belajar dari sarongge, belajar untuk indonesia

DSC_0641s

Menunggu kadang-kadang menjadi satu-satunya pilihan. Berkebun adalah menunggu. Setelah biji ditebar, atau bibit ditanam, tak banyak yang bisa kita lakukan. Kecuali merawat, memupuknya. Tak ada yang bisa mempercepat tumbuhnya biji sawi, atau puspa yang kau tanam di ujung kebun kita itu. Semua punya waktunya sendiri-sendiri.
[h.273]

Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini di lantai basemen Blok M Square. Pertama melihat aku langsung tertarik, berjudul Sarongge, karya Tosca Santoso, dengan sampul sebuah pohon besar yang rindang, dengan pengantar Ayu Utami. Saat itu aku tidak menanyakan harganya, karena takut mahal dan belum tahu harga aslinya. Dan lagi, jumlah buku yang belum kubaca di rumah juga menumpuk banyak, sehingga aku tidak berniat menambah timbunanku itu.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku ingat lagi dengan buku itu, ketika daerah Sarongge mulai diperbincangkan di twitter. Baru aku tahu, bahwa Sarongge itu nama daerah di kawasan Puncak, di mana di sana ada program adopsi pohon dari Green Radio. Aku mulai mencari lewat toko buku online yang ternyata sudah tidak ada stok dan akhirnya menanyakan ke penulisnya langsung @toscasantoso via twitter. Ternyata di toko-toko buku di Jakarta sudah tidak ada, dan masa iya aku keliling seluruh toko buku? Jakarta itu kan propinsi, sehingga agak sulit dicapai ujung satu dengan satunya lagi. Bisa berhari-hari kalau keliling.
Continue reading

Advertisements

The road to skyscanner bloscars travel award 2014 : VOTE ME!

gambar

Sophie: You can’t go on forever, some point you have to stop.
Charlie: Then why is it that I feel like a school boy on Sunday? It’s nearly tomorrow and I don’t want to go.
Sophie: Me either. And I always liked school.
[Letters from Juliet ~ 2010]

Dulu sewaktu kecil, aku hobi sekali menulis surat. Sepertinya kalau sudah menulis aku bisa lupa dan bisa bercerita berlembar-lembar. Senang rasanya bisa bercerita pada teman yang ratusan kilometer jauhnya tentang apa yang terjadi di tempat tinggalku sekarang. Berpindah kota hampir setiap 2-5 tahun membuatku banyak teman baru dan yang ditinggalkan untuk berbagi cerita. Kebiasaan yang tak lekang hingga aku SMA. Namun anehnya, aku tak punya buku harian. Pernah punya tapi hanya berisi kegalauan-kegalauan masa remaja yang aku pun malu membacanya. Lebih asik menuliskan kejadian-kejadian lewat surat, karena dirasa ada yang membaca dan membalasnya.

Awal masa kuliahku pun meninggalkan teman-teman SMA seribu km jauhnya, masih diisi dengan surat menyurat. Tapi entah kenapa, waktuku tersita oleh kegiatan-kegiatan kampus yang banyak. Tak ada waktu luang di sore hari yang sempat menulis, karena satu hari penuh berada di kampus. Akhirnya aku benar-benar berhenti menulis surat. Aku mulai melakukan perjalanan, dan sarana menulisku adalah majalah dari klub pencinta alam yang aku ikuti tempat aku menumpahkan cerita. Saat itulah aku punya jurnal harian untuk mencatat hal-hal yang terjadi di perjalanan supaya tidak lupa dan menuliskan cerita perjalananku di majalah. Aku ingat cerita favoritku adalah caving 5 hari di desa Bayah, Banten Selatan. Bagaimana tidak, saat itu aku satu-satunya cewek dalam tim beranggotakan 6 orang, mengurusi 5 orang lainnya, kehabisan logistik dan ongkos pulang, sampai dijemput dengan jeep untuk kembali ke Depok.
Continue reading

kota di kuta

cover

I’m moving
I’m coming
Can you hear, what I hear
It’s calling you my dear
Out of reach
(Take me to my beach)
I can hear it, calling you
I’m coming not drowning
Swimming closer to you
[Pure Shores ~ All Saints]

Siapa di sini yang pernah berfoto di depan Hard Rock Bali yang berlokasi di Kuta? Sebagian anak muda sepertinya pernah melakukannya, pertanda ia sudah sangat eksis liburan di pantai terpopuler di Indonesia ini. Aku? Belum pernah. Hehehe.. Ketika November 2012 kembali ke pantai Kuta bareng Tiwi, sahabatku ini mengancam,”Awas ya, kalau lo minta gue moto-motoin di depan Hard Rock!” Aku tertawa geli,”Ya enggak lah, kan semua orang sudah foto-foto di situ, masa gue ikut-ikutan?”.

Sombong banget jawabanku. Seperti kalau bepergian ke tempat-tempat lain tidak tergiur untuk berfoto di salah satu ikon sculpture-nya. Lalu memamerkannya di social media supaya orang lain tidak tertarik. Lha, ini Kuta! Everybody was here! Hampir semua teman yang suka bepergian pernah mampir di tepi pantai ini. Terus apa istimewanya kalau aku pamer sedang berada di sini?

Pantai Kuta berada di kabupaten Badung, Bali, sangat populer di kalangan turis mancanegara. Dari udara, sebelum mendarat di bandara Ngurah Rai, bisa dilihat garis pantai berpasir putih yang membentang sejauh kira-kira 1500 m. Ke utara, pantai ini terus sampai Legian dan Seminyak, yang masih giat membangun cottage dan hotel di sana sini demi memenuhi kebutuhan turis (bah!).
Continue reading