annelies pujaan minke, si bunga penutup abad

teater-bunga-penutup-abad-booklet

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini menjadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. Ya, masa muda yang indah penuh harapan dan impian – dan dia takkan balik berulang.(Anak Semua Bangsa)

Duhai Annelies, gadis Indo jelita yang meruntuhkan hati Minke, si philogynik, juga hati banyak orang yang membaca kisahnya pada buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Gadis muda anak seorang Belanda dan Nyai Pribumi yang hidup di tahun 1898 di dalam rumah besar Wonokromo, dilahirkan, mempesona karena kecantikan, kehalusan dan kemanjaannya.
Continue reading

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

dunia anna : utang energi pada lingkungan

dunia-anna-buku-jostein-gaarder

“Segera kamu akan mendapatkan kembali dunia ini persis seperti sediakala saat aku seumurmu, tapi kamu harus berjanji untuk merawatnya. Karena itu berarti kamu mendapatkan kesempatan baru. Mulai sekarang kita harus selalu menjaganya, karena setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.”(h.55)

“Aku kepingin melihat salju.”
Itu permintaan Bintang setiap kali aku baru pulang bepergian, di mana ia berpikir bahwa luar negeri itu pasti ada saljunya, nggak seperti di Indonesia (tentu saja aku menjelaskan bahwa di puncak Jayawijaya itu bersalju) yang beriklim tropis. Kekhawatiran tentang pemanasan global dan kemungkinan salju di kutub mencair pun sama dengan kekhawatiran ketika ia dewasa kelak, masihkah salju ada untuk diremas di tangannya? Atau aku harus menabung lebih cepat untuk bisa mengajaknya ke utara melintasi batas musim dari garis lintang?
Continue reading

71 di 17

indonesia-merah-putih-17-agustus

Indonesia adalah sebuah negeri yang diperjuangkan sebagai negara.
Merdeka dari ujung laut nusantara hingga gunung gemunungnya.
Merdeka untuk menjaganya sebagai sumber daya berkelanjutan.
Merdeka membangun pikir anak bangsa melampaui batas-batas angan.
Merdeka dalam pesona spektrum warna alamnya,
Biru langit. Jingga senja. Hijau hutan. Lembayung temaram.
Kuning bunga matahari. Merah bendera.

Indonesia dalam bentuk apa yang menarikmu?
Dalam Garuda sebagai lambang negara?
Dalam perjuangan budaya membangun nama bangsa?
Dalam peluh keringat atlet mengibarkan merah putih dari podium kemenangan?
Dalam perjalanan keliling nusantara yang mengharu biru?
Dalam kebanggaan berpakaian tradisional di negeri orang?
Atau dalam kecapan sambal goreng di ujung lidah?

71 tahun hanyalah merdeka sebagai negara,
karena sebagai negeri seharusnya Indonesia merdeka selamanya.

17 Agustus 2016. Pagi.
photo by Valentino Luis.

8-orange-resto-bogor-stasiun-sancang

menemani senja di orange resto

0-cover-orange-resto-bogor

“Orange? Like Effie’s hair?” I say.
“A bit more muted,” he says. “More like sunset.”
― Suzanne Collins, Catching Fire

Apa sih harapanmu ketika senja tiba? Kalau mengingat masa kecilku dulu, senja adalah saat bermain, saat untuk bertamu, atau saat ketika sudah mandi dan berdandan rapi untuk minum teh dan membaca buku. Namun sore itu aku tiba di Orange Resto, yang berlokasi di Jl Sancang, tak jauh dari pintu tol Jagorawi, tanpa mandi dan tanpa larangan untuk masuk restoran dan memesan sejumlah penganan. Continue reading

semalam di la hasienda, kupang

1-la-hasienda-kupang

Aku tak terlalu berpikir banyak untuk tempat tinggal manakala harus tinggal sehari di Kupang. Atas rekomendasi seorang teman, kami menuju Hotel La Hasienda yang tidak terlalu jauh dari bandara sebagai tempat bermalam sebelum terbang ke Jakarta keesokan harinya. Ketika memasuki halaman hotel yang berada di depan jalan penuh flamboyan, aku langsung jatuh hati.

Fasade hotel bernama ala Spanyol ini memang didesain ala negeri Andalusia ini. Warna merah marun yang mendominasi bangunan, ditambah dengan sulur-sulur tanaman merambat di dindingnya, membuatku merasa nyaman di tengah panasnya Kupang pada sore hari itu. Sepertinya desain bangunannya memang untuk mengingatkan pemiliknya pada panasnya negeri matador itu. Jika di negeri aslinya hacienda berarti tanah pertanian, maka di lokasi ini lebih diisyaratkan pada ‘rumah yang nyaman di tanah tersebut. Continue reading

rote-0-menjelang senja

nyiur hijau rote ndao

rote-0-menjelang senja

“Nemberala, Pak,” begitu kusebutkan tujuanku pada supir mobil sewaan yang menawarkan jasanya sesaat sesudah aku dan ketiga temanku tiba di Pelabuhan Ba’a, sesudah menempuh perjalanan selama dua jam dengan kapal cepat dari Pelabuhan Tenau, Kupang. Tempat itu kutuju karena dekat dengan pantai paling selatan Pulau Rote, pulau paling selatan di nusantara yang masih berpenghuni.

Dengan mobil sewaan, kami mulai melalui jalan-jalan di pulau Rote yang cukup mulus beraspal dan memang menjadi salah satu jalan utama menjelajah pulau. Ketika melewati area Pembangkit Listrik Tenaga Diesel, aku jadi tahu bahwa sumber listrik di pulau ini menggunakan tenaga diesel, dengan kapal-kapal pengangkut solar yang rutin merapat.
Continue reading

semau-0-cover-desa-1

semau, satu bukit dan sekian pantai

semau-0-cover-desa-1

Deru mesin motor tempel mengiringi kapal kayu yang kami naiki bertolak dari Dermaga Tenau, Kupang. Kapal berukuran sedang itu berisi delapan sepeda motor yang akan kami gunakan nanti di Semau, 30 menit menyeberang dari Pulau Timor itu. Kapal-kapal barang maupun penumpang menjangkar tak jauh dari pelabuhan, menunggu saatnya berlayar kembali. Lamat-lamat kami bisa mengamati gugusan kota Kupang yang berbukit-bukit dari kapal yang melaju santai.

Tidak terasa laju gelombang di perjalanan tadi hingga kami tiba di Pulau Semau yang tidak berdermaga. Hanya pantai berbatu-batu yang menyambut dan membuat sepeda motor itu harus diangkat satu demi satu ke jalan raya yang berdebu menuju desa-desa terdekat. Pak Boy, pemandu kami di Semau, menaiki motornya dan memimpin barisan kami yang mengikutinya dengan motor sambil berboncengan. Continue reading

arsitektur dan sustainabilitas, sebuah harapan untuk keseimbangan

arsitektur-sustainabilitas-writing

Menghadapi bumi yang semakin tua ini, sustainable architecture atau yang biasa dikatakan arsitektur berkelanjutan adalah topik yang menarik untuk dipelajari. Arsitektur sebagai peninggalan ikon waktu menjadi salah satu bentukan yang mengubah bentuk alam menjadi bentuk binaan. Perubahan-perubahan tapak yang disesuaikan dengan kebutuhan manusia ini seringkali melupakan bahwa sebenernya kehidupan manusia sebagai pengguna ruang bangunan amat tergantung oleh alam, karena itu bagaimana pun desain lingkungan binaan, harus selalu memperhatikan alam, mengembalikan keseimbangan dan tidak menjadi pongah. Continue reading

pulang.

pulang-ke-bandung

Menyebut kota Bandung, adalah ruang mengenang masa kanak-kanak yang riuh. Rumah pertama keluarga, yang pernah kutinggali hanya selama dua tahun lebih sedikit, di tepian kota dengan udaranya yang masih dingin dikelilingi persawahan. Ketika jalan tol maupun angkutan kota belum sampai di sini. Saat orang-orang masih bertanya karena tak tahu di mana tepatnya Riung Bandung berada. Bukan, di sini bukan tempat nga-Riung-nya orang Bandung. Jika menyusur Bandung hingga timur, Riung Bandung ada di kanan sebelum tiba di Gedebage.

Mengingat hari-hari awalku di sini menjelang masuk kelas empat SD, asing terdengar di telinga orang bercakap sunda, lain dari tempat tinggalku sebelumnya di ibukota Jawa Tengah. Rumah yang amat jauh dari jalan raya, ditempuh setengah jam dengan becak dari Jalan Soekarno-Hatta, dikelilingi sawah dan empang serta kebun-kebun pepaya. Pasar terletak tiga kilometer jauhnya, sehingga membiasakan diri dengan tukang sayur keliling. Sekolah berjarak delapan kilometer, membonceng motor ayah di pagi hari sambil menahan dingin yang berhembus pada kulit anak delapan tahun ini.
Continue reading

perjuangan ramadhan

perjuangan-ramadhan

Tahun ini aku menjalani Ramadhan dengan agak berat. Rasanya terlalu banyak hal yang dipikirkan dalam kepala sehingga tidak bisa sejenak diam dan tidak memikirkan apa-apa lagi. Semestinya Ramadhan ini hari-hari terasa melambat, pekerjaan lebih santai dan lainnya.

Tapi yang terjadi adalah Ramadhan ini tak berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Deadline ketat yang menghantui setiap hari, target-target yang harus dicapai, ataupun rencana-rencana yang dihadapi sesudah lebaran nanti.

Apa aku jadi begitu manja? Mengharapkan di bulan Ramadhan ini kesibukan menurun?
Continue reading