jangan lupa bahagia, ya!

DSC_0273

Happiness [is] only real when it shared
~ Jon Krakauer : Into the Wild

Ketika Ken Ariestyani menawariku untuk menulis cerita perjalananku bersama dengan penulis-penulis lain dalam #antologiwomentraveler aku langsung menerima dengan sukacita. Ken sudah lebih dulu menelurkan buku pertamanya Mahameru, Bersamamu tentang perjalanannya mendaki gunung Semeru. Dua hari kemudian, ada grup baru dalam WhatsApp-ku yang membahas tentang penulisan buku ini.

Dua minggu adalah tenggat yang diberi oleh editor kami untuk menulis maksimal 15 lembar A4. Hah? DUA MINGGU??? Sementara waktu sehari-hariku habis di kantor dan di jalan, aku berpikir kapan menyelesaikan tulisan ini, ya? Akhirnya kupilih dua akhir pekan untuk menyelesaikan cerita, itu pun disambi jalan-jalan ke kota tua Jakarta, karena banyak acara di bulan Desember kemarin.

Ada dua pilihan destinasi yang ingin kuceritakan. Aku bingung antara Minangkabau atau Nias, karena sama-sama asyik. Tapi akhirnya kupilih Minangkabau karena selain banyak makanan juga yang bisa diceritakan, juga karena ini perjalananku pertama berdua saja dengan sahabat, sehingga ada beberapa gereget yang bisa digali. Sembari membuka-buka blog, aku merangkai ulang narasi-narasi untuk diceritakan dalam bentuk buku. Tidak mau terlalu sama dengan blog, harus lebih enak dibaca sebagai catatan perjalanan.

Dan ternyata, aku baru menulis cerita jalan-jalan bersama Felicia ini kira-kira 4 hari sebelum tenggat dari editor. Di hari H, belum sempat memeriksa ejaannya, pekerjaan kantor sudah menderu-deru kesetanan. Aku kirim naskah ini pada Sansan untuk dimintai tolong mengecek kesalahan minor pada cerita. Jangan ditanya kenapa travelmate yang doyan typo kalau sedang chat ini malah kuminta memeriksa naskah. Beberapa jam kemudian, ia mengirimkan kembali dengan highlight kuning di sana sini. Sepulang dari kantor aku buru-buru mengoreksi 16 halaman naskah itu dan mengirimkan ke editor yang tentu sudah menunggu-nunggu kiriman cerita dari kami. Hampir tengah malam pada hari H saat itu.

Melalui dua kali proses revisi dari editor kami, mas Adinto Fajar [yang sabar diganggu selalu oleh calon-calon penulis ini], satu bulan setengah kemudian ia mengumumkan bahwa buku ini sudah siap terbit. Wah! Kami terharu ketika ia memperlihatkan contoh sampul buku ini. Rasanya berdebar dan senang mengingat karya kami akan dipajang di toko buku.

Penulis-penulis yang berkediaman di Jakarta sempat kumpul-kumpul untuk berkenalan di Depok. Rasanya seru sekali mengobrol bersama orang-orang yang tidak aku kenal sebelumnya, cuma bertukar kata lewat Whatsapp, berdiskusi soal event-event yang akan kami adakan untuk promosi buku kami. BUKU KAMI!!! Namanya juga cewek, dari obrolan buku sampai curhat-curhat pun keluar. Rasanya seperti punya adik-adik baru. Iya, sekeren-kerennya aku kelihatannya, penulis-penulis ini rata-rata berusia lebih muda dariku.

intan, keyko,

intan, keyko, bulan, silvani, ken, chlara, widi, agit, citra
zoe library cafe
[photo by @LangkahDewi]

Rumah Adalah di Mana Pun.

Itu judul yang diberikan oleh editor kami untuk membungkus berbagai rasa cinta yang dikemas dalam cerita perjalanan ini. 19 perempuan dalam rentang dewasanya sendiri tentu memiliki cara masing-masing untuk mengungkapkan cerita. Di sini diajak berkelana dari rasa terharu sampai rasa syukur. Ada pengalaman menumpang rumah di Sabang, menemukan cinta di Mandalawangi, menjelajah tebing-tebing teluk Tomini, mimpi ke rumah gadang di Minangkabau, jatuh cinta di Wae Rebo, bulan madu di Derawan, rumah baru di Belitung, menjelajah Toraja, bersitegang ke Ijen, menikmati indahnya Bromo, eloknya Mahameru, terharu di Larantuka, keluarga baru di Lombok, melepaskan hati di Baluran, mengulik gua di Bandung, kejutan-kejutan di Bali, hingga kembali ke Raja Ampat.

Kesembilan belas perempuan pejalan ini tidak hanya menjelaskan tentang destinasi, namun juga rasa yang dialami ketika mencapai tempat-tempat ini. Rasa yang hanya mereka alami untuk dibagi. Mungkin jika suatu kali tersesat disana, rasa yang ada tidak selalu sama. Cara mencapai destinasi diceritakan dalam rangkaian kata. Buat perempuan yang suka bercerita, yang ditawarkan adalah persahabatan. Membaca cerita-cerita mereka seolah berdialog dengan pribadi masing-masing. Karakter penulisnya terbaca jelas dalam setiap kisah.

Dalam ceritaku keliling Minangkabau, ada kisah saling pengertian antara dua sahabat yang menghabiskan tiga harinya mengelilingi bentang alam dari pantai, pulau, tebing, air terjun, hingga impianku mengunjungi Rumah Gadang yang kutemukan di tepi jalan Payakumbuh. Ada keterkejutan, ada rasa suka, ada kadang kecewa, ada lari-lari dan tertawa bahagia. Dan syukur tak terhingga.

“Sebenarnya aku tak puas berada sebentar di sini. Ingin di lain kesempatan mencoba bertinggal beberapa hari supaya bisa mencecap bagaimana denyut kehidupan di Rumah Gadang, juga merasakan bagaimana arsitektur kayu yang lampau ini mengakomodasi iklim lokal dan tetap bertahan hingga kini.”


Perjalanan tidak selalu meninggalkan makna, namun memberi kenangan yang berharga. Ketika berani untuk melangkah keluar, siaplah untuk berumah di mana saja, melewatkan hari-hari yang tidak lagi sama. Ketika ada saat memilih untuk tidak pulang, mungkin itu adalah saat untuk berumah di tempat lain, di tempat yang membuat bahagia. Meskipun tidak hanya traveling yang bisa membuat kamu bahagia.

RADMP1

Tanggal 15 Maret, sepulang dari berolah raga bersama Devira, Felicia dan Silvana di Senayan, aku mampir ke Gramedia Plaza Semanggi dan menemukan buku ini sudah terpajang manis di rak pariwisata. Kamu tahu apa yang dirasakan? Bahagia banget! Aku langsung membeli 3 eksemplar dan kuhadiahkan pada sahabat-sahabatku yang mendukung penuh ini. Bukan cuma itu, di situ aku juga bertemu dengan temen-teman dari Blogger Buku Indonesia yang habis berkumpul di satu acara. Senangnya berkumpul dengan sesama pencinta buku.

Masih belum selesai senangku, esoknya aku diajak twittalk oleh TravellersID tentang perjalanan ke Minangkabau sambil berpromosi buku Rumah adalah di Mana Pun ini. Obrolan seru-seruan ini berlangsung selama dua jam di linimasa twitter. Esok sorenya, tepat di tanggal 17 Maret yang merupakan tanggal resmi terbit buku ini, beberapa penulis berkumpul di Jakarta sambil sekadar syukuran dan membicarakan promo lanjutan buku ini. Hari itu aku bahagia sekali.

Sebenarnya, rasa bahagia bisa didapat tidak hanya dengan menulis buku, namun hal-hal lain sederhana yang bisa membuat perasaan kita lebih tenang, atau hati lebih bungah. Melihat pelangi aku bahagia, turun hujan bahagia, makan enak aku bahagia, melihat ombak aku bahagia, di puncak gunung juga bahagia. Dengan setiap hari tersenyum pun bisa membuat orang lain bahagia. Namun bercerita seperti ini, memberi rasa bahagia pada diriku, berbagi apa yang ada dalam perasaanku, mensyukuri bahwa ada kebahagiaan yang muncul setiap hari sesudah hari ini.

bulan, chlara, adint, widi, ken, indri

bulan, chlara, adint, widi, ken, indri
djakarta cafe
[photo by @LangkahDewi]

intan, silvani, citra (photo by @LangkahDewi)

intan, silvani, citra
dimsum
[photo by @LangkahDewi]

joo, chei, lupa, indah, indri, devira

joo, chei, lina, indah, indri, devira
BBI at Kopi Legit
[photo by indri]

Terima kasih mas Gol A Gong bersedia kutodong memberikan endorsement yang menohok :
“Maaf, para lelaki tak boleh iri. Banyak hal tentang perjalanan yang didapat dari buku ini. Bahkan rute dan destinasi cinta pun tersedia. Bagi perempuan, perjalanan bisa memberi arti yang dalam dibanding lelaki.”

Terima kasih untuk tim Langkah Dewi 19, Agita Violy, Chlara Sinta, Christine Natalia, Citra Novitasari, Diansari Korompot, Dite Rosita, Ester Aprillia, Gading Rinjani, Imie Imita, Intan Deviana, Ken Ariestyani, Keyko Cecilia, Lucia Widi, Mehdia Nailufar, Qisty Aulia, Rembulan Soetrisno, Sari Musdar, Silvani Habibah.

Terima kasih untuk editor Adinto Fajar, Penerbit Grasindo, BackpackerStore, TravellersID, yang telah mendukung keseruan terbitan buku ini.

Terima kasih untuk editing awal dari Sansan, Felicia atas perjalanannya, Devira untuk berbagi cerita, dan Silvana atas semua persahabatan kita. Thanks goodreads indonesia. One day we flew in our baloon…

buku pertamaku.

Jangan lupa bahagia, ya!

(aku nggak ingat siapa yang pertama kali mengenalkan ‘jangan lupa bahagia’ ini. anyway, terima kasih juga ya!)

kolase foto dari @LangkahDewi dan grup whatsapp LangkahDewi
depan lapangan basket : 29.03.2014 : 15.39

indri

Advertisements

4 thoughts on “jangan lupa bahagia, ya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s