7 kriteria memilih apartemen di jakarta

Untuk seseorang yang tinggal di pinggiran kota seperti saya, menempuh perjalanan panjang setiap hari ke tengah kota itu sudah biasa, mengikuti manusia-manusia yang juga setiap matahari menampakkan sinarnya ikut bergerak ke arah utara. Kadang-kadang dalam kereta, kadang-kadang di balik kemudi, dan setiap hari kembali lagi di pinggiran untuk beristirahat, dan mengulang rutinitas lagi setiap hari.

Dulu saya juga pernah punya pikiran, nggak mau tinggal di Jakarta karena berasa nggak ganti hari. Agak wajar karena waktu itu saya sempat tinggal di sebuah kost di Jakarta Utara yang panasnya kebangeten baik siang atau malam kayaknya pengen ngendon saja di bawah AC, beristirahat di ruangan yang hanya sepertiga kamar saya di Depok. Continue reading

Advertisements

liburan di holiday inn pasteur

After all, the best part of a holiday is perhaps not so much to be resting yourself, as to see all the other fellows busy working.

Kenneth Grahame

Buat orang Jakarta sepertiku, Bandung selalu menjadi tempat menarik untuk berakhir pekan. Suasana kota yang lebih sejuk, udara yang lebih bersahabat, taman-taman indah yang menarik untuk disambangi, juga aneka tempat wisata baik alam maupun yang baru di sekitar kota Bandung. Bayangkan untuk duduk-duduk di cafe di bawah pohon sambil menyesap olahan minuman ringan di Dago, makan bakso Enggal di Palasari, mengantri batagor Kingsley di Veteran, rasanya cuma bisa dinikmati di Bandung.

Apalagi dengan adanya tol Cipularang yang mempercepat perjalanan dari Jakarta ke Bandung, pasti memudahkan perjalanan singkat ke kota kembang itu. Walaupun tol Cikampek sekarang banyak macetnya, tapi tetap tidak mengurangi minat warga ibukota untuk bertandang ke Bandung, yang dahulu sering dijuluki Parijs van Java. Continue reading

waxtime di akhir pekan

“Behind every beautiful thing, there’s some kind of pain.”
– Bob Dylan

Mungkin banyak yang nggak tahu bahwa beberapa tahun yang lalu, ketika aku sedang dalam kondisi unemployed, aku sempat memasang iklan baris di beberapa tabloid yang berkaitan dengan properti, menawarkan jasaku sebagai desainer salon dan spa. Iya, SALON kecantikan maksudnya, walaupun beberapa kali meluruskan rambut tetapi kembali keriting lagi, tapi tetap saja aku suka ke salon untuk sekadar creambath atau lulur.

Bermodal keluar masuk mengamati salon, beberapa kali mendesain spa, dan hasil kursus 3D Studio Max plus rendernya, sebagai lulusan sekolah arsitektur, maka aku nekat pasang iklan baris sebagai desainer interior khusus salon (karena kalau nawarin jasa arsitek banyak banget saingannya). Lumayanlah, pertama dapat klien yang mau aku desainkan meja salon dengan kaca super besar sepanjang dinding (suka banget kaca ini, jadi luas), dan bathub gede dari keramik mozaik yang unyu. Kemudian dari kerabat yang ingin membuka klinik kecantikan di Bogor juga kubantu untuk mendesain dan menata ruangan ruko menjadi sekat-sekat perawatannya. Dan klien berikutnya yang ditangani lebih dari tiga bulan, seorang artis sinetron yang biasa-biasa saja membangun salon tiga lantai di daerah timur Jakarta. Mulai dari penataan ruang, pemilihan material motif kayu, urusan listrik, air, hingga printilan beli hairdryer, hingga akhirnya aku mundur pelan-pelan karena masalah tagihan yang seret (serta kepikiran 24 jam sehari 7 hari seminggu). Dan ketika kantor lama menelepon mengajakku bergabung kembali, aku langsung iyakan. Continue reading

de Basilico Kitchen & Bar, menikmati Legian

0-de-basilico-the-one-legian-kitchen-restaurant

“If you want to make someone cry, ” Bruno said slowly, “you give them an onion to chop. But if you want them to feel sad, you cook them the dish their mother used to cook for them when they were small…”
― Anthony Capella, The Food of Love

Pada akhirnya, menghabiskan malam di Legian sembari menikmati De Basilico Kitchen & Bar adalah sebuah pilihan yang menarik. Restoran yang berada di lantai bawah hotel The ONE Legian ini bernuansa coklat kayu yang hangat senada dengan warna hotelnya, terkadang ditemani alunan musik live di sudut sembari menikmati hidangan-hidangan ala chef yang bervariasi. Tempat duduk bisa dipilih mulai di sofa bersama-sama dengan sekelompok teman, di meja kayu bulat untuk mengobrol serius bertatap mata, atau meja panjang tempat bersenda gurau yang asyik.  Continue reading

the ONE legian: meet the orange

0-the-one-legian-hotel-bali-cover


“If I’d chosen never to the foot inside the great fairytale, I’d never have known what I’ve lost. Do you see what I’m getting at? Sometimes it’s worse for us human beings to lose something dear to us than never to have had it at all.”
― Jostein Gaarder, The Orange Girl

Apakah yang dipikirkan ketika berjalan sepanjang jalan Legian? Riuh ramai bule berlalu lalang, aneka toko suvenir, cafe, restoran, dan kios-kios yang menawarkan jasa spa untuk meringankan beban kaki yang mungkin sudah penat berpesiar seharian. Legian pernah diingat sebagai tempat meledaknya bom di Paddy’s Club, yang hingga kini masih saja meriah berdentam-dentam, sambil dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati hiburan malam di situ. Monumen peringatan yang berdiri tak jauh dari situ berulangkali disinggahi orang-orang sambil berfoto, entah mengenang penanda waktu atau sekadar memberi jejak pernah berlalu di seputaran Legian. Mobil-mobil yang berjalan satu arah melaju tersendat karena menunggu taksi yang berjalan lambat sembari mencari penumpang ke suatu tempat. Continue reading

staycation hotel vila lumbung: meet the green

0-hotel-villa-lumbung-seminyak-bali-cover

Pagi mendung yang menyambutku di Hotel Vila Lumbung ini tidak mengurangi keceriaan pagi ketika tiba di tempat tinggalku selama dua hari ke depan di kawasan Petitenget, Seminyak, Bali. Walaupun gerimis kecil menghalangi niatku untuk main-main ke pantai, tapi berada di seputaran resort ini sudah bisa membuatku betah.

Resort yang berada di tengah lahan luas ini lokasinya tidak terlalu tersembunyi, tetapi deretan pepohonan yang melingkupinya membuat suasana di dalamnya tenang seolah tanpa gangguan untuk beristirahat di Pulau Dewata. Dilengkapi dengan pekarangan yang besar, kolam renang, area bermain anak, restoran, gymnasium, gedung pertemuan, spa, menjadikan tempat ini pilihan menarik di kawasan Seminyak, Bali. Continue reading

6 things to do at morrissey hotel residence jakarta

morrissey-jakarta-0

Arrived at Morrissey Hotel Residence by the end of December, find yourself walk through the stair and meet those red coach, chilling around by the lounge of the ‘klasse’ and warm yourself before join to the nest.

1. Cooking

Yes, all the room that you stay at Morrissey has the mini pantry that you can cook your food by yourself. Once you enter the room, there’s a table completed with electric stove, a kitchen sink, and a small microwave to heat up my food. That drawer under the table filled with the knife, spoons, cups, even pans for do a real cooking experience. Don’t be afraid of the smell, because an exhaust fan can suck all the smoke and smell out of our cooking experience. Even in the cabinet above can be found glasses and plates in various sizes that can be used. Bring your own instant food, and avoid starving. Continue reading

main smartphone videografi di morrissey hotel menteng

8-morrissey-hotel-menteng-jakarta

Mendung pagi itu tak menghalangiku untuk tiba di Morrissey Hotel di bilangan Menteng dan mengikuti kelas Smart Phone Videografi dari Mas Teguh Sudarisman. Memang selama ini walaupun aku sering menyimpan video sebagai salah satu perangkat dokumentasi, tapi karena tidak bisa mengedit dengan baik, maka aku berminat untuk mengikuti workshop ini. Apalagi lokasi workshopnya di Morrissey Hotel Residence karya arsitek Andra Matin, walaupun sudah pernah beberapa kali makan di sini, tapi belum pernah juga mengulik sisi dalamnya. Kesempatan bagus untuk belajar di sini, sambil mengintip-intip hotel cantik ini, nih. Continue reading

menemani senja di orange resto

0-cover-orange-resto-bogor

“Orange? Like Effie’s hair?” I say.
“A bit more muted,” he says. “More like sunset.”
― Suzanne Collins, Catching Fire

Apa sih harapanmu ketika senja tiba? Kalau mengingat masa kecilku dulu, senja adalah saat bermain, saat untuk bertamu, atau saat ketika sudah mandi dan berdandan rapi untuk minum teh dan membaca buku. Namun sore itu aku tiba di Orange Resto, yang berlokasi di Jl Sancang, tak jauh dari pintu tol Jagorawi, tanpa mandi dan tanpa larangan untuk masuk restoran dan memesan sejumlah penganan. Continue reading

semalam di la hasienda, kupang

1-la-hasienda-kupang

Aku tak terlalu berpikir banyak untuk tempat tinggal manakala harus tinggal sehari di Kupang. Atas rekomendasi seorang teman, kami menuju Hotel La Hasienda yang tidak terlalu jauh dari bandara sebagai tempat bermalam sebelum terbang ke Jakarta keesokan harinya. Ketika memasuki halaman hotel yang berada di depan jalan penuh flamboyan, aku langsung jatuh hati.

Fasade hotel bernama ala Spanyol ini memang didesain ala negeri Andalusia ini. Warna merah marun yang mendominasi bangunan, ditambah dengan sulur-sulur tanaman merambat di dindingnya, membuatku merasa nyaman di tengah panasnya Kupang pada sore hari itu. Sepertinya desain bangunannya memang untuk mengingatkan pemiliknya pada panasnya negeri matador itu. Jika di negeri aslinya hacienda berarti tanah pertanian, maka di lokasi ini lebih diisyaratkan pada ‘rumah yang nyaman di tanah tersebut. Continue reading