simpul belajar The Hive singapura

Memasuki kampus Nanyang Technological University di Singapura, suasana teduh dan sejuk melingkupi sebagian besar jalan-jalannya. Pikiranku melayang pada kampus almamater di tanah air yang juga berada di tengah hutan yang hijau, tapi sudah mulai penuh oleh bangunan. Bis tingkat yang membawa kami dari stasiun Bon Lay tadi ikut masuk dan mengelilingi jalan lingkar kampus. Kalau duduk di lantai atasnya, pemandangan kampus akan terpampang seluas jendela.

Tujuan kami, The Hive Learning Hub yang berada di setopan terakhir sebelum bis keluar dari jalur lingkar kampus NTU ini. Sesudah menunggu Intan yang naik bis berikutnya, kami hanya berjalan kaki hingga bangunan The Hive yang difungsikan sebagai simpul pertemuan, tidak hanya antar mahasiswa untuk saling bertukar wawasan dan ilmu, namun juga bisa bertemu rekanan bisnis yang diinisiasi dari kampus.

Dikutip dari laman NTU, Thomas Heatherwick dari Heatherwick Studio yang memenangi kompetisi desain bangunan ini menyatakan, “Di era informasi ini, komoditas terpenting di kampus adalah ruang sosial untuk saling bertemu dan saling belajar. Pusat pembelajaran dengan kumpulan menara yang mengelilingi ruang sentral akan menyatukan semua orang, diselingi dengan sudut, balkon dan kebun untuk pembelajaran kolaboratif secara informal.”

Dari kejauhan, menara-menara ini seperti contong dengan denah elips, saling menyelip mengelilingi atrium luas dengan pengudaraan alami. Ruang-ruang di antaranya dipergunakan sebagai penghubung vertikal maupun balkon dengan luasan yang berbeda-beda mengikuti ruang yang tersedia. Kulit luarnya merupakan cetakan beton bergalur yang dibuat dalam segmen-segmen dengan cetakan yang terbuat dari silikon yang bisa dipakai berulang. Tekstur galur haorisontal ini menjadi istimewa karena akan menyerap panas lebih banyak pada fasade karena luas permukaannya yang lebih besar.

Bangunan ini bisa dibilang tidak memiliki tampak depan, karena pintu masuk bisa dari beberapa bukaan yang berada pada lantai dasarnya. Tanpa adanya daun pintu, kami masuk di antara menara-menara dan langsung masuk pada atrium tengah yang sejuk dengan angin yang berkesiur lewat sela-sela menara. Di lantai dasar tersedia beberapa cafe untuk mahasiswa ataupun tamunya bisa berdiskusi sambil menyesap kopi dengan santai.

​Lantai atrium ini kombinasi dari beton natural dan batu alam yang disusun dengan langit-langit ekspos yang digantungi aneka instalasi ME menuju titik-titik yang dibutuhkan. Suasana di dalam tidak terang benderang, namun cukup untuk berdiskusi sembari duduk di beberapa sitting group yang tersedia.

Pada dinding-dinding sekitar lift dan tangga, terdapat lukisan timbul karya Sara Fanelli dari bahan terakota dengan motif etnik, menyesuaikan dengan bahan natural yang lain. Paduan warna semen, terakota dan hijaunya tanaman dalam ruangan ini memberi kesan sejuk pada ruangan.

Kami memutuskan untuk naik ke lantai teratas dengan lift, baru kemudian turun sambil berjalan kaki dari lantai ke lantai. Tiba di lantai 6, kami menuju ruang terbuka yang merupakan salah satu atap dari menara elips ini di mana dikelilingi oleh bangku perkerasan, dengan galur yang senada dengan fasade. Udara langsung di antara kolom-kolomnya dan tanaman membuat suasananya adem dan nyaman.

Pada sisi tepi void yang melongok pada atrium, terdapat bangku-bangku yang bisa dipergunakan untuk belajar, menyendiri pada lantai teratas tanpa gangguan dari suara lalu lintas. Langkan kayu dan besi bulat melengkung, mengelilingi bervariasi dengan pot tanaman yang menjuntai.

Sebagian lantai enam tertutup kaca pada bagian void-nya, tidak seperti lantai-lantai di bawahnya. Sepertinya ruangan-ruangan ini digunakan sebagai kantor atau perpustakaan. Menurut info juga dari laman NTU, di sini terdapat Perpustakaan Outpost yang merupakan Automatic Reserves Machine, sebuah mesin pengeluaran buku otomatis sehingga mahasiswa dapat melihat dan memeriksa buku-buku yang dipesan sendiri dengan sistem ini kapan saja.

Salah satu sisi balkon di antara menara menghadap luar ditutup dengan teralis besi horisontal, sehingga tetap mengalirkan udara ke dalam bangunan dengan terang yang cukup, namun juga menimbulkan rasa aman bagi penggunanya. Tipe teralis ini juga yang menjadi fasade bagian tangga yang menjadi sirkulasi antar lantai yang berdekatan. Bayangan matahari pada lantai bordes tangga menarik perhatian kami yang melaluinya. Tentu saja, tidak dibutuhkan banyak energi pada area tangga yang menggunakan pencahayaan dan pengudaraan alami ini.

Turun ke lantai di bawahnya, kami mengamati ruang-ruang belajar di The Hive ini, dengan layout kelompok, lengkap dengan papan tulis dan proyektor di setiap ruangannya. Ruang-ruang ini berada di balik dinding-dinding bergalur yang tampak dari luarnya. Karena dinding ke arah koridor void berupa kaca, maka pencahayaan didapatkan dari terangnya atrium. Sayangnya karena jumlah cahaya juga secukupnya, jika tidak digunakan ruangan ini tampak gelap.

Sama seperti di atasnya, koridor di tepi void ini pun dilengkapi dengan bangku-bangku untuk diskusi, yang dihuni beberapa mahasiswa dalam kelompok. Beberapa asyik sendiri menekuni laptopnya sehingga ruang terbuka ini sepi bak perpustakaan. Sepertinya cukup serius di sini, tak terdengar orang bersenda gurau. Jika ingin menyendiri tak di tengah orang yang berlalu lalang, bisa memilih ruang di balkon, ruang sempit di antara dua menara, namun terasa privat dan langsung berhadapan dengan udara luar dan dinding-dinding galur.

Ketika berada di lantai tiga, bisa terlihat jelas bahwa kolom yang menunjang pelat demi pelat menara ini bentuknya melengkung tidak lurus. Mungkin tipe ini dimaksudkan agar bentuknya lebih menyatu dengan denah yang berbentuk elips seperti helaian daun. Kolom lengkung ini tentunya memberikan rasa penasaran, bagaimana cara membuat bekisting sehingga didapat bentuk demikian. Apalagi dengan tekstur kolom yang tidak rata membuatnya lebih bernuansa alam seperti bentuk pepohonan.

Kami tiba di lantai dasar menggunakan tangga di sisi barat. Karena The Hive ini berdiri di lahan yang agak landai, maka tiap dasar menara-menara ini tingginya tidak sama. Ramp landai di luar mengarahkan kembali ke pintu tempat kami masuk tadi.

Dari sisi luar, terlihat bahwa massa The Hive ini tersusun dari elips-elips yang ditumpuk dengan bidang transparan di antaranya sehingga antar lantai terlihat mengambang. Bagian yang lebih atas tampak lebih keluar daripada lantai di bawahnya. Tentu saja ini didukung juga oleh kolom-kolom yang menunjang kantilever dengan lebar yang berbeda-beda. Nuansa transparan ditemukan pada bagian-bagian tangga, berpadu dengan hijau daun dari sisi balkon.

Perjalanan Desember 2017. Ditulis Februari 2018.

foto oleh Indri Juwono & Evawani Ellisa

other story:
upaya mengembalikan hijau
star vista mall singapore

Advertisements

7 thoughts on “simpul belajar The Hive singapura

  1. viraindohoy says:

    lucu ya kayak kue lapis..hihii..

    kampus kayak gini kayaknya nyaman ya untuk belajar formal maupun informal. dan iya sih, spot2 nyaman untuk belajar informal itu penting, biar murid2nya gak pada pinter textbook doang 😀

  2. Muhammad Akbar says:

    Kampusnya keren banget yah, bangunannya itu loh kok bisa model seperti itu ulat-ulat, hahaha.
    Salut sama aristeknya, selain itu konsepnya yang hijau juga sangat menarik bikin mahasiswanya nyaman. Ini terbuka umum gak sih?

  3. Matius Teguh Nugroho says:

    Dulu saat kerja di perusahaan cat, aku banyak browsing soal arsitektur buat konten dan The Hive ini banyak dibahas di hasil pencarian atau artikel yang kubaca. Nggak cuma menarik secara estetika, tapi juga ramah lingkungan dan fungsional bangunannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s