blogversary: 8 inspirasi film perjalanan

Delapan adalah sebuah angka yang sering menggambarkan hal yang tak putus. Delapan tahun memelihara tulisan-tulisan di sini, menjadi penulis, fotografer, editor, juga maintenance dan mencetuskan beragam ide-ide baru. Delapan tahun penuh persahabatan, perkenalan, berbagi kisah, mimpi, dan banyak kesempatan menarik yang tak terlewatkan. Delapan tahun menjadi tempat melarikan diri, mendistraksi banyak kesibukan, dan mengembalikan mood untuk kembali pada sehari-hari. Delapan tahun berjalan bersama, mulai jalan kaki, naik kereta, mobil, bus, pesawat, hingga kapal. Delapan tahun menyusuri kota dan desa dalam cerita.

Karena berbagi mimpi, kali ini aku berbagi tentang destinasi impian yang ingin didatangi karena menonton film yang sering sekali menimbulkan inspirasi. Kali ini tidak sendiri, karena berdelapan dengan travel blogger lain yang bakal menemani aku untuk bercerita tentang negara-negara lain yang ingin dikunjungi. Siapa tahu bisa jadi inspirasi kamu juga!

Griska Gunara : Sex and The City – USA

Who doesn’t know Carrie Bradshaw from ‘The Sex and The City’ ?
TV series ini menyihir saya dengan keseluruhan setting persahabatan 4 wanita hebat di Manhattan, New York City, Amerika Serikat. Sampai bermimpi ingin berada dan berfoto di lokasi set saat Carrie dan Big berakting di depan The Plaza Hotel yang iconic. Atau sekedar mengunjungi halaman apartment Carrie yang berada di 66 Street, New York yang konon ini juga menjadi tourist attraction ever since.

Bisa juga hangout ngopi cantik di Astor Place Starbucks, tempatnya Carrie melakukan adegan interview pencarian asisten pribadinya, yang kemudian pilihan jatuh ke Jennifer Hudson. Dan masih banyak lagi lokasi yang ingin saya kunjungi. Dannn, di sekitar Manhattan ini banyak Museum. Ah, heaven deh !
Overall, selain lokasi set Tv Series yang hits di tahun 1998 ini, saya memang dying banget bermimpi bisa menginjak New York. Do’akan saya biar bisa berangkat one day soon ya ! Semesta mendukung orang-orang yang ingin ke New York ! Amen !

Griska
[perempuan bekasi yang sering yoga, kunjungi di griskagunara.com atau IG @griskagunara]

Rembulan Indira :  Blended – Afrika Selatan

Saya selalu suka film drama keluarga, apalagi jika ada unsur komedinya. Film Blended, di luar bayangan, bisa memenuhi ekspektasi saya akan sebuah film yang menghibur tanpa harus berpikir keras. Bercerita tentang dua orangtua tunggal: Lauren dengan dua anak laki-laki (yang satu mesum, satunya suka tantrum.😂) dan Jim dengan tiga anak perempuannya (yang semuanya dibesarkan secara maskulin) melakukan kencan buta, yang mana tidak berjalan dengan baik. Entah bagaimana, lha kok ya mereka ketemu lagi terus-terusan macam the universe conspires to cross-path them. Tsah! Petualangan dimulai ketika sahabat Lauren dan bossnya Jim yang adalah pasangan (sungguh memang Amerika macam negara kicil aja di film ini, nganan ngiri ketemunya dia dia juga) putus padahal bossnya Jim sudah merencanakan liburan keluarga di sebuah resor di Afrika! Nggak mau kehilangan kesempatan liburan gratis, Jim nelp bossnya dan minta liburannya dilimpahkan ke dia sementara Lauren ngomong sama sahabatnya minta jatah liburan itu diberikan ke dia. Once again, the universe conspires and makes it happen! JELEGER.. Petir menyambar. Ketemulah mereka sekeluarga besar di Afrika sana dan petualangan serta kelucuan-kelucuan pun dimulai.

Film Blended mengobarkan keinginan saya untuk mengunjungi sebuah negara di benua Afrika: South Africa. Eh, jangan salah ya, saya bukan berbicara tentang Afrika bagian selatan melainkan negara Afrika Selatan. Bingung nggak? Hihi. Bagian selatan benua Afrika (Southern Africa) terdiri dari bermacam negara, salah satu negara yang ada di Southern Africa adalah SOUTH AFRICA! Lokasi syuting film ini ada di sebuah resor bernama Sun City. Sungguh, habis nonton film ini untuk yang kedua kalinya, saya sampai niat googling berapa harga paket menginap di resor tersebut. Hihi. Mau banget lah ke sana, sendirian juga nggak apa. Melihat siluet jerapah yang lagi berjalan anggun di saat sunset, paralayang sambil melihat sekumpulan gajah bersenda gurau, naik mobil terbuka lihat keluarga singa (yang makan bayi hippo – aduh Mak) dan melihat dua badak memadu kasih di pinggir danau (humm..). Resor ini menawarkan beberapa paket liburan. Tipe paketnya yang sudah asyik gitu, lengkap semuanya sekaligus kegiatan alamnya jadi sama kayak nonton filmnya, liburan di resor tersebut macam nggak pakai mikir lah, langsung nikmati saja.

Thanks to this movie, saya taruh South Africa 5cm di depan mata. Semoga akan terwujud! Dan mengingat kamar-kamar di Sun City yang ditampilkan di film kayaknya cocok jadi tujuan bulan madu maka tak lain dan tak bukan, saya menaruh harapan besar pada calon suami saya untuk membaca tulisan ini dan kemudian mewujudkan impian saya ini.
Eaaaa!! Kasihan calon suaminya. Baru jadi calon sudah dikasih beban.

Bulan
[tinggal di jogja dan bisa ditanyain soal kecantikan juga, kunjungi di ubermoon.me atau IG @ubermoon]

Bang Aswi : Seventy Seven Days – China

Haus akan petualangan, akhirnya sosok itu menemukan lagi film baru dari negeri China berjudul “Seventy Seven Days”. Ini kisah nyata dari Yang Liusong, seorang pesepeda, yang ingin bersepeda melewati Qiang Tang (sebuah daerah takberpenghuni berupa gurun, salju, dan siap menghadapi badai, beruang, dan hewan liar lainnya) dari timur ke barat dengan target 80 hari. Liusong kemudian berkelana dengan Lan Tian, seorang penulis traveling yang mengalami kelumpuhan pada kakinya. Berhasilkah mereka?

Salah satu hal yang membuat dia suka (dan cinta) dengan film ini adalah petualangan dan alamnya. Petualangan dan alam adalah dua hal takterpisahkan. Bertualang di alam yang indah adalah impian sosok itu dalam mencintai Bumi ini. Bayangkan saja, menit ke-5 film ini dimulai sudah menyajikan kapas-kapas yang bertebaran di langit biru. Padang pasir yang luas, laut dengan ombak yang ‘icy’, ditambah dengan latar pegunungan dimana Everest mematung.

Takterkatakan. Bumbu penyedap muncul dengan kehadiran Lan Tian, gadis cantik pecinta traveling yang kemudian mengalami kelumpuhan karena jatuh dari tebing saat berburu bintang. Adegan perpisahan dengan melihat Gunung Everest benar-benar menghancurleburkan hati. Efek Lan Tian jatuh dengan latar galaksi Bima Sakti begitu indah. Hanya keindahan?

Tidak. Film ini bercerita tentang keteguhan hati Yang Liusong saat bertualang sendirian. Alam yang tidak bersahabat: tiba² saja ada sungai besar yang menghadang setelah salju mulai mencair atau dihadang angin puting beliung. Begitu pula perjuangannya menghadapi dua serigala yang terus menguntit, menunggu dirinya lengah.

Gimana rasanya sepeda dan tenda yang menjadi tumpuan hidup, hilang ditelah angin puting beliung di tengah perjalanan yang belum selesai? Atau tiba-tiba dikejar oleh hewan liar?

Bang Aswi
[pesepeda asal bandung yang tidak takut dingin, kunjungi di sosokitu.com atau IG @bangaswi]

Amalia Ramadhani : Taiyou No Uta – Jepang

Sejak SMP, aku sudah mendengar lagu Jepang dari teman-temanku yang memang suka dengan lagu Jepang. Saat itu, aku belajar bahasa Jepang supaya paham apa artinya dan bagaimana cara menulis huruf hiragana. Oh, penyanyi pertama yang aku dengar adalah Yui Yoshioka. Lagu-lagunya easy listening  dan sederhana. Sampai mengunduh setiap video clip dan live. Ternyata, penyanyi ini sudah pernah bermain film tahun 2006 dengan Yui sendiri tokoh utamanya. Telat memang, tapi aku tidak bosan bosan untuk melihatnya berulang-ulang.

Filmnya berjudul Taiyou No Uta atau dalam bahasa Inggris “Midnight Sun”. Dengan berkisah romansa dan drama akan kehidupan, membuat penonton berurai air mata. Diperankan oleh Yui sebagai Amane Kaoru yang menderita Xeroderma Pigmentosum (XP), yaitu alergi dengan sinar matahari. Di film ini, Kaoru dekat dengan Koji Fushiro yang dimainkan oleh Takashi Tsukamoto. Kehidupan keduanya sangat berbeda, karena Koji sangat senang sekali dengan surfing. Membuat keduanya saling memperkenalkan dunia masing-masing. Sampai pada akhirnya Kaoru tidak dapat bertahan dengan apa yang dideritanya.

Norihiro Koizumi membuat film yang berlatar di Pantai Yokohama dan pusat kota Yokohama. Di mana Koji selalu bermain papan selancar di pantai dan Kaoru selalu bermain gitar bernyanyi di pusat kota Yokohama. Walaupun sang sutradara tidak menyorot sekali tentang tempat, namun hal ini tetap membuatku ingin pergi ke sana. Ingin merasakan bagaimana kehidupan di Yokohama, Jepang. Karena penasaran dan belum tahu apa-apa, hanya bermodal membaca di internet, tidak membuat habis penasaranku.

Amel
[mahasiswi asal cilacap yang rajin belajar motret, kunjungi di amerumel.blogspot.co.id atau IG @amerumel]

Albert Ghana : The Secret Life Of Walter Mitty – Iceland

Film yang mengisahkan tentang seorang pegawai di departemen perawatan film negatif di sebuah majalah. Suatu hari, perusahaan akan menerbitkan edisi terakhir majalah dan membutuhkan foto dari seorang fotografer terkenal. Namun, Walter pegawai departemen film negatif tidak menemukan foto yang dimaksud. Hal ini kemudian membawa Walter bertualang ke berbagai negara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Salah satu negara yang dikunjungi dan cukup banyak tampil di scene adalah Islandia. Negeri es ini tampil sangat memukau di film ini, dengan bentang alam dan pemandangan gunung apinya. Scene Walter bermain skateboard di jalan-jalan Islandia yang sepi adalah sebuah pertunjukkan tentang alam Islandia yang masih terjaga dan negara yang sangat jarang manusianya. Jalan-jakan Islandia sungguh lengang, udara juga terlihat bersih sekali.

Bagi saya sendiri, Islandia bak sebuah negeri dongeng, di mana salju-salju ada hampir sepanjang tahun. Rumah-rumah bercat warna-warni, tebing-tebing tepi lautnya juga nenggoda untuk disinggahi. Oh, meskipun negeri es, gunung api juga banyak di negara ini dan membuat banyaknya geyser dan sumber mata air panas. Banyak kolam-kolam air panas yang boleh dipakai gratis untuk berendam menghangatkan diri. Letak geografisnya yang ada di pertemuan lempwng benua Amerika dan Eropa, juga membuat negeri ini bak sebuah perbatasan budaya Trans Atlantik. Islandia tentu wajib masuk dalam bucketlist hidup anda.

Ghana
[pemuda pontianak yang mengadu ilmu di tembalang, kunjungi di albertna.com atau IG @albert_na]

Tracy Chong : The Lord of The Rings – New Zealand

Kalau bicara soal film, ada beberapa film layar lebar yang membuatku begitu berkesan sampai akhirnya saya memutuskan untuk berlibur ke negera tersebut. Salah satunya adalah film The Lord of the Rings. Tahu kan film terpanjang pertama kayanya yang sampai ada trilogynya, yang tidak cuma memperlihatkan karakter-karakter yang bikin penonton pangling dengan kegantengan dan kecantikan kaum Elfs yang mahir memainkan busur dan panahnya, dan juga kelucuan serta keseruan kehidupan para Hobbits dan teman-temannya.

Yang membuat saya berkesan bukan hanya jalan ceritanya saja, tetapi juga lokasi-lokasi alam yang diperlihatkan di sepanjang film tersebut – tempat-tempat dengan pemandangan pegunungan yang menurut saya sangat indah. Awalnya saya mengira itu semua adalah efek dari computer graphic, tapi ternyata tidak semuanya! Dan ketika saya tahu bahwa sebagian besar lokasi syuting film tersebut berada dil di New Zealand, tanpa ragu saya memasukkan New Zealand ke dalam travel wishlist.

Saya sangat menyukai tempat-tempat yang alami. Dan sudah kurang lebih 4 tahun berlalu sejak saya pertama kali menginjakkan kaki di New Zealand. Dan tentunya sewaktu saya di sana, salah satu tempat yang tidak saya lewatkan untuk dikunjungi adalah Hobbiton – lokasi syuting tempat para Hobbits tinggal di film The Lord of the Rings dan juga The Hobbits. Bukit-bukit hijau dengan rumah-rumah yang mereka sebut dengan rabbit hole karena bentuknya yang memang mirip dengan lubang galian di bukit. Bila ada kesempatan lagi, saya pastinya akan kembali lagi! Masih banyak lokasi syuting dari film tersebut yang belum saya kunjungi. New Zealand is such a beautiful country! Berkunjung sekali tidak akan pernah cukup!

TC
[kalau tidak ke mana-mana sering tinggal di singapore, kunjungi di peekholidays.com atau IG @peekholidays]

Yofangga Rayson : Seven Years in Tibet – Tibet

Akan selalu ada film yang membuat kita menyesal karena telah menghabiskan hari dengan diam di satu tempat, tidak melakukan apa-apa. Bagi saya, film tersebut berjudul Seven Years in Tibet. Bercerita tentang seorang pendaki yang gagal melakukan pendakian ke Himalaya, untuk kemudian menemukan hal lain yang lebih memesona, Tibet.

Bukan pada pucuk-pucuk pegunungan nan berlomba menusuk langit, satu pemandangan yang selalu saya ingat dari film tersebut adalah magisnya Potala. Terletak di kota Lhasa, istana tempat berdiamnya Dalai Lama itu berhasil memenuhi kepala saya dengan imajinasi kota-kota atap dunia. Potala menjadi begitu menarik justru karena ia jarang disorot, ia hening, terpencil, megah, juga kudus. Usai menonton Seven Years in Tibet, seketika itu juga saya merasa berhutang untuk paling tidak, sekali saja, dapat berkelana ke sana. Menuntaskan rindu pada kota yang belum pernah saya datangi.

Yofangga
[penyendiri baik hati dari ranah minang, kunjungi di thelostraveler.com atau IG @yofangga]

Indri Juwono : Before Sunset – Perancis

Sebagai penggemar buku, scene di Shakespeare & Co membuat saya jatuh cinta pada film ini. Ceritanya sih sederhana saja, tentang dua orang yang bertemu lagi sesudah 9 tahun berpisah di Praha di film Before Sunrise tanpa meninggalkan kontak sama sekali. Jesse yang menulis buku tentang kisah mereka dulu, dan Celine tinggal di Paris mendengar kabar itu dan datang ke acara reading book-nya di toko buku yang sangat memorable ini. Mereka berbicara tentang kehidupan selama terpisah, tentang cinta, tentang mimpi-mimpi yang terlewatkan sambil berjalan kaki keliling Paris.

Sebenarnya nggak terlalu jauh, berkeliling sepanjang siang dengan latar arsitektur yang cantik di beberapa jalan kemudian berakhir di satu kafe. Kemudian ada taman Promenade Plantée yang cantik, tempat mereka berjalan di koridornya hingga duduk-duduk di bangku besinya. Dunia yang berubah sesudah sembilan tahun juga mengubah cara pandang masing-masing terhadap banyak hal. Ada skeptis, ada sinis, dan berpendapat bahwa dirinya lebih benar. Tapi hidup kebetulan sudah bergulir, dan masing-masing menjalaninya. Memory is a wonderful thing if you don’t have to deal with the past.

Favoritku adalah ketika mereka jalan di tepi dinding merah menuju riverbank-nya sungai Seine, sambil mengobrol panjang dalam satu scene mungkin lebih dari 5 menit. Aku sampai berpikir, diulang berapa kali take-nya ini karena nggak ada potongan sama sekali, hingga naik kapal hingga sebelum matahari terbenam.
Suatu hari nanti, pasti aku ke Paris dan menghabiskan sore di sini, mungkin dengan seseorang dekat yang lama tak bertemu dan bercerita tentang kami. Mudah-mudahan dengan seseorang yang seganteng Ethan Hawke.

I guess when you’re young, you just believe there will be many people with whom you connect with.
Later in life you realize it happens only a few times.

Indri
[pembaca buku yang sering lari pagi di depok, empunya tindaktandukarsitek.com dan IG @miss_almayra]

Sebenarnya kalau mau ditulis negara mana yang kepingin dikunjungi karena film, pasti banyak sekali. Kepingin ke London karena Notting Hill, cuma mau duduk-duduk di bangkunya, atau kebun anggur Napa Valley dari A Walk in the Clouds, ke Rusia karena film-filmnya James Bond, ke laut Yunani dari film Mamamia!, dan banyaklah macam-macamnya.

Dan pilihan teman-teman ini menarik juga, Sex and the City, all time friendship my favorite, menggambarkan kehidupan yang sangat New York, juga bertualang di Afrika bareng Blended, there was the time I always saw Drew Barrymore movie, terinspirasi bertualang di gurun bareng Seventy Seven Days, simply romantis seperti Taiyo no Uta, atau mengeksplorasi Islandia di Walter Mitty. Siapa juga yang nggak mau ke New Zealand sesudah nonton Lord of the Rings, atau merenungkan kehidupan hingga Seven Years in Tibet. Mungkin ada kesempatan menemukan cinta di Before Sunset. Wah, rasanya seperti menjelajah keliling dunia dengan lima benua.

Seringkali suatu tempat menjadi ramai karena sesudah dibuat film yang laris dan membuat banyak orang ke situ karena ingin mencobai mimpi sesaat yang ada di dalam film. Atau bisa jadi di tempat-tempat tersebut mimpinya jadi kenyataan. Semoga bisa dijalani sehingga blog ini tetap bisa sampai 18, 28 atau hingga 88 tahun lagi bercerita.

Kalau kamu, punya destinasi impian dari film yang ditonton juga kah? Boleh share di kolom komen, ya.

Advertisements

bermain pelangi di kampung ragam warna

Kalau ada yang bertanya padaku, benda langit apa yang menjadi favoritku, jawabnya adalah pelangi. Kenapa ya? Soalnya pelangi itu adalah benda langit yang tidak bisa diperkirakan kehadirannya. Kadang-kadang ditunggu sesudah hujan, belum tentu ada juga. Tapi kalau tiba-tiba melihat pelangi, gembira luar biasa sampai hanya terpekur menatap langit.

Jadi begitu perasaannya ketika bangun tidur di homestay Kampung Ragam Warna, dan melihat aneka pelangi di atap-atap rumah. Seperti jiwa kekanakan mencuat lagi di tubuh yang sudah dewasa ini. Continue reading

rekomendasi sewa kapal di labuan bajo

Labuan Bajo mungkin adalah salah satu tempat yang menarik hatiku di Indonesia. Gugusan pulau-pulaunya yang membentang dengan lautnya yang biru cerah membuat hidup di kapal selama tiga hari menjadikan hati dipenuhi kebahagiaan. Mulai dari pelabuhan, bertemu dengan berbagai macam jenis kapal mulai dari kapal ferry, kapal Pelni, kapal barang, kapal tongkang, kapal nelayan, hingga kapal pinisi menjangkar dengan indahnya di perairan pelabuhan pada areanya masing-masing. Continue reading

Mengembangkan Potensi Desa lewat Rural Enterpreneurship Bali Utara 2018

Sejak dulu, setiap kali aku liburan ke desa-desa di berbagai wilayah di Indonesia selalu terpikir, bagaimana jika suatu saat nanti aku tinggal di desa saja dan membuat usaha dari sini. Potensi-potensi alami dari penjuru ini bisa menjadi energi untuk kehidupan yang lebih baik. Pengembangan potensi desa ini tentu seharusnya bisa mengurangi minat orang untuk selalu memenuhi kota besar hingga sesak, dan menimbulkan banyak masalah yang harus diselesaikan. Keguyuban dan ketulusan masyarakat desa mungkin menjadi daya tarik, namun pendekatan terhadap masyarakatnya adalah tantangan tersendiri.

Untuk yang bekerja dan berusaha di kota besar, liburan dan waktu luang jauh dari hiruk pikuknya kota selalu menjadi hal yang diimpi-impikan. Mungkin rasanya tak cukup hanya akhir pekan saja untuk membayar lelahnya kerja selama satu minggu. Jika sudah terus menerus begitu, sering berat bertemu Senin lagi. Jika sudah begitu, muncul pemikiran kenapa tidak berusaha jauh dari kota saja? Dari desa-desa yang banyak tersebar di berbagai wilayah di Indonesia ini.

Continue reading

selamat pagi desa binamzain asmat papua

“It is good to have an end to journey toward; but it is the journey that matters, in the end.”
― Ursula K. Le Guin, The Left Hand of Darkness

Aku teringat pertama kali jatuh cinta pada Kolf Braza, adalah ketika pagi menyapa usai beristirahat setelah perjalanan panjang dari Agats. Kabut dan embun menyapa dari pucuk-pucuk pohon sagu, yang siluetnya memberikan dimensi kala mengedarkan pandangan mata. Udara dingin menggigit kulit, dengan semburat kebiruan di kejauhan, sementara burung-burung bersahutan menyambut pagi.

Aku melangkah pada jalan kayu yang melayang di atas tanah seperti pada titian, menghirup aroma pagi yang haru. Di sekumpulan sisi lain desa, anjing-anjing menggonggong membangunkan satu sama lain, seperti panggilan untuk memulai hari. Pagi yang setengah riuh dari Kolf Braza, sebelum matahari menggeliat dan pergerakan dimulai. Continue reading

kolf braza dari tepi sungai

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.”
― Terry Pratchett, A Hat Full of Sky

Kapal speedboat yang membawa kami menderu di sungai Aswet usai dilepas di Pelabuhan yang berada di belakang pasar Agats bersama menuju Distrik Kolf Braza yang menurut informasi berjarak sekitar enam jam dari ibukota kabupaten tersebut. Di pelabuhan tadi kami juga bertemu Kak Seto yang hendak ke Distrik Jetsy untuk beraktivitas dengan anak-anak. Tim yang berangkat adalah Prof. Heri Hermansyah, Albert Roring, Dr. Sri Wahyuni, dr. Taufik, dr. Firsandi, Dr. Chairul Hudaya, Indri Juwono, I Made Genta, Ade Putra dan Ahmad Lutfi. Di bawah bantuan komando Letda CKM dr. Marsandi yang juga merupakan alumni FKUI, tim berangkat jam 08.00 menggunakan tiga speedboat beserta logistik yang diperlukan. Tim juga dibantu oleh Sertu Anang dari SatgasKes III Asmat serta Pratu Hepsy dan Kopda Wahyu dari batalion yang mengawal perjalanan kami sehingga total anggota tim menjadi 14 orang.
Continue reading

cerita dari agats, kota sejuta papan

“To dwellers in a wood, almost every species of tree has its voice as well as its feature.”
― Thomas Hardy, Under the Greenwood Tree

Setelah sekitar 10 jam perjalanan malam di laut, KRI Hasan Basri merapat di Pelabuhan Besar Agats, Papua pada jam 07.16 WIT. Malam sebelumnya kami berangkat dari Dock Freeport di Timika untuk menuju ibukota kabupaten Asmat ini melalui jalur laut. Jalur ini adalah salah satu pilihan menuju Agats dari Timika, selain menggunakan pesawat udara hingga bandara Ewer di Agats.

Hampir keseluruhan tanah di Agats adalah rawa-rawa, sehingga tak heran bahwa kota ini berdiri di atas tonggak-tonggak yang memenuhi setiap ujung kotanya. Sementara barang-barang diangkut lagi dengan perahu ketinting dari tepi pelabuhan, kami berjalan kaki menyusuri jalan di kota Agats. Tim UI Peduli bersama Satgas Kesehatan TNI akan berada di Asmat selama beberapa waktu untuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Continue reading

trizara: piknik kaya rasa

Lembang adalah salah satu tempat favoritku di Bandung. Sejak aku SD hingga beberapa tahun yang lalu, aku selalu ke Lembang dengan keluarga, menikmati udara dinginnya yang menggigit kulit. Sayangnya bukan cuma aku yang tahu bahwa Lembang itu indah, sehingga makin banyak orang yang menuju ke sana dan mengakibatkan akses menujunya menjadi padat dan macet.

Karena itu, sepertinya memang untuk liburan di Lembang tak cukup satu hari. Makanya ketika dapat tawaran untuk menginap di Trizara Resorts di Lembang selama 3 hari 2 malam, aku langsung mengiyakan. Apalagi bersama teman-teman travel blogger yang lain, pasti bakal banyak aktivitas yang bisa dilakukan di sana bersama-sama, dibanding hanya liburan sendiri saja.

Perjalanan dari Jakarta ke Lembang sekitar 3 jam lebih, melalui jalan tol Cikampek, jalan tol Cipularang hingga keluar di pintu tol Pasteur. Bis yang membawa kami melaju terus di Jl Pasteur untuk berbelok di depan RS Hasan Sadikin, melewati Mal Paris van Java, terus ke atas bertemu Jl Cipaganti dan Jl Setiabudi, lewat depan terminal Ledeng dan UPI, lalu terus menanjak ke atas melalui jalan berkelak-kelok. Penasaran juga di mana sebenarnya Trizara ini berada, ternyata tepat sebelum gerbang selamat datang Lembang, bis berbelok ke kiri arah Cihanjuang. Sempat berhenti di depan restoran tahu, penumpang berganti dari bis ke angkot untuk masuk ke jalur menanjak yang menantang, dan akhirnya tiba di gerbang Trizara. Continue reading

simpul belajar The Hive singapura

Memasuki kampus Nanyang Technological University di Singapura, suasana teduh dan sejuk melingkupi sebagian besar jalan-jalannya. Pikiranku melayang pada kampus almamater di tanah air yang juga berada di tengah hutan yang hijau, tapi sudah mulai penuh oleh bangunan. Bis tingkat yang membawa kami dari stasiun Bon Lay tadi ikut masuk dan mengelilingi jalan lingkar kampus. Kalau duduk di lantai atasnya, pemandangan kampus akan terpampang seluas jendela.

Tujuan kami, The Hive Learning Hub yang berada di setopan terakhir sebelum bis keluar dari jalur lingkar kampus NTU ini. Sesudah menunggu Intan yang naik bis berikutnya, kami hanya berjalan kaki hingga bangunan The Hive yang difungsikan sebagai simpul pertemuan, tidak hanya antar mahasiswa untuk saling bertukar wawasan dan ilmu, namun juga bisa bertemu rekanan bisnis yang diinisiasi dari kampus. Continue reading

upaya mengembalikan hijau

Good design is sustainable, Great design is responsible

Yang membuat aku banyak berpikir ketika mengunjungi beberapa bangunan yang menerapkan prinsip green building di Singapura ini, ternyata ada investor yang mau menanamkan modal yang cukup besar untuk sistem ini bisa dijalankan. Kebanyakan pengembang di negeri sendiri ketakutan dengan initial cost atau maintenance cost yang tinggi pada sistem dan tidak berpikir bahwa nilai penghematannya akan membuatnya untung sesudah beberapa tahun.

Bangunan-bangunan ini berdiri tidak hanya untuk jangka waktu yang pendek, sehingga bagaimana ia bekerja dan ‘menghidupi’ dirinya sendiri pun perlu dilakukan jangka panjang, tidak sekadar menaikkan biaya perawatan pada penyewa lantainya, tapi juga membuatnya cerdas dan hemat sehingga meminimalisasi dampak lingkungan terhadap generasi sesudahnya. Continue reading