bis tingkat. Serunya lagi, bis ini akan membawa jalan-jalan keliling kota lama Semarang, dan kita bisa melihat dan belajar sekaligus tentang sejarah kota Semarang di masa lalu, yang peninggalannya tersebar di satu jalur tertentu. Lebih asyik lagi, bis ini tidak menggunakan pengudaraan buatan, melainkan alami karena sisi-sisinya yang terbuka, bahkan atapnya pun terbuka! Menyenangkan sekali melewatkan satu jam dengan naik moda transportasi ini.
Continue reading

janji kelak menuju dieng

cover


Hai, Ra.
Aku tahu, kamu sedang tidak dekat sekarang, sehingga aku tidak bisa langsung menceritakan padamu. Aku pun tak tahu di mana alamatmu, sehingga aku tak bisa merangkai kata dalam surat dan kutitipkan pada pak pos. Aku hanya tahu bahwa kamu pasti baik-baik saja, ketika kamu bisa membaca tulisanku ini.

Ra, kamu ingat cerita tentang negeri khayalan yang pernah kita imajinasikan sembari menghitung bintang? Kali ini aku berada di sini, bersama teman-teman yang mungkin juga kau kenal lewat dunia maya. Bersama mereka kami merangkai beberapa kisah yang bersama-sama dituliskan.

Ra, negeri ini bernama Dieng, senantiasa berkabut pagi yang bisa kita hembuskan perlahan membentuk gumpalan tipis dari nafas kita. Di sini kita bisa melihat tetes-tetes embun yang berkilau di ujung-ujung daun, sebelum menguap ketika mentari mekar sejenak. Sesudah matahari melewati ujung kepala, udara dingin kembali menyelimutinya, terkadang bercampur dengan tetes-tetes air hujan yang menggenang di mana-mana. Mungkin kamu pernah ke sini, mungkin juga tak sekali.
Continue reading

kumpul teman dalam kenangan semarang

10418227_10203860254051805_4965597518530738603_n

To attract good fortune, spend a new coin on an old friend, share an old pleasure with a new friend, and lift up the heart of a true friend by writing his name on the wings of a dragon. (Chinese Proverb)

Hampir jam empat pagi ketika aku dan Jay melangkahkan kaki keluar dari stasiun Tawang, Semarang. “Astin mana, In?” tanyanya. Kami berdua baru tiba dari Jakarta sesudah perjalanan selama hampir 6 jam dengan kereta Argo Bromo Anggrek. “Kalau belum datang, kita bisa mancing dulu,” candaku sambil tertawa. Stasiun Tawang adalah salah satu bangunan bersejarah di kota Semarang karena merupakan titik hubung jalur transportasi darat yang menghubungkan barat dan timur. Di depan stasiun terdapat polder besar yang menampung air sebagai waduk penyeimbang agar tidak banjir. Entah bagaimana, setiap musim hujan besar, stasiun ini selalu kebanjiran dan mengakibatkan perjalanan kereta sering terhambat.

“Hei, itu dia si Astin!” seruku melihat sosok sahabatku itu berdiri di samping Taruna merahnya. Aku dan Jay langsung menuju mobil dan memasukkan barang-barang kami ke dalam. “Sendirian, Tin?”

“Iya, nih. Kasihan si Lutfi sepertinya kecapaian habis terbang dari Riau,” sambil menyetir mobilnya keluar dari area stasiun. “Rhea juga dari Surabaya baru sampai rumahku jam 11 malam, pakai nyasar pula,” sambungnya. Aku membuka ponselku. Ada beberapa pesan dari teman-teman dari Jakarta yang sudah tiba lebih dulu dan bergerak ke Masjid Agung Jawa Tengah. Sementara teman-teman dari Bandung masih dalam di dalam kereta Harina menuju Semarang.

Continue reading

mengejar merah di pecinan semarang

cover

If there is beauty in character, there will be harmony in the home. If there is harmony in the home, there will be order in the nation. If there is order in the nation, there will be peace in the world. (Chinese Proverb)

“Aku pernah tinggal lima tahun di kota ini!” begitu selalu kubilang setiap orang bertanya, kenapa aku tahu jalan-jalan kota Semarang. Sejak TK hingga kelas tiga SD, aku tinggal di kawasan Karang Ayu, di Semarang Barat, tak jauh dari bandar udara Ahmad Yani. Masa yang cukup lama tinggal di kota ini, membuatku memiliki banyak kenangan menarik di sini.

Seperti pernah aku baca di beberapa buku sejarah, Semarang adalah salah satu kota pelabuhan yang boleh didarati oleh pedagang dari Cina, selain kota Lasem di sebelah timurnya. Mengawali acara jalan-jalan di kota Semarang untuk mempelajari jejak-jejak Cina di kota ini, bisa diawali dengan mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong, yang terletak tak jauh dari Tugu Muda Semarang.

Sewaktu kecil, aku sering diajak ayahku untuk bermain-main di halaman klenteng ini. Aku ingat, dulu aku selalu girang kalau diajak ke Gedung Batu, nama lain dari Klenteng Sam Po Kong. Tempat ini adalah salah satu tempat kenangan masa kecilku. Karena itu, ketika teman-teman dari goodreads Semarang dan Jogja janjian untuk bertemu di klenteng ini pada tahun 2011 lalu, aku senang sekali. Jam 10 pagi terasa panas terik ketika kami mulai berkeliling masuk halaman klenteng ini.

Continue reading