seberapa luas kamu mau bertanam?

Aku nggak tahu kenapa ujug-ujug suka main tanaman. Padahal kalau dipikir-pikir dari dulu, waktu masih tinggal di luar ibukota dengan rumah-rumah berhalaman luas, yang mestinya gampang saja kalau mau tanam-menanam di situ. Tapi dulu nggak tertarik sama sekali, mungkin karena merasa tanaman itu mainan cewek banget. Sedangkan yang aku inget dengan jelas bahwa aku ini jago manjat pohon, pohon jambu, pohon mangga, pohon kersen, atau pohon jeruk bali favoritku di rumah eyang di Tulung Agung. Jadi keterikatanku dengan tanaman itu hanya sebagai tempat nongkrong-nongkrong, mengingat impian untuk punya rumah pohon seperti di novel  pupus karena sering pindah-pindah.

Jadi, menanam menjadi salah satu hobi yang aku akui, hasil ikut-ikutan karena trend di medsos. Sejuta hobi yang lain memang sudah ditekuni sejak kecil, seperti membaca, menulis, bersepeda, lari, yang ikut-ikut beberapa komunitas penghobi bersama ini. Nah urusan dengan hehijauan ini baru saja gara-gara punya waktu luang lebih di masa WfH pandemi ini, jadinya karena di medsos banyak dibahas, sepertinya waktu yang tepat untuk memulai, nih.

Bagaimana awalnya? Gampang, awalnya aku beli saja paket bibit sayur di marketplace favorit lalu coba tumbuhkan dengan campuran tanah, pupuk, dan media tanam yang beli di tukang-tukang tanaman ini. Dasar memang bibitnya bagus, hasil semaian aneka sayur di toples bekas jarcake yang dilubangi sendiri bersemi semua dengan gembira (ok, kecuali selada).

jadi awalnya, pilih beberapa benih sayuran untuk disemai. ini aneka cabe, tomat terong, bayam direndam selama 2 jam
tempat tumbuhnya di botol bekas jarcake ini, dengan media tanam kompos + tanah pekarangan.
hari ke-5

 

Aku memilih sayuran sebagai awal karena katanya ini yang paling mudah, tinggal ditebar maka pasti tumbuh.Selain itu kan keren kayaknya menanam sayur, makan organik hasil kebun sendiri. Begitu katanya-katanya. Tapi ternyata faktor alam yang paling menentukan adalah sinar matahari! Dengan rumah yang menghadap ke barat, praktis semaian yang sudah memunculkan beberapa daun ini dan kuletakkan di dinding pagar rumah tidak banyak terkena sinar matahari, apalagi opening teras ini tertutup oleh atap twinlite warna grey yang hanya melewatkan 10% sinar. Wassalam, jadi bagaimana ini daun mau berfotosintesis sempurna dan menghasilkan klorofil?

hari ke-23

Dasarnya sudah kepincut dan penasaran banget, daripada nyari guru ke sana kemari, aku malah bikin Webinar! (privilege banget, mumpung lagi jadi ketua center, ehehe..) Menghubungi bang Glenn Pardede yang kebetulan senior di KAPA dan direkturnya Cap Panah Merah, yang sudah malang melintang di kalangan petani, juga menggandeng Sigit Kusumawijaya, teman arsitek yang sekaligus penggiat Jakarta Berkebun. Dan benar saja, di webinar yang dihadiri lebih dari 300 orang ini banyak sekali memberikan ilmu, seperti posisi tanaman, perawatan, lebih baik hidroponik atau tanah, hingga membuat microgreen kalau memang kekurangan sinar matahari. Nah, lebih bahagianya lagi, bukan cuma aku yang mendapatkan ilmu, tapi juga teman-teman lain yang kuundang untuk mengikuti acara ini. Apalagi 150 peserta mendapatkan bibit tanaman dari Cap Panah Merah untuk mencoba-coba di rumah masing-masing. 

mengaduk media harus dalam kondisi santai

Jadi, seusai acara itu, aku makin rajin bertanam tomat, cabe, bayam, kacang panjang, terong. Apalagi salah seorang teman mengajarkan untuk membuat campuran media tanam yang bagus (kebetulan memang aku bikinnya di pot), yaitu campuran cocopeat, kompos, sekam bakar, dan tanah pekarangan dengan perbandingan 1:1. Benar saja, walaupun sinar matahari kurang, tetapi tanaman tetap tumbuh walau agak lambat.

si cemeng nungguin tanaman sambil makan
tomat, kemangi, terong, yang sudah pindah keluar dari botol kecil

 

Jangan kira tidak ada kegagalan. Sebaran bayam dan kangkungku jelas gagal karena etiolase dan kondisi sinar matahari yang kurang. Tumbuh sih, tapi cuma sedikit dan daunnya tak kunjung besar seperti yang sering kulihat di tukang sayur. Akhirnya aku memutuskan menyerah dari perbayamkangkungan ini dan memutuskan beralih menyemai sawi. Ini pun drama juga. Batch pertama semaian sawi mengalami etiolase alias batang memanjang akibat kekurangan sinar. Gagal juga deh. Batch kedua dari semaian sawi pada cocopeat ini lumayan hasilnya, dan berhasil kuselamatkan dengan membawanya ke rumah Depok, dan dititipkan pada Bintang yang meletakkannya di atas genteng depan balkonnya. Berhasil berdaun besar-besar walau tidak selebat sayur di pasar.

bayam hijau dan merah yang selama dua minggu segini-segini saja

 

karena ditaruh di teras dan kurang matahari, batangnya memanjang etiolase

Nah, keberuntungan ketika aku pindah ke apartemen dan kebetulannya menghadap timur! Ewh, langsung saja sawi (walau cuma satu) kuletakkan di balkon dan kusiram setiap hari pagi sore. Dan ia pun berbakti dengan berdaun terus menerus sehingga cukup sebagai teman makan mie instan. Istilahnya, tinggal petik. Ohiya, tak hanya sawi, bunga matahari pun berhasil tumbuh di ketinggian ini, yang jelas karena asupan bahan fotosintesis yang melimpah.

dipindah ke besek, tumbuh dan bahagia, sesekali dipetik untuk teman masakan

Berhasil dengan sawi, aku semangat lagi tentunya. Mulai lagi dengan menyemai kangkung dengan sistem hidroponik wick. Hanya semai satu hari dengan rockwool, kemudian aku pindahkan ke bak air berisi net pot yang sudah dipasangi kain flannel yang akan meng-osmose air ke rockwool yang tinggal diletakkan saja ke dalam net pot satu-satu. Sungguh sangat mudaahhh, bisa ditinggal ke mana-mana tanpa memikirkan menyiram.

biji kangkung disebar pada rockwool
sudah mulai tumbuh daunnya, tunggu sampai akarnya cukup dan daun ke-4 nya muncul

Nah tapi, ketika sudah tumbuh daun ketiga dan keempat, tidak hanya air yang dibutuhkan oleh kangkung ini, tetapi juga nutrisi tambahan. Kubongkar lagi paket awalku dan mencampur pupuk AB Mix untuk dicampurkan pada air dengan konsentrat 400 ppm. Tinggal diukur dengan alat TDS, maka konsentrat pupuk bisa tercapai. Bertahap ditambahkan hingga 800-1000 ppm pada minggu berikutnya. Dan, tentunya si kangkung pun segar bugar tegak pada netpotnya hingga membesar. Walau tidak serimbun kangkung di tukang sayur, tapi yang penting adalah proses pembelajarannya, toh?

harus dapat sinar matahari yang cukup
setiap hari bercengkrama dengan jakarta
sudah hari ke 35, mestinya waktunya panen

Seiring berjalan, rerimbun kangkung ini pun besar sehingga perlu dipanen. Karena cukup sibuk, rencana panen pada Jumat malam pun ditunda, karena harus pulang ke rumah mertua. Oh, okay, kupanen Senin saja deh, pikirku saat itu (tapi nggak ngecek air juga, asumsi oke). Eeh, ndilalah ketika balik ke Apartemen pada Minggu malam, sebagian kangkung letoy tumbang melayu. Rupanya entah juga karena ada hujan juga atau kekeringan juga karena airnya habis. Jadilah mereka langsung kupotong dan dijadikan tumis. Nggak ada deh pose-pose sok asik dengan caption ‘panen’ sambil membawa seikat kangkung segar.

yaa, kalau sudah waktunya dipanen, petik saja. toh akhirnya tetap harus diambil juga toh. jadikan tumisan, teman makan malam,

Anyway, nggak pernah kapok juga bertanam, pastinya kepingin nyoba lagi walau lahan sesempit ini.

Tiada kata jera dalam perjuangan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.