tololela, menjaga tradisi di antara kampung wisata bajawa

Meningkatnya sektor pariwisata di Indonesia, khususnya pada Pulau Flores yang menjadi salah satu destinasi unggulan pada dekade  ini, membuat banyak sekali kunjungan-kunjungan pada desa-desa adat yang masih terawat di pulau ini. Daerah Ngadha yang berada pada area Flores Tengah menjadi salah satu primadona destinasi yang sering mendapat kunjungan dari wisatawan mancanegara.

Kampung adat Tololela berada di Desa Manubhara, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada,  terletak pada dua lahan datar di perbukitan di bawah kaki gunung Inerie. Tololela menampung sejumlah 20 kepala keluarga yang secara ekonomi umumnya bergantung pada sumber alam setempat. Tanah di sekitar kampung menghasilkan rempah-rempah, umbi, jagung dan kacang-kacangan.

Kesadaran masyarakatnya melakukan pelestarian permukiman adat terus meningkat seiring dengan perkembangan industri pariwisata, sebagai salah satu tujuan wisata budaya dan arsitektur. Pelestarian menjadi program, baik untuk menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan budaya setempat maupun memberi insentif pendapatan desa melalui kegiatan pariwisata. Continue reading

Advertisements

pesawatku terbang ke bulan

“When everything seems to be going wrong with you, you must remember the airplane takes off against the wind”
― Sunday Adelaja

Seumur-umur aku nggak pernah ketinggalan pesawat apalagi karena berangkat mepet, hingga aku berpikir bahwa hanya jadwal terbang yang mampu membuatku tepat waktu. Mantan bosku saja mentertawakanku yang selalu bisa tiba jam lima pagi di bandara, tapi tak pernah tepat jam sembilan di kantor. Tapi kemarin, lagi-lagi ada kejadian tidak normal yang membuatku kepingin menuliskan banyak cerita-cerita seputar pesawat ini. Berhubung hampir tiap bulan menuju bandara (bahkan dua bulan belakangan ini sudah lebih dari sepuluh kali aku naik pesawat domestik), jadi banyak cerita yang bisa dibagikan. Continue reading

pembangunan berkelanjutan, dimulai dari [kecil]

“If by chance I have omitted anything more or less proper or necessary, I beg forgiveness, since there is no one who is without fault and circumspect in all matters.”
– Fibbonacci

photo from shau architect.

Berulang kali mendengan kata-kata Sustainable Development Goals sepanjang masa kuliah, tentu melekatkan otak pada tujuh belas tujuan yang ingin dicapai oleh dunia melalui Perserikatan Bangsa-bangsa untuk mendapatkan tatanan dunia yang seimbang dan berkelanjutan sehingga bisa dinikmati hingga anak cucu nanti. Di dunia arsitektur, konstruksi dan pendidikan tentu tidak ketinggalan sebagai salah satu subjek pelaku untuk mencapai tujuan tersebut. Fokus pada sektor edukasi ini yang menjadi perhatian arsitek Indonesia yang berpartisipadi dalam ajang kompetisi global yaitu LafargeHolcim Awards. Dua dari finalis tingkat dunia ini ternyata berasal dari Indonesia dan bercerita mengenai proses desainnya pada 27 September 2018 di Jakarta Design Center. Continue reading

[ANTARA] untuk lombok

“Expose yourself to your deepest fear; after that, fear has no power, and the fear of freedom shrinks and vanishes. You are free.” 
― Jim Morrison

Sudah keenam kalinya aku menginjakkan kaki di bumi Mandalika ini, yang hampir semuanya dalam rangka jalan-jalan dengan gembira. Namun baru kali ini aku datang dengan getir, karena sekarang di sepanjang perjalanan tampak sepi. Jalanan pantai Senggigi yang biasanya ramai terlihat lengang, dan sesekali terlihat tenda terpal muncul di antara hamparan padang-padang. Terus menuju utara, reruntuhan pun menjadi pemandangan yang jamak di kiri dan kanan jalan.

Senggigi tetap menyajikan pesona senja yang luar biasa di bulan September dengan pemandangan Gunung Agung di seberang lautan yang bisa dinikmati dengan mata telanjang, berpadu dengan jingga dari bola matahari yang perlahan-lahan menghilang ditelan petang. Disambung dengan lembayung yang memenuhi udara menemani perjalanan terus ke Lombok Utara, memberi pesan bahwa waktu matahari tadi, masih menjadi pesona Lombok yang akan mengembalikannya sebagai pariwisata unggulan. Continue reading

berdendang bersama kebahagiaan ramadhan

Beranilah kita semua bermimpi
Sekaranglah saatnya kau menjalani
Kejar, kejar semua
Tanpa berhenti
Percaya selalu pada diri sendiri
– Naura

 

Jadi sebenarnya yang ngefans sama Naura itu akuu,” ujarku tersipu dalam acara Buka Puasa Bersama 1000 Anak Yatim dan Dhuafa yang diselenggarakan oleh ASIA87 Peduli.  Naura, salah satu artis cilik yang menjadi pengisi acara di sini memang memiliki banyak lirik lagu yang memotivasi banyak anak-anak untuk terus bermimpi dan mempunyai cita-cita setinggi langit. Sebagai satu-satunya penyanyi anak-anak di zaman sekarang, performance Naura sore itu sangat menghibur anak-anak untuk bernyanyi bersama, bahkan juga mengikuti gerakannya untuk menari.

ASIA 87 Foundation didirikan oleh para alumni Sekolah Islam Al Azhar angkatan 1987 untuk menjalankan empat pilar kegiatan yang terintegrasi dan berkesinambungan dalam suatu program ASIA 87 PEDULI yaitu berupa Indonesia membaca Al Qur’an, Musholla untuk Negeri, Indonesia Belajar dan Kado Lebaran untuk Anak Yatim dan Dhuafa. Continue reading

pakuncen stealing memory

Maybe it’s just an environmental issue that could take me back to Jogja and stay there for more than two weeks, kind of long journey because it’s been years since I’m not  leaving home for such a long time. Especially to the city with a love-hate memory before.

Because of the theme is Low Carbon Eco City, I submitted myself as one of the teams who will develop one of the city village in Jogja. Not a ‘real’ develop, because we are in a contest with another team to present the best design for the chosen city village.

But the great one is, we work not with our team from Universitas Indonesia, but we spread into five teams and have to work together with other students some university in Central Java, and from France also. Yes, this is the time to learn about connectivity in a different culture. My team was named Bromo, consist of 4 Indonesian students, me,  Bayu, Wisnu and Yohana and 4 France students, Perrine, Aurelien, Come, Mahy, with a different background such as architecture, urban planning, sustainability, and landscape. Also Mr. Romeo from France with Mrs Ova Candra and Mr Teguh Utomo from Indonesia who guiding us to do the project.  Of course, with that composition, we deserve to have a good solution for the place that we’ve been assigned. Continue reading

blogversary: 8 inspirasi film perjalanan

Delapan adalah sebuah angka yang sering menggambarkan hal yang tak putus. Delapan tahun memelihara tulisan-tulisan di sini, menjadi penulis, fotografer, editor, juga maintenance dan mencetuskan beragam ide-ide baru. Delapan tahun penuh persahabatan, perkenalan, berbagi kisah, mimpi, dan banyak kesempatan menarik yang tak terlewatkan. Delapan tahun menjadi tempat melarikan diri, mendistraksi banyak kesibukan, dan mengembalikan mood untuk kembali pada sehari-hari. Delapan tahun berjalan bersama, mulai jalan kaki, naik kereta, mobil, bus, pesawat, hingga kapal. Delapan tahun menyusuri kota dan desa dalam cerita.

Karena berbagi mimpi, kali ini aku berbagi tentang destinasi impian yang ingin didatangi karena menonton film yang sering sekali menimbulkan inspirasi. Kali ini tidak sendiri, karena berdelapan dengan travel blogger lain yang bakal menemani aku untuk bercerita tentang negara-negara lain yang ingin dikunjungi. Siapa tahu bisa jadi inspirasi kamu juga! Continue reading

7 Mitos Tinggal di Apartemen

Kamu punya keinginan untuk tinggal di apartemen? Atau kamu termasuk orang yang gak kepengen tinggal di hunian vertikal itu? Banyak cerita orang tentang apartemen yang memang harus dipertimbangkan dalam membeli unitnya, apalagi yang lokasinya di tengah kota. Memang, baru satu dekade ini hunian vertikal menjadi boom di Indonesia, seiring dengan tingginya kebutuhan untuk tempat tinggal yang dekat dengan lokasi pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, sehingga muncullah berbagai mitos-mitos yang menyertainya.

1. Hidup di apartemen membuat susah bersosialisasi

Lorong-lorong yang sempit dan waktu bertemu yang jarang membuat orang-orang yang tinggal di apartemen jarang bersosialisasi seperti layaknya landed house. Tapi tidak bisa demikian juga mengatakan, karena semua kembali ke personality masing-masing, karena orang-orang di landed house ini pun juga kadang-kadang mengalami kesulitan yang sama. Dengan adanya fasilitas-fasilitas yang ada di apartemen, diharapkan pertemuan antar penghuni akan terjadi dan interaksi sosial pun bisa berlanjut. Jadi ngobrol-ngobrol sambil masak bareng, masih mungkin dilakukan di apartemen, koq! Continue reading

7 kriteria memilih apartemen di jakarta

Untuk seseorang yang tinggal di pinggiran kota seperti saya, menempuh perjalanan panjang setiap hari ke tengah kota itu sudah biasa, mengikuti manusia-manusia yang juga setiap matahari menampakkan sinarnya ikut bergerak ke arah utara. Kadang-kadang dalam kereta, kadang-kadang di balik kemudi, dan setiap hari kembali lagi di pinggiran untuk beristirahat, dan mengulang rutinitas lagi setiap hari.

Dulu saya juga pernah punya pikiran, nggak mau tinggal di Jakarta karena berasa nggak ganti hari. Agak wajar karena waktu itu saya sempat tinggal di sebuah kost di Jakarta Utara yang panasnya kebangeten baik siang atau malam kayaknya pengen ngendon saja di bawah AC, beristirahat di ruangan yang hanya sepertiga kamar saya di Depok. Continue reading

7th blogversary & javasiesta

Ternyata lama-lama tindaktandukarsitek memasuki usianya yang ke-7 tepat di 20 Mei 2017 ini. Kalau anak sekolah di Indonesia, ini saat yang pas untuk masuk SD untuk belajar calistung. Walau lebih banyak juga yang masuk SD di umur 6 tahun, sih. Setahun belakangan ini sepertinya blog ini agak banyak cobaannya sehingga jarang ada tulisan baru. Soalnya si penulis yang kece ini ternyata tahun lalu memutuskan untuk kuliah lagi, jadi kuota waktu yang selama ini dialokasikan untuk menulis blog, jadinya untuk mengerjakan tugas kuliah yang segambreng itu. Presentasi tiap minggu, paper yang menumpuk menuntut untuk berkonsentrasi penuh, membaca setumpuk buku setiap minggu untuk materinya, dan banyak lagi.

Jadi, traffic untuk tindaktandukarsitek ini kadang-kadang turun, kadang-kadang naik kalau ada tulisan baru yang ditulis. Rupanya tingkat kerajinan menulis menentukan ramai tidaknya blog ini dikunjungi oleh pembaca, ya. Buat evaluasi diri saja bahwa menjaga konsistensi menulis ini berpengaruh pada banyak kunjungan. Walaupun nggak terlalu memperhatikan traffic, tapi membaca stats kalau lagi membuka blog bikin senang juga. Kayak lagi buka beranda dan menemukan tamunya banyak. Tapi tenang saja, masih banyak cerita perjalanan dan dunia arsitektur budaya yang bakal dibagikan dalam cerita-cerita di blog ini. Continue reading