arsitek desa dari rumah intaran

cover

Namanya Gede Kresna. Aku mengenalnya sejak masa kuliah dulu di Arsitektur UI, ketika presiden kami masih sama-sama Suharto. Kresna, begitu ia biasa dipanggil, dua angkatan di atasku, masih suka main bareng karena di jurusan kami yang hanya berisi 50-an orang per angkatan ini, antar angkatan tidak ada senjang melainkan akrab. Apalagi aku punya satu sahabat, Ida Ayu Trepti Pratiwi, yang juga sama dengannya berasal dari Bali, sehingga sering mengikuti obrolan mereka yang kebali-balian.

Tengah tahun lalu dalam perjalanan ke Bali aku kembali bertemu dengannya. Setelah sekian bulan aku ingin sekali berkunjung ke Rumah Intaran, tempat Kresna tinggal bersama istri dan kedua anaknya, yang berada di kawasan Singaraja, Bali Utara. Rumah Intaran adalah ruang bekerja sekaligus tempat belajar dan berkreasi. Membaca status-status yang ditulis Kresna di facebook, selalu menerbitkan keinginan untuk bertukar pikiran dengan arsitek yang kembali ke alam ini. Seperti ini statusnya beberapa jam yang lalu :

Merasa Kaya

Tinggal di desa, merasa kaya raya itu sederhana. Saat pisang-pisang berbuah di atas atap kamar mandi, kita sudah merasa kaya. Saat Ayam-ayam makan sisa-sisa endapan nasi cucian piring, kita juga merasa kaya. Saat burung-burung merpati terbang menghampiri jagung-jagung yang kita lemparkan di halaman, kita pun merasa sangat kaya.

Kita semua bisa menjadi kaya raya, dan selalu berhak merasa kaya dengan alasan-alasan yang berbeda-beda. Kaya, dan karenanya juga miskin, semua hanya persepsi dalam pikiran.

Sayangnya, kesempatan bertemu Kresna tidak terjadi di Rumah Intaran, melainkan di kawasan Batubulan, karena ia sedang mengerjakan proyek membangun rumah di sana dan sudah dalam proses finishing. Aku berkendara ke lokasi dan bertemu ia dan istrinya sedang asyik beres-beres di rumah tersebut. Beberapa tukang, Kresna menyebutnya Artisan, sedang menyerut dan memahat kayu di samping rumah tersebut.

rumah batubulan

rumah batubulan

lantai dasar rumah batubulan

lantai dasar rumah batubulan

Kami naik ke lantai dua. Rumah ini adalah renovasi dari joglo dari Rembang yang dipoles ulang dan didesain ruang-ruang tinggalnya. Di satu sudut aku mengobrol dengannya tentang arsitektur lokal. Mendengar ceritaku yang hobi jalan-jalan, Kresna malah menyuruhku menulis dan membuat jalan-jalan arsitektur saja daripada berkutat di kota sebagai arsitek. “Memangnya di Bali masih butuh arsitek?” candaku. “Bali semakin penuh,” katanya,”Kalau semua orang asing datang ke Bali dan berinvestasi di sini, bayangkan kemacetan yang terjadi.” Kresna bercerita bahwa di Denpasar ada proyek seribu kamar condotel yang dipastikan akan menimbulkan kemacetan yang makin parah di Bali.

teras lantai dua

teras lantai dua

menuju ruang dalam

menuju ruang dalam

“Waktu itu gue diajak klien ke tanah dia di tengah sawah, Ndi. Ditanya, Pak Kresna, sebaiknya di sini saya bangun apa, ya?” ceritanya. “Sebaiknya tidak dibangun apa-apa, Pak..” mengulang apa yang ia katakan pada kliennya ketika itu. Kecintaannya pada alam membuatnya mengolah apa yang ada di alam alih-alih mengikuti pasar yang banyak mengambil bahan sintetis. Di rumah joglo yang diolahnya, hampir keseluruhan bahannya adalah bahan bekas, atau bahan alam. Kayu-kayu yang ada adalah bongkaran dari rumah lama, yang sering ia dapat dari pulau Jawa. Artisannya membuat bak mandi dan wastafel juga dari batu alam, bukan dari bahan keramik jadi. Istrinya, Ayu Gayatri, ikut membantunya dengan mendesain beberapa furnitur di sini. Di sisi samping dipasang pot-pot gantung dari tembikar yang berderet.

rekonstruksi bangunan pindahan dari Rembang

rekonstruksi bangunan pindahan dari Rembang

bak mandi dari batu karya para artisan

bak mandi dari batu karya para artisan

atap luar berlangit-langit lambrisering dan pot tembikar di samping

atap luar berlangit-langit lambrisering dan pot tembikar di samping

Sekitar dua jam di sana, karena pasangan ini cukup sibuk dengan pekerjaan di Batubulan (maklumlah, namanya juga arsitek) aku memutuskan tetap bertolak ke Singaraja, mengunjungi Rumah Intaran tanpa Kresna di sana. Menyetir sendiri sambil mampir sana sini, mengunjungi Tanah Lot di barat lalu kembali lewat Gianyar dan menanjak terus sampai Bedugul melihat danau hingga bulan purnama yang begitu besar menerangi danau di rembang petang itu.

gede kresna dan ayu gayatri

gede kresna dan ayu gayatri

Hampir jam delapan malam ketika aku sampai Singaraja dan menanyakan arah jalan ke Tamblang. Ternyata aku harus berbelok di jalan utama ke arah timur sekitar 10 km hingga bertemu patung Krisna di simpang menuju Kintamani. Posisinya terletak di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Singaraja. Kuputar setir ke arah selatan dan mengikuti petunjuk dari Kresna lewat telepon untuk berjalan terus kira-kira 2 km. Ternyata setelah sempat terlewat karena kurangnya pencahayaan di jalan, aku tiba juga di depan gerbang Rumah Intaran yang terbuat dari susunan bambu.

Waktu menunjukkan jam 21.30 ketika aku memarkirkan mobilku di depan rumah dua rumah panggung kayu itu. Sudahlah, besok saja menjelajah tanah ini, sambil menurunkan bawaan dan berjalan ke ujung lahan melewati satu pekarangan luas. Pengurus rumah menunjukkan satu rumah tamu sederhana tempat kami menginap di sana. Walaupun tanpa AC, namun lubang-lubang yang ada menghembuskan kesejukan malam ke dalam ruangan. Ada dua tempat tidur khas Bali di ruangan ini, lengkap dengan tiang dan kelambunya.

rumah tamu

rumah tamu

bata ekspos pada dinding dan tempat tidur kayu di dalam

bata ekspos pada dinding dan tempat tidur kayu di dalam

Keesokan paginya aku bangun menuju kamar mandi yang beratap bambu. Unik juga kamar mandi ini karena di dalamnya ada shower bambu dan bak air dari batu. Dindingnya dari bata setengahnya, dan berdinding bambu hingga atap. Udara menyelisip dari sela-sela bambu ini. Airnya dingin sekali kalau pagi. Aku cuma kuat cuci muka sambil berwudhu kemudian jalan-jalan keliling usai subuh.

kamar mandi berdinding bambu

kamar mandi berdinding bambu

struktur atap dan pancuran buatan sendiri

struktur atap dan pancuran buatan sendiri

Intaran adalah nama pohon yang banyak tumbuh di Bali yang dikenal juga dengan nama Neem. Pohon ini banyak berfungsi sebagai peneduh selain konon kabarnya daunnya dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Di depan rumah utama pohon Intaran ini tumbuh dengan gagahnya. Selain itu, Kresna juga menyemai anakanya di pekarangan depan rumah tamu tempat aku menginap.

pekarangan antara rumah tamu dan rumah utama

pekarangan antara rumah tamu dan rumah utama

anakan pohon intaran

anakan pohon intaran

Keluarga Kresna tinggal di rumah joglo yang berasal dari Pati berada di tengah pekarangan luas. Di halaman itu terdapat gudang terbuka yang berisi barang-barang bekas (yang mungkin akan digunakan kembali) dengan atap sirap, juga kandang anjing kintamani dengan atap genting tembikar. Di satu sudutnya ada ruang duduk-duduk yang entah dipakai siang atau malam untuk berdiskusi dan juga yang bergelantungan batok kelapa. Mungkin untuk menemani suasana atau mungkin juga saling timpuk apabila suasana memanas?

tempat barang-barang recyclable

tempat barang-barang recyclable

ruang duduk yang dilengkapi batok kelapa

ruang duduk yang ‘dilengkapi’ batok kelapa

kandang anjing dengan pohon yang tembus atap di belakangnya

kandang anjing dengan pohon yang tembus atap di belakangnya

Yang paling unik adalah kantor Kresna yang menyebut dirinya sebagai Arsitek Desa. “Karena kliennya kebanyakan dari desa,” paparnya. “Lagipula, memang ini lokasinya di desa.” Kresna banyak bertemu dengan pemuka-pemuka desa untuk mendiskusikan mengenai lokalitas, juga menggali potensi-potensi yang ada di desa untuk pariwisata, bagaimana supaya cita rasa lokal yang unik itu tidak tergerus oleh arus global. Di beberapa desa sekitar diberdayakan penduduk untuk merangkai bahan lokal, dari yang masih mudah ditemui di sekitarnya semisal tanah liat dan bambu.

Dindingnya terbuat dari batu bata merah yang diekspos sementara jendelanya tersusun dari keranjang-keranjang bambu yang berderet tiga dan memberikan cahaya alami ke dalam ruangan. Dengan lubang-lubang keranjang yang sebesar itu, bisa dibayangkan hembusnya angin yang masuk ke ruangan. Sayang ketika itu tidak turun hujan sehingga tidak terlihat efek dari teritisan yang hanya satu meter itu ketika air menghempas sisi berlubang keranjang. Ingin tahu juga, berapa lama keranjang bambu ini sanggup menahan cuaca di udara tropis.

bukti aku benar tiba di sana

bukti aku benar tiba di rumah intaran

bata ekspos, keranjang dan pintu masuk

bata ekspos, keranjang dan pintu masuk

Ruangan di dalamnya dibagi menjadi dua bagian, ada ruang meeting dengan tokoh desa di depan, dan ruang kerjanya di belakang dengan tambahan gending untuk rehat di sore hari dari suasana kerja. Lantainya terbuat dari tegel ubin biasa, tidak ada cap apa pun. Ruang meeting yang besar mejanya ini dilengkapi dengan beberapa bangku kayu yang sudah tua juga. Kayu-kayu bahan meja dan kursi ini agaknya memang kuat menahan beban beberapa dekade. Patung tembikar terlihat di sana sini.

dinding keranjang dan langit-langit gedek. lantai dari tegel.

dinding keranjang dan langit-langit gedek. lantai dari tegel.

beberapa pelengkap meja

patung yang terhampar

dinding bermotif, patung dan kap lampu pengumpul terang

dinding bermotif, patung dan kap lampu pengumpul terang

Menghadap depan ada bukaan dari batang-batang bambu yang disusun vertikal. Tanpa teritis apa pun di depan jendela, dipastikan kalau hujan besar percik-percik hujan akan masuk. Tapi ada pohon Intaran besar di depan kantor yang mungkin akan menahan volume air yang berjatuhan di depan kantor.

meja rapat diskusi harian

meja rapat diskusi harian

jendela bambu vertikal. tembus airkah?

jendela bambu vertikal. tembus airkah?

Karena semua artisan dibawa Kresna ke kota, praktis di sini tak ada kegiatan apa pun. Suwung. Kemana aku melangkah, rasanya dibuntuti oleh mata patung-patung yang berada di samping rumah utama, petok ayam yang berebut sarapan, atau sesekali dengking anjing kintamani di dalam kandangnya. Di depan rumah utama terdapat dua rumah panggung kayu yang mungil. Ini pasti bongkaran yang disusun ulang dan dijual lagi, pikirku.

rumah utama, joglo dari Pati

rumah utama, joglo daari Pati

pohon tetap berdiri, galeri terbuka, ventilasi bambu

pohon tetap berdiri, galeri terbuka, ventilasi bambu

pintu tua

pintu tua

Di dalam rumah-rumah kayu ini ada maket-maket dari bangunan kayu rakitan yang dikerjakan oleh Kresna dan artisannya. Kresna mengaku ia lebih suka menjelaskan dengan maket skala 1:200 ini karena selain lebih mudah dipahami oleh kliennya, juga akan lebih mudah dipahami oleh artisannya yang akan merakit ulang bangunan-bangunan ini. Struktur kayu yang masih asli terlihat dengan jelas dengan maket ini. Beberapa waktu lalu malah Kresna menawarkan maket-maketnya ini karena dirasa sudah terlalu penuh.

rumah kayu yang dipamerkan

rumah kayu yang dipamerkan

rumah kayu yang berisi maket

rumah kayu yang berisi maket

maket rumah yang sedang direkonstruksi

maket rumah yang sedang direkonstruksi

Di bagian paling depan dari kompleks Rumah Intaran adalah workshop tempat para artisan bekerja. Disini juga terhampar berbagai maket konstruksi kayu, dan berbagai macam bahan rumah kayu seperti kayu-kayu bekas, pelepah rumbia, juga beberapa alat pertukangan. Di ujung terdapat satu ruangan yang jendelanya tertutup selipan tegel berwarna-warni. Sepertinya ini tempat artisannya beristirahat.

workshop rumah intaran

workshop rumah intaran

maket  proyek 1 : 200

maket proyek 1 : 200

contoh cara menyusun atap sirap

contoh cara menyusun atap sirap

Tiba-tiba aku merasa iri. Ingin rasanya berada di sini ketika semua kegiatan itu ada. Melihat semua hal yang sering diceritakan Kresna lewat halaman facebooknya. Mendengar ketak ketok palu dan mesin serut para artisan. Berdiskusi tentang keseimbangan alam dengan Ayu Gayatri. Tak takut bermain dengan lumpur dan tanah, getah pepohonan, melihat ayam-ayam beterbangan, sambil makan pisang rebus dari kebun sendiri.

sculpture yang menjaga rumah intaran

sculpture yang menjaga rumah intaran

Seluruh area Rumah Intaran diteduhi oleh pohon-pohon besar, sehingga ketika desa ini mulai terik, di sini masih terasa sejuk. Bahkan banyak angin sepoi yang melambai. Masih terlalu banyak ‘mungkin’ yang memenuhi pikiranku ketika berkunjung ke sini tanpa si pemilik. Masih ingin melihat kegiatan-kegiatan yang hidup di sini, yang memberikan nafas segar untuk kehidupan arsitektur lokal. Belajar untuk bangga pada kekayaan alami kita sendiri, karena sebenarnya di situlah keunikan yang menjadikannya berbeda.

intaran

intaran

kunjungan pada bulan juni 2013
ditulis di temani suara hujan di luar 18.01.2014 11:30

29 thoughts on “arsitek desa dari rumah intaran

  1. Nin says:

    Tulisan dan pembahasan tentang arsitektur yang bagus, saya jadi ingin datang ke Bali lagi untuk melihat-lihat yang tidak dilihat oleh turis pada umumnya.

  2. giewahyudi says:

    Rumah Intaran-nya berasa rumah sederhana waktu aku masih kecil dulu. Sekarang di kampung rumahnya sudah tembok dan keramik semua. Dan aku baru ingat, menjadi kaya itu ternyata tidak perlu mahal. Mensyukuri apa yang ada aja sudah bisa kaya..

  3. ary amhir says:

    Reblogged this on Othervisions and commented:
    sebentar lagi saya akan bertandang ke sini selama sebulan, belajar tentang arsitektur tradisionl dan kearifn orang desa kepada gede kresna 😀

  4. Arsitek says:

    Terus terang saya salut dengan ulasan mbak Indri yang mendalam tentang arsitek si pemilik rumah interan ini yakni pak Kresna. Mbak Indri mengulasnya begitu detail layaknya seorang arsitek beneran.
    Kebetulan saya juga seorang arsitek yang bekerja di PT. Arsitek Online Mandiri di Jakarta. dan ingin sekali berkenalan dengan pak Kresna ini. Mudah-mudahan kalau ada waktu ke Bali saya akan coba singgah ke rumah Interan yang bergaya etnik ini, tepatnya style etnik Bali.

    Sukses selalu ya Mbak Indri… Ditunggu ulasannya yang lain, terutama dalam dunia arsitektur dan rumah.
    Wassalam,

    Eva Maryam

    • indrijuwono says:

      Halo mbak Eva, aku memang arsitek beneran bukan sekadar travel blogger saja, hehe 🙂 Saat ini aku engineer di salah satu perusahaan construction management.
      Kebetulan juga Kresna adalah sahabat sejak masa kuliah dulu, sehingga ada banyak sudut pandang yang bisa dituliskan dalam bahasan tentang Rumah Intaran ini. Mampirlah ke sana..
      Salam kenal juga.

  5. wita says:

    mbak indri suka dengan tulissan mbk indri ini. . walaupun baru nemuin ini tapi bersyukur bgt nambah ilmu baru . . . salam kenal mbk indri 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s