nyiur hijau rote ndao

rote-0-menjelang senja

“Nemberala, Pak,” begitu kusebutkan tujuanku pada supir mobil sewaan yang menawarkan jasanya sesaat sesudah aku dan ketiga temanku tiba di Pelabuhan Ba’a, sesudah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Tempat itu kutuju karena dekat dengan pantai paling selatan Pulau Rote, pulau paling selatan di nusantara yang masih berpenghuni.

Dengan mobil sewaan, kami mulai melalui jalan-jalan di pulau Rote yang cukup mulus beraspal dan memang menjadi salah satu jalan utama menjelajah pulau. Ketika melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, aku jadi tahu bahwa sumber listrik di pulau ini menggunakan tenaga diesel, dengan kapal-kapal pengangkut solar yang rutin merapat.
Continue reading

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

rumah-rumah yang berlari dalam perjalanan menuju kolbano

rumah-adat-timor-soe-0-cover

Aku menempelkan hidungku pada kaca mobil yang melaju dari kota Soe. Pepohonan berlari, tiang listrik berkari, rumah-rumah berlari. Pegunungan  yang membentang dari Soe menyajikan lansekap timbul tenggelam, menyembunyikan kehidupan di balik pepohonan gewang yang tegak berdiri tinggi.

Pikiranku kembali pada satu berita di tahun 1990-an tentang batang-batang rumah adat Timor yang dicat warna sesuai dengan warna sarung kesukaan  penghuninya. Di mana desa itu berada? Karena yang tertangkap mataku sekarang adalah rumah-rumah berwarna senada, monokrom serupa sepia dari balik kaca mobil.

Continue reading

elegi fatumnasi

0-cover-fatumnasi

Di jalanan ini aku banyak bertemu dengan orang hebat,
salah satunya adalah Mateos Anin, seorang bijak bestari dari Fatumnasi.
Ia mengajariku tentang arti sebuah ketulusan, ia juga yang menerima kehadiranku seperti anaknya sendiri.
~ Tekno Bolang : Kembara [2014]

Kami terantuk-antuk di bak belakang Toyota Fortuner yang kunaiki bersama Firsta dan Dea, serta tim dari ASITA NTT yang mengundang kami menjelajah pulau Timor. Dari kota Soe yang merupakan ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan itu, jalanan yang mula-mula berupa aspal mulus, lalu berubah menjadi agak kasar dengan tanjakan-tanjakan curam yang membuat kami harus berpegangan pada tepi bak mobil. Bukannya kami tak muat duduk di dalam kabin, tapi rasanya lebih asyik di luar dan merasakan angin menampar-nampar pipi dan meniup rambut, melihat hamparan tanah-tanah kering di sekitar sepanjang jalan. Continue reading

12 jam keliling kupang

Begitu mendarat di Kupang, yang menarik perhatianku cuma satu : panasnya, pasti mataharinya ada dua nih! Suhu udara yang berkisar di antara 30-33 derajat Celcius ini membuatku mengipas-ngipaskan brosur ke wajah. Ibukota Nusa Tenggara Timur ini terletak di pulau Timor, sekitar dua jam penerbangan dari Denpasar. Lokasinya yang strategis di tepi laut di selatan Indonesia, membuatnya sebagai jalur transportasi yang kerap dijadikan sebagai tempat transit pesawat atau kapal laut menuju banyak pulau-pulau di Nusa Tenggara. Berbagai usaha juga tumbuh di sini, sehingga sering dikunjungi untuk business trip.

Di masa lalu, Pulau Timor memiliki 12 bandar laut di pesisir-pesisir pantai, di mana salah satunya menghadap ke teluk Kupang. Nama Kupang sendiri berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah sebelum bangsa Portugis tiba di Nusa Tenggara Timur. Sewaktu zaman Belanda dan VOC-nya tempat ini disebut Koepan, dan lama kelamaan dilafalkan sebagai Kupang. Kota ini mengalami banyak akulturasi karena kedatangan bangsa-bangsa barat tersebut, karena menjadi pelabuhan yang strategis sehubungan dengan kekayaan rempah Nusa Tenggara Timur. Pada masa VOC, mereka mendatangkan penduduk dari pulau Rote, Sabu, dan Solor di daerah penyangga untuk pengamanan kota Kupang. Continue reading