ruang-ruang sosial di tepi laut ternate

Kevin Lynch mengatakan bahwa terdapat elemen-elemen penting dalam pembentukan imaji fisik suatu kota. Dalam bukunya yang berjudul Image of the City, terdapat pengaruh-pengaruh dari pencitraan yang dilihat secara fisik untuk memperkuat makna kota. Mengacu pada lima elemen, yaitu path, edge, district, node, dan landmark, yang seringkali berulang lagi dalam satu lingkungan, bukan hanya seluas fungsi kota, unsur-unsur ini muncul bukan hanya karena sengaja dibangun oleh manusia, tapi bisa juga memang muncul karena kegiatan manusianya yang membuat unsur ini menjadi berfungsi dengan sendirinya.

Bukan berarti jika elemen-elemen ini tidak dipenuhi, maka suatu tempat tidak layak disebut kota, karena ini hanyalah salah satu tengara fisik yang mudah diamati ketika berkeliling kota, ketimbang harus memahami batas-batas administratif yang ditentukan oleh pemerintahan. Berkeliling pada satu sisi Pulau Ternate di sebelah timur menghadap Laut Jailolo, tempat mayoritas kegiatan bisnis dan sosial berlangsung yang tidak banyak berubah sejak masa perdagangan Portugis hingga VOC. Pola perkotaan yang berbasis pada laut, mengakibatkan orientasi kota tidak mengacu pada pusat tertentu, melainkan pada tepian laut lepas. Karena itu area kegiatan sosial lebih banyak terletak di tepian perairan yang mengelilingi pulau.
Continue reading

kepingan lingkar ternate

Matahari sudah naik seperempat langit ketika pesawatku mendarat di bandar udara Sultan Baabulah, Ternate. Kuputar jarum jam tanganku supaya menunjukkan waktu dua jam lebih cepat dari Jakarta, usai penerbangan dini hari empat jam tadi. Usai mengambil tas di bagasi, aku beranjak ke jalan raya dan mencari tukang ojek yang akan membawaku berkeliling pulau.

Pulau Ternate amat dikenal sebagai bagian sejarah bangsa ini, sebagai penghasil buah pala dan cengkeh, rempah-rempah yang amat laris pada abad 18-19 dan menjadi perebutan berbagai bangsa di Eropa. Di awal abad ke16 pulau ini ramai didatangi saudagar dari Portugis, yang memberikan banyak kemilau emas pada rajanya sebagai pembayaran atas hasil bumi rempah yang dibawa ke bumi Eropa. Berlanjut dengan kekuasaan pedagang VOC yang kemudian memonopoli perdagangan ini. Continue reading

mudik bersama kereta tegal bahari

“[…] its small squares of fast-passing light, the early evening windows of the lives of hundreds of others.”
Ali Smith, The Whole Story and Other Stories

Lebaran tahun ini aku memutuskan untuk mudik ke Cirebon dengan kereta api. Sebenarnya sih tidak ada yang istimewa di sini, karena toh memang setiap tahunnya aku mudik ke kota udang ini pun dengan kereta dengan berbagai jenis kereta. Memang, hampir semua kereta menuju Jawa Tengah dan Timur pasti melewati Cirebon, sehingga bisa dipilih kelas apa saja yang bisa dinaiki, tergantung dengan kemampuan kantong. Mulai dari kelas Argobromo Anggrek yang eksekutif terbaik hingga Matarmaja ekonomi 3-2 (dalam gerbongnya berbanjar bangku isi 3 dan 2 orang), berhenti di Cirebon. Continue reading

menghimpun biru togean

dedicated to Vindhya Birahmatika Sabnani, angel of the sea.

Kapal motor kayu berisi sekitar 15 orang itu meninggalkan pantai Ampana sesudah kami semua makan siang dengan seafood. Kulirik jam tanganku yang menunjukkan pukul dua siang, langit biru cerah dan matahari terik yang membuat udara menjadi agak hangat berpadu dengan deburan air laut biru yang pecah oleh lunas kapal yang melaju. “Kira-kira sampai ujung itu, sinyal bakal hilang,” pesan Vindhya sambil menunjuk daratan ujung teluk yang ada di sebelah kiri. Aku langsung menghubungi beberapa orang untuk mengabarkan bahwa aku tidak bisa dapat sinyal hingga tiga hari ke depan, supaya mereka tidak mencari.

Perjalanan ke Togean ini mendadak kurencanakan karena bosan dengan hujan yang terus menerus selama beberapa bulan di Jakarta, dan membuat langit selalu tampak kelabu. “Aku kangen langit biru,” begitu kataku pada Vindhya dari ibupenyu yang mengantar kami menjelajah Kepulauan Togean. Masih banyak orang yang tidak pernah mendengar di mana lokasi Togean apabila disebut namanya, karena itu aku penasaran untuk berkunjung ke lokasi yang kulihat dominan biru laut dari foto-foto di internet. Pertama kali mendengarnya hanya dari teman yang tinggal di Palu, tapi sudah cukup untuk membuatku jatuh cinta dari biru. Apalagi belum banyak orang ke sini, pasti masih sepi, pikirku. Continue reading

ke laut, siapa takut?

Menghabiskan akhir pekan yang panjang ke Kepulauan Togean di Teluk Tomini Sulawesi, adalah salah satu titik impianku di Indonesia. Hidup di antara pulau-pulau, transportasi dengan kapal ke mana-mana, dan menghabiskan hari di bawah sinar matahari yang melimpah ruah, mensyukuri negeri bahari yang indah ini. Apa saja sih hal favoritku di Togean? Continue reading

7th blogversary & javasiesta

Ternyata lama-lama tindaktandukarsitek memasuki usianya yang ke-7 tepat di 20 Mei 2017 ini. Kalau anak sekolah di Indonesia, ini saat yang pas untuk masuk SD untuk belajar calistung. Walau lebih banyak juga yang masuk SD di umur 6 tahun, sih. Setahun belakangan ini sepertinya blog ini agak banyak cobaannya sehingga jarang ada tulisan baru. Soalnya si penulis yang kece ini ternyata tahun lalu memutuskan untuk kuliah lagi, jadi kuota waktu yang selama ini dialokasikan untuk menulis blog, jadinya untuk mengerjakan tugas kuliah yang segambreng itu. Presentasi tiap minggu, paper yang menumpuk menuntut untuk berkonsentrasi penuh, membaca setumpuk buku setiap minggu untuk materinya, dan banyak lagi.

Jadi, traffic untuk tindaktandukarsitek ini kadang-kadang turun, kadang-kadang naik kalau ada tulisan baru yang ditulis. Rupanya tingkat kerajinan menulis menentukan ramai tidaknya blog ini dikunjungi oleh pembaca, ya. Buat evaluasi diri saja bahwa menjaga konsistensi menulis ini berpengaruh pada banyak kunjungan. Walaupun nggak terlalu memperhatikan traffic, tapi membaca stats kalau lagi membuka blog bikin senang juga. Kayak lagi buka beranda dan menemukan tamunya banyak. Tapi tenang saja, masih banyak cerita perjalanan dan dunia arsitektur budaya yang bakal dibagikan dalam cerita-cerita di blog ini. Continue reading

dua puluh empat jam di Palu

Sebelum memulai petualangan di lautan Sulawesi Tengah, aku tiba di Palu, ibukota propinsi yang selama ini hanya tahu dari buku geografi saja. Mendarat di sini pada jam setengah sebelas WITA, rasanya seperti sudah tengah hari saja, karena kota ini memang berada dekat dengan garis khatulistiwa dengan posisinya di 0,35 – 1,20 LU dan 120 – 122,90 BT.

Dilihat dari udara, kota ini didominasi oleh atap seng gelombang yang menjadi penutup bangunan-bangunan dengan berbagai warna. Ketika mengobrol dengan supir yang menjemput kami, memang di Palu tidak banyak ada tanah liat sehingga tidak umum mengubahnya menjadi genting. Kalauppun ada, pasti hanya digunakan sebagai bata saja.

Kota Palu berada di tengah teluk Palu, berbentuk memanjang dari timur ke barat, sehingga garis pantainya memanjang berbentuk huruf U. Di tengahnya, terdapat Sungai Palu yang dihubungkan dengan jembatan Palu berwarna kuning yang cukup terkenal. Area pusat kota lebih banyak pada Palu di sisi timur teluk, termasuk area perdagangan dan pusat pemerintahan, sementara yang arah ke barat relatif lebih sepi. Namun, di sisi selatannya, kota juga berkembang dengan pesat dengan jalan-jalan aspal yang bagus dan lebar.  Continue reading

serba-serbi berkereta api di india dalam 2804 km

“The trains always arrive at your station. The question is which one to take?”
― Mehmet Murat ildan

Buat yang sering menyimak berita-berita transportasi India, pasti tahu bahwa kereta api adalah transportasi utama yang menjadi favorit banyak warga di negeri ini. Jalur kereta membentang dari dataran rendah Kerala hingga Darjeeling di atap dunia. Yang paling umum digunakan turis adalah Kolkata-Varanasi-Agra-Delhi, jalur yang sudah berfungsi sejak tahun 1860. Atau bisa juga melipir ke sisi-sisi lain dari ujung-ujung kota, hampir selalu bisa dicapai dengan kereta.

Kereta di India ditarik sebagian besar dengan lokomotif diesel dan menggunakan gerbong jenis broad track gauge dengan lebar rel 5 ft 6 in/​1,676 mm seperti yang digunakan untuk BART system di San Fransisco, lebih besar daripada yang biasa digunakan di Indonesia. Karena itu, lebar gerbongnya cukup besar untuk diisi dengan susunan kursi yang cukup besar dalam semi kompartemen dalam gerbongnya.
Continue reading

menyisir jejak budaya muslim dan buddha dari varanasi


“Those who are easily shocked should be shocked more often.”
― Mae West

Selain dikenal sebagai negara yang penduduknya mayoritas beragama Hindu, di sisi-sisi lain juga kepercayaan lain hidup berdampingan. Di hari kedua kami di Varanasi, Shiva kembali menjemput kami menuju Fatman Road untuk melihat Fatman Mosque, salah satu tempat beribadah umat Islam di kota sungai ini. Panas terik India yang kering mulai terasa ketika kami melangkah masuk ke daerah ini.

Dargah E Fatman ini sebenarnya adalah bangunan makam untuk Imam Ali, Imam Husayn dan Imam Abbas yang dibangun sekitar tahun 1920-1925. Dengan didominasi marmer putih, tampak daerah ini masih dalam masa pemugaran ketika dikunjungi. Gundukan pasir putih masih berada di mana-mana, sementara beberapa orang juga masih datang dan beribadah di bangunan masjidnya. Karena masih berantakan inilah, jadinya bangunan masjid ini jadi kurang begitu menarik. Namun demikian, ketika masuk waktu dhuhur dan adzan berkumandang dari sini, warga sekitar yang mayoritas muslim ini mulai berdatangan ke mari. Continue reading

sensasi varanasi

Varanasi is older than history, older than tradition, older even than legend, and looks twice as old as all of them put together
– Mark Twain

“Do you know that this city has three names?” demikian Shiva, supir tuktuk yang mengantar kami berkeliling ke kota tua Benares bertanya. Saya menggelengkan kepala sambil menunggu penjelasannya. Ia melanjutkan cerita bahwa dahulu kota ini bernama Kashi, yang dialiri oleh sungai Varuna, sehingga diberi nama Varanasi. Selain itu oleh penduduk setempat, kota ini juga dikenal sebagai Benares atau Banaras, terutama di kawasan kota tuanya di mana terdapat perguruan tinggi terkemuka Banaras Hindu University. Rupanya selain sungai Gangā yang menjadi banyak tujuan wisata budaya dari mancanegara, sungai Varuna juga memiliki peranan penting dalam sejarah kota. Continue reading