
“Sometimes, it is not the kings and queen who make for the most fascinating history but the shadowy souls who happen to be in the right place at the right time.”
― Michelle Moran, Madame Tussaud: A Novel of the French Revolution
Sebenarnya kisah ini seharusnya diceritakan delapan tahun silam. Yoi, sudah selama itu waktunya jalan-jalan ke kota yang dahulu namanya Bangkok (sekarang apa hayo, sebutkan!). Kenangan masih ternganga dengan BTS yang ada di depan mall (hmm, saat itu Jakarta belum punya MRT). Naik tuktuk ke mana-mana dan kena macet. Bus kota masih belum ber-AC (nggak jauh beda, 2016 di Jakarta masih ada metro mini). Cuma karena terpending lama dan berakhir sedih, jadinya baru sekarang (halah), ketika sudah bernapas agak lega barulah diceritakan perjalanan ini.
Tadinya, Despin nggak mau ikut ke museum ini, “Apaan sih, masa kita ke museum di Bangkok?”
“Tapi ini Tussaud, Pin. Di dalam mall pula! Ya udah, kalau gak mau ikut, nanti kamu keliling-keliling mall aja..”
Tak dinyana, dia ikut ngintil kami juga ke museum lilin terkenal itu yang pada pintu masuknya saja kami bertemu dengan Soekarno. Ya Allah, ganteng banget bapak Negara ini. Lalu kami juga ketemu Lee Kuan Yew, Lady Diana, King Bhumibol Adulyadej, dan negarawan yang lain. Aku, Auls, Despin pun semangat untuk berputar-putar di dalam museum ini.








Juga ada ahli-ahli dunia seperti Albert Einstein, Bill Gates, Mozart, Picasso. Hmm, mencari idolaku Isaac Newton nggak ada, mungkin kudu ke Inggris.




Sebentar kami juga tidak lupa mampir gedung putih dan bertemu Barrack & Michelle Obama yang tersenyum ramah. Lhaa, ini malah jadinya Despin yang happy banget ketemu idola-idola ini.


Tak ketinggalan bintang film terkenal pun mengiringi langkah kami, mulai dari si tampan Leornado DiCaprio, Daniel Craig si James Bond, hingga Vin Diesel. Brad Pitt dan Angelina Jolie terlihat baik-baik saja di sini.





Michael Jackson tidak lupa untuk menambahkan performanya yang top, dengan baju putih dan jaket hitam khasnya mendendangkan Thriller! Sayangnya ia tak bermoonwalk di sini.

Karena hidup di dunia pesohor, kami pun tak lupa diwawancara oleh Oprah si paling talkshow. Mungkin juga ia ingin mengorek kehidupan artis di Indonesia. Lumayanlah, duduk setelah berkeliling Museum tadi lumayan juga.

Banyak juga artis-artis maupun olahragawan yang kami kunjungi ini, dan mereka semua senyum bahagia lho.. coba tebak, siapa sajakah?













Bonus :
Bangkok 2016, dulu sih Jakarta masih nggak begini, sekarang makin mirip deh. Ramainya, macetnya, jalanan yang susun tiga, senja di antara gedung-gedung bertingkat.






Esoknya Despin gak mau ikut jalan denganku, soalnya lelah katanya. Saat itupun aku merasa sayang, koq ke Bangkok gak mau ikut ke Wat? Tapi mungkin itu pertanda sesuatu.
Kami jalan-jalan di bulan Agustus 2016, tepat sebelum aku mulai sibuk kuliah S2 ditambah kerja yang memang bikin pushing tujuh keliling. Desember 2016 Despin sempat WA di grup, “Eh, gue kan habis koma empat hari di Rumah Sakit.” Ya ampuun, kan serem banget gitu koq gak bilang. Kekurangan kalium yang dideritanya memang membuatnya tidak boleh lelah. Namun mengelola perusahaan transportasi yang dijalaninya tiap hari mungkin memang menguras pikiran dan tenaga.
Meskipun demikian, Januari 2017 kami masih jalan-jalan ke Bali, bahkan main di pantai, nyetir sampai Ubud, hingga Nusa Dua. Masih semangat, di bulan Februari kami kebayaan keliling UI dari rektorat sampai Teknik.
Tak kusangka pagi di bulan Maret itu aku dengar kabarmu sudah tiada. Sedih sudah pasti tak terkira mengikuti terkejut atas kabar ini.
Farewell again, my bestie! Untuk semua kelakuan absurd dan gila-gilaan yang pernah kita jalani berdua (walau sebenarnya dia lebih nekad dari aku), terima kasih untuk selalu ada jadi temen cerita apa apapun. Still miss you though, karena belum ada yang menggantikan frekuensimu.
Krung Thep Maha Nakhon, Agustus 2016 — ditulis Mei 2023
Losing someone that close—especially after sharing wild adventures and quiet laughs—leaves a gap nothing can quite fill. It hit me hard too, like when you’re deep in the Everest trails in Nepal and walk into a monastery, carrying your own grief and stories, only to be met with stillness that somehow understands. That’s the kind of memory your words stirred—raw, real, and beautifully human.
https://www.himalayaheart.com/trip/everest-base-camp-trek