Tag Archives: sasak

warisan lampau desa adat beleq, sembalun

0-cover-sembalun-desa-adat-beleq-blek

Atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu berterima kasih kepadamu dan bersukaria 
Lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi beras di tampah, kemudian nasi memasuki tenggorokan hambamu yang gerah, adalah cara paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di pangkuanmu
[Emha Ainun Najib]

Bagian mana dari desa Sembalun yang menjadi favoritku? Aku rasa, aku suka semuanya. Terlebih lagi jika berada di ketinggian dan memperhatikan sawah-sawah yang menghampar permai di bawah sana, mendengarkan cericit burung dan angin yang mengalun.

Desa Sembalun ini bukan hanya Sembalun Lawang dan Sembalun Bumbung saja seperti yang sering diberitakan oleh media-media, namun lebih luas lagi di sekitarnya, begitu cerita Mbak Lia, pemilik Nauli Bungalow tempatku tinggal selama di Sembalun. Ia bercerita, sewaktu beberapa tahun yang lalu ada syuting film di sini, artis-artisnya merasa damai, karena bisa menjalani hidup seperti manusia biasa, tidak dikejar-kejar penggemar seperti biasa jika hidup di kota besar. “Kalau Dude Herlino yang datang, pasti dikerubutin juga sih..”
Continue reading warisan lampau desa adat beleq, sembalun

kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?

0-bawamataluo

Beberapa waktu lalu, aku tergelitik ketika membaca beberapa keluhan tentang kunjungan ke desa adat yang dianggap ‘komersil’. Tidak satu dua kali keluhan itu muncul ketika sedang mencari data tentang kunjungan ke desa adat. Tuduhan itu semata-mata karena ada harga yang harus dibayar ketika ingin menginjakkan kaki ke dalam desa tersebut. Yang aku ingin tanyakan balik, memangnya definisi ‘komersil’ yang ada di pikiran-pikiran itu? Sembari membuka KBBI daring, ternyata yang ditemukan adalah kata ‘komersial’. Begini artinya :

komersil

Berarti, apabila suatu tempat dikomersialkan, berarti ada keuntungan yang diambil dari uang yang diterima oleh desa adat. Bentuk berupa uang masuk laksana tiket yang mungkin tidak dikenakan pajak ini sering dikeluhkan oleh beberapa pejalan yang tiba-tiba datang ke pintu desa dan ditawari untuk membayar dan diberi penjelasan tentang asal-usul desa. Sayangnya, tak semua rela untuk membayar karena merasa tidak tahu (atau tidak mau tahu) imbal balik apa yang mereka akan terima. Maka aku melihat dari beberapa desa yang pernah aku kunjungi. Desa-desa ini tidak cukup mudah untuk dijangkau, namun tetap banyak orang yang ke sana.
Continue reading kenapa harus membayar ketika berkunjung ke desa adat yang bukan desa wisata?