joglo mangkunegaran, anggun dalam sahaja

Kota Solo yang dahulu termasuk dalam Kerajaan Mataram menjadi pilihan saya untuk menemui bentuk joglo yang merupakan bangunan khas daerah Jawa Tengah. Di kota yang juga disebut Surakarta ini, masih terasa suasana Jawa yang begitu kental dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Yogyakarta dan Surakarta terpecah oleh Perjanjian Gianti tahun 1755, berdirilah Kasunanan Surakarta hingga tahun 1757 pecah kembali di satu bagian menjadi Mangkunegara yang nuansa bangunannya lebih sederhana.

Puri Mangkunegara yang masih berada di tengah kota Solo ini berukuran lebih kecil dari Kasunanan Surakarta, namun mengikuti kaidah-kaidah pembangunan Joglo. Sesudah melewati satu pelataran yang besar, bangunan pertama yang ditemui adalah pendopo, yaitu ruang terbuka yang biasa digunakan sebagai ruang pertemuan besar dengan rakyat, tempat mengadakan pertunjukan kesenian, atau keperluan-keperluan lain yang ada hubungannya dengan masyarakat. Bangunan puri ini bukan sekadar museum, karena memang masih dipergunakan sehari-hari oleh keluarga Mangkunegara yang melakukan kegiatan publik.

Pendopo Puri Mangkunegaran didirikan pada tahun 1757 oleh Raden Mas Said yang juga dikenal sebagai Pangeran Samber Nyawa dengan area kekuasaannya meliputi bagian utara Surakarta, Karanganyar dan Wonogiri. Dengan warna utama bendera Mangkunegara adalah hijau muda dan kuning emas, maka keseluruhan tiang yang berdiri mendukung pendopo ini berwarna senada yang seringkali disebut sebagai pareanom (pare muda).

Tiang-tiang jati untuk mendirikannya berasal dari hutan jati Donoloyo di kawasan Wonogiri, yang merupakan hutan jati milik kerajaan Tanaman jati harus berumur 100 tahun ketika ditebang untuk menjadi bahan bangunan ini. Tak heran sudah hampir 300 tahun batang jati ini masih berdiri kokoh tanpa rayap sebagai penopang utama bangunan Puri Mangkunegara.

Bangunan pendopo ini menggunakan bentuk Joglo dengan mengacu pada bentuk atapnya yang mengambil filosofis bentuk sebuah gunung. Pada awalnya, bentuk gunung tersebut diberi nama atap Tajug yang mengacu pada puncaknya, namun kemudian berkembang menjadi atap Joglo/Juglo (Tajug Loro= Dua Tajug) sebagai penggabungan dua Tajug, yaitu ada dua gunungan yang dijadikan satu. Dalam kehidupan masyarakat Jawa, gunung sering dipakai sebagai ide yang dituangkan dalam berbagai simbol, khususnya untuk yang berkaitan dengan sesuatu yang tinggi dan sakral. Hal ini karena adanya pengaruh kuat keyakinan bahwa gunung atau tempat yang tinggi adalah tempat yang dianggap suci dan tempat tinggal para Dewa. Karena itu bentukan gunung ini digunakan sebagai perlambang kemuliaan.

Penopang utama atap joglo ini dinamakan sokoguru, yang dibuat dengan membelah satu batang kayu yang sama yang sudah berumur cukup. Soko guru yang berjumlah empat buah ini mewakili empat penjuru mata angin, barat, timur, utara, selatan. Istilah Guru digunakan untuk menunjukan bagian utama (inti) dari sebuah konstruksi Joglo. Soko Guru menopang sebuah konfigurasi balok yang terdiri dari Blandar dan Pengeret yang disebut sebagai Pamidhangan atau Midhangan.

Dari naskah Kawruh Kalang konfigurasi Blandar-Pengeret inilah yang menjadi patokan, acuan, rujukan bagi perhitungan struktur keseluruhan Joglo. Semua ukuran dan dimensi struktur serta bangunan mengacu pada ukuran dan dimensi Blandar-Pengeret tersebut, berdasarkan standar perhitungan tertentu yang disebut sebagai Petungan.

“Tembung midhangan punika mirit wujudipun angemperi pundhaking griya, manawi mirid parlunipun tiyang anindakaken damel griya (ukuraning griya) nama wau leresipun papundhen, dening kajeng midhangan sakawan iji punika ingkang lajeng manjing nama: guru. Wondene saka ageng sakawan winastan saka guru, leresipun: sakaning guru, utawi saka ingkang nyanggi guru, amargi sasampuning wujud catokan sakawan, sakatahing ukur bade pandamelipun babalungan ageng alit saha panjang celak, tuwin tumpang-tumpangipun sadaya, sami mendhet ukur saking salebeting gagelengan kajeng sakawan wau, boten saged tilar utawi boten kenging kaempanan saking dugi-dugi kemawon.”

“Di sini keempat batang kayu yang membentuk midhangan [=pamidhangan, balandar-pangeret] itu lalu mendapatkan sebutan yaitu guru. Adapun keempat batang saka [=tiang] yang besar-besar itu lalu dinamakan sakaguru, yang lebih tepatnya adalah sakaning guru atau saka ingkang nyanggi guru [saka yang menyangga guru]. Penamaan ini disebabkan oleh karena setelah terwujud menjadi empat buah cathokan maka segenap pengukuran dalam membuat besar-kecilnya balungan griya maupun segenap tumpang, sama-sama mengambil patokan ukuran pada keempat batang balandar-pangeret tadi. Jadi, mengukur itu tidak boleh sekadar menduga-duga atau asal mengukur semata.”

Sambungan konstruksi susunan tiang rangka joglo bagian atas berupa sistem cathokan dan sistem purus. Sistem purus merupakan sistem konstruksi knockdown berupa tonjolan dan lubang yang saling terkaitkan atau saling mengunci satu sama lain. Kata purus secara harafiah berarti alat kelamin pria. sementara umpak-nya dipandang sebagai lambang wanita. Jadi konstruksi purus ini mengandung makna serupa seperti metafora lingga-yoni atau hubungan antara laki-laki dan perempuan. Sistem konstruksi purus ini memudahkan ketika bangunan akan dibongkar untuk dipindahkan. Dalam tradisi Jawa memang dikenal istilah bedhol-omah yaitu membongkar rumah untuk kemudian dipindahkan ke lokasi lain, sehingga apabila si pemilik berpindah tempat tinggal, rumahnya bisa dibawa serta.

Di ujung atas soko guru diikat secara horisontal oleh balok sunduk pada bagian bawah dan pangeret pada bagian atas. Kedelapan balok kayu ini sebagai pengaku awal konstruksi bangunan joglo, sebelum menaikkan rangka-rangka atapnya yang lain. Di atas pangeret ini akan berdiri tumpang sari, susunan terbalik dari rangka atap dan blander (biasa juga disebut gording) yang merupakan susunan terbawah dari rangkaian atap yang menahan penutup atap. Sementara itu, pada bagian bawah tiang-tiang ini duduk pada umpak yang terbuat dari marmer italia berbentuk limas terpancung. Posisi kayu yang tidak langsung ke tanah ini membuat kelembaban kayu menjadi terjaga.

Sistim persendian antara umpak di bawah dan soko guru dapat berfungsi untuk mengurangi getaran pada saat bencana gempa bumi,. Sedangkan sistem purus & canthokan yang bersifat jepit terbatas menjadikan atap berlaku sebagai bandul yang menstabilkan bangunan saat menerima gaya gempa, sehingga bangunan hanya akan bergoyang di tempat, karena tidak kaku dan patah saat menerima getaran.

Pada langit-langit bagian atas soko guru ini dihias dengan batik Kumudowati yang bermotif lidah-lidah api berwarna merah untuk mencegah kejahatan. Terdapat delapan kotak yang membagi puncak soko guru ini yang bermakna berbeda-beda. Kuning bermakna mencegah rasa kantuk, biru mencegah datangnya musibah, hitam mencegah rasa lapar, hijau mencegah frustasi atau stress, putih mencegah pikiran kotor atau negatif, orange mencegah ketakutan, merah mencegah kejahatan dan ungu mencegah pikiran jahat.

Setelah sokoguru terpasang, barulah dilakukan pemasangan tiang-tiang lain di sekelilingnya untuk sesuai dengan kebutuhan luasan dengan penambahan soko pengarak (tiang samping). Jumlah total tiang untuk mendirikan tiang-tiang ini sebanyak 108 tiang, termasuk tiang utama yang berukuran 60×60 cm, tiang yang mengelilingi pendopo dengan level yang lebih tinggi berukuran 40×40 cm, kemudian tiang kayu untuk terasan sekeliling pendopo dengan ukuran yang lebih kecil lagi, dan tiang besi bulat pada dua kolom terluar. Dengan dominasi warna hijau, tiang-tiang ini kontras dengan patung-patung singa yang berasal dari Jerman yang berbahan perunggu dengan sepuhan warna emas.

Di atas blander yang tersusun dan kaso reng sebagai rangka penutup atap, dilapis sirap kayu jati dengan lempengan kayu 40x 60 cm yang disusun berlapis, dan sudah berusia cukup lama sehingga tidak diingat lagi kapan terakhir menggantinya. Dari luar, sirap ini bermotif seperti belah ketupat, yang meninggi pada bagian sokoguru, dan landai pada sampingnya di atas teras yang mengelilingi pendopo.

Namun tidak seperti model joglo Yogya atau Pati, joglo di Puri Mangkunegara ini sedikit sekali motif ukirannya, karena lebih bersifat sederhana untuk menyambut rakyat. Tetapi pada peringgitan, bangunan antara pendopo dan Dalem Ageng, ditandai dengan adanya ukiran yang berwarna-warni pada balok kayu di ambang atasnya, sebagai ruang antara sebelum memasuki ruangan utama kerajaan. Di kiri kanan terdapat puthuk ngambang yaitu ceruk untuk menunggu sebelum bisa masuk untuk menghadap pemimpin Puri Mangkunegara ini.

Bangunan Dalem Ageng juga dibangun dengan gaya Joglo Limasan, dengan nuansa warna coklat di dalamnya, namun sangat sakral sehingga tidak bisa diambil gambarnya kecuali pada kesempatan-kesempatan tertentu. Selain singgasana, di sini juga terdapat berbagai peninggalan, peralatan upacara dan perang, serta hadiah-hadiah dari raja-raja Eropa seperti dari Belanda, Italia, dan Perancis. Jika melipir ke sisi kiri akan bertemu dengan area Keputren yaitu tempat tinggal putri-putri keturunan Mangkunegara. Bangunan ini menempel di samping kiri Joglo Limasan, dan memiliki koridor panjang sebagai penghubung.

Pada area Keputren ini terdapat ruang pertemuan di tengah kebun dengan beberapa ruang duduk di tepi taman dengan langkan bermotif organik. Apabila ada tamu perempuan tentunya akan mengingap di sisi sini. Kursi-kursi dengan berbagai gaya mengelompok dalam ruang terbuka dengan pencahayaan alami yang cukup. RAsanya akan damai membaca buku di sini sepanjang hari.

Di salah satu ujungnya terdapat bangunan khas yang berbentuk persegi delapan sebagai ruang pertemuan, dengan ruang-ruang di sampingnya sebagai ruang makan ataupun ruang kerja. Di masa lalu ruang ini hanya berbantuk pendopo terbuka, namun kini tertutup dinding kaca untuk melindungi bagian dalam yang sudah berusia tua.

Bentuk Joglo dapat berfungsi sebagai ruang pertemuan (pendopo) maupun rumah (omah) yang diterapkan pada rumah-rumah penduduk di Jawa Tengah pada masa lalu. Sebagai pendopo fungsinya bersifat publik hanya merupakan struktur terbuka tanpa adanya dinding pelingkup, sementara Omah merupakan hunian yang memiliki ruang yang bersekat-sekat. Biasanya rumah joglo memiliki dinding pelingkup konstruksi kayu, dan memiliki bukan berupa jendela dan pintu yang melindungi di sekelilingnya. Di masa sekarang, kebanyakan dinding kayu ini sudah berubah menjadi tembok batu bata yang berkeliling, dan hanya menyisakan atapnya saja yang asli masih mengikuti bentuk Tajuk Loro.

Joglo sebagai pendopo masih banyak ditemui sebagai bangunan publik di kelompok-kelompok masyarakat, sebagai balai pertemuan, ruang tamu sebelum masuk gedung pemerintahan, atau rumah ibadah. Bentuk ini paling sering digunakan sebagi dasar dari banyak bangunan di Pulau Jawa, karena selain sederhana, bentukan Joglo ini membuat penggunanya merasa akrab dan nyaman dengan cahaya matahari yang berlimpah dan sirkulasi udara yang baik.

Tulisan ini dimuat di Majalah Pesona Nusantara, Juli-Agustus 2017

Advertisements

8 thoughts on “joglo mangkunegaran, anggun dalam sahaja

  1. Gara says:

    Tulisan yang sangat lengkap dan kaya. Keren banget, Mbak. Setelah membaca ini, saya mau lebih teliti lagi deh dalam melihat joglo. Elemen-elemen yang diuraikan di sini membuat bagian-bagian bangunan begitu berarti. Namun, yang bikin makin kaget, filosofi Hindunya terasa sekali di setiap elemen atap. Sampai-sampai saya heran banget. Betapa merasuknya filosofi itu dalam pembangunan! Baik dari segi jumlah, bentuk, keletakan, dan bahkan warna. Kudu bangetlah tandang ke Puro Mangkunegaran ini buat membuktikan sendiri. Ngomong-ngomong, semua bagian bangunan yang Mbak tuliskan di sini terbuka untuk umum, kan?

    • indrijuwono says:

      semua bagian yang aku masuki ini memang terbuka untuk umum, gara. mainlah ke situ dan jalan kaki di sekitarnya, pasti asyik banget deh. rasanya melambat dan santai tenang banget di dalamnya. apalagi kalau datang jam 9 pagi ketika masih sepi benar.

  2. BaRTZap says:

    Aku suka dengan aturan: kayu jati yang dipakai harus yang berumur 100 tahun. Mungkin selain secara material sudah menjadi lebih kuat, juga memiliki nilai filosofis dan ‘pelajaran’ secara lingkungan.

    Btw, aku suka sekali dengan bangunan Puri Mangkunegara ini. Sesuai dengan judul ceritamu kak Ind, bangunan ini meskipun tak terlalu besar jika dibandingkan dengan Keraton Kasunanan Surakarta tapi penampilannya sangat anggun. Mungkin juga karena statusnya yang hanya Kepangeranan kali ya.

    Terakhir ke sana tahun 2015. Dan aku senang sekali melihat koleksi-koleksinya, yang relatif lebih terjaga. Terutama koleksi-koleksi di Dalem Agung, yang sayangnya tak boleh difoto. Dan hal yang paling aku ingat adalah: badong! hahahahaha ….

    • indrijuwono says:

      mengikuti law of ecologically sustainable building: consume resources no faster than the rate at which nature can replenish them.
      walau hukum itu baru-baru saja (maksudnya di akhir abad 20), tapi ternyata lokalitas sejak zaman dulu memang filosofinya menjaga lingkungan ya.

      sebenarnya sih ada teman kuliahku yang putri sini. tapi is sekarang bermukim di canada jadi gak ketemu. agak lucu mendengar pemandu memanggilnya dengan gelar secara teman2nya biasa manggil nama saja kalo di kampus.

  3. linxga says:

    Keren artikelnya detail sekali.

    Dulu pas pertama kali masuk ke keraton ini langsung terpesona sama perpaduan budayanya, pengalaman yg menyenangkan diajak keliling guide-nya yg manis berkeliling melihat keindahan keraton :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s