gemerisik hutan pinus bandung

Kulari ke hutan, kemudian teriak ku..

Kadang-kadang berpikir, apa benar kata-kata Dian Sastro kalau ingin teriak maka lari saja ke hutan? Pastinya tidak dong, karena hutan itu bukan ruang mati di mana tidak ada spesies lain yang hidup di dalamnya. Selain pepohonan di hutan yang memang hidup, juga banyak spesies lain hidup dalam hutan dan mungkin saja bersembunyi karena tidak ingin bertemu manusia. Bukan apa-apa, terkadang manusia itu suka iseng dan kepingin membawa pulang hal-hal yang ditemui di hutan, sih. Tidak hanya membawa kenangan.

Beberapa tahun lalu, setiap pulang ke Bandung, aku selalu mampir he hutan ini. Berada beberapa ratus meter di atas kota kembang yang dingin ini, punggungannya bisa dilihat dengan jelas dari atap rumahku di Riung Bandung. Dari simpang Padasuka dekat Cicaheum, tinggal naik ojek hingga Desa Cimenyan, di mana di perbukitan atasnya berdiri batang-batang pinus yang suaranya berdesir ketika ditiup angin. Continue reading

visit tidore island – rempah bersejarah

“Each spice has a special day to it. For turmeric it is Sunday, when light drips fat and butter-colored into the bins to be soaked up glowing, when you pray to the nine planets for love and luck.”
― Chitra Banerjee Divakaruni, The Mistress of Spices

Bayangkanlah dirimu di masa lalu berdiri pada puncak Benteng Tahula Tidore, mengawasi kapal-kapal yang datang dan pergi dengan teropong sembari mencatat aktivitas yang terjadi, melayangkan pandang pada separuh badan pulau, mengira-ngira muatan rempah apa yang dibawa dalam kapal-kapal kayu yang kelak berlayar hingga Eropa. Kemudian seolah aroma pala, cengkeh, kayumanis, menguar dari geladak kapalnya.

Setiap orang yang belajar sejarah di masa sekolah dahulu, pasti menemukan nama Tidore yang bersanding dengan Ternate sebagai salah satu pulau penghasil rempah di Indonesia. Pulau dengan gunung Kie Matubu Tidore dengan ketinggian sekitar 5900 kaki ini memiliki garis pantai yang dipeluk oleh birunya laut Maluku Utara yang indah, dengan garis cakrawala yang seolah menghilang ditelan batas langit dan samudera.

Gunung berapi yang dahulu aktif ini tentulah yang memberikan lahan subur pada dataran di sekitarnya sehingga menjadi tanah tumbuhnya pala, cengkeh dan kayumanis yang menjadikannya sebagai komoditi andalan untuk diekspor hingga tanah Eropa. Rerimbun hutan pala dan cengkeh mendominasi lereng-lereng sejauh mata memandang ketika berkeliling Tidore. Continue reading

buku untuk cipangsor

 “It is better to light a candle than curse the darkness.”

― Eleanor Roosevelt

Satu bulan yang lalu, aku mengikuti acara peresmian fasilitas MCK dan penjernihan air di Garut, Jawa Barat. Di situ ada yang menarik perhatianku yaitu anak-anak balita yang menyanyikan berbagai lagu dengan lucu dan riang, bersama dengan tari-tarian yang mereka bawakan. Rupanya mereka adalah murid-murid PAUD Al-Mukti Cipangsor yang sehari-harinya belajar di bangunan di depan masjid, yang hari itu digunakan sebagai tempat menyajikan makanan.

Anak-anak ini tinggal di desa Cipangsor yang terletak di kabupaten Garut di kaki Gunung Cikuray, namun lokasinya di ketinggian membuatnya agak susah dijangkau. Penduduk desa bermata pencaharian di berbagai sektor informal di kota Garut, selain beberapa keluarga yang menjadi petani. Beberapa kali aku mengunjungi desa ini untuk site visit pembangunan MCK, sayangnya ketika itu belum bertemu dengan PAUD dan murid-murid di sini.

Beberapa anak lelakinya tampak malu-malu ketika disapa dalam bahasa Indonesia. Ow, rupanya bahasa ibu mereka, bahasa sunda yang menjadi alat komunikasi sehari-hari antar mereka di desa tersebut membuat mereka agak nggak pede untuk berbicara dalam bahasa Indonesia. Ah, namanya juga anak-anak yang masih lucu dan polos.

Usai acara, aku mengobrol dengan ibu guru mereka yang juga bertinggal di situ. Ibu ini sudah beberapa tahun mengajar di PAUD yang dibangun cukup sederhana, sebagai dasar anak-anak belajar di kampung Cipangsor ini, sebelum mereka melanjutkan ke SD yang berada di desa lain. Murid-murid di PAUD ini ada 50 orang dan mereka hanya membayar sebesar Rp. 15.000/bulan untuk bersekolah di sini, dengan fasilitas buku ajar dari sekolah. Sehari-hari mereka bermain sambil belajar, bernyanyi bersama, belajar huruf dan angka, belajar mengaji, dan lainnya.

Namun tak kulihat tumpukan buku-buku bacaan di sekitar ruangan PAUD yang sederhana ini. Menurut ibu gurunya, mereka tidak punya buku cerita untuk dibaca-baca oleh anak. Padahal kalau ada, bisa memperkaya kreativitas dan keingintahuan anak-anak ini. Mendengar pengakuannya, aku yang menghabiskan waktu menunggu acara menjadi tergerak untuk mengumpulkan sumbangan kepada PAUD Cipangsor ini.

Yuk, bantu adik-adik di desa Cipangsor untuk mendapatkan bacaan! Hanya dengan donasi sebesar Rp. 100.000,00 untuk membelikan satu paket buku bacaan anak. Dengan 50 murid, maka target total sumbangan sebesar Rp. 5.000.000,- bisa didapat dari 50 donatur. Sumbangan bisa ditransfer ke rekening Bank Mandiri a.n. Indri Lestari Juwono cab. Nusantara Depok dengan no rekening 129-000510-375-5 sampai dengan tanggal 15 April 2017.

Mari berbagi untuk menyalakan lilin pengetahuan.
Karena berbagi itu memperkaya hati.

Jumlah sumbangan akan diupdate melalui tulisan ini setiap minggu.

melindungi rumah di saat jauh

rumah-indri-dulux-aquashield-1

Seorang teman pernah bercerita bahwa ketika sedang traveling, ia ditelepon oleh tetangganya yang memberitahu bahwa hujan besar di sekitar lingkungan mereka, dan ada kemungkinan bakal bocor merembes ke dalam. Duh, kayaknya was-was banget kalau rumah tidak terlindungi dengan baik sementara kita jauh dari rumah, ya.

Buat seorang arsitek, saat konstruksi yang paling riweuh adalah masa finishing. Ketika semua rangka beton sudah berdiri, atap sudah tertutup, jendela-jendela sudah terpasang, dan mulailah pekerjaan yang menuntut ketekunan, kerapihan dan ketelitian serta kesabaran supaya hasil yang diinginkan baik si klien maupun arsitek tercapai, baik dari segi estetis maupun fungsi. Continue reading

de Basilico Kitchen & Bar, menikmati Legian

0-de-basilico-the-one-legian-kitchen-restaurant

“If you want to make someone cry, ” Bruno said slowly, “you give them an onion to chop. But if you want them to feel sad, you cook them the dish their mother used to cook for them when they were small…”
― Anthony Capella, The Food of Love

Pada akhirnya, menghabiskan malam di Legian sembari menikmati De Basilico Kitchen & Bar adalah sebuah pilihan yang menarik. Restoran yang berada di lantai bawah hotel The ONE Legian ini bernuansa coklat kayu yang hangat senada dengan warna hotelnya, terkadang ditemani alunan musik live di sudut sembari menikmati hidangan-hidangan ala chef yang bervariasi. Tempat duduk bisa dipilih mulai di sofa bersama-sama dengan sekelompok teman, di meja kayu bulat untuk mengobrol serius bertatap mata, atau meja panjang tempat bersenda gurau yang asyik.  Continue reading

the ONE legian: meet the orange

0-the-one-legian-hotel-bali-cover


“If I’d chosen never to the foot inside the great fairytale, I’d never have known what I’ve lost. Do you see what I’m getting at? Sometimes it’s worse for us human beings to lose something dear to us than never to have had it at all.”
― Jostein Gaarder, The Orange Girl

Apakah yang dipikirkan ketika berjalan sepanjang jalan Legian? Riuh ramai bule berlalu lalang, aneka toko suvenir, cafe, restoran, dan kios-kios yang menawarkan jasa spa untuk meringankan beban kaki yang mungkin sudah penat berpesiar seharian. Legian pernah diingat sebagai tempat meledaknya bom di Paddy’s Club, yang hingga kini masih saja meriah berdentam-dentam, sambil dipenuhi orang-orang yang ingin menikmati hiburan malam di situ. Monumen peringatan yang berdiri tak jauh dari situ berulangkali disinggahi orang-orang sambil berfoto, entah mengenang penanda waktu atau sekadar memberi jejak pernah berlalu di seputaran Legian. Mobil-mobil yang berjalan satu arah melaju tersendat karena menunggu taksi yang berjalan lambat sembari mencari penumpang ke suatu tempat. Continue reading

staycation hotel vila lumbung: meet the green

0-hotel-villa-lumbung-seminyak-bali-cover

Pagi mendung yang menyambutku di Hotel Vila Lumbung ini tidak mengurangi keceriaan pagi ketika tiba di tempat tinggalku selama dua hari ke depan di kawasan Petitenget, Seminyak, Bali. Walaupun gerimis kecil menghalangi niatku untuk main-main ke pantai, tapi berada di seputaran resort ini sudah bisa membuatku betah.

Resort yang berada di tengah lahan luas ini lokasinya tidak terlalu tersembunyi, tetapi deretan pepohonan yang melingkupinya membuat suasana di dalamnya tenang seolah tanpa gangguan untuk beristirahat di Pulau Dewata. Dilengkapi dengan pekarangan yang besar, kolam renang, area bermain anak, restoran, gymnasium, gedung pertemuan, spa, menjadikan tempat ini pilihan menarik di kawasan Seminyak, Bali. Continue reading

IJSW 2017: memperkenalkan ‘jakarta’

ijsw-architecture-ui-city-jakarta-0-cover

Liburan kali ini mendadak harus kembali ke kampus sesudah ada pemberitahuan seru, International Joint Eco City Workshop & Studio, yang diselenggarakan bareng dengan Cardiff University dari Inggris dan Florida University dari Amerika. Jadi beberapa mahasiswa dari dua perguruan tinggi ini bergabung dengan Universitas Indonesia di Departemen Arsitektur FTUI untuk bersama-sama melakukan workshop tentang lingkungan di Indonesia, khususnya Jakarta, Depok dan sekitarnya. Kota ini memang banyak menyimpan kejutan-kejutan di balik pembangunannya yang pesat dan seolah tak kenal henti. Sebagai ibukota negara dengan penduduknya yang amat padat, ada berbagai hal yang perlu dibangun untuk menuju kota yang berkelanjutan. Continue reading

kenapa aku kuliah lagi?

kuliah-di-ui-1

Banyak yang tahun lalu bertanya kenapa aku memutuskan untuk kuliah lagi, setelah belasan tahun aku memilih bekerja. Sebenarnya selalu banyak alasan untuk sekolah lagi, selain karena memang pada dasarnya kan aku ini suka sekolah, ya.

Keinginan ini sebenarnya tercetus bahkan sejak aku baru lulus, tapi karena saat itu masih belum musim untuk melanjutkan ke gelar master, akhirnya kuputuskan untuk menundanya dan bekerja dahulu. Sebenarnya sih aku berpikir, lulusan arsitektur mau mengambil master di bidang apa? Kalaupun belajar urban planning, nah nanti jatuhnya malah bekerja di real estate atau di kantor pemerintah. Nah, karena nggak kepingin bekerja jadi pegawai negeri itu maka aku malah menunda sekian lama itu. Karena dulu, untuk berkeinginan masuk jurusan arsitektur saja aku memantapkan niat selama tujuh tahun, lho. Makanya, karena biaya S2 ini jauh lebih mahal dari S1, jadi pilihannya harus serius dan benar-benar, deh. Continue reading

6 things to do at morrissey hotel residence jakarta

morrissey-jakarta-0

Arrived at Morrissey Hotel Residence by the end of December, find yourself walk through the stair and meet those red coach, chilling around by the lounge of the ‘klasse’ and warm yourself before join to the nest.

1. Cooking

Yes, all the room that you stay at Morrissey has the mini pantry that you can cook your food by yourself. Once you enter the room, there’s a table completed with electric stove, a kitchen sink, and a small microwave to heat up my food. That drawer under the table filled with the knife, spoons, cups, even pans for do a real cooking experience. Don’t be afraid of the smell, because an exhaust fan can suck all the smoke and smell out of our cooking experience. Even in the cabinet above can be found glasses and plates in various sizes that can be used. Bring your own instant food, and avoid starving. Continue reading