susur Bangkok via Chao Phraya

“Aku butuh stimulasi yang konstan. Aku butuh mengalir seperti sungai. Terus-menerus ditantang, tapi tak terputus.”
― Abhaidev, The Meaninglessness of Meaning

Jadi kalau ditanya lagi daerah mana tempat tinggal kami di Bangkok, aku lupa lagi. Yang jelas nggak sengaja tempat itu nggak jauh dari sungai Chao Phraya yang jadi salah satu jalur transportasi unik di Bangkok, di mana bus air berupa perahu ini yang tujuannya ditandai dengan warna bendera di ujungnya.

Walaupun masih pagi, tapi matahari sudah bersinar cerah sekali di langit yang biru. Aneh juga karena seharusnya dengan jumlah kendaraan diesel yang banyak, langit seharusnya nggak sebagus ini. Dari tepian sungai, tinggal berjalan kaki ke salah satu lokasi wisata, Wat Pho.

Wat Pho

Merapat di dermaga Wat Pho, tinggal berjalan kaki hingga sampai di kompleks kuil yang berukuran 80.000 m2 ini. Di tengahnya terdapat kuil Buddha dengan patung keemasan dengan ukiran-ukiran dinding yang indah. Pilar-pilar persegi berukuran besar menopang atap perisai dengan teritisan panjang yang pola langit-langitnya berundak-undak dengan tepian keemasan.

Di bagian luar, terdapat candi-candi khas Thailand yang dinamakan Wat, dengan bahan terluar bentuk keramik bunga bersusun berlapis-lapis, hingga stupa tertinggi yang berwarna keemasan, pun tersusun oleh keramik bercetak. Detailnya sangat indah dan berkilauan di tengah udara Bangkok yang panas.

Terdapat empat stupa yang tingginya 42 meter yang didedikasikan untuk keempat raja-raja pertama Chakri. Berkeliling di sini perlahan dan mengagumi detailnya yang indah, memberikan pengalaman cantik dan elegan. Hampir semua kuilnya ditutup oleh porselen berkilau dengan nili seni tinggi sehingga membuat bangunan ini tampak mahal dan indah.

Wat Arun

Karena antrian istana cukup panjang (dan tiket masuknya mahal) maka menyeberang ke Wat Arun menjadi salah satu pilihan. Kembali menaiki kapal menyeberangi Chao Phraya, tiba di pintu gerbang Kuil Fajar ini.

Wat Arun, yang telah berdiri sejak abad ke-17, memiliki bagian ikonis berupa menara berbentuk pagoda setinggi 81 meter yang disebut prang beserta kuil-kuil kecil lainnya. Karena letaknya tepat di tepi sungai, bangunan ini terlihat begitu anggun menghadap timur, yang kalau pagi berkilauan ditimpa cahaya matahari pagi, karena itu Wat Arun juga disebut sebagai istana fajar.

Wat Arun adalah peninggalan Kerajaan Ayutthaya (1351-1767) yang mulanya disebut Wat Makok, karena berdiri di Desa Bang Makok. Setelah Kerajaan Ayutthaya runtuh pada 1767, Raja Taksin mendirikan ibu kotanya di dekat kuil ini. Setibanya di lokasi, Raja Taksin menyaksikan kemegahan Wat Makok yang memancarkan sinar dari matahari terbit. Karena itu, Raja Taksin bertekad untuk merestorasi Wat Makok dan setelah pemugaran selesai, namanya diubah menjadi Wat Chaeng (chaeng artinya fajar).

Sayang sekali waktu ke Wat Arun memang masih direnovasi, sehingga banyak steiger di mana-mana dan agak menghalangi pemandangan. Tapi itu tidak menghalangi kecantikan Wat ini yang memang aku kunjungi di sore hari ini.

Chao Phraya

Dan tidak ketinggalan yang harus dijajal ketika di Bangkok adalah menikmati sungai Chao Phraya dengan naik kapal yang merupakan salah satu moda transportasi antar titik, daripada mesti melewati kemacetan di tengah kota Bangkok. Tarif dan titik berhenti kapal ditandai dengan bendera-bendera yang ada di ujung kapal tersebut. Sebenarnya selain tarif biasa, sepertinya juga ada kelas yang lebih tinggi dan lebih mahal. Uniknya (sayangnya gak foto) pembayarannya dengan mata uang koin yang di’kecrek’ dalam kotak kaleng silinder. Mirip juga dengan metromini di Jakarta tempo dulu.

See, Bangkok memang cukup panas udaranya karena makin dekat ke khatulistiwa, tapi keunikan budayanya di tengah kota merupakan salah satu wishlist yang keren dikunjungi di Asia Tenggara ini. Wat, Chao Phraya, dan makanannya yang pedas segar menjadi salah satu yang membuat terkesan.

Jangan lupa kalau namanya sudah berubah menjadi Krung Thep Maha Nakhon.

Perjalanan, Juli 2016

Finish writing, November 2025

4 thoughts on “susur Bangkok via Chao Phraya

  1. Wah, tulisannya apik, fotonya ciamik, dan blogsitenya selalu punya rasa. Senang sekali bisa ikut menikmati keindahan Bangkok yang sampai sekarang juga belum aku kunjungi. 😀
    Semoga senantiasa berjumpa lewat cerita lainnya.

Leave a comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.