solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

cover

Menurut aku, salah satu kota yang asyik untuk solo traveling itu adalah Cirebon. Kenapa demikian? Pertama karena aku lahir di sana, namun tidak pernah tinggal di situ sehingga setiap tahun selalu mampir untuk berkunjung pada kerabat. Masalahnya, dari seluruh sepupu-sepupu yang sebaya itu, tak satu pun yang tertarik untuk mengamati peninggalan budaya yang tersebar di berbagai kota seperti aku. Kalau makan, kami tetap pergi beramai-ramai. Jadilah aku yang suka membaca buku sejarah ini berkeliling Cirebon tanpa ditemani pemandu. Solo traveling, kenapa kamu tidak?

Cirebon berada di propinsi Jawa Barat, tepatnya di pesisir pantai utara Jawa yang tak jauh dari perbatasan ke Jawa Tengah. Lokasinya yang sedikit bimbang ini membuat dialek bahasanya cukup berbeda dari bahasa Sunda pada umumnya di propinsi Jawa Barat. Bahasa Cirebon agak bercampur dengan bahasa Jawa, dan cengkok pengucapannya pun agak berbeda. Seperti karakteristik bahasa untuk kota-kota di tepi pantai, pengucapannya tidak halus, cenderung cepat dan keras.

Dengan posisi geografisnya, Cirebon di masa lalu sering dirapati oleh pendatang dari berbagai bangsa, seperti Melayu, Tionghoa, dan Arab. Bertempat juga di jalur pos utara Jawa, menjadi titik perpindahan suku Sunda dan Jawa. Akulturasi dari pertemuan ini membentuk budaya yang kaya baik dari makanan, pakaian, atau bangunan dan masih bisa dinikmati hingga hari ini.

Nama Cirebon berasal dari mata pencaharian penduduknya yang mayoritas bertani udang. Kata ‘rebon’ yang berarti udang dan ‘ci’ yang berarti air berasal dari kegiatan membuat petis dan terasi yang menyisakan air bekas pengolahan yang disebut cai-rebon. Lama kelamaan tempat ini terkenal dengan nama Cirebon.

Cirebon tidak terlalu besar, dan bisa dikelilingi dalam satu trip singkat di akhir pekan. Mudah dicapai oleh kereta api, karena berada di jalur kereta jalur utara. Dari Jakarta ditempuh sekitar 3 jam dengan kereta bisnis atau eksekutif, dan beberapa menit lebih lambat dengan kereta ekonomi. Dari sisi timur, silakan lihat jadwal masing-masing dari kotanya. Yang jelas, semua kereta baik jalur utara maupun jalur tengah berhenti di Cirebon termasuk semua kereta api eksekutif. Kalau kereta eksekutif/bisnis berhenti di stasiun Cirebon, sementara kereta ekonomi berhenti di stasiun Cirebon Prujakan. Kedua stasiun ini ada di tengah kota, sehingga tidak perlu takut kalau kejauhan dan harus naik transportasi umum. Tapi buatku, aku lebih suka naik bisnis karena stasiunnya keren!

Banyak cara untuk solo traveling alias bersendiri di sini, beberapa jarak tempat wisata di Cirebon bisa ditempuh dengan jalan kaki, lebih jauh sedikit bisa naik becak, agak jauh atau ingin keliling kota bisa naik angkot. Jumlah harinya bebas, bisa ditentukan sendiri, mau satu hari, dua hari, tiga hari atau seminggu sekalipun. Namanya juga solo traveling, nggak mengikuti apa kata teman jalanmu (tapi mengikuti ijin yang diberikan form cuti).

JALAN KAKI

Beberapa area di Cirebon cukup nyaman dilalui sambil jalan kaki. Memang, menyusuri bagian kota paling menyenangkan sambil menyeret langkah, menikmati dalam lambat, apalagi jika tak ada teman bicara kecuali kamera kesayanganmu. Sambil tersenyum menampik tawaran kiri kanan untuk naik becak, jalan santai selalu bisa menemukan hal-hal menarik.

Stasiun, Alun-alun, Mesjid Agung
Baru sampai Cirebon saja, sudah bisa melihat peninggalan kolonial Belanda di tahun 1911 ini. Stasiun Cirebon ini sangat fotogenik difoto dari segala sisi. Sisi bagian luarnya, bagian lobby yang tinggi dan kiri kanannya, menyajikan komposisi simetris. Ingatkah bahwa hampir semua bangunan kolonial memakai pola simetris seperti ini? Tak jauh dari stasiun, ada lokomotif tua yang dipajang. Sebenarnya di beberapa kota lain juga ada lokomotif seperti itu, tapi sambil lewat sendiri dan menawarkan jasa memotretkan pada satu orang keluarga yang sedang asyik bergaya sama-sama? Boleh juga. Do the positive thing while you were walking alone is make yourself happy.

stasiun cirebon yang fotogenic

stasiun cirebon yang fotogenic

 

lokomotif hitam sebagai simbol

lokomotif hitam sebagai simbol

Berjalan kaki terus sampai alun-alun, akan melewati Balaikota Cirebon yang juga dibangun sejak zaman kolonial. Bangunan putih agak bulat ini tutup di hari Minggu, tapi masih bisa diintip-intip lewat pagarnya. Sembari berjalan kaki sepanjang jalan Siliwangi di mana poros stasiun hingga alun-alun berada, nuansa jalannya sangat khas sekali. Aneka gapura yang terbuat dari bata merah menghiasi setiap pintu masuk kantor, hotel, atau unit niaga di jalan itu. Ketika mengambil gambar dengan elemen-elemen khas ini, muncul satu bahasa identitas, ini Cirebon.

balai kota cirebon sejak masa hindia belanda

balai kota cirebon sejak masa hindia belanda

Sebenarnya alun-alun tidak terlalu menarik, tapi masjid At Taqwa yang berada di seberangnya ini sangat patut dikunjungi. Meskipun menaranya sudah tidak bisa dinaiki lagi, masjid yang dipugar pada tahun 2010 ini bisa dilapisi oleh marmer-marmer merah, dan berada di dalamnya di tengah siang hari bolong sangat menyejukkan. Langit-langit yang tinggi dan udara yang mengalir dengan baik menjadi kunci kenyamanan di sini. Jika bertepatan waktu adzan sebaiknya ikut sholat berjamaah, jangan mentang-mentang sedang solo traveling lalu sholat sendirian.

masjid at-taqwa cirebon

masjid at-taqwa cirebon

BECAK

Kendaraan beroda tiga ini cukup mudah ditemukan di kota Cirebon. Hampir di tiap sudut ada becak dengan jumlah yang cukup, tidak terlalu banyak. Mungkin ada yang pernah wisata becak di Jogja? Nah, sebenarnya kota Cirebon punya banyak kemiripan dengan Daerah Istimewa itu, karena di Cirebon pun ada situs budaya yaitu tiga keraton yang bisa dikunjungi dengan keunikannya masing-masing. Seandainya saja ada becak-becak yang dilabeli sebagai becak wisata dan jalur-jalur wisatanya yang jelas, pasti bisa jadi satu sarana transportasi wisata juga.

Jika tidak tahu berapa tarif becak untuk berkeliling, bisa tanya pada pak polisi yang berjaga di sudut-sudut jalan. Kalau tarifnya ditawar oleh pak polisi biasanya jadi lebih murah (apalagi dibanding tarif transportasi di Jakarta) tapi kalau jauh dan nggak tega dengan tukang becaknya bisa memberi lebih. Jalanan di kota Cirebon relatif datar, sehingga gelindingan roda pun mengalir mulus, kecuali mungkin di beberapa tempat yang kondisi jalannya berbatu-batu.

Naik becak juga bisa bebas ke mana disuka, namanya juga solo traveling, nggak perlu ikuti kata teman, cukup ikuti kata hati. Sepanjang jalan bisa mengobrol sama tukang becaknya, menanyakan macam-macam hal, tentang musim ramai turis, tentang tempat membeli oleh-oleh, tentang jalan yang lebih sepi atau lancar, tentang apa yang menarik di kota ini. Biasanya mereka senang menjawabnya sambil mengayuh santai. Mungkin kasihan melihat yang jalan-jalan sendiri nggak ada teman. Jika mau naik becak ke keraton, harus dijelaskan pada tukang becak mau ke keraton yang mana, karena ada tiga keraton di Cirebon, tak hanya cuma bilang, “Keraton, Mang!” dan akan tiba di keraton yang dituju.

KERATON KASEPUHAN
Merupakan keraton tertua di Cirebon yang sebaiknya dikunjungi terlebih dahulu karena areanya paling besar. Kompleks keraton ini menghadap alun-alun yang selalu ramai di bulan Maulud dengan aneka permainan dan jualan pasar malam. Rasanya sewaktu kecil aku sering ke pasar ini untuk membeli mainan. Di satu sisi alun-alun ini juga terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang ramai didatangi juga oleh orang-orang yang berziarah, terkadang satu rombongan santri akan masuk beramai-ramai pada waktu masuk sholat. Di area sholat laki-laki, bisa masuk bagian tengah untuk melihat bagian masjid yang berpintu 9, kabarnya melambangkan Wali Songo sebagai penyebar agama Islam. Jika solo traveling sebagai perempuan, nggak usah nekat masuk. Cukup di bagian wanita saja di sisi kiri luar, tapi bisa mengintip ke dalam.

Pada bagian depan Keraton Kasepuhan terdapat Siti Hinggil dengan nuansa warna bata terakota. Di zaman dahulu, area Siti hinggil yang berarti tanah yang tinggi ini adalah tempat raja dan keluarganya bertemu dengan rakyatnya yang berkumpul di alun-alun. Warna terakota inilah yang menjadi warna dominan kota Cirebon yang bangunan-bangunannya bergapura dengan warna yang sama.

Untuk masuk ke bagian dalam keraton, harus mempergunakan jasa pemandu yang akan memperlihatkan bagian-bagian yang diizinkan atau dilarang untuk turis. Pemandu juga akan menjelaskan bagian-bagian keraton yang masih cukup terawat dengan rapi ini. Nggak enaknya solo traveling, jasa pemandu ini harus ditanggung sendiri, sementara kalau beramai-ramai kan bisa patungan. Tapi kalau bertemu satu rombongan yang kebetulan kita bisa berbasa-basi ikut bergabung, enak juga.

siti hinggil keraton kasepuhan

siti hinggil keraton kasepuhan

 

di dalam dominan warna putih

di dalam dominan warna putih

 

gerbang masjid agung cipta rasa dominan warna merah

gerbang masjid agung cipta rasa dominan warna merah

KERATON KANOMAN
Sesuai dengan namanya, Keraton Kanoman ini berarti ‘Muda’ atau ‘Anom’. Letaknya tidak terlalu jauh dari Keraton Kasepuhan, hanya satu kilometer saja, dan masih terjangkau sambil naik becak. Di sinilah tukang becak benar-benar berfungsi sebagai pemandu, karena Keraton ini letaknya di belakang pasar! Jika sendirian dan tidak rajin bertanya kanan kiri, niscaya akan terlewatkan.

Dari jalan masuk pasar Kanoman terus bertemu dengan kompleks bangunan dengan pohon beringin di depannya. Seperti di Kasepuhan, bagian depan dari Keraton Kanoman ini juga ada Siti Hinggil-nya, bedanya warnanya didominasi oleh warna putih putih bersih dengan hiasan piring-piring cantik berwarna putih biru menempel di sampingnya. Namun karena berpagar dan digembok, tidak bisa masuk ke dalam area ini.

Area keratonnya sendiri berada di balik tembok tinggi dan tebal yang juga berwarna putih. Tidak ada pemandu resmi di sini, malah banyak anak-anak kecil yang bermain-main di bawah pohon-pohon di halaman. Jika dilihat-lihat, sepertinya mereka anggota keluarga keraton yang masih bertinggal di situ. Jika beruntung, bisa bertemu dengan salah satu penjaga/abdi dalem keraton yang mengizinkan untuk melihat bagian-bagian tertentu di dalam. Keraton ini didominasi oleh warna biru langit pada tiangnya, dan kuning di lantainya.

siti hinggil yang berwarna putih

siti hinggil yang berwarna putih

 

pelataran sebelum masuk dalam keraton

pelataran sebelum masuk dalam keraton

 

tiang-tiang biru keraton kanoman

tiang-tiang biru keraton kanoman

KERATON KACIREBONAN
Lokasinya paling mudah dicapai, di tepi jalan raya Pulasaren. Namun ukuran keraton ini dibandingkan dengan yang dua tadi lebih kecil, dan lebih rapi manajemennya. Begitu masuk langsung disambut oleh pemandu yang duduk di salah satu dari dua pendopo, dan diantar berkeliling-keliling sambil menjelaskan mulai dari sejarah, ruangan per ruangan, peninggalan masa lampau, sampai kain-kain batik yang ada di ruang pamer. Suasana di sini cukup nyaman untuk duduk-duduk di pendopo yang didominasi warna hijau.

Yang membuatku tertarik ke sini adalah membaca nama-nama di silsilah sampai menemukan nama keluarga mbah dari ibuku, yang dulu memang sering berkunjung ke mari. Entah ada di keturunan yang mana, tapi yang jelas tak ada satu pun dari kerabatku yang berkunjung ke keraton ini lagi. Dasar aku penasaran, sendirian pun jadi.

bagian dalam keraton kacirebonan

bagian dalam keraton kacirebonan

 

ruang raja menerima tamu di keraton kacirebonan

ruang raja menerima tamu di keraton kacirebonan

ANGKOT (ANGKUTAN KOTA)

Kendaraan umum yang bertebaran dengan warna biru langit di sekitar Cirebon ini menjadi salah satu alternatif jika berkeliling sendirian di kota Cirebon. Kenapa tidak naik motor? Panas! Tahu nggak, Cirebon itu mataharinya ada dua! Kalau tidak percaya coba tanya pada yang pernah ke sana. Teriknya mulai jam delapan pagi hingga jam lima sore. Naik taksi selain agak jarang ditemukan, cukup mahal kalau mesti bayar sendirian. Solo traveling bukan berarti boros, ya.

Apa plus minusnya naik angkot? Kelebihannya, dengan ongkos murah bisa keliling-keliling kota Cirebon, melihat sisi-sisi tepi kota. Ini karena untuk mencapai satu tujuan di sisi lain kota, angkot akan berputar melintasi jalur yang agak jauh. Misalnya saja angkot dari Jalan Kartini (dekat alun-alun) ke terminal Harjamukti, bernomor 06, alih-alih langsung belok kiri melalui depan Grage Mal, angkot ini akan belok kanan melewati sisi Cirebon bagian utara, terus ke barat melewati Pilang, menuju arah Plered, berputar di Kedaung, lalu balik lagi ke arah kota, dan ketemu lagi dengan Grage Mal (menghela napas) baru melewati jalan Cipto Mangunkusumo terus sampai jalan bypass yang menuju terminal, kira-kira 20 menit kemudian.

Atau jalur kembalinya, dari terminal ke jalan Gunungsari (fyi, Grage Mal itu letaknya di Gunungsari), angkot bernomor GG, bukan lewat jalan seperti yang dilewati tadi, tapi memutari kota bagian selatan, lewat beberapa pasar mulai pasar tradisional, pasar makanan, hingga pasar burung, keramaian, jalan-jalan yang tidak terlalu besar. Sepanjang jalan bisa ditemui aktivitas sehari-hari penduduk Cirebon. Jadi, kalau mau mencoba keliling Cirebon, naik angkot saja. Lebih baik lagi kalau duduk di samping pak supir yang sedang bekerja, jadi bisa melihat-lihat bangunan penanda dengan baik, atau lansekap kota yang relatif datar.

TAMAN GOA SUNYARAGI
Tempat yang berada tak jauh dari terminal Harjamukti ini membuatku kagum dengan keindahan arsitektur batunya. Bentukan-bentukan istana dan ruang-ruangnya sangat jelas terbaca di sini. Taman ini tidak terlalu luas dan tidak terlalu ramai, dan syukurlah masih sangat terawat hingga kini. Yang asyik, bisa bermain-main keluar masuk ruang-ruang bebatuannya ini sambil membayangkan ala putri-putri raja masa lalu yang berdoa di sini.

Patung batu berbentuk gajah dan relief dinding dari batu memamerkan kekayaan seni Cirebon di masa lalu. Dari mana batu-batu karang itu berasal? Kalau melihat dari jenis sedimennya, sepertinya ini batu-batu laut. Di keraton-keraton yang kukunjungi juga selalu menemukan relief-relief dari batu seperti ini. Kelihatannya kerajaan Cirebon di masa lalu punya hubungan tertentu dengan penguasa laut.

area istana batu sunyaragi

area istana batu sunyaragi

 

ada yang melihat gajah di sini?

ada yang melihat gajah di sini?

 

ruang-ruang di dalam batu

ruang-ruang di dalam batu

BATIK TRUSMI
Naik angkot tujuan Plered, bisa tiba di ujung jalan yang menuju sentra batik Trusmi, khas Cirebon. Seperti banyak warna batik pesisiran, batik Cirebon ini berkelir cerah. Jika tidak menahan diri, pasti isi tas bertambah dengan aneka kain batik di sini.

Agak lebih jauh lagi ke arah Indramayu, ada juga sentra pasar kain yang bernama Tegalgubuk. Aku mendengar nama ini karena mama dan beberapa teman masa mudanya sering berbelanja ke sana (tanpa mengajakku). Bisa juga dicoba ke sana untuk yang solo traveling, mumpung tidak ada yang akan melarang belanja banyak-banyak. Belanja-belanja sendiri, angkut-angkut sendiri. Kebanyakan tentengan? Tinggal ke kantor pos terdekat dan paketkan ke rumah. Beres!

Kenapa kantor pos bukan ekspedisi lain? Simpel, karena dulu mbahku bekerja di kantor pos.

motif-motif batik (sumber : www.indonesia.travel

motif-motif batik (sumber : www.indonesia.travel)

Selain dua tempat tadi yang bisa dijangkau dengan angkot, masih banyak tempat di Cirebon yang bisa dijangkau sendirian. Wisata religi bisa ke makam Sunan Gunungjati  bahkan ke Kuningan juga bisa naik kendaraan umum berupa elf dari Terminal Harjamukti. Di Kuningan bisa ke gedung perjanjian Linggarjati, atau pemandian Cibulan sambil berenang dengan ikan kancra bodas, atau berendam-rendam air hangat di Sangkanhurip. Angkutan umum juga mudah ditemukan dan menunjukkan jalan dengan mudah.

pemandian di cibulan, berenang bersama ikan

pemandian di cibulan, berenang bersama ikan

PENGINAPAN

Pasti dengan solo traveling, membuat selalu berpikir tentang bujet penginapan yang tak bisa dibagi berdua, bertiga, atau berlima, kan? Di Cirebon banyak sekali penginapan tersebar di berbagai sudut kota. Tapi daerah paling banyak dan mudah untuk menemukan adalah di Jalan Siliwangi yang dekat sekali dengan stasiun. Berbagai hotel kelas melati maupun berbintang berjajar di jalan yang di hari Minggu memiliki acara Car Free Day ini. Sementara di beberapa titik di Jalan Kartini juga ada beberapa penginapan yang menawarkan harga yang cukup terjangkau.

Akhir-akhir ini, Jalan Cipto Mangunkusumo yang tidak terlalu jauh dari Grage Mall juga mulai marak dengan pembangunan berbagai hotel maupun penginapan mulai dari yang mewah hingga yang murah. Dengan jalur angkutan kota yang melintasi hampir keseluruhan kota Cirebon, penginapan-penginapan ini mudah terjangkau kembali apabila selesai bertualang keliling kota Cirebon.

1-cirebon-batiqa-cipto

2-cirebon-amaris-siliwangi

3-cirebon-siliwangi

 

KULINER

Dari zaman dulunya, kuliner di Cirebon selalu menjadi kegemaranku. Semua jalur-jalur di atas pasti melewati area kuliner yang bisa membuat naik berat badan 1-2 kg. Lumayan untuk yang sedang program penggemukan seperti aku. Empal gentong bisa ditemukan di sudut-sudut jalan, dan biasanya diikuti oleh tukang tahu gejrot yanag mendampingi sebagai snack ringan. Di pagi hari orang biasa sarapan nasi lengko atau docang.

Siang atau malam bisa makan sega jamblang, mie ayam, mi koclok, empal asem, dan aneka makanan ini bisa ditemukan berderet di depan Grage Mall. Kalau hari libur, seringkali lebih cepat habis karena diserbu oleh pemudik yang pulang kampung di Cirebon. Porsi-porsi makanan ini cukup untuk dimakan sendiri, jadi jangan khawatir kamu akan kekurangan makanan selama solo traveling.

Serba-serbi kuliner Cirebon yang membuat selalu lapar ketika pulang kampung ini bisa disimak bahasannya di cerita tentang perut yang manja.

mie koclok, nasi lengko, empal gentong, sega jamblang

mie koclok, nasi lengko, empal gentong, sega jamblang

OLEH-OLEH

Jangan ketinggalan, kalau ingin pulang membawa oleh-oleh, check out dari hotel ini kamu bisa naik angkot lewat Pasar Pagi, dan membeli aneka penganan seperti rengginang rasa jagung bakar, keju, atau udang, emping kletuk manis atau asin, kripik singkong encrod, krupuk udang mentah, terasi, petis, atau krupuk mlarat yang berwarna warni. Karena dibeli ketika hendak pulang, jadi tak merepotkan juga.

Dari depan pasar bisa naik becak selama 10-15 menit saja sampai stasiun Cirebon. Atau naik becak juga ke stasiun Prujakan sekitar 15-20 menit. Perhatikan jadwal di tiketmu, karena namanya juga solo traveling, nggak ada yang mengingatkan selama perjalanan. Pasang alarm kalau perlu, supaya tidak keasyikan belanja di tempat oleh-oleh.

peta wisata cirebon (sumber : www.wisatacrb.wordpress.com)

peta wisata cirebon
(sumber : www.wisatacrb.wordpress.com)

Gampang kan solo traveling di Cirebon? Tinggal bawa diri, bawa baju secukupnya, bawa ponsel untuk mengecek peta lokasi. Lalu bawa senyum manis untuk bertanya ramah pada pak polisi yang berkumis baplang. Cirebon punya potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi kota budaya yang tak kalah dengan Yogyakarta. Jalur wisata jalan kaki, becak, angkot, maupun kendaraan pribadi perlu dikemas dan dipromosikan dengan baik. Kalau dilakukan terus menerus, bukan tidak mustahil kota ini akan ramai sepanjang tahun. Follow blog ini juga, karena tempat-tempat di atas akan diulas lebih mendetail.

solo

Mlaku dewek, tah? Bagen bae, jeh!

depok-manggarai-pulomas-depok-gajahmada-depok-sabang-bandung. 07.06.15.

tentang keraton-keraton di Cirebon :
keraton kasepuhan: penanda masa cakrabuana.
keraton kanoman : tetap putih di tengah keramaian.
keraton kacirebonan, ingatan muda sejarah keluarga
tamansari goa sunyaragi, persinggahan sepi
mega mendung batik trusmi
ziarah keramik gunung jati

cerita-cerita Cirebon :
cirebon : mudik dan perut yang manja

Advertisements

41 thoughts on “solo traveling at cirebon : bersendiri di kota udang

  1. Fahmi (catperku) says:

    Kayaknya kalau main ke cirebon bakalan lebih seneng hunting kulinernya sih mbak 😀 Mie koclok, nasi lengko, empal gentong, sega jamblang udah dimasukin ke list perburuan kuliner yang belom pernah dicoba nih 😀

  2. Matius Teguh Nugroho says:

    3 bulan ke Cirebon, sayang belum ke Gua Sunyaragi dan eksplor Batik Trusmi. Biasanya aku suka jejalan di kawasan Kota Tua dan pecinan-nya (tetep).

    Warna biru pada keraton Cirebon kok sama dengan birunya Keraton Mangkunegaran Solo ya.

    • indrijuwono says:

      kalau jalan-jalan di Kota Tua dan Pecinannya, sasarannya apa, Nug?

      Kalau keraton Mangkunegaran itu kan princess2nya dari Cina, mungkin dari situ juga biru-birunya. Setahuku tak ada berbesan juga dengan Keraton Kanoman.

  3. BaRTZap says:

    Aku baru sekali ke Cirebon, di bulan Ramadhan lalu. Dan merasa belum puaaas, masih pengen ke Cirebon lagi. Terutama pengen liat dua keraton lainnya, baru ke Kasepuhan aja.

    Unik ya, ada tiga keraton/kerajaan dalam satu kota. Dulu mereka bagi-bagi area kekuasaannya gimana ya?

    Tulisannya detail dan provokatif kak, apalagi di bagian kulinernya. Sukses bikin keringat menetes, nahan lapar hahahaha 😀

    • indrijuwono says:

      naik kereta? bisa lihat stasiun, naik becak ke keraton kasepuhan, jalan kaki ke kanoman, naik becak makan nasi lengko di pagongan, naik angkot ke goa sunyaragi, makan nasi jamblang mang dul, balik lagi ke stasiun…

  4. eko haryanto says:

    Buat traveller yg pengen jalan2 dengan motor mengelilingi tempat wisata di cirebon, kami menyediakan sewa motor harian dengan harga terjangkau,, segera hub

    SEWA MOTOR CIREBON
    NO HP : 085724198194
    PIN BB : 54a0e475 (fast respon)

    Let’s chat n booking yaaah,,,

  5. silvia says:

    kak abis liat blognya tertarik banget..
    ada rekomen ga nginep dmn yang bisa tinggal jalan aj gitu wisatanya..
    pengen meminimalisir pake angkutan umum..ehhehe..

    • indrijuwono says:

      hai silvia, kalau di cirebon sih tempat wisatanya agak terpencar jauh-jauh gitu ya. penginapan ada banyak di sekitar alun-alun, tapi keratonnya agak ujung sono. tapi naik angkot ke mana-mana juga gampang koq. boleh dicoba..

  6. mita says:

    mba indri, cirebon ini bisa diexplore dalam satu hari gak ya? misal dateng pagi, malemnya udah balik lagi, bisa? ramah utk female solo traveler kan ya cirebon ini?

  7. shindiana says:

    aku juga pernah backpekeran ke cirebon dari bandung barat. waktunya.cuma 1 hari dan malamnya langsung pulang.karena besoknya harus kerja. tapi 2 kali ke cirebon belum pernah ke goa sunyaragi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s